TIN 48 Jawa-Bali Industrial Trip! - Side Stories

Post ini adalah late post yang menceritakan beberapa alur perjalanan selama fieldtrip dengan TIN 48 bulan Januari kemarin. Beda dengan post-post sebelumnya (lihat: TIN 48 Jawa-Bali Industrial Trip Part 1 - Part 2) yang menitikberatkan pada aspek teknis pabrik dan industri yang kami kunjungi, maka post ini akan menjadi post yang tidak kalah penting. Ini adalah rantai cerita utuh bagaimana kurang lebih 8 hari perjalanan kami bulan Januari lalu.

Latar belakang saya menulis ini semata-mata karena saya butuh hiburan menjelang ujian tengah semester awal April besok. Saya bosan, dan membuka dan menceritakan ulang rangkaian foto ini selalu menyenangkan dan mengharukan, serasa waktu diputar ulang, dan terhisap ke dalamnya. Sungguh ajaib bagaimana kekuatan sebuah foto ya ternyata :)
Dr. Prayoga Suryadharma, dosen TIN yang turut mendampingi perjalanan kami

Yudhistira Chandra Bayu, ketua panitia fieldtrip TIN 2014 sedang briefing pagi sebelum keberangkatan di Yellow Corner
Cerita bermula di pagi hari yang dingin milik tanggal 26 Januari 2014. Sesuai dengan kesepakatan, kami akan berkumpul di Yellow Corner sekaligus briefing pagi dan pembagian petugas bis. Saya selalu ingat suasananya. Hujan deras. Setiap kali harus mengikuti acara yang briefing paginya di Yellow Corner, saya selalu ingat saat-saat keberangkatan fieldtrip :'

Fieltrip kemarin memang diadakan di musim penghujan, dan hujan deras di pagi hari tersebut menjadi pengingat saya bahwa di masa fieldtrip jalur Pantura sedang banjir besar, yang kemudian menjadi alasan bagi kami untuk melalui jalur selatan selama perjalanan dan membatalkan kunjungan ke PT Dua Kelinci karena akses Pati yang terputus tergenang banjir

bis, pusat segala kehidupan kami selama perjalanan
Bis selama perjalanan merupakan sentral perjalanan kami. Lebih dari 70% waktu perjalanan kami habis di atas bis. Foto di atas adalah kondisi awal keberangkatan, masih rapi. Sebelum akhirnya handuk mandi tergantung di mana-mana mulai hari kedua. Jorok.

Lebih dari 4 malam kami harus bermalam di bis dan terbiasa dengan posisi tidur duduk. Dari yang awalnya tersiksa sampai kemudian merasa semakin nyaman dari hari ke hari. Percaya tidak percaya, waktu pulang ke Bogor dan tidur siang di asrama PPSDMS, saya bangun dalam kondisi pusing berat. Mungkin karena terbiasa tidur duduk?

Oh dan ngomong-ngomong soal tidur di dalam bis, saya selalu salut dengan supir bis pariwisata. Mereka sungguh-sungguh mengamalkan Idealisme Kami-nya PPSDMS yang berbunyi :
"...dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.."

Luar biasa.
aksi colokan hunter di salah satu rumah makan dalam perjalanan di Jawa Timur
Selama perjalanan, kami singgah tiga kali dalam sehari di tempat makan. Berhubung bis kami tidak menyediakan colokan listrik, praktis barang ini selalu diburu sewaktu kami singgah. Entahlah, rasanya colokan listrik dewasa ini juga menjadi salah satu kebutuhan penting di samping sandang, pangan, dan papan. 
Masjid Agung Gresik, tempat istirahat pagi sebelum ke KML
RM Jatilawang, di daerah Banyumas, Jawa Tengah, pemberhentian pertama di luar Jawa Barat
Selain colokan, kami juga harus terbiasa untuk melakukan pembuangan limbah domestik dan sholat di tempat yang berbeda-beda. Ada restoran yang bahkan kamar mandinya kayak kamar mandi rumah sendiri, ada yang buat dateng ke kamar mandinya aja udah bikin males. Kadang juga kita harus berhenti di masjid atau pom bensin, tergantung kebutuhan aja. 

