Kamu Harusnya Ngerti Dong, Dear

Disclaimer: Berhubung saya bukan mahasiswa linguistik atau komunikasi, saya tidak bertanggung jawab secara akademik terhadap apa yang saya tuliskan di bawah ini. Asas sotoy dan iseng saja. Jangan serius-serius banget lah :P
ko-de n 1 tanda (kata-kata, tulisan) yang disepakati untuk maksud tertentu (untuk menjamin kerahasiaan berita, pemerintah, dsb)
Makin hari, entah kenapa kata 'kode' mengalami pergeseran makna dalam ruang-ruang percakapan kita sehari-hari, tatap muka ataupun dalam ruang digital. Menilik arti kata aslinya, bahkan sebenarnya kata 'kode' tidak lazim kita gunakan sehari-hari. Harusnya sih begitu.

Oleh sebagian anak-anak muda yang sangat kreatif, 'kode' yang semula lazimnya ada di dalam kosakata militer, jurnalistik, dan etik sosial ditarik secara paksa ke dalam ruang-ruang percakapan anak muda, dan direduksi secara semena-mena menjadi 'sesuatu yang harusnya kamu pahami, dear'. 'Kode' nowadays looks like this:
kode: kamu harusnya ngerti dong, dear
Kenyataan bahwa kita tertawa atau yaa paling tidak tersenyum getir dengan lawakan CommaWiki semata-mata menjadi bukti bahwa ruang-ruang percakapan kita sudah diperkaya kode dan bersifat multitafsir. And we love it, don't we? Senang dengan ambiguitas. Semakin tidak jelas semakin menyenangkan.

Komunikasi dengan 'kode' mendasarkan diri pada asumsi. Asumsinya orang lain akan paham. Asumsinya semua orang akan paham. Tanpa pernah menyadari bahwa komunikasi penuh dengan kode bisa mendatangkan bahaya yang luar biasa besarnya.

~~~
Tidak ada buku yang lebih baik dalam memberikan contoh betapa bahayanya penghalusan (istilah ilmiah untuk 'ngode' yang kamu lakukan sehari-hari) selain Outliers, salah satu karya besar Malcolm Gladwell. Tepatnya di bab tujuh tentang Teori Etnik Mengenai Jatuhnya Pesawat Terbang.
Malcolm Gladwell dan Outliers
Di bagian ini Malcolm Gladwell mencoba untuk menghubungkan apakah negara asal seorang pilot pesawat terbang mempengaruhi kemampuannya dalam menjadi pilot. Atau lebih spesifik lagi, bagaimana para pilot ini berkomunikasi dengan cara dan budaya negara asal mereka. Utamanya lagi, tentang bagaimana mereka melakukan penghalusan (ngode) ke atasan mereka di kokpit pesawat.

Salah satu contohnya, adalah penerbangan Air Florida yang jatuh di luar Washington DC, saat
first officer tiga kali mencoba memberitahu sang kapten kalau terdapat tumpukan es yang membahayakan di sayap pesawatnya. Tetapi dengarkan bagaimana cara dia mengatakannya. Semua berupa petunjuk
FIRST OFFICER: "Lihat bagaimana es menggantung di, ah, di belakang sana, lihat kan?"
Lalu: 
FIRST OFFICER: "Lihat semua tetesan air beku di belakang sana?"
Dan kemudian: 
FIRST OFFICER: "Wah benar-benar sulit mencairkan es itu, sepertinya terasa kurang aman, itu saja" 
Akhirnya, saat mereka mendapatkan izin untuk mengudara, first officer meningkatkan dua tingkat saran ke awak kapal:
FIRST OFFICER: "Mari kita cek [sayap] pesawat itu lagi, karena kita sudah cukup lama di atas sini.
 
"KAPTEN: "Kurasa kita harus melakukan ini dahulu."
Hal terakhir yang dikatakan first officer kepada kapten tepat sebelum pesawat meluncur ke Sungai Potomac, bukanlah petunjukm saran, atau perintah. Tetapi pernyataan akan fakta sederhana -dan kali ini sang kapten setuju dengannya.
FIRST OFFICER: "Larry, kita jatuh, Larry. 
"KAPTEN: "Aku tahu." 
~~~
Penghalusan dalam komunikasi (atau ngode) ternyata mampu mengandaskan satu pesawat komersial.

