TIN 48 Jawa-Bali Industrial Trip! - Part 2

Day 3 – Nestle (Susu bubuk-Dancow, Milo, Bear Brand dll.) Pasuruan, Jawa Timur.

Pabrik Nestle di Kejayan, Pasuruan adalah pabrik terbesar yang kami kunjungi selama rangkaian fieldtrip kemarin. It’s damn huge. Gede pake banget. Pabrik Nestle di Kejayan memang menjadi salah satu dari lima pabrik Nestle terbesar di dunia. Pabrik ini didirikan untuk mengolah produk susu, khususnya untuk lini susu bubuk bag in box.
pabrik Nestle Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur. gedenya pake banget

Nestle adalah perusahaan multinasional yang berpusat di Swiss. Didirikan oleh Nestle memproduksi tidak hanya produk susu saja, tetapi juga permen (Fox dll.), kopi (Nescafe) dan produk makanan bayi (Cerelac)

Setelah masuk ke kawasan pabrik, kami dibagi menjadi 2 tim, di sesi pertama tim pertama keliling di lini produksi sementara tim kedua di auditorium untuk ngobrol dan mendengarkan penjabaran dari jajaran manajemen Nestle, begitu sebaliknya di sesi selanjutnya. Saya ada di tim 2. Begitu masuk ruangan, kami dipersilahkan untuk sebebasnya mengambil produk Nestle di dalam kulkas auditorium. Semua orang ambil Bear Brand sampai kulkasnya kosong. Mahasiswa memang paling tau yang mana yang paling mahal.

Karena memang saya tidak mencatat, sesungguhnya tidak banyak yang saya ingat selama sesi ini -__- Hal pertama yang saya ingat adalah bahwa Nestle mendapatkan pasokan susu sekitar 650 ton/hari (ya, PER HARI) Jumlah sebanyak itu berasal dari peternak susu di Jawa Timur dan sekitarnya. Pemasok susu untuk Nestle adalah peternak susu yang sudah memenuhi standar Nestle, mulai dari jenis pakan, sanitasi kandang, dan lain-lain. Ini dilakukan tentu untuk memastikan bahwa semua susu yang masuk terjamin kualitasnya.
tempat penerimaan susu segar di pabrik Nestle
IPAL di Nestle pabrik Kejayan
Hal kedua, tentang pengolahan limbah. Pabrik Nestle Kejayan mayoritas memproduksi susu bubuk. Untuk menghasilkan susu bubuk, susu segar yang masuk akan mengalami proses evaporasi untuk menghilangkan air pada susu, hingga pada akhirnya menjadi bubuk. Sehingga dapat dipastikan bahwa limbah terbesar dari pabrik ini berupa air. Air ini diolah di IPAL milik Nestle hingga akhirnya dapat dimanfaatkan kembali untuk pengairan taman di pabrik Nestle dan kolam pemancingan yang ada di kawasan pabrik Nestle.

Hal ketiga, tentang merek Bear Brand. Kedua kelompok pada sesi tanya jawab ternyata menanyakan hal yang sama, Bear Brand kan susu sapi segar, kenapa dijual dengan brand ‘beruang’? Lalu kenapa di iklan visual diilustrasikan sebagai naga? Pertanyaan superpenting yang gagal dijelaskan secara memuaskan dari jajaran manajemen Nestle. Yah karena memang yang presentasi bukan tim marketing juga sih. Tapi intinya adalah bahwa merek Susu cap Beruang sudah lama sekali dijual oleh Nestle semenjak perusahaan tersebut berdiri, dan terlanjur menjadi trademark dari lini produk susu segar Nestle.
iklan Bear Brand naga version *wush
yah seperti inilah yang kami pikirkan. penting sekali
Terakhir tentang logo Nestle. Seperti yang bisa dilihat di atas, logo Nestle terdiri atas induk burung di sangkar sedang memberikan makan untuk anak-anaknya. Katanya, itu masuk ke dalam filosofi perusahaan, berusaha memberikan nutrisi terbaik untuk masyarakat selayaknya induk burung memberikan makanan untuk anak-anaknya. *sweet

Rasanya itu saja yang sempat saya ingat dari penjabaran dari tim manajemen.