Bagaimana dengan makan? Sama sekali tidak ada masalah. Bagi kami anak rantau yang jarang makan ayam goreng di Bogor merasa sangat alhamdulillah mendapati sepotong sayap atau paha ayam di piring makan kami. Dan yang paling membuat kami bersyukur adalah karena nasinya boleh ambil sendiri *suara selebrasi gol. Udah gitu sehari makan tiga kali, habis itu duduk manis dan tidur pulas di bis, setia sekali makanan ini membahagiakan perut-perut perantau susah seperti kami. 
salah seorang manager Nestle sedang memberikan pengarahan
foto bareng setelah puas menjajah habis seluruh isi kulkas di ruangan :p
Kedua foto di atas menjadi jejak saya dan teman-teman lainnya selama kunjungan di pabrik Nestle Kejayan, berhubung kami tidak diperbolehkan mengambil gambar selama di ruangan produksi dan pengemasan. Apapun itu, Nestle Kejayan tetap menjadi pabrik tercanggih yang pernah kami kunjungi selama fieldtrip.

salah satu pemandangan di jalan Temanggung-Kendal
Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk melepaskan kebosanan di bis, terutama bagi para pemilik kamera, adalah memotret lanskap yang terlihat dari jendela bis. Keren banget lah, kami 'cuma' keliling Jawa sama Bali aja banyak banget rasanya kenangan pemandangan indah sepanjang perjalanan. Ah Indonesia :')

macan piaraan PT Sido Muncul di wahana agrowisata *rawr
yang kiri namanya Adya, yang kanan namanya Bagas, ya mungkin ada yang minat :p
Kedua foto di atas diambil ketika main-main singkat ke PT. Sido Muncul di Ungaran, Semarang. Singkat, tapi saya rasa ini adalah salah satu pabrik terindah karena agrowisatanya. Ga ngebayang aja sebelumnya di dalam sebuah pabrik melihara buaya, macan, dan babi hutan. Ohya, dan jangan lupakan ikan Arapaima yang mereka pelihara di kolam mereka.

view dari atas dek kapal ferry. Gelap, tapi indah :)
foto bareng di atas dek, berlatar laut yang gelap gulita
Fieldtrip kemarin juga menjadi pengalaman pertama saya naik ferry. Seumur-umur baru kali ini nyebrang lautan, lha wong naik transportasi air pertama kalinya waktu naik kapal ke Sun Moon Lake, Taiwan, tahun lalu -___- Kuper sekali. Pengalaman pertama menyebrangi lautan? Takut, terombang-ambing, dan dibayangi ketidakpastian *apaan?

ci uk, ba!
Bali! Bali adalah tempatnya souvenir, berbagai rupa souvenir dan oleh-oleh ada di sini. Kami 3 kali singgah ke pusat oleh-oleh di Bali dan sukses menguras habis sebagian besar isi dompet kami yang memang dianggarkan untuk pembelian oleh-oleh untuk orang-orang di rumah dan kosan. Dari mulai gantungan kunci, kaus, dompet, daster buat ibu-ibu, topeng-topengan, kacang asin, pie susu dll.

Saya? Saya cukup rasional dan sebenarnya cenderung pelit dalam mengeluarkan uang buat oleh-oleh. Setiap kemana-mana saya males banget beli oleh-oleh, sampai saya mendengar ucapan mbak Yustika Muharastri yang berangkat bareng ke Taiwan tahun lalu. Kurang lebih redaksinya begini,

"..esensinya bukan barang, tapi itu sebagai bukti bahwa kamu tetap ingat sama orang-orang yang kamu sayang meski kamu sedang pergi jauh dari mereka."