Penghalusan yang dilakukan oleh kru penerbangan dalam beberapa contoh di buku ini dilakukan karena adanya gap jabatan yang terjadi antara first officer dengan kapten. Salah satu negara yang memiliki jarak kekuasaan (Power Distance Index) terbesar adalah Korea. Simak salah satu contoh percakapan yang terjadi antara Mr. Kim, seorang pekerja dengan atasannya, kepala divisi (kwacang)
KWACANG: Cuacanya dingin dan saya agak lapar [ARTINYA: Coba tolong belikan minum atau makanan] 
MR. KIM: Bagaimana kalau segelas anggur? [ARTINYA: Saya akan membelikan anggur untuk Anda] 
KWACANG: Tidak usah repot-repot.[ARTINYA: Aku akan menerimanya kalau kamu mengulangi tawaranmu] 
MR. KIM: Anda pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan keluar?[ARTINYA: Saya memaksa untuk menraktir Anda.] 
KWACANG: Apakah aku harus menerimanya?[ARTINYA: Aku menerimanya.]
Basa-basi! Dari contoh di atas bahkan basa-basinya orang Korea jauh-jauh lebih 'manis' dibandingkan basa-basinya orang Indonesia. Kode dimana-dimana. Keseluruhan percakapan bahkan sebenarnya mengandung arti yang lebih dalam dibandingkan dengan kata-kata yang diucapkan. 

Sesungguhnya menurut Gladwell, ada sesuatu yang indah dari kehalusan percakapan ini, dalam artian kedua pihak menghargai motivasi dan keinginan yang lainnya. Ini merupakan sikap yang beradab, dalam arti yang sesungguhnya: sikap ini tidak mengizinkan ketidaksensitifan atau sikap acuh tak acuh.

Walaupun sebenarnya kalau di Indonesia (atau paling tidak di kampus saya) arah pembicaraan tidak akan semulus itu. Malah bisa jadi kayak begini:
Bos : "aduh udah jam segini nih, mie ayam enak kali ya bok"
Bawahan : "nitip bos!"
Bos : "$^#&%#&%#A@%"
~~~
Penghalusan emang indah sih bro, tapi tetap saja bahaya. Dengan ngode, artinya kita memberikan tanggung jawab untuk mengartikan apa yang kita maksudkan sepenuhnya pada pendengar, dengan asumsi bahwa sang pendengar pasti tahu dan pasti mengerti apa yang kita maksudkan.
"heh? opo le? aku ndak ngerti loh maksudmu"
Padahal asumsi itu tidak selamanya benar. Tidak jarang pendengar justru no idea. Pembicaraan penuh dengan kode seperti ini rawan berakhir dengan kondisi seperti ini
"kamu gak pekaaaaa" *JEENG
Jadi mulai dari sekarang, cobalah untuk menghapus asumsi bahwa orang lain akan paham dengan apa yang kita maksudkan. Bukannya apa-apa sih, daricontoh yang udah dikasih ketahuan kan ngode sembarangan bisa mengandaskan seluruh pesawat. Kamu juga bisa kandas di tengah jalan kalau ngode sembarangan terus *jeeeng

Cobalah untuk berbicara lebih jelas. Kalau memang ingin ngode, coba dicurahkan untuk belajar kode yang positif, contohnya belajar C++, Java, Android atau Arduino. Kamu harusnya (lebih) ngerti dong, dear.
skill ngode kamu akan diasah makin jago lagi untuk penggunaan yang tepat! (y)
Happy coding! :3

POSTED IN ,
DISCUSSION 5 Comments

5 Responses to : Kamu Harusnya Ngerti Dong, Dear

  1. Dinny says:

    Sangat menarik. Suka sekali.

  2. **berusaha memahami dengan ilmu komunikasi tidak bebas nilai*, oke kapten, kode diterima *abis ini ada yang curhat*

  3. Makanya del janga ngode
    Fufufufu
    *komenngode*

  4. @Dinny: baru tau kalo kamu juga suka blogging din hehe

    @Nabil: gak perlu disummon ya giliran tentang beginian dateng sendiri :v

    @Mbalia: duh sori nih eke gak hobi ngode :p

  5. Anonim says:

    kucingnyaa lucu

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)