Merayakan Kebingungan

Bingung adalah hal yang mengerikan. Membuat jiwa gundah, dan tak nyaman. Sejauh ini, paling tidak ada dua hal yang membuat gue merasa sangat ‘bingung’ dalam rangkaian prosesnya. Yang pertama adalah SNMPTN 2011, dan yang kedua adalah skripsi yang (alhamdulillah) baru saja selesai September lalu. Dalam kedua momen tersebut, gue merasa belajar banyak dalam prosesnya, terutama dalam memaknai kebingungan, yang selama ini ditakuti banyak orang.

Bahwa di dalam bingung, bisa jadi, ada pelajaran yang sangat berharga dan perlu dirayakan keberadaannya. Dan bisa jadi, kita selama ini salah paham tentang konsep kebingungan. 

~~~
Late disclaimer. Ini murni blabbering, iseng, dan dalam beberapa hal, bisa jadi, tak berdasar ilmiah. Sepakat tidak sepakat, read for your own risk :)

Ada banyak hal yang membuat kita merasa bingung. Bingung dalam mengerjakan soal kalkulus, atau bahkan bingung dalam menentukan pilihan dalam hidup. Pilihan hidup remeh dan dangkal macam memilih baju yang dipakai untuk kondangan hari ini, atau pilihan hidup jangka panjang seperti jurusan kuliah ataupun career path yang akan dilalui pasca kampus.

Menurut gue, ada beberapa misconception tentang “bingung”. Misconception yang pertama adalah tentang pemaknaan kata “bingung”. Kesannya gelap sekali. Bahkan KBBI mendeskripsikannya dengan sangat menyedihkan.
bi-ngung a 1 hilang akal (tidak tahu yang harus dilakukan), 2 tidak tahu arah (mana barat mana timur dsb), 3 gugup tidak keruan, 4 bodoh; tolol, 5 (merasa) kurang jelas 
ke-bi-ngung-an n 1 dl keadaan bingung, 2 kekacauan hati (pikiran)
Sedih banget broh. Di dalam kamus, “bingung” terdengar sangat nista.

Gue tidak bermaksud untuk merekonstruksi bahasa Indonesia karena sama sekali tidak punya kompetensi di bidang linguistik. Tapi rasanya gue tidak bisa sepakat sepenuhnya dengan rangkaian definisi KBBI.

Bagi gue, bingung adalah proses, predecessor dari jawaban.

Archimedes dibuat bingung oleh pertanyaan sang Raja yang meragukan kemurnian emas di dalam mahkotanya. Bingung setengah mati sampai memutuskan berendam, dan tetiba menemukan solusi masalahnya dan lari telanjang saking senangnya. Alan Turing dan tim kebingungan dalam memecahkan sandi Enigma milik Nazi sampai akhirnya sampai pada solusi enkripsi yang benar.

Dengan pemaknaan ini, “bingung” dapat terangkat sedikit martabatnya. Bahwa ia adalah awal mula dari jawaban dan pilihan yang selama ini kita ambil. Dengan pemaknaan ini pula sebenarnya bisa kita pahami bahwa “bingung” adalah keniscayaan. Sesuatu yang dialami oleh semua orang, pada semua pekerjaan dan pilihan hidupnya. Termasuk kebingungan yang gue alami ketika menulis hal-hal “bingung” ini.

Q: Jika bingung adalah keniscayaan, lalu kenapa ada banyak orang yang tidak bingung?

Penjelasan tadi memang mengangkat sedikit makna “bingung”, tapi ya benar, lalu bagaimana dengan kasus orang-orang yang tidak bingung? Mario Teguh misalnya, dia terlihat tidak pernah bingung pada ribuan pertanyaan penonton setianya.

Jawabannya adalah karena “bingung” sifatnya seperti “mata kuliah”. SKSnya niscaya harus diambil, tapi terserah waktunya kapan. Mario Teguh terlihat tidak bingung dengan pertanyaan-pertanyaan audiens karena bisa jadi dia sudah bingung duluan pada kasus yang sama bertahun-tahun yang lalu. Bingung adalah proses sudah ia jalani, yang tersimpan di dalam memorinya berupa rangkaian “jawaban”, hasil dari kebingungannya yang lalu-lalu.
Om Mario sudah duluan mengambil kelas Dasar-Dasar Cinta dulu, Siap om.
Hal yang sama terjadi pada orang-orang di sekeliling kita, yang karya dan visinya sudah level langit. Gue merasa mereka juga bingung dengan kehidupannya. Tapi dia sudah bingung jauh lebih dulu dibandingkan dengan kita. Di saat “bingung” masih menjadi predecessor pada proses hidup kita, mereka sudah memetik jawaban atas kebingungannya.  