Dan semenjak saat itu, kemanapun saya pergi saya selalu menyempatkan beli sesuatu untuk orang-orang terdekat saya :)
sebelum berangkat ke Pulau Penyu
kolam untuk penyu-penyu yang masih kecil
nah ini yang gedenya, kasian ya badannya keriput-keriput gitu
namanya Salman, owner distro galau, hobinya mainan burung, single, minat? :p
kelelawar super gede, ooh serem abis -___- ogah deh foto sama kelelawar
Keenam foto di atas menceritakan perjalanan kami ke Pulau Penyu di Bali. Bagi saya Pulau Penyu biasa-biasa saja, hanya ada pulau yang isinya penangkaran penyu, ada kelelawar besar, elang, ular dan berbagai hewan yang bisa kita ajak foto bareng. Penyunya juga kasihan, wajahnya memelas gitu (apa emang semua penyu begitu?) badannya juga keriput akibat penuaan. Ga tega aku mah.
semangat banget makannya, nyocol samnbel aja pake otot
nungguin makanan lengkap
menu makan malam: tumis kangkung, kerang, cumi, ikan :9
Salah satu agenda puncak kami di Bali adalah dinner di pinggir laut pantai Jimbaran! Suasananya super walau harus nunggu setengah jam karena hujan deras. Banyak yang menduga hujan deras sebagai akibat dari doa para jomblo di kelas yang tidak menginginkan adanya kehidupan di malam minggu. Walau akhirnya hujan berhenti dan kita sukses makan malam di pinggir pantai. Pengalaman pertama :) walau makanannya kalah jauh sama makanan rumah dan makanan yang sering dimasakin buat saya di kampus #loh
foto bareng pasca makan malam di Jimbaran :)
suasana hotel tempat kami menginap, waktu mau pergi meninggalkan Bali :)
another view, orang dalam foto udah ada yang punya, ga bisa di promote
orang keren peraih dua gelar, yang satu bagus yang satu lagi hina
Bali adalah satu-satunya tempat dimana kami bisa tidur terlentang di kamar hotel. Kami tinggal di salah satu hotel di Denpasar. Kami tinggal di hotel selama dua malam, cukup untuk membenarkan kembali tulang-tulang punggung kami yang sudah terbiasa tidur duduk selama 4 hari lebih.

Di hari terakhir ada pembagian award. Award ini berdasarkan angket angkatan yang diisi sebelum keberangkatan. Saya menjadi salah satu top scorer dengan mengoleksi dua gelar. Sayang tidak semua gelarnya bagus, dan salah satu gelar tidak bagus itu nyasar ke saya. Gelar pertama saya lumayan prestisius, terkreatif. Edan.

Gelar kedua? Terbeser. Katanya saya menang mutlak di gelar ini, gara-gara di kelas selalu keluar buat buang air. Strategis sekali kan gelarnya?

Dan ajang terakhir di hotel ini juga menjadi momen untuk sepatah dua patah kata dari 3 mahasiswi Universitas Andalas yang sedang exchange ke IPB. Jadi sebenarnya mereka exchange ke Ilmu dan Teknologi Pangan, cuma karena mengambil mata kuliah Teknologi Bahan Penyegar punyanya TIN dan justru jauh lebih akrab sama anak-anak TIN, jadilah mereka diajak untuk ikut fieldtrip kami.
tiga mahasiswi Andalas yang sedang kuliah di IPB, sekaligus perpisahan karena semester depan harus balik ke Andalas :)

(kalau tidak salah) ini di daerah Bedugul, Bali Utara. Indahnya :'
:*
Sepanjang di Bali, sepertinya saya menemukan alasan kenapa tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit segala turis, entah itu dari mancanegara ataupun domestik. Bali adalah salah satu tempat yang memiliki lanskap yang paling lengkap. Pantainya indah, dan suasana dataran tinggi di Bali Utara juga wow! Mau panas-panas di pantai bisa, mau menikmati lanskap tinggi juga bisa.
foto gaya selebrasi gol buat Kak Gugi yang baru wisuda waktu kami berangkat
gaya One Piece :p
foto beler P3
Penyebrangan kedua dari Gilimanuk-Ketapang di perjalanan pulang menjadi jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan saat keberangkatan ke Gilimanuk, terutama karena dilakukan di sore hari. Cuaca juga cukup bagus sehingga kita bisa rileks foto-foto menikmati perjalanan :)

Salah satu pemandangan unik lainnya dalam penyebrangan pulang ke Jawa adalah anak-anak pengumpul koin yang loncat dari atas kapal untuk mengambil koin-koin yang dijatuhkan ke dalam laut. Buat loncat sampe bunyi jebur aja ada kali sekitar 3 detik. Tinggi banget. Cuma buat sekeping koin loh.

