A Letter for Another 'Delmar' :)

Sebelumnya lihat : The 20th Birthday Project

Tanggal 7 Maret kemarin saya sesungguhnya lupa dengan project ulang tahun saya sendiri. Lupa kalau harus survei dulu ke RSIA Hermina. Semesta mendukung dengan meniadakan kuliah Teknologi Pati, Gula dan Sukrokimia sebelum jum'atan, dan semesta kembali mendukung saat saya main-main ke ruangan Ibu Nana, Kepala TU Fateta. 

Semenjak jadi Ketua BEM, saya memang rutin main ke ruang Kepala TU dan Wakil Dekan. Sekadar bercanda ngobrol-ngobrol sama ibu-ibu di sana. Seru abis deh ngobrol bareng ibu-ibu pimpinan fakultas ini. Strategis juga karena bisa sekalian advokasi kebutuhan mahasiswa. Beliau-beliau ini bahkan tau arti nama saya, dan ingat kalau besok adalah hari ulang tahun saya -___-

Di sela-sela obrolan kami, Ibu Nana nyeletuk, "Bu Ratna hari ini tanggal berapa? Tanggal 7 ya? Eh berarti kamu besok ulang tahun ya mar? Duuh kamu inget-nget tuh 20 tahun yang lalu ibu kamu hari ini lagi capek-capeknya mau ngelahirin kamu."

Semesta menakdirkan celetukan usil Ibu Nana yang mengingatkan saya untuk menjalankan misi tahunan saya.
~~~
Berbeda dengan apa yang saya lakukan tahun lalu, project tahun ini agak sedikit 'dipersulit' dengan diharuskannya saya menemui pihak direksi rumah sakit sehari sebelumnya. Yah sebenarnya memang harusnya begitu sih, lagipula izin dengan direksi rumah sakit membuat saya sedikit tidak terlihat sebagai kriminal seperti tahun sebelumnya yang KTP nya harus ditahan di ruang suster.

Ruang direksi RSIA Hermina terletak di lantai paling atas. Di sana saya bertemu dengan Ibu Rofi, Ibu Wiwi, dan Ibu Sofi. Mereka dari marketing RSIA Hermina. Setengah jam menginterogasi saya sembari sesekali ketawa karena merasa aneh dengan apa yang saya lakukan. 

Pertanyaan mereka tidak jauh-jauh dari pertanyaan suster-suster di tahun kemarin. "Kenapa mas melakukan hal kayak gini?" "Apa motivasinya?" "Kenapa mesti di RSIA Hermina?" Dan saya hanya menjawab semuanya dengan satu jawaban pasti, "Iseng doang bu."

~~~
Tahun ini saya tidak sendirian melakukan project ini. Saya ditemani dengan salah satu teman saya satu masa pembinaan di PPSDMS UI, Uty Putri Ibrahim. Motifnya? Tak disangka-sangka, rupanya perempuan ini juga lahir di tanggal 8 Maret. Beda tahun saja, dia lahir setahun lebih awal, 1993. Dia udah excited semenjak melihat report project saya tahun lalu, dan pengen ikutan. Tadinya mau bikin maraton Jakarta-Bogor, cuma karena keterbatasan waktu akhirnya kita cuma main di Bogor. Dia jauh-jauh ke Bogor hanya untuk sebuah pengalaman absurd.

Sesampainya di Hermina, ternyata kami dapat informasi ada dua bayi yang lahir pada 8 Maret 2014. Satu laki-laki dan satu perempuan. Saya dan Uty masing-masing juga bawa dua kado. Cocok.
bayinya ada dua, semuanya di ruang inkubasi :) ki-ka : saya dan Uty
anteeeng banget si cantik ini :3
Beda dengan tahun lalu, tahun ini kedua bayi tersebut ternyata sedang janjian di ruang inkubasi. Tahun lalu saya bisa ketemu ibu dan anaknya sekaligus di kamar rawat, tahun ini saya menemui mereka terpisah.

'Delmar' yang pertama ini perempuan. Anaknya anteeeng banget. Diem aja walau kita colak-colek. Si cantik ini anaknya Ibu Nitra, dan belum ada namanya. Waktu kita nyamperin ke ruangan ibunya, kayaknya ibunya masih kelelahan, dan menampakkan raut curiga. Terutama ayahnya. Yaa jelas sih apa pasal coba baru lahiran sehari udah dikasih kado sama orang yang ga dikenal. Modus kriminal apa lagi ini?