Pengalaman pada proses nyekripsi beberapa bulaan terakhir juga sama. Di akhir tahun lalu, ada beberapa orang yang sudah membingungkan proposal skripsinya, sementara di saat yang sama gue masih belum membingungkan masalah skripsi sama sekali. Baru di awal tahun giliran gue yang kebingungan memilih judul skripsi, di saat teman yang sudah selesai bingungnya mulai running penelitian. Semua ada ganjarannya.

Jadi pilihannya adalah, bingung sekarang atau bingung nanti? Your call :)

Q: Bagaimana dengan orang yang bingung berkepanjangan untuk masalah yang sama?

Well, mari kita kembali ke diagram alir bingung. Kita selami lagi dan revisi sedikit alurnya.

Sebenarnya kurang tepat juga bahwa hanya dengan bingung kita akan mendapatkan jawaban. Gak adil. Jawaban dari kebingungan kita disertai dengan syarat. Syaratnya apa saja? Berbeda-beda untuk setiap kasus. Jadi, selama all requirement belum terpenuhi, akan terjadi loop. Bingung selamanya.


Maksudnya requirement apa? Contoh sederhananya kayak gini.
kamu kuat nak...
Pada saat nyekripsi kemarin, banyak banget hal baru yang gue pelajari karena topiknya agak melenceng sedikit dari jalur mayor TIN. Salah satunya adalah AT Command yang digunakan untuk komunikasi antara Arduino dengan GSM shield. Sempat kejadian 1.5 bulan penelitian stuck karena enggan belajar dasar-dasar AT Command. Berasanya parno duluan karena asing banget sama perintahnya, dan berulang kali eksperimen gak pernah berhasil. Padahal kalau sudah tau, AT Command sama sekali tidak layak jadi penghambat skripsi. Gampang banget ternyata. Setelah itu tetiba merasa bodoh sendiri.

The point is, I was afraid to embrace my own confusion. Bisa jadi sebenarnya kita terus menerus membingungkan masalah yang sama karena selama ini kita ngumpet dan menghindar. Jadinya requirement dari jawaban kita gak akan pernah ketemu. 

Kita gak berani dan paranoid duluan. Beberapa kenalan di kampus juga mengalami hal yang lumayan serupa dalam nyekripsi, bahkan waktunya lebih lama. Takut menghadapi neraca massa, takut ganti metodologi mutakhir karena merasa susah belajar lagi, takut ganti bahan baku karena sudah terlanjur riset pengantar tentang bahan bakunya, dan segala takut yang lain yang membuat kita tidak bisa memenuhi requirement dalam menuju jawaban akhir. Yang membuat segalanya tetap dan selalu membingungkan.

Pertanyaannya, beranikah kita embrace kebingungan kita sendiri? We’re not going anywhere kalau kita selalu sembunyi. Your call :)

Q: Jadi, bagaimana caranya menghadapi bingung yang benar?

Masing-masing orang unik, punya masalah dan cara memecahkan masalah yang berbeda satu sama lain. Menghadapi kebingungan bisa jadi pertanyaan yang sangat sulit, karena gue sendiri belum paham sepenuhnya selain dengan melaksanakan alur flowchart di atas. Mungkin ini terdengar absurd, tapi ada satu pelajaran menarik yang bisa gue ambil dari pengalaman selama mengerjakan SNMPTN empat tahun yang lalu.

Soal-soal SNMPTN adalah soal prediktif untuk calon mahasiswa, yang sebenarnya tidak didesain untuk dikerjakan semuanya (walau selalu ada saja yang bisa mengerjakan hampir semuanya selama try out). SNMPTN menurut gue bukan adu kecerdasan, tapi adu kebijaksanaan. Waktunya terbatas, soalnya banyak, dan sistem benar +4 salah -1 membuat kita selalu berpikir ulang dalam menjawab.

Menghadapi kebingungan dalam hidup, menurut gue bisa jadi sebelas dua belas dengan mengerjakan soal SNMPTN. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan soal mana yang benar-benar layak kita bingungkan dan sesuai dengan kemampuan kita. Soal mana yang bisa memberikan kita nilai +4 dan menghindari menjawab asal karena menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Jadi, tips pertama dalam menghadapi kebingungan adalah dengan memastikan bahwa hal-hal yang sedang kita bingungkan benar-benar penting, memberikan nilai tambah, dan layak untuk diperjuangkan.

Pertanyaannya, kita selama ini bingung untuk masalah apa? Hal-hal penting? Atau justru hal-hal tidak penting?