Selanjutnya kita pindah ke kawasan produksi. Proses produksi di Nestle KEREN ABIS. Semua terpusat dalam satu ruang pusat kontrol. Seluruh bahan baku tidak pernah keluar dari pipa selama proses pembuatan susu bubuk. Pekerja di dalam kawasan pabrik sangat sedikit, jika dibandingkan dengan luas pabrik yang segede itu, karena memang semua proses dilakukan oleh mesin. Pabrik Nestle adalah pabrik paling padat modal selama kunjungan kemarin.

Agak sulit sebenarnya menjelaskan rangkaian proses dari susu cair menjadi susu bubuk. Tapi inti dari semua proses pembuatan susu bubuk adalah dengan mengurangi kadar air dari susu cair hingga menjadi bubuk. It's pretty obvious -___-


alur sederhana pembuatan susu bubuk
Proses pengeringan dilakukan dalam spray dryer. Di Nestle Kejayan, spray dryernya punya nama, namanya Egron. Egron diambil dari nama pembuatnya, Norge, dan dibalik. Kreatif sekali. Kawasan yang kami kunjungi berada di Egron 3-4. Egron adalah spray dryer super besar dengan kapasitas yang super juga.

Saya sempat bertanya kepada supervisor produksi yang menemani kami tour ke ruang kontrol tentang perbedaan susu anak-anak dengan susu yang lain. Maksudnya apakah benar ada AA, DHA, dan bla-blanya? Dimana proses penambahan bahan-bahan tersebut? Dalam bentuk apa?
masing-masing lini produk beda zat yang ditambahkannya
Jadi informasi tambahan, ragam nutrisi tambahan seperti itu ditambahkan pada tangki khusus, dalam bentuk yang berbeda-beda, bisa dari sumber natural atau dalam bentuk 'bahan bubuk'. Contohnya untuk menambahkan vitamin kompleks, Nestle membeli vitamin dalam bentuk 'jadi', sementara ada beberapa kandungan yang terdapat dalam minyak ikan, sehingga dalam tangki tersebut ditambahkan minyak ikan dalam konsentrasi tertentu. Beda produk beda juga bahan yang ditambahkan, sesuai dengan komposisi produknya.

Di Nestle, produk susu bubuk yang sudah jadi tidak ditempatkan dalam silo besar, tapi ditempatkan dalam tote bin per 1,1 ton. Hal ini dilakukan supaya seluruh produk yang dihasilkan mudah dikontrol. Penempatan produk di dalam silo memiliki resiko ketika ada bagian hasil produksi di hari tersebut yang cacat, tetapi terlanjur tertimpa produksi selanjutnya. Mau tidak mau seisi silo harus dibuang, karena kita tidak tahu produksi batch ke berapa yang cacat. Sistem tote bin membuat semua produksi dapat dikontrol lebih mudah, jika hanya 1 dari 100 tote bin yang memiliki cacat, cukup yang satu saja yang dibuang.
skema sederhana prinsip kerja spray dryer
Pabrik Nestle juga didesain sedemikian rupa, jadi kesannya bukan 'pabrik'. Interior dalamnya beneran dibikin dengan estetika sehingga pengunjung yang hadir benar-benar bisa menikmati kunjungan ke ruang produksinya.

Info tambahan lagi, Nestle membuka kesempatan besar bagi mahasiswa untuk kunjungan industri. Jadi bagi teman-teman yang mau fieldtrip, cukup recommended untuk mengajukan surat kunjungan ke Nestle Kejayan :)

Lebih banyak tentang Nestle dapat dicek di www.nestle.co.id atau www.nestle.com

Day 4 – Teh Botol Sosro (Ready to drink tea) Gianyar, Bali.

