Cuih!

Malam itu, entah berapa tahun yang lalu, saya naik sepeda ke depan kompleks. Entah untuk keperluan apa, antara fotokopi atau beli nasi goreng buat cemilan malam. Lupa, udah lama banget soalnya. Yang pasti masih masa-masa sekolah sih. Mungkin sekitar kelas X SMA. Udah lama banget kan.

Tapi ada satu hal yang sampai sekarang gak akan pernah terlupa terjadi di malam yang sama.

Karena malam itu sedang cerah, saya santai aja sepedaannya. Tralala trilili hepi hepi minggir kiri. Menjelang keluar kompleks, ada mobil parkir di pinggir jalan. Pintu depannya setengah terbuka. Alhasil gak bisa minggir kiri lagi, ambil agak ke tengah buat menghindari mobil plus pintunya yang setengah terbuka.

Persis sejajar di pintu yang terbuka, ada bunyi “cuh!” yang keras, dan di saat yang sama sandal dan kaki kiri saya basah. OH! Orang yang sedang di dalam mobil ternyata meludah, dan sialnya tepat di kaki saya yang sedang mengayuh sepeda. Dan ludahnya banyak banget, sampe basah sepunggung kaki.

Dari berbagai probabilitas sudut, arah, dan waktu meludah, kok ya bisa-bisanya pas kena di kaki orang yang sedang lewat dan ngayuh pedal sepeda. Antara murni ketidaksengajaan atau memang dia seorang professional spitter.

~~~

Meludah sembarangan buat banyak orang di Indonesia kok sepele aja rasanya. Cuah cuih sana sini. Tapi buat saya enggak. Sama sekali enggak. Meludah sembarangan buat saya adalah bentuk pengkhianatan terhadap estetika. Buih-buih putih dan basah di tengah jalan selalu sukses bikin saya mual. Apalagi dengan bonus lendir kekuningan.

Nulis ini aja bawaannya mual. Maaf kalau kamu ikutan mual.

Khusnudzan-nya saya, orang yang meludah sembarangan ini musababnya karena sudah mendesak sekali. Tenggorok dan mulutnya sudah berahi hebat dan (merasa) harus segera dibuang. Ini ngira-ngira doang sebenernya, karena saya sejujurnya jarang banget merasa terdesak untuk meludah atau mengeluarkan lendir. Gak pernah merasa terdesak untuk membuang (ludah) di tempat umum.

Lagian malu gak sih cuah cuih di depan orang lain. Saya sih malu.

“Lu juga kan nelen ludah mar tiap hari, sewot banget sama orang yang ngeludah.”

Here’s the thing. Ludah yang dikeluarkan itu tidak pernah sama lagi dari ludah yang ada di mulut. Ludah yang keluar itu sudah jadi sampah. Kalau kamu beranggapan ludah yang kamu buang sama dengan yang ada di mulut kamu, coba kamu jilat lagi itu ludah di bawah. Mau?

Jelas gak ada yang mau. Artinya, deep down kita sama-sama sepakat bahwa ludah yang sudah dikeluarkan itu menjijikkan. Kenapa masih aja ngeludah sembarangan?

*sedangkesal

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

One Response to : Cuih!

  1. Selamat Siang Delmar,

    Saya sedang blogwalking dan menemukan blog anda. Wah ternyata kita satu almamater.
    Saya Soraya dari http://serumah.com.
    Saat ini trend berbagi ruangan/roomsharing sangat marak di kota besar. Kami berinisiatif untuk membuat situs pencari teman sekamar/roommate agar orang-orang yang ingin menyewa tempat tinggal (apartemen, rumah atau kost) dapat berbagi tempat tinggal dan mengurangi biaya pengeluaran untuk tempat tinggal. Berawal dari ide tersebut, website serumah.com diluncurkan pada awal tahun 2016.

    Saat ini saya meminta bantuan anda untuk menuliskan artikel review mengenai serumah.com di situs blog anda. Saya dan Tim Serumah sangat menghargai jika Anda bersedia untuk memberikan review terhadap website kami dan menerbitkannya di blog anda.

    Mohon hubungi saya jika ada pertanyaan lebih lanjut. Saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

    Soraya F.
    Cataga Ltd.
    soraya.serumah@gmail.com
    http://serumah.com/

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)