~~~
Alasan utama kenapa gue menulis ini adalah karena gue merasa bingung juga menyimpan potensi membahayakan. Bingung, dalam level filosofis bisa membuat seseorang menjadi gila mendadak, dan bingung dalam level teologis bisa membuat seseorang tak percaya Tuhan dalam semalam. Dua-duanya terjadi karena membingungkan sesuatu yang tidak pada levelnya.

Juga sebagai rasa tidak setuju pada persepsi sifat “bingung” di masyarakat. Seolah-olah “bingung” adalah sesuatu yang menjijikan dan nista. Dihindari dengan berbagai macam kalimat motivasi untuk menghapus kebingungan. Padahal bisa jadi tanpa “bingung” dunia ini tidak akan pernah berubah.

Dunia ini berubah karena adanya orang bingung yang mati-matian mencari jawaban atas kebingungannya.

Akhirnya, dear kamu yang sedang bingung, jangan berkecil hati. Kita semua adalah orang-orang yang bingung. Bahwa kebingungan adalah sesuatu yang harus dirayakan, karena kita tinggal beberapa langkah lagi dari jawaban yang kita butuhkan. 

Selamat merayakan kebingungan!

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

Kamu Harusnya Ngerti Dong, Dear

Disclaimer: Berhubung saya bukan mahasiswa linguistik atau komunikasi, saya tidak bertanggung jawab secara akademik terhadap apa yang saya tuliskan di bawah ini. Asas sotoy dan iseng saja. Jangan serius-serius banget lah :P
ko-de n 1 tanda (kata-kata, tulisan) yang disepakati untuk maksud tertentu (untuk menjamin kerahasiaan berita, pemerintah, dsb)
Makin hari, entah kenapa kata 'kode' mengalami pergeseran makna dalam ruang-ruang percakapan kita sehari-hari, tatap muka ataupun dalam ruang digital. Menilik arti kata aslinya, bahkan sebenarnya kata 'kode' tidak lazim kita gunakan sehari-hari. Harusnya sih begitu.

Oleh sebagian anak-anak muda yang sangat kreatif, 'kode' yang semula lazimnya ada di dalam kosakata militer, jurnalistik, dan etik sosial ditarik secara paksa ke dalam ruang-ruang percakapan anak muda, dan direduksi secara semena-mena menjadi 'sesuatu yang harusnya kamu pahami, dear'. 'Kode' nowadays looks like this:
kode: kamu harusnya ngerti dong, dear
Kenyataan bahwa kita tertawa atau yaa paling tidak tersenyum getir dengan lawakan CommaWiki semata-mata menjadi bukti bahwa ruang-ruang percakapan kita sudah diperkaya kode dan bersifat multitafsir. And we love it, don't we? Senang dengan ambiguitas. Semakin tidak jelas semakin menyenangkan.