Hari pertama di Bali kami langsung mengunjungi pabrik Teh Botol Sosro di kawasan Gianyar. Sesungguhnya penjabaran tentang proses yang terjadi dalam pengolahan Teh Botol Sosro bukan barang baru, pertama karena sebelumnya sudah pernah ada alumni TIN yang menjadi salah satu pimpinan di Sosro yang menjelaskan via video di Stadium Generale rutin TIN, kedua karena memang proses pengolahan Teh Botol Sosro mudah dinalar.

Mudah dinalar dalam artian, tidak banyak proses kimia/fisik yang terjadi selama pembuatannya. Bayangkan seperti kita membuat teh manis dalam tangki ribuan liter, dan dimasukkan ke dalam kemasan botol beling/karton/PET. Udah begitu saja. Semua proses yang terjadi untuk pembuatan Teh Botol Sosro SAMA, hanya berbeda dalam proses pengemasan, tergantung dengan kemasan yang diinginkan (PET/beling/karton)
kemasannya beda, prosesnya sama semua
Sebelum saya lanjut dengan detil proses produksi di Sosro, pertama-tama saya ceritakan sedikit tentang Sosro, yah sejauh yang bisa saya ingat. Sosro ini adalah perusahaan keluarga, didirikan oleh Sosrodjojo (generasi pertama) ke generasi anak-cucunya. Awalnya perusahaan ini berpusat di Slawi, Tegal, yang memang sedari dulu terkenal dengan komoditas teh. Produk awal Sosro adalah Teh Tjap Botol, teh tubruk melati yang sampai sekarang masih bisa ditemukan di warung-warung.


teh wangi yang epic, masih ada sampai sekarang sejak 1940 :3
Lalu kemudian, Sosro ingin melakukan ekspansi perusahaan dengan membuka perusahaan di Jakarta. Saat itu mereka ingin melakukan product sampling ke pasar dan pusat keramaian di ibukota. Cara pertama adalah dengan menyeduh teh tersebut di tempat keramaian, cara ini gagal karena proses terlalu lama dan tehnya terlalu panas. Cara kedua adalah dengan memasak teh terlebih dahulu dan ditaruh dalam panci besar, lagi-lagi gagal karena tumpah-tumpah dalam perjalanan.

Akhirnya sebuah langkah baru diambil, yakni dengan menempatkan teh yang sudah masak ke dalam botol yang sudah dibersihkan. Cara ini berhasil. Nah inilah sejarah awal mula lahirnya produk Teh Botol Sosro! :D dan menjadi produk teh siap minum dalam botol pertama di Indonesia dan dunia! *yaay

Lucu juga ya sejarahnya.
evolusi botol yang digunakan untuk Teh Botol Sosro
Proses yang terjadi selama pembuatan Teh Botol Sosro terdiri atas dua hal penyusun, yang pertama adalah proses penyeduhan teh dan pencampurannya dengan sirup gula, yang kedua adalah penyiapan bahan kemasan. Kemarin di Gianyar, Sosro sedang memproduksi Teh Botol dalam kemasan beling. Penyiapan kemasan beling terdiri atas sortasi (membuang yang sudah tidak layak pakai), membuang isi sisa dan membersihkannya dengan air panas dan kaustik soda.


Supaya lebih mudah memahami seluruh proses pengolahannya, silahkan nonton video berikut :)



Lalu berikut adalah sedikit foto yang sudah diupload selama kunjungan kami di pabrik Gianyar




Ohiya, produk Sosro tidak hanya Teh Botol saja, beberapa lini produk Sosro lainnya adalah Prim-A (air mineral), Fruit Tea (teh dengan flavor), Joy Green Tea (teh hijau), Happy Jus, Country Choice (jus buah), S-Tee (lini kedua ready to drink tea), dan TEBS (teh soda).

Lebih banyak tentang Sosro silahkan kunjungi www.sosro.com

Day 5-6 – Free Time!