Penyeberangan ke Ketapang ini juga diwarnai mini farewell untuk mengucapkan selamat tinggal buat temen-temen kita yang tidak melanjutkan perjalanan ke Jogja dan Bogor, mayoritas karena rumah mereka di Banyuwangi dan sekitarnya yang memang tidak jauh dari Ketapang.
anak-anak pengumpul koin, loncat dari atas kapal sampai ke laut demi sekeping koin

Nur Kholiq, single, asli Banyuwangi, baru aja pulang dari Jepang minggu lalu, minat segera comment :p
Di perjalanan menuju Probolinggo, kami menemukan instalasi yang kece badai, PLTU Paiton. PLTU ini memasok suplai tenaga listrik untuk Pulau Jawa. Edan gede banget. Jauh sebelum sampai di tempatnya, saya merasa aneh karena tetiba langit berwarna agak jingga. Usut punya usut ternyata warna jingga itu berasal dari PLTU ini yang memang terang benderang di malam hari. Hal lain yang bikin horor adalah cerobong asap yang besarnya subhanallah.

Saya pernah ingat Mas Fahmi, kakak ipar saya, pernah pergi ke Paiton untuk masalah kerjaan, jauh sebelum saya tau bahwa di Paiton ada PLTU super besar. Mas Fahmi ini memang electrical engineer, kerjanya di instalasi listrik, macam di Gardu Induk Cawang di depan PGC. Ternyata ke Paiton ngurus pengadaan alat buat PLTU segede ini -___-

Info lebih lanjut tentang PLTU Paiton bisa dicek di thread Kaskus ini : Apa itu Paiton? atau langsung ke website Jawa Power

jalan utama ke Probolinggo berdampingan dengan PLTU nya
terangnya PLTU ini di malam hari membuat langit di sekitarnya berwarna jingga :)
siap-siap berangkat naik lori bekas tebu
melintasi jalan raya menuju dalam kompleks pabrik gula :)
Kalau yang ini edisi foto-foto dalam pabrik gula Madukismo, mulai dari perjalanan naik lori bekas sampai keliling-keliling isi pabriknya yang sedang dalam bulan-bulan perbaikan mesin. Melihat kembali foto-foto PG Madukismo, pertanyaan abadi saya tentang pabrik gula di Jawa kembali menyeruak: kenapa pabrik gula di Jawa kondisinya (maaf) jelek-jelek ya? Alat-alatnya terkesan tua dan karatan. Kenapa tidak investasi lebih tinggi untuk alat-alat baru supaya biaya perawatannya lebih murah?

Ah sudahlah, perjalanan ke Madukismo, sekuno-kunonya isi pabriknya, tetap punya cerita sendiri :)

cerobong-cerobong di PG Madukismo
rangkaian lori angkut tebu bekas yang sudah tidak terpakai
tampak luar bangunan pabrik PG Madukismo
tampak dalam PG Madukismo, mayoritas pekerjanya laki-laki jadinya kayak gini deh :E
santai minum susu di bawah pohon setelah kunjungan dari pabrik gula
Terakhir kami ke Malioboro, Jogja. Ah Jogja memang selalu istimewa :) Berapa kalipun kemari tetap saja khas sekali atmosfernya. Karena anggaran oleh-oleh saya habis, saya hanya ikut-ikutan teman-teman yang lain yang mau belanja di Mirota. Beli batik dan suvenir katanya. Habis itu kami jalan-jalan naik andong ke Alun-Alun Selatan. Sayang gambarnya lupa saya ambil di salah satu kamera, jadinya tidak diupload. 

Sebentar saja kami di Jogja, sampai di sana jam setengah 1 siang, dan kembali berangkat jam setengah 5 sore. Sisanya kami habiskan dengan makan lumpia basah dekat hotel Ibis, yang entah kenapa dijual dengan harga yang janggal, seperti Rp. 2600, Rp. 3400 -___- susah bener tho pak ngasih harganya.
Malioboro, Jogja :)
cantiknya kota Jogja sedikit tandingannya di Indonesia :*
Setelah dari Jogja, kami langsung berangkat balik ke Bogor. Sampai di Bogor sekitar jam satu siang. Perjalanan resmi berakhir :) All credit untuk foto di atas kepada Imam Muharram Alitu, karena semua gambar di atas saya kopi diam-diam dari memori kamera SLRnya, dan beberapa kombinasi dari kamera digital yang saya bawa sepanjang perjalanan.

Menulis ini semua, serasa balik lagi ke tempat-tempat di atas :') Selalu menyenangkan mengungkit kenangan ya.