Komunikasi dengan 'kode' mendasarkan diri pada asumsi. Asumsinya orang lain akan paham. Asumsinya semua orang akan paham. Tanpa pernah menyadari bahwa komunikasi penuh dengan kode bisa mendatangkan bahaya yang luar biasa besarnya.

~~~
Tidak ada buku yang lebih baik dalam memberikan contoh betapa bahayanya penghalusan (istilah ilmiah untuk 'ngode' yang kamu lakukan sehari-hari) selain Outliers, salah satu karya besar Malcolm Gladwell. Tepatnya di bab tujuh tentang Teori Etnik Mengenai Jatuhnya Pesawat Terbang.
Malcolm Gladwell dan Outliers
Di bagian ini Malcolm Gladwell mencoba untuk menghubungkan apakah negara asal seorang pilot pesawat terbang mempengaruhi kemampuannya dalam menjadi pilot. Atau lebih spesifik lagi, bagaimana para pilot ini berkomunikasi dengan cara dan budaya negara asal mereka. Utamanya lagi, tentang bagaimana mereka melakukan penghalusan (ngode) ke atasan mereka di kokpit pesawat.

Salah satu contohnya, adalah penerbangan Air Florida yang jatuh di luar Washington DC, saat
first officer tiga kali mencoba memberitahu sang kapten kalau terdapat tumpukan es yang membahayakan di sayap pesawatnya. Tetapi dengarkan bagaimana cara dia mengatakannya. Semua berupa petunjuk
FIRST OFFICER: "Lihat bagaimana es menggantung di, ah, di belakang sana, lihat kan?"
Lalu: 
FIRST OFFICER: "Lihat semua tetesan air beku di belakang sana?"
Dan kemudian: 
FIRST OFFICER: "Wah benar-benar sulit mencairkan es itu, sepertinya terasa kurang aman, itu saja" 
Akhirnya, saat mereka mendapatkan izin untuk mengudara, first officer meningkatkan dua tingkat saran ke awak kapal:
FIRST OFFICER: "Mari kita cek [sayap] pesawat itu lagi, karena kita sudah cukup lama di atas sini.
 
"KAPTEN: "Kurasa kita harus melakukan ini dahulu."
Hal terakhir yang dikatakan first officer kepada kapten tepat sebelum pesawat meluncur ke Sungai Potomac, bukanlah petunjukm saran, atau perintah. Tetapi pernyataan akan fakta sederhana -dan kali ini sang kapten setuju dengannya.
FIRST OFFICER: "Larry, kita jatuh, Larry. 
"KAPTEN: "Aku tahu." 
~~~
Penghalusan dalam komunikasi (atau ngode) ternyata mampu mengandaskan satu pesawat komersial.

Penghalusan yang dilakukan oleh kru penerbangan dalam beberapa contoh di buku ini dilakukan karena adanya gap jabatan yang terjadi antara first officer dengan kapten. Salah satu negara yang memiliki jarak kekuasaan (Power Distance Index) terbesar adalah Korea. Simak salah satu contoh percakapan yang terjadi antara Mr. Kim, seorang pekerja dengan atasannya, kepala divisi (kwacang)
KWACANG: Cuacanya dingin dan saya agak lapar [ARTINYA: Coba tolong belikan minum atau makanan] 
MR. KIM: Bagaimana kalau segelas anggur? [ARTINYA: Saya akan membelikan anggur untuk Anda] 
KWACANG: Tidak usah repot-repot.[ARTINYA: Aku akan menerimanya kalau kamu mengulangi tawaranmu] 
MR. KIM: Anda pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan keluar?[ARTINYA: Saya memaksa untuk menraktir Anda.] 
KWACANG: Apakah aku harus menerimanya?[ARTINYA: Aku menerimanya.]
Basa-basi! Dari contoh di atas bahkan basa-basinya orang Korea jauh-jauh lebih 'manis' dibandingkan basa-basinya orang Indonesia. Kode dimana-dimana. Keseluruhan percakapan bahkan sebenarnya mengandung arti yang lebih dalam dibandingkan dengan kata-kata yang diucapkan. 

