Merayakan Kebingungan

Bingung adalah hal yang mengerikan. Membuat jiwa gundah, dan tak nyaman. Sejauh ini, paling tidak ada dua hal yang membuat gue merasa sangat ‘bingung’ dalam rangkaian prosesnya. Yang pertama adalah SNMPTN 2011, dan yang kedua adalah skripsi yang (alhamdulillah) baru saja selesai September lalu. Dalam kedua momen tersebut, gue merasa belajar banyak dalam prosesnya, terutama dalam memaknai kebingungan, yang selama ini ditakuti banyak orang.

Bahwa di dalam bingung, bisa jadi, ada pelajaran yang sangat berharga dan perlu dirayakan keberadaannya. Dan bisa jadi, kita selama ini salah paham tentang konsep kebingungan. 

~~~
Late disclaimer. Ini murni blabbering, iseng, dan dalam beberapa hal, bisa jadi, tak berdasar ilmiah. Sepakat tidak sepakat, read for your own risk :)

Ada banyak hal yang membuat kita merasa bingung. Bingung dalam mengerjakan soal kalkulus, atau bahkan bingung dalam menentukan pilihan dalam hidup. Pilihan hidup remeh dan dangkal macam memilih baju yang dipakai untuk kondangan hari ini, atau pilihan hidup jangka panjang seperti jurusan kuliah ataupun career path yang akan dilalui pasca kampus.

Menurut gue, ada beberapa misconception tentang “bingung”. Misconception yang pertama adalah tentang pemaknaan kata “bingung”. Kesannya gelap sekali. Bahkan KBBI mendeskripsikannya dengan sangat menyedihkan.
bi-ngung a 1 hilang akal (tidak tahu yang harus dilakukan), 2 tidak tahu arah (mana barat mana timur dsb), 3 gugup tidak keruan, 4 bodoh; tolol, 5 (merasa) kurang jelas 
ke-bi-ngung-an n 1 dl keadaan bingung, 2 kekacauan hati (pikiran)
Sedih banget broh. Di dalam kamus, “bingung” terdengar sangat nista.

Gue tidak bermaksud untuk merekonstruksi bahasa Indonesia karena sama sekali tidak punya kompetensi di bidang linguistik. Tapi rasanya gue tidak bisa sepakat sepenuhnya dengan rangkaian definisi KBBI.

Bagi gue, bingung adalah proses, predecessor dari jawaban.

Archimedes dibuat bingung oleh pertanyaan sang Raja yang meragukan kemurnian emas di dalam mahkotanya. Bingung setengah mati sampai memutuskan berendam, dan tetiba menemukan solusi masalahnya dan lari telanjang saking senangnya. Alan Turing dan tim kebingungan dalam memecahkan sandi Enigma milik Nazi sampai akhirnya sampai pada solusi enkripsi yang benar.

Dengan pemaknaan ini, “bingung” dapat terangkat sedikit martabatnya. Bahwa ia adalah awal mula dari jawaban dan pilihan yang selama ini kita ambil. Dengan pemaknaan ini pula sebenarnya bisa kita pahami bahwa “bingung” adalah keniscayaan. Sesuatu yang dialami oleh semua orang, pada semua pekerjaan dan pilihan hidupnya. Termasuk kebingungan yang gue alami ketika menulis hal-hal “bingung” ini.

Q: Jika bingung adalah keniscayaan, lalu kenapa ada banyak orang yang tidak bingung?

Penjelasan tadi memang mengangkat sedikit makna “bingung”, tapi ya benar, lalu bagaimana dengan kasus orang-orang yang tidak bingung? Mario Teguh misalnya, dia terlihat tidak pernah bingung pada ribuan pertanyaan penonton setianya.

Jawabannya adalah karena “bingung” sifatnya seperti “mata kuliah”. SKSnya niscaya harus diambil, tapi terserah waktunya kapan. Mario Teguh terlihat tidak bingung dengan pertanyaan-pertanyaan audiens karena bisa jadi dia sudah bingung duluan pada kasus yang sama bertahun-tahun yang lalu. Bingung adalah proses sudah ia jalani, yang tersimpan di dalam memorinya berupa rangkaian “jawaban”, hasil dari kebingungannya yang lalu-lalu.
Om Mario sudah duluan mengambil kelas Dasar-Dasar Cinta dulu, Siap om.
Hal yang sama terjadi pada orang-orang di sekeliling kita, yang karya dan visinya sudah level langit. Gue merasa mereka juga bingung dengan kehidupannya. Tapi dia sudah bingung jauh lebih dulu dibandingkan dengan kita. Di saat “bingung” masih menjadi predecessor pada proses hidup kita, mereka sudah memetik jawaban atas kebingungannya.  

Pengalaman pada proses nyekripsi beberapa bulaan terakhir juga sama. Di akhir tahun lalu, ada beberapa orang yang sudah membingungkan proposal skripsinya, sementara di saat yang sama gue masih belum membingungkan masalah skripsi sama sekali. Baru di awal tahun giliran gue yang kebingungan memilih judul skripsi, di saat teman yang sudah selesai bingungnya mulai running penelitian. Semua ada ganjarannya.

Jadi pilihannya adalah, bingung sekarang atau bingung nanti? Your call :)

Q: Bagaimana dengan orang yang bingung berkepanjangan untuk masalah yang sama?