POSTED IN ,
DISCUSSION 5 Comments

A Letter for Another 'Delmar' :)

Sebelumnya lihat : The 20th Birthday Project

Tanggal 7 Maret kemarin saya sesungguhnya lupa dengan project ulang tahun saya sendiri. Lupa kalau harus survei dulu ke RSIA Hermina. Semesta mendukung dengan meniadakan kuliah Teknologi Pati, Gula dan Sukrokimia sebelum jum'atan, dan semesta kembali mendukung saat saya main-main ke ruangan Ibu Nana, Kepala TU Fateta. 

Semenjak jadi Ketua BEM, saya memang rutin main ke ruang Kepala TU dan Wakil Dekan. Sekadar bercanda ngobrol-ngobrol sama ibu-ibu di sana. Seru abis deh ngobrol bareng ibu-ibu pimpinan fakultas ini. Strategis juga karena bisa sekalian advokasi kebutuhan mahasiswa. Beliau-beliau ini bahkan tau arti nama saya, dan ingat kalau besok adalah hari ulang tahun saya -___-

Di sela-sela obrolan kami, Ibu Nana nyeletuk, "Bu Ratna hari ini tanggal berapa? Tanggal 7 ya? Eh berarti kamu besok ulang tahun ya mar? Duuh kamu inget-nget tuh 20 tahun yang lalu ibu kamu hari ini lagi capek-capeknya mau ngelahirin kamu."

Semesta menakdirkan celetukan usil Ibu Nana yang mengingatkan saya untuk menjalankan misi tahunan saya.
~~~
Berbeda dengan apa yang saya lakukan tahun lalu, project tahun ini agak sedikit 'dipersulit' dengan diharuskannya saya menemui pihak direksi rumah sakit sehari sebelumnya. Yah sebenarnya memang harusnya begitu sih, lagipula izin dengan direksi rumah sakit membuat saya sedikit tidak terlihat sebagai kriminal seperti tahun sebelumnya yang KTP nya harus ditahan di ruang suster.

Ruang direksi RSIA Hermina terletak di lantai paling atas. Di sana saya bertemu dengan Ibu Rofi, Ibu Wiwi, dan Ibu Sofi. Mereka dari marketing RSIA Hermina. Setengah jam menginterogasi saya sembari sesekali ketawa karena merasa aneh dengan apa yang saya lakukan. 

Pertanyaan mereka tidak jauh-jauh dari pertanyaan suster-suster di tahun kemarin. "Kenapa mas melakukan hal kayak gini?" "Apa motivasinya?" "Kenapa mesti di RSIA Hermina?" Dan saya hanya menjawab semuanya dengan satu jawaban pasti, "Iseng doang bu."

~~~
Tahun ini saya tidak sendirian melakukan project ini. Saya ditemani dengan salah satu teman saya satu masa pembinaan di PPSDMS UI, Uty Putri Ibrahim. Motifnya? Tak disangka-sangka, rupanya perempuan ini juga lahir di tanggal 8 Maret. Beda tahun saja, dia lahir setahun lebih awal, 1993. Dia udah excited semenjak melihat report project saya tahun lalu, dan pengen ikutan. Tadinya mau bikin maraton Jakarta-Bogor, cuma karena keterbatasan waktu akhirnya kita cuma main di Bogor. Dia jauh-jauh ke Bogor hanya untuk sebuah pengalaman absurd.

Sesampainya di Hermina, ternyata kami dapat informasi ada dua bayi yang lahir pada 8 Maret 2014. Satu laki-laki dan satu perempuan. Saya dan Uty masing-masing juga bawa dua kado. Cocok.
bayinya ada dua, semuanya di ruang inkubasi :) ki-ka : saya dan Uty
anteeeng banget si cantik ini :3
Beda dengan tahun lalu, tahun ini kedua bayi tersebut ternyata sedang janjian di ruang inkubasi. Tahun lalu saya bisa ketemu ibu dan anaknya sekaligus di kamar rawat, tahun ini saya menemui mereka terpisah.

'Delmar' yang pertama ini perempuan. Anaknya anteeeng banget. Diem aja walau kita colak-colek. Si cantik ini anaknya Ibu Nitra, dan belum ada namanya. Waktu kita nyamperin ke ruangan ibunya, kayaknya ibunya masih kelelahan, dan menampakkan raut curiga. Terutama ayahnya. Yaa jelas sih apa pasal coba baru lahiran sehari udah dikasih kado sama orang yang ga dikenal. Modus kriminal apa lagi ini?