Sesungguhnya menurut Gladwell, ada sesuatu yang indah dari kehalusan percakapan ini, dalam artian kedua pihak menghargai motivasi dan keinginan yang lainnya. Ini merupakan sikap yang beradab, dalam arti yang sesungguhnya: sikap ini tidak mengizinkan ketidaksensitifan atau sikap acuh tak acuh.

Walaupun sebenarnya kalau di Indonesia (atau paling tidak di kampus saya) arah pembicaraan tidak akan semulus itu. Malah bisa jadi kayak begini:
Bos : "aduh udah jam segini nih, mie ayam enak kali ya bok"
Bawahan : "nitip bos!"
Bos : "$^#&%#&%#A@%"
~~~
Penghalusan emang indah sih bro, tapi tetap saja bahaya. Dengan ngode, artinya kita memberikan tanggung jawab untuk mengartikan apa yang kita maksudkan sepenuhnya pada pendengar, dengan asumsi bahwa sang pendengar pasti tahu dan pasti mengerti apa yang kita maksudkan.
"heh? opo le? aku ndak ngerti loh maksudmu"
Padahal asumsi itu tidak selamanya benar. Tidak jarang pendengar justru no idea. Pembicaraan penuh dengan kode seperti ini rawan berakhir dengan kondisi seperti ini
"kamu gak pekaaaaa" *JEENG
Jadi mulai dari sekarang, cobalah untuk menghapus asumsi bahwa orang lain akan paham dengan apa yang kita maksudkan. Bukannya apa-apa sih, daricontoh yang udah dikasih ketahuan kan ngode sembarangan bisa mengandaskan seluruh pesawat. Kamu juga bisa kandas di tengah jalan kalau ngode sembarangan terus *jeeeng

Cobalah untuk berbicara lebih jelas. Kalau memang ingin ngode, coba dicurahkan untuk belajar kode yang positif, contohnya belajar C++, Java, Android atau Arduino. Kamu harusnya (lebih) ngerti dong, dear.
skill ngode kamu akan diasah makin jago lagi untuk penggunaan yang tepat! (y)
Happy coding! :3

POSTED IN ,
DISCUSSION 5 Comments

[Late Report] Cari 'Delmar' (Lagi)

Ini adalah late post, telat abis hampir sebulan lamanya ada di draft. Dan ini tidak akan menjadi post yang panjang. Cukup pendek untuk sekadar mengarsipkan kenangan tahun ketiga dari kegiatan hunting bayi lucudi tanggal 8 Maret setiap tahunnya.

Seperti dua tahun sebelumnya (Lihat “Mencari ‘Delmar’ Yang Lain” di tahun 2013 dan “A Letter for Another ‘Delmar’" di tahun 2014) saya mencari lagi bayi merah lucu yang masih segar yang lahir barengan sama saya di tanggal 8 Maret. Tahun ini tempatnya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, di RSIA Hermina Bogor Yasmin.

Tahun ini saya datang ke RSIA Hermina tanggal 9 Maret 2015, tanpa survei di hari sebelumnya seperti yang saya lakukan tahun-tahun yang lalu. Toh kalaupun tidak ada yang lahir tanggal 8 Maret, ya gak apa-apa juga kasih kado buat yang tanggal 7 atau 9. Tebakan saya ternyata benar. Satu-satunya bayi yang lahir di tanggal 8 Maret sudah pulang dari rumah sakit.

Sampai akhirnya Bu Sofi, staf marketing RSIA Hermina menawarkan ke saya bayi yang lahir tanggal 7 Maret. Ternyata setelah dilihat record kelahirannya, si bayi ini lahir tanggal 7 Maret 2015, jam 23:55. Cuma beda 5 menit dari tanggal 8 Maret. Ya gak apa-apa banget lah, anggap aja ini ‘Delmar’ minus lima menit doang mah :p
7 Maret 2015, 23:55. close enough

halo kecil :*
Si bayi merah ini berjenis kelamin perempuan, anak ketiga dari Ibu Cicah dan (kalau saya tidak salah ingat) Pak Andrian. Si cantik ini anteng aja bobokan. Seperti korban-korban saya di tahun sebelumnya, pasangan suami istri ini hangat sekali menyambut saya. Si cantik ini belum punya nama kemarin, dan seperti korban-korban sebelumnya Ibu Cicah dan suami hanya cekikikan dan sepertinya pikir-pikir lagi waktu saya menawarkan nama yang sama dengan saya. Tapi emang iya sih, kalo 7 Maret namanya Tumar. Sedih bener bro namanya. Cantik-cantik kok Tumar.