Ini belum banyak fotonya, besok-besok aja saya bikin side storynya kalau fotonya sudah lengkap diupload :P

Day 7 – PT. Madukismo (Gula pasir) Yogyakarta.
Madukismo adalah perusahaan gula yang berlokasi di Yogyakarta. Madukismo didirikan pasca kemerdekaan, kalau saya tidak salah ingat tahun 1955. Didirikan atas inisiatif Sri Sultan melihat kebutuhan gula di Jawa yang semakin tinggi. Perusahaan ini beberapa persennya juga dimiliki oleh PT. RNI, salah satu BUMN gula.

Tidak seperti PG pada umumnya, Madukismo tidak memiliki lahan sama sekali. Semua tebu yang diproses di dalamnya adalah hasil dari kebun tebu di kawasan DIY dan sekitarnya.  Dan selayaknya pabrik gula yang mengandalkan produksi tebu saja, maka produksi di pabrik ini juga musiman. PG Madukismo hanya melakukan produksi pada masa panen Mei-Oktober, selebihnya adalah masa overhoul dan perbaikan mesin pabrik.

Kami hadir di bulan Januari, jadilah kami tidak melihat langsung proses produksi. Semua di pabrik melakukan kegiatan perbengkelan. Macam di bengkel saja jadinya.

Berbeda dengan Teh Botol yang prosesnya mudah dinalar, proses pembuatan gula pasir cukup rumit, banyak terjadi peristiwa perubahan fisik/kimia dalam rangkaian prosesnya. 
alur pembuatan gula, rumit kaaaaaan?

Simpelnya, bahan baku (batang tebu) yang masuk ke dalam pabrik masuk ke dalam penggilingan/ekstraktor, diperas sari tebunya. Menghasilkan dua fase, yakni fase padat (ampas tebu/bagasse) dan fase cair (jus tebu). Bagasse yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai bahan baku pembangkit tenaga boiler. 

Jus tebu yang dihasilkan masuk ke proses selanjutnya, yakni proses pengendapan kotoran dengan kapur (liming). Abis itu jus tebu yang sudah dibersihkan diuapkan dengan evaporator, untuk mengurangi kadar gula pada jus, hingga mengental, setelah itu dilakukan kristalisasi gula agar terbentuk 'butiran', nah itulah gula pasir!

Simpelnya sih seperti itu prosesnya.
versi yang 'agak sedikit' simpel dari alur pembuatan gula pasir
*jug ijag ijug ijag ijug
Di pabrik Madukismo kami keliling pabrik menggunakan KERETA. Iya kereta, ada jalurnya di depan kantor pusat Madukismo, dari kantor ke pabrik. Awalnya kereta ini digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik, karena dianggap sudah tidak efisien akhirnya dialihfungsikan menjadi kereta wisata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang ke Madukismo. Bapak-bapak direksi Madukismo yang menjelaskan kepada kami sempat bergurau kereta ini berkecepatan tinggi, 105 km, bukan per jam, tapi per TAHUN. Emang dasar kereta jaman jebot, jalannya lamaaaaa banget. Sama orang lari kecil saja masih kekejar. Tapi sensasinya naik kereta jebot di pinggir jalan raya itu sungguh tidak ternilai, apalagi dengan tatapan iba anak-anak TK depan kantor Madukismo yang melihat mahasiswa kegirangan sendiri naik lori bekas kayak gini.


tim katrok kesenengan naik lori bekas tebu
Emang dasar pabrik tua, isinya juga mesin-mesin tua. Masuk ke dalamnya pekat sekali dengan aroma besi dan oli. Beberapa kali melihat pabrik gula, entah kenapa saya terpikirkan sebuah pertanyaan, kenapa ya pabrik gula di Jawa jelek-jelek semua mesinnya? Apakah ada konspirasi? Hmm
mesin-mesin tua khas pabrik gula

Dan itulah dia, seluruh laporan kunjungan industri saya selama seminggu kemarin :) Laporan liburan sama foto-foto narsisnya belakangan aja, kurang penting juga kan haha

DISCUSSION 2 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)