Si cantik ini ternyata anak pertama dari Ibu Nitra dan suami. Anak ini yang menandakan resminya mereka berdua menjadi orang tua. Senangnya :)

huaaa mamaaa tolooong aku difoto orang aneh
Si cantik ini beda jauh banget sama 'Delmar' satunya lagi yang persis ada di sampingnya. Yang cowok ini malah sibuk exercise, memperkuat otot-otot jantung dengan cara yang paling elegan untuk seorang bayi: nangis. 

Si cowok ini baru aja dikeluarin dari inkubator saat kita datang ke ruangan. Dan langsung nangis ga berhenti-berhenti. Yaa namanya juga bayi kan, mau apa lagi mereka coba selain nangis. Yah serewel-rewelnya anak berumur satu hari tetep aja bikin gemes :3

Si ganteng ini adalah anak ketiga dari pasangan Pak Asep dan istri (lupa nanya namanya siapa) Tadinya sempat ingin menawarkan nama 'Delmar' ke Pak Asep, cuma urung karena ternyata udah dikasih nama. Namanya Farel. Yah jauh lebih baik sih dibanding Delmar.
celingak celinguk mencari ruangan orangtuanya si ganteng
Pak Asep ini orangnya welcome banget, jauh lebih excited dibandingkan dengan Ibu Nitra dan suami. Mungkin karena memang bawaannya Pak Asep lebih rileks dan kita sudah refleks sambil bercanda buka dompet dan memperlihatkan KTP. Walau sesungguhnya KTP tidak bisa menjadi bukti bahwa kami orang baik.
ini yang namanya Pak Asep :) orangnya sumringah banget :D
suster Iren, yang menemani selama ekspedisi keliling RSIA Hermina. rela meninggalkan pekerjaan cuma untuk menemani dua orang kurang kerjaan :'
Di ruangan bayi, saya cuma elus-elus pipi bayinya dan bergumam sendiri. Uty juga bilang, "Kita dulu kayak gini mar, sekecil ini." Sampai akhirnya kita segede sekarang. Umur udah kepala dua. Udah ga bisa dibilang anak kecil lagi. Waktu terus berputar, dan di suatu titik nanti, si Farel dan si cantik kalem tak bernama ini, 20 tahun mendatang akan berumur sama dengan saya sekarang.

Ini sesungguhnya hal yang wajar. Maksudnya hal yang 'iya iyalah'. Tidak perlu dipermasalahkan dan diopinikan. Tapi coba deh dipikirin dalem-dalem. Dulu, kamu sekecil itu loh. Dulu, ibu kamu on the line of life and death ngelahirin kamu. Di masa yang tidak mungkin bisa kamu ingat, di masa yang bisa kamu ketahui dari 'katanya' orangtua, tetangga, dan saudara, kamu berada di titik nol hidup kamu.

Pertanyaannya adalah, mau tidak kita, yang sekarang bukan bayi lagi mengingat kembali masa-masa itu? Di hari lahir kita sendiri? Ulang tahun bukan sekadar perayaan karena kita berhasil hidup satu tahun lamanya. Enggak sedangkal itu. 

Tapi di titik yang sama, kamu bisa merenungkan dari siapa kita berasal dan bagaimana kondisi Ibu saat melahirkan kita. Untuk sekadar telepon ke rumah dan bilang, "Ibu, terima kasih banyak ya 20 tahun yang lalu sudah mau berusaha melahirkan aku." :')

Untuk kedua bayi lucu yang lahir 8 Maret 2014 kemarin, saya menulis pesan singkat di dalam bungkus kadonya.

Dear kamu bayi yang lucu,
Semoga kamu menjadi anak yang baik, sholeh/sholehah, pintar, patuh sama papah mamah dan rajin mendoakan mereka :)
Ketika kamu besar nanti, jadilah apapun yang kamu suka, tapi jangan pernah lupakan dari siapa kamu berasal :'
Dari kakak yang berulang tahun sama dengan kamu :'
8 Maret 2014
Dan untuk semua orang di dunia yang masih bisa merayakan hari lahirnya, maka rayakanlah! Rayakan dengan mengingat dari siapa kamu berasal, dan (mungkin) dengan merenungkan untuk apa kita dilahirkan :' Selamat ulang tahun! 

POSTED IN ,
DISCUSSION 4 Comments

4 Responses to : A Letter for Another 'Delmar' :)

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  2. kak, kalau boleh tau kenapa pilih rsia hermina? :)

  3. kak, kalau boleh tau kenapa pilih rsia hermina? :)

  4. ga ada kok sil, cuma karena hermina itu yang paling deket dari kampus dramaga ehehe

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)