Doa terbaik buat kamu ya, dear bayi yang lucu :* Semoga kamu bahagia dunia akhirat :)

Terakhir, saya ingin memberikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada RSIA Hermina Bogor, terutama untuk Ibu Sofi dan Ibu Wiwi dari staf marketing Hermina. Di tahun 2013 waktu pertama kali saya mulai rutinitas ini, sulit sekali cari rumah sakit yang begitu terbuka dengan data kelahiran. Memang untuk alasan keamanan sih sebenarnya. Tapi di Hermina ini open sekali, dan sangat welcome dengan hal-hal non-prosedural seperti yang saya lakukan di 3 tahun terakhir.

Dan alasan utama mengapa orang tua bayi yang saya datangi begitu welcome dengan saya juga karena Ibu Sofi selalu memberikan penjelasan kepada orang tua bayi sebelum saya masuk ruangan. Jadi sebenarnya berkat beliaulah saya diterima dengan baik oleh para orang tua bayi yang saya sambangi. Tanpa Ibu Sofi pasti terasa canggung sekali. Asing, wajah kriminal, mengaku mahasiswa, bawa kado pula. Modus kriminal apa lagi ini?
disponsori oleh RSIA Hermina Bogor :)
Lalu saya juga dapat kabar dari Galih Tristianni, teman yang sesungguhnya saya gak pernah ketemu rupanya (iya serius), bahwa dia juga sudah pernah melakukan hal seperti ini di Hermina, dan sambutannya menyenangkan (lihat Find The Baby: Happy di blognya)

Bukan tidak mungkin setelah saya lulus, balik lagi ke Hermina Bogor cuma buat ngasih kado saat saya ulang tahun. Semoga Ibu Sofi dan tim selalu welcome :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Teruntuk Talita Sari

Dear Talita Sari

Surat ini spesial banget buat kamu.

Aku tahu kita baru beberapa saat terakhir ini ketemu. Tapi aku yakin sebenarnya ini bukan pertemuan pertama kita. In fact bahkan sebelum kita ketemu aku hampir setiap hari mikirin kamu. Mungkin ini suratan takdir. Jodoh biasanya emang gitu kok, tenang aja. Rasanya aku gak perlu menanyakan kamu pertanyaan yang sama, soalnya aku udah yakin banget sama jawabannya.

Beberapa bulan aku menunggu, sembari sibuk sana-sini, akhirnya bisa ketemu kamu.

Sampai pada akhirnya orangtua aku menyetujui kamu. Aku seneng banget. Akhirnya usahaku selama ini tidak sia-sia belaka. Aku percaya ini adalah jalan kita berdua.

Beberapa minggu pertama, aku masih kesulitan berkomunikasi dengan kamu. Kamu memang susah sekali untuk dimengerti. Alaminya memang begitu. Masalah komunikasi memang kerap terjadi. Aku hanya perlu adaptasi beberapa saat hingga akhirnya terbiasa dengan bahasa dan ucapan kamu. Semoga kamu juga begitu.

Talita, kamu memang gak secantik Pevita Pearce. Tapi aku yakin kamu setia. Kamu akan nemenin aku sampai akhir. Kamu akan dampingin aku wisuda, bahkan sebenarnya kesabaran dan kerja keras kamu lah yang membawa aku wisuda.
 
Kamu emang gak secantik Pevita. Ya iyalah Pevita cantik kayak begini
Talita, mari kita songsong masa depan bersama. Aku percaya sama kamu dan kamu juga harus percaya sama aku. Bantu aku untuk memahami kamu. Aku percaya Talita, kebaikan buat kita berdua ada di ujung sana.


Tertanda, aku yang masih kesulitan memahami kamu




Delmar Zakaria Firdaus

Ini deh ya aku kasih foto kamu
ini dia Talita Sari :*

TALITA SARI
(Alat Perekam dan Analisis Data Suhu Transportasi Rantai Dingin Produk Beku)
~~~

Supaya gak antiklimaks, Talita ini adalah judul skripsi saya. Enggak juga sih, masak iya judulnya TALITA SARI. Kover skripsi kayak kover buku lirik dangdut pantura.

