Makan Bubur Panas

Koran SINDO beberapa hari yang lalu (7/8/2014) memuat satu artikel yang sangat menarik di kolom analisis, ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali. Judulnya Bubur Panas dan Pengendalian BBM :

"Anda pernah makan bubur di kawasan Cikini, Jakarta? Dulu, menjelang tengah malam, kala pikiran jenuh dengan pekerjaan yang bertimbun, sementara perut lapar minta diisi, dari Kampus Salemba saya sering mampir makan bubur di daerah Hayam Wuruk-Kota. Panasnya bubur bisa membuat perut kita hangat. Energi kita serasa pulih dan kita bisa kembali bekerja hingga lewat tengah malam. Padahal, namanya juga bubur, airnya lebih banyak daripada berasnya.

Tapi, makan bubur panas tidak bisa dengan sekali serbu. Lidah bisa terbakar. Itu sebabnya saat makan bubur, kita memulai dengan pinggirnya terlebih dahulu. Baru setelah panasnya berkurang, kita mulai bergerak ke tengah."

Analogi 'makan-bubur-panas' dalam artikel ini menjadi perumpamaan bagi strategi pemerintah dalam mengendalikan subsidi BBM. Strategi yang bernada sama juga diterapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menjerat pelaku tindak pidana korupsi.

"Misalnya, sebelum menjerat salah satu tokoh puncak suatu partai yang terlibat perkara korupsi, KPK mulai dengan menahan beberapa bawahannya. Akhirnya setelah cukup bukti, KPK pun menahan sang tokoh tersebut. Teman-teman di KPK menyebutnya sebagai 'strategi membakar obat nyamuk.'"

Nadanya sama, dari pinggir bergerak ke tengah. Saya suka dengan cara dan strategi ini. Walau kadang dalam beberapa kondisi kita diharuskan mengambil keputusan dengan cepat, secepat-cepatnya makan bubur, dan secepat-cepatnya kita membakar obat nyamuk, tetap saja mulai dari pinggirnya dulu. Ada prosesnya. Tidak instan.

Jangan pernah makan bubur langsung dari tengah mangkoknya. Pelan-pelan saja, abang nungguin kok #lah :3

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)