Renungan Pasca Praktik Lapang

Dua bulan terakhir dari bulan Juni-Agustus tahun ini saya merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ‘karyawan’ di mata kuliah Praktik Lapang. Fakultas Teknologi Pertanian IPB memang menugaskan seluruh mahasiswa tingkat tiga (kecuali Ilmu dan Teknologi Pangan karena masih bersifat elektif) untuk menimba ilmu di industri yang relevan dengan bidang kerjanya selama 40 hari kerja aktif.

Lokasi PL saya di PT Niramas Utama, Tambun, Bekasi, bareng-bareng sama lima teman yang juga satu departemen (Ihsan, Yudhis, Salman, Indah, Santi). Enam orang dipecah ke tiga divisi yang berbeda : produksi, gudang, dan lingkungan (limbah). Mungkin jarang yang engeh sama PT Niramas Utama (sejujurnya saya juga baru tau waktu mau PL) tapi pasti familiar sama produk yang ini.
Iya, PT Niramas Utama itu perusahaan yang membawahi merek Inaco.

Saya menulis ini bukan untuk membagi cerita tentang berbagai proses produksi atau perubahan fisik/kimia selama operasi. Lagi ogah. Saya cuma pengin membagikan apa yang selama ini saya renungkan selama menjalani masa ‘karyawan’ selama dua bulan terakhir.

Alasan kenapa saya memilih PL di Inaco semata-mata karena terpaksa. Ditolak di mana-mana. Akhirnya barengan sama ‘barisan-tertolak’ lainnya buat daftar PL di Inaco. Secara lokasi Inaco sebenarnya tidak terlalu ideal buat saya. Terlalu dekat untuk ngekos dan agak terlalu jauh untuk pulang-pergi. Bekasi luas bro, Tambun itu sudah masuk wilayah kabupaten. Kira-kira dari rumah ke pabrik sekitar 20 km, ditempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam karena banyak titik macet. Pulang-balik 40 km, 2 jam perjalanan total. Lumayan banget. Tapi akhirnya PP harus dipilih karena biaya untuk ngekos jauh lebih tidak masuk akal.
titik warna hitam : rumah saya ; titik warna merah : lokasi PL. Sekitar 21.6 km. Jauh engga, dekat juga engga
Bagi saya pribadi, PL itu kayak ‘demo game’. Ngerasain bagaimana setiap hari masuk jam 8 dan pulang jam 5, tapi masih banyak fitur ‘purchased game’ yang belum bisa diunlock. Nanti diunlocknya pas udah lulus, dunia pasca kampus. Di tempat PL pula saya sadar bahwa di industri yang relevan dengan bidang yang saya pelajari, entah kenapa, hmm kerjanya monoton abis.

Partisi kerja per bagian sudah jelas, masalah dan tantangan juga enggak pernah jauh beda setiap harinya. Saya ditempatkan di bagian produksi, dan masalah yang ada di sana selalu tentang downtime mesin dan produktivitas operator yang rendah. Itu-itu aja. Yang bagian gudang juga sama saja, bahkan lebih tidak jelas dibanding bagian produksi karena order kirim barang selalu tidak terjadwal.

Monoton banget. Saya nggak betah.

Tapi justru ini yang menjadi pelajaran besar buat saya. Berhadapan dengan dunia kerja berarti harus siap dengan rutinitas kerja yang begitu-begitu saja. Saya baru merasakan apa yang sebenarnya dibicarakan sama om @ReneCC di sesi TEDxJakarta-nya dan buku yang ditulisnya, Your Job is Not Your Career.
recommended book!
Di lampu merah sepanjang perjalanan pulang saya sering tengok kanan-kiri, sekedar pengen tahu dari mana saja kawan-kawan sepengendaraan saya ini. Bisa jadi jarak yang mereka tempuh lebih dekat dari yang saya jalani setiap hari, tapi bisa jadi juga jarak yang mereka tempuh berkali lipat dibandingkan jarak saya ke rumah. Sembari bertanya-tanya, “Sudah berapa tahun mereka menjalani rutinitas kayak gini? Apa yang membuat mereka bisa bertahan?”
kalau nggak karena cinta pekerjaan atau karena motivasi hebat lainnya, susah bro menjalani rutinitas kayak begini setiap hari
Saya merasa mereka harus benar-benar do what you love or love what you do buat menjalani tahun-tahun pekerjaan mereka. Entah kenapa saya yakin sekali bahwa orang-orang yang bekerja di industri, di pabrik, sama sekali bukan passion mereka. Saya enggak yakin ada orang yang passionnya bawa forklift. Rasanya nggak ada.
"serius nih bang gak mau naik forklift bareng aku?" ; "aduh si eneng..."
Satu-satunya kemungkinan adalah para pekerja ini harus love what you do, atau (terpaksa) love what you do. Orang yang kerja di pabrik pasti work for money. Mereka butuh uang untuk memenuhi biaya sewa petakan dan beli susu untuk bayi kecilnya. Bisa jadi hal-hal ini yang membuat mereka bisa bertahan.

Ah klise banget lo mar! Kerja emang gitu! Buat cari makan kok gak mau susah, manja!

Itu dia makanya. PL ini benar-benar memberikan pelajaran berharga tentang realita dunia pasca kampus. Mumpung masih diberi kesempatan jadi mahasiswa (Alhamdulillah Yaa Rabb...) yang notabene nggak semua orang diberikan kesempatan serupa, yuk monggo kita siapkan dengan baik dunia pasca kampus kita. 

Dengan status sebagai mahasiswa, ada lebih banyak pilihan yang tersedia selepas dari kampus, bisa lanjut ke studi master, kerja, wirausaha, ikut program-program semacam Indonesia Bangun Desa atau Indonesia Mengajar, dan banyak lagi. Disiapin aja maunya yang mana.