Talita ini adalah mikrokontroler yang fungsinya.... ya sama kayak judulnya. Basisnya Arduino, dan sejujurnya merupakan benda asing karena sama sekali tidak pernah saya pelajari selama kuliah. Tapi entah kenapa ide tentang Talita ini begitu menarik, dan cocok sama stream lab saya di Packaging and Storage Technology. Akhirnya modal nekat aja.

Akhir kata, mohon doa untuk saya dan Talita semoga selalu langgeng dan dilancarkan sampai wisuda. #Pray4DelmarTalita

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

Horor Skripsi


Kelas kuliah skripsi  0:00 - 0:00 [Ruang belum tentu]

Jadi skripsi memaksa kamu untuk melakukan apapun selama 24 jam setiap harinya, di mana saja. Horor skripsi ternyata sudah dimulai sejak masa KRS. Ah pintar sekali IPB menaruh kode supaya mahasiswanya cepat lulus.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Are You a Human?

"This is a human test. A test to see if you are a human. Please raise your hand if something applies to you. Are we agreed? Yes? Then let's begin."
-Ze Frank
klik di sini untuk melihat TEDTalk Ze Frank :)
Saya suka banget nonton TEDTalks, dan salah satu speaker favorit saya adalah Ze Frank. Ze Frank adalah seorang komedian, humoris, yang terkenal sejak membuat video humor yang menjadi viral. Terdengar biasa saja karena saat ini banyak viral humor video hampir setiap saat? Ehem jadi masalahnya adalah dia melakukannya di tahun 2001. Viral video in 2001? Oh God. Click here to see his viral video in 2001

Di TED 2014, Ze Frank mengeluarkan materi rentetan pertanyaan sederhana, yang menguji tentang seberapa 'manusia'nya kita. Saya pengen banget share ini karena pertanyaannya usil banget, tapi kontemplatif.

The rule is very simple. Kalau Anda benar-benar pernah melakukan hal-hal di bawah ini, cukup anggukkan kepala Anda. Mari kita mulai :)