Well, mari kita kembali ke diagram alir bingung. Kita selami lagi dan revisi sedikit alurnya.

Sebenarnya kurang tepat juga bahwa hanya dengan bingung kita akan mendapatkan jawaban. Gak adil. Jawaban dari kebingungan kita disertai dengan syarat. Syaratnya apa saja? Berbeda-beda untuk setiap kasus. Jadi, selama all requirement belum terpenuhi, akan terjadi loop. Bingung selamanya.


Maksudnya requirement apa? Contoh sederhananya kayak gini.
kamu kuat nak...
Pada saat nyekripsi kemarin, banyak banget hal baru yang gue pelajari karena topiknya agak melenceng sedikit dari jalur mayor TIN. Salah satunya adalah AT Command yang digunakan untuk komunikasi antara Arduino dengan GSM shield. Sempat kejadian 1.5 bulan penelitian stuck karena enggan belajar dasar-dasar AT Command. Berasanya parno duluan karena asing banget sama perintahnya, dan berulang kali eksperimen gak pernah berhasil. Padahal kalau sudah tau, AT Command sama sekali tidak layak jadi penghambat skripsi. Gampang banget ternyata. Setelah itu tetiba merasa bodoh sendiri.

The point is, I was afraid to embrace my own confusion. Bisa jadi sebenarnya kita terus menerus membingungkan masalah yang sama karena selama ini kita ngumpet dan menghindar. Jadinya requirement dari jawaban kita gak akan pernah ketemu. 

Kita gak berani dan paranoid duluan. Beberapa kenalan di kampus juga mengalami hal yang lumayan serupa dalam nyekripsi, bahkan waktunya lebih lama. Takut menghadapi neraca massa, takut ganti metodologi mutakhir karena merasa susah belajar lagi, takut ganti bahan baku karena sudah terlanjur riset pengantar tentang bahan bakunya, dan segala takut yang lain yang membuat kita tidak bisa memenuhi requirement dalam menuju jawaban akhir. Yang membuat segalanya tetap dan selalu membingungkan.

Pertanyaannya, beranikah kita embrace kebingungan kita sendiri? We’re not going anywhere kalau kita selalu sembunyi. Your call :)

Q: Jadi, bagaimana caranya menghadapi bingung yang benar?

Masing-masing orang unik, punya masalah dan cara memecahkan masalah yang berbeda satu sama lain. Menghadapi kebingungan bisa jadi pertanyaan yang sangat sulit, karena gue sendiri belum paham sepenuhnya selain dengan melaksanakan alur flowchart di atas. Mungkin ini terdengar absurd, tapi ada satu pelajaran menarik yang bisa gue ambil dari pengalaman selama mengerjakan SNMPTN empat tahun yang lalu.

Soal-soal SNMPTN adalah soal prediktif untuk calon mahasiswa, yang sebenarnya tidak didesain untuk dikerjakan semuanya (walau selalu ada saja yang bisa mengerjakan hampir semuanya selama try out). SNMPTN menurut gue bukan adu kecerdasan, tapi adu kebijaksanaan. Waktunya terbatas, soalnya banyak, dan sistem benar +4 salah -1 membuat kita selalu berpikir ulang dalam menjawab.

Menghadapi kebingungan dalam hidup, menurut gue bisa jadi sebelas dua belas dengan mengerjakan soal SNMPTN. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan soal mana yang benar-benar layak kita bingungkan dan sesuai dengan kemampuan kita. Soal mana yang bisa memberikan kita nilai +4 dan menghindari menjawab asal karena menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Jadi, tips pertama dalam menghadapi kebingungan adalah dengan memastikan bahwa hal-hal yang sedang kita bingungkan benar-benar penting, memberikan nilai tambah, dan layak untuk diperjuangkan.

Pertanyaannya, kita selama ini bingung untuk masalah apa? Hal-hal penting? Atau justru hal-hal tidak penting?

~~~
Alasan utama kenapa gue menulis ini adalah karena gue merasa bingung juga menyimpan potensi membahayakan. Bingung, dalam level filosofis bisa membuat seseorang menjadi gila mendadak, dan bingung dalam level teologis bisa membuat seseorang tak percaya Tuhan dalam semalam. Dua-duanya terjadi karena membingungkan sesuatu yang tidak pada levelnya.

Juga sebagai rasa tidak setuju pada persepsi sifat “bingung” di masyarakat. Seolah-olah “bingung” adalah sesuatu yang menjijikan dan nista. Dihindari dengan berbagai macam kalimat motivasi untuk menghapus kebingungan. Padahal bisa jadi tanpa “bingung” dunia ini tidak akan pernah berubah.

Dunia ini berubah karena adanya orang bingung yang mati-matian mencari jawaban atas kebingungannya.

Akhirnya, dear kamu yang sedang bingung, jangan berkecil hati. Kita semua adalah orang-orang yang bingung. Bahwa kebingungan adalah sesuatu yang harus dirayakan, karena kita tinggal beberapa langkah lagi dari jawaban yang kita butuhkan. 

Selamat merayakan kebingungan!

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)