Si cantik ini ternyata anak pertama dari Ibu Nitra dan suami. Anak ini yang menandakan resminya mereka berdua menjadi orang tua. Senangnya :)

huaaa mamaaa tolooong aku difoto orang aneh
Si cantik ini beda jauh banget sama 'Delmar' satunya lagi yang persis ada di sampingnya. Yang cowok ini malah sibuk exercise, memperkuat otot-otot jantung dengan cara yang paling elegan untuk seorang bayi: nangis. 

Si cowok ini baru aja dikeluarin dari inkubator saat kita datang ke ruangan. Dan langsung nangis ga berhenti-berhenti. Yaa namanya juga bayi kan, mau apa lagi mereka coba selain nangis. Yah serewel-rewelnya anak berumur satu hari tetep aja bikin gemes :3

Si ganteng ini adalah anak ketiga dari pasangan Pak Asep dan istri (lupa nanya namanya siapa) Tadinya sempat ingin menawarkan nama 'Delmar' ke Pak Asep, cuma urung karena ternyata udah dikasih nama. Namanya Farel. Yah jauh lebih baik sih dibanding Delmar.
celingak celinguk mencari ruangan orangtuanya si ganteng
Pak Asep ini orangnya welcome banget, jauh lebih excited dibandingkan dengan Ibu Nitra dan suami. Mungkin karena memang bawaannya Pak Asep lebih rileks dan kita sudah refleks sambil bercanda buka dompet dan memperlihatkan KTP. Walau sesungguhnya KTP tidak bisa menjadi bukti bahwa kami orang baik.
ini yang namanya Pak Asep :) orangnya sumringah banget :D
suster Iren, yang menemani selama ekspedisi keliling RSIA Hermina. rela meninggalkan pekerjaan cuma untuk menemani dua orang kurang kerjaan :'
Di ruangan bayi, saya cuma elus-elus pipi bayinya dan bergumam sendiri. Uty juga bilang, "Kita dulu kayak gini mar, sekecil ini." Sampai akhirnya kita segede sekarang. Umur udah kepala dua. Udah ga bisa dibilang anak kecil lagi. Waktu terus berputar, dan di suatu titik nanti, si Farel dan si cantik kalem tak bernama ini, 20 tahun mendatang akan berumur sama dengan saya sekarang.

Ini sesungguhnya hal yang wajar. Maksudnya hal yang 'iya iyalah'. Tidak perlu dipermasalahkan dan diopinikan. Tapi coba deh dipikirin dalem-dalem. Dulu, kamu sekecil itu loh. Dulu, ibu kamu on the line of life and death ngelahirin kamu. Di masa yang tidak mungkin bisa kamu ingat, di masa yang bisa kamu ketahui dari 'katanya' orangtua, tetangga, dan saudara, kamu berada di titik nol hidup kamu.

Pertanyaannya adalah, mau tidak kita, yang sekarang bukan bayi lagi mengingat kembali masa-masa itu? Di hari lahir kita sendiri? Ulang tahun bukan sekadar perayaan karena kita berhasil hidup satu tahun lamanya. Enggak sedangkal itu. 

Tapi di titik yang sama, kamu bisa merenungkan dari siapa kita berasal dan bagaimana kondisi Ibu saat melahirkan kita. Untuk sekadar telepon ke rumah dan bilang, "Ibu, terima kasih banyak ya 20 tahun yang lalu sudah mau berusaha melahirkan aku." :')

Untuk kedua bayi lucu yang lahir 8 Maret 2014 kemarin, saya menulis pesan singkat di dalam bungkus kadonya.

Dear kamu bayi yang lucu,
Semoga kamu menjadi anak yang baik, sholeh/sholehah, pintar, patuh sama papah mamah dan rajin mendoakan mereka :)
Ketika kamu besar nanti, jadilah apapun yang kamu suka, tapi jangan pernah lupakan dari siapa kamu berasal :'
Dari kakak yang berulang tahun sama dengan kamu :'
8 Maret 2014
Dan untuk semua orang di dunia yang masih bisa merayakan hari lahirnya, maka rayakanlah! Rayakan dengan mengingat dari siapa kamu berasal, dan (mungkin) dengan merenungkan untuk apa kita dilahirkan :' Selamat ulang tahun! 

POSTED IN ,
DISCUSSION 4 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)