  1. Apakah Anda pernah memakan upil setelah Anda tumbuh dewasa?
  2. Apakah Anda pernah membuat suara kecil dan aneh ketika Anda teringat hal yang memalukan?
  3. Pernahkah Anda sengaja memakai huruf kecil di awal kalimat ketika mengirim SMS untuk menunjukkan rasa sedih atau kecewa?
  4. Apakah Anda pernah mengakhiri sebuah pesan dengan titik sebagai sebuah tanda agresi?
  5. Apakah Anda pernah tertawa atau tersenyum saat seseorang mengatakan sesuatu yang menyebalkan, dan kemudian sepanjang hari itu berpikir mengapa Anda bereaksi demikian? 
  6. Apakah Anda pernah merasa kehilangan tiket pesawat ribuan kali, ketika Anda berjalan dari check in hingga ruang tunggu?
  7. Apakah Anda pernah memakai celana dan belakangan menyadari ada sebauh kaus kaki longgar yang terjepit di paha Anda?
  8. Apakah Anda pernah mencoba menebak kata sandi (password) orang lain berkali-kali sampai akun mereka terkunci?
  9. Apakah Anda pernah merasa suatu hari orang-orang akan tahu bahwa Anda seorang penipu (fraud)?
  10. Pernahkah Anda berharap memiliki kemampuan yang belum Anda temukan dan secara alami Anda kuasai?
  11. Apakah Anda pernah merusak sesuatu di kehidupan nyata, dan lalu mencari sebuah tombol "undo" dalam kehidupan nyata?
  12. Apakah Anda pernah mengagumi bagaimana seseorang yang Anda pikir begitu biasa tiba-tiba bisa menjadi begitu cantik?
  13. Apakah Anda pernah memandangi handphone Anda, tersenyum seperti orang bodoh saat mengirim pesan kepada seseorang?
  14. Apakah Anda pernah lalu mengirimkan pesan pada orang tersebut, "Aku lagi ngeliatin telepon, dan senyum sendiri seperti orang idiot"?
  15. Apakah Anda pernah tergoda dan kemudian mengikuti godaan itu, untuk melihat handphone orang lain?
  16. Apakah Anda pernah bicara dengan diri sendiri dan kemudian sadar bahwa Anda begitu brengsek kepada diri Anda sendiri?
  17. Pernahkah baterai telepon Anda tiba-tiba habis di tengah perdebatan dan merasa seolah telepon tersebut memutuskan hubungan Anda berdua?
  18. Apakah Anda pernah berpikir berusaha memperbaiki masalah di antara Anda berdua itu sia-sia karena harusnya tidak serumit ini, atau seharusnnya terjadi secara alami?
  19. Apakah Anda menyadari bahwa pada akhirnya, jarang sekali terjadi secara alami?
  20. Apakah Anda pernah terbangun dengan perasaan senang dan seketika dibanjiri oleh kenangan buruk bahwa seseorang telah meninggalkan Anda?
  21. Pernahkah Anda tak lagi bisa membayangkan masa depan tanpa seseorang, yang sudah tidak ada lagi di hidup Anda?
  22. Pernahkah Anda mengingat lagi kenangan itu dengan senyuman sedih musim gugur dan lalu tersadar bahwa masa depan akan tetap terjadi bagaimanapun juga?
Saya menjawab 'Ya' untuk hampir seluruh pertanyaan di atas. Bagaimana dengan kamu? :)

Congratulations. You have now completed the test. You are all human.

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

Hidung Mampet 4 Bulan

Ada banyak sekali alasan kenapa halaman ini tetap tidak berubah selama empat bulan terakhir. Hidup saya selama September sampai Desember 2014 sepertinya jauh lebih panjang dibandingkan 8 bulan sisanya di tahun yang sama. Terlalu banyak yang terjadi sampai-sampai gak mampu update apapun sama sekali.

Awalnya saya merasa itu bukan masalah. Tidak ada seorangpun rasanya yang menunggu-nunggu ada update dari blog ini. Tidak adanya update di blog ini tidak akan memberikan masalah dan gangguan bagi orang lain. Tidak di bumi, dan tidak di tempat lainnya. Nothing’s wrong with that, really.

Sampai saya baru menyadari, bahwa ada orang yang sangat bermasalah dan terganggu dengan tidak adanya tanda-tanda kehidupan dari halaman ini. Orang itu adalah saya sendiri.

Pernah nonton serial adopsi Sherlock Holmes yang terbaru? BBC ‘Sherlock’? Alkisah, John Watson yang baru saja dipulangkan dari Afghanistan menderita gangguan mental, dan salah satu bagian dari terapi yang diberikan oleh psikiatrinya adalah dengan menulis blog. Ditarik dari asal muasal aktivitas blog saya semenjak 7 tahun yang lalu, salah satu alasan saya untuk tetap menulis apapun (ya, apapun) di halaman blog yang saya miliki juga untuk terapi. Self-therapy

Bukan berarti saya menderita gangguan mental, bukan. Tapi saya merasa menulis menjadi salah satu cara yang cukup menenangkan emosi dan tempramen saya dalam kehidupan sehari-hari. Ada kelegaan yang muncul setiap kali saya menulis blog. Sederhana saja perasaannya, tidak berlebihan. Seperti hidung mampet yang sedikit lebih lega setelah menghirup inhaler. Itu saja. Tapi cukup untuk memperbaiki suasana hati.

In the end, ternyata selama 4 bulan terakhir saya sudah lupa terapi ini.

Saya harus memulainya kembali. Sekadar untuk melegakan barang sebentar hidung yang sudah lama mampet. 

POSTED IN
DISCUSSION 3 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)