We ought to do what we love to do.

Kita semua punya hak atas penentuan nasib kita sendiri. Supaya nanti dunia pasca kampus kita nggak kayak lagunya Nafa Urbach, Hatiku Bagai Terpenjara :P


Kalaupun nanti (misalnya terpaksa) terpenjara di dunia kerja, biarlah tingkah lucu anak-anak kita dan bahagianya keluarga di rumah yang menjadi penyemangat dan pelipur lara sepulang kerja :) 

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Pengantar Krisis Pangan Dunia Eps. 1 : Prolog

“For years, we've been able to take the food we eat for granted. We go to the supermarkets and it's all there, at a cost that most of us can afford. And then, of course, there's the huge variety. But in the last few years there've been warning signs that all that is about to change.” – BBC Future of Food

Pertambahan jumlah penduduk dunia membuat isu ketersediaan pangan menjadi isu yang sangat krusial. Permasalahan pangan tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di seluruh dunia. Apa yang sebenarnya terjadi?
Photograph by John Stanmeyer - National Geographic
Pengantar Krisis Pangan Dunia adalah posting berseri yang akan menceritakan tentang berbagai permasalahan pangan yang terjadi di dunia, terinspirasi oleh documentary series BBC Future of Food. Dokumenter ini hanya terdiri dari tiga episode yang masing-masing episodenya memiliki durasi sekitar 1 jam. Meski demikian, apa yang sebenarnya disampaikan dalam dokumenter ini menurut saya sangat lengkap dan berhasil merangkum beberapa masalah kritis dalam krisis pangan dunia.

Entah mengapa saya merasa pengetahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi di berbagai belahan dunia terkait dengan permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan perlu diketahui banyak orang, apalagi mahasiswa di rumpun pertanian. Mungkin harusnya documentary series ini, dan bahan kajiannya (Pengantar Krisis Pangan Dunia) harus juga diberikan ke setiap mahasiswa baru IPB sebagai mata kuliah lanjutan Pengantar Ilmu Pertanian. Lumayan lah bisa nambah 2 sks :P
Grumpy Cat said : Yaelah bro, gue kan bukan anak pertanian, peduli amat tentang krisis pangan. Itu sih masalah lo sama institut lo!

Ckck mpus. Tim Lang (Professor of Food Policy, City University, UK) mengatakan bahwa di tahun 2050 populasi dunia akan menjadi 9 miliar manusia, sementara sekarang saja kita sudah kesulitan dalam memperjuangkan pangan bagi 7 miliar manusia. Semakin besar kebutuhan akan susu, daging, ikan, dan bahan pangan lainnya.

“Unless we change how we grow food, how we eat it, what we eat, how much we prepared to pay for it, we're walking into crisis.” – Tim Lang

Iya, kecuali kamu makan angin, masalah pangan tetap masalah kamu :)
"Bener juga bro," kata si empus
Series ini akan membawa kita ke Inggris (sebagai sentral cerita dalam dokumenter), India, Senegal, Kuba, Amerika Serikat, Meksiko, Australia, dan mungkin beberapa kali kita akan membahas Indonesia.

Selamat datang di kelas kuliah Pengantar Krisis Pangan Dunia. Bukan berarti saya mengerti benar tentang topik ini, tapi mari kita belajar bersama-sama. Silahkan duduk :)

"Tonight, I will reveal the global food security crisis and what it could mean for the food on our plates." – BBC Future of Food

DISCUSSION 0 Comments

Makan Bubur Panas

Koran SINDO beberapa hari yang lalu (7/8/2014) memuat satu artikel yang sangat menarik di kolom analisis, ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali. Judulnya Bubur Panas dan Pengendalian BBM :

"Anda pernah makan bubur di kawasan Cikini, Jakarta? Dulu, menjelang tengah malam, kala pikiran jenuh dengan pekerjaan yang bertimbun, sementara perut lapar minta diisi, dari Kampus Salemba saya sering mampir makan bubur di daerah Hayam Wuruk-Kota. Panasnya bubur bisa membuat perut kita hangat. Energi kita serasa pulih dan kita bisa kembali bekerja hingga lewat tengah malam. Padahal, namanya juga bubur, airnya lebih banyak daripada berasnya.

Tapi, makan bubur panas tidak bisa dengan sekali serbu. Lidah bisa terbakar. Itu sebabnya saat makan bubur, kita memulai dengan pinggirnya terlebih dahulu. Baru setelah panasnya berkurang, kita mulai bergerak ke tengah."

Analogi 'makan-bubur-panas' dalam artikel ini menjadi perumpamaan bagi strategi pemerintah dalam mengendalikan subsidi BBM. Strategi yang bernada sama juga diterapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menjerat pelaku tindak pidana korupsi.

"Misalnya, sebelum menjerat salah satu tokoh puncak suatu partai yang terlibat perkara korupsi, KPK mulai dengan menahan beberapa bawahannya. Akhirnya setelah cukup bukti, KPK pun menahan sang tokoh tersebut. Teman-teman di KPK menyebutnya sebagai 'strategi membakar obat nyamuk.'"

Nadanya sama, dari pinggir bergerak ke tengah. Saya suka dengan cara dan strategi ini. Walau kadang dalam beberapa kondisi kita diharuskan mengambil keputusan dengan cepat, secepat-cepatnya makan bubur, dan secepat-cepatnya kita membakar obat nyamuk, tetap saja mulai dari pinggirnya dulu. Ada prosesnya. Tidak instan.

Jangan pernah makan bubur langsung dari tengah mangkoknya. Pelan-pelan saja, abang nungguin kok #lah :3

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)