TIN 48 Jawa-Bali Industrial Trip! - Part 1

Beberapa hari yang lalu, dari tanggal 21-28 Januari 2014, saya dan teman-teman seangkatan di TIN 48 jalan-jalan keliling beberapa industri di Jawa dan Bali *yaay! Agenda fieldtrip di akhir semester 5 sudah rutin, semacam agenda semi-akademik, separuhnya lagi liburan tentu saja.

Ada banyak industri yang kami rencanakan untuk dikunjungi kemarin, antara lain PT Tirta Marta-Tangerang (plastik Oxium), PT Sidomuncul-Semarang, PT Dua Kelinci-Pati (yang akhirnya batal karena tidak cukup waktu dan ditambah dengan kondisi jalan raya akses utama Pati-Kudus yang putus akibat banjir Pantura), PT Kelola Mina Laut-Gresik (seafood), Nestle-Pasuruan, Teh Botol Sosro-Gianyar, dan PT Madukismo-Yogyakarta (pabrik gula)

Bagi saya pribadi, agak sulit untuk membayangkan bahwa fieldtrip yang kami lakukan kemarin sepenuhnya adalah liburan. Tidak juga karena free time kami untuk main-main kesana kemari selama 8 hari kemarin sangat sedikit, habis banyak waktu di perjalanan, tidur berhari-hari di dalam bis. Walaupun agak sulit juga untuk membayangkan bahwa yang kami lakukan kemarin sepenuhnya agenda akademik, karena it’s incredibly fun!

Menyenangkan untuk berada di pabrik, mengetahui apa yang ada di dalamnya dan menghubungkannya dengan banyak hal yang sudah kami pelajari hingga semester 5 :)

Berhubung menerbitkan post yang isinya foto-foto liburan menimbulkan kemungkinan ada yang iri dengki, dan berhubung saya kemarin malas sekali mengambil foto selama perjalanan (karena HAMPIR semua orang memegang kamera) dan berhubung karena semua industri yang kami kunjungi melarang untuk melakukan pengambilan gambar di ruang produksi mereka, maka post ini akan menjadi post tanpa foto yang saya ambil sendiri.

Kalaupun ada, mungkin lain kesempatan, segera setelah teman-teman saya yang lain selesai mengupload kumpulan foto 8GB mereka ke Facebook. Great.

Bagian saya? Hanya membagi apa saja ilmu tambahan dari industri terkait yang saya dapatkan sepanjang perjalanan. Mengandalkan ingatan, karena saya sama sekali tidak membuat catatan :

Day 1 – PT. Tirta Marta (Produsen plastik Oxium dan Ecoplas) Tangerang, Banten.
PT. Tirta Marta adalah perusahaan pertama yang kami kunjungi. Awalnya saya sungguh menyangka bahwa perusahaan ini adalah perusahaan air minum dalam kemasan, karena ada kata ‘Tirta’ di nama perusahaannya. Ternyata bukan, dan ternyata perusahaan ini adalah produsen dari benda yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama buat Anda yang setiap minggunya tidak pernah tidak belanja di AlfaMart.
sampel produk Oxium, plastik AlfaMart

Yup, perusahaan ini adalah perusahaan yang menghasilkan produk plastik bermerk Oxium yang digunakan sebagai plastik belanja di AlfaMart. Oxium adalah salah satu merek dagang yang dimiliki TM di lini bahan plastik semi-degradable, sementara Ecoplas untuk lini plastik full-degradable. Ecoplas contohnya digunakan untuk bahan kantong splastik produk Herbalife.
sampel produk plastik Ecoplas
Info tambahan, TM hanya memproduksi plastik jenis blow, atau bahasa awamnya yaa kantong plastik. Karena ketika kita bicara tentang bahan ‘plastik’ maka kemungkinannya banyak sekali, dan alat pemrosesnya berbeda-beda. TM hanya memiliki alat extruder bijih plastik tipe blow. Bijih plastik yang diolah selain yang bahan biodegradable, TM juga memproduksi plastik ‘biasa’ yang berbahan baku dari fraksi minyak bumi.
skema proses blown film extrusion

Intinya semua bermula dari bijih plastik. Bijih plastik masuk ke dalam mesin extruder, (FYI ini mesin yang sama dengan pembuatan chiki) dan ditiup (blow) dengan angin, sehingga si bijih plastik membentuk cerobong ke atas. Proses blow inilah yang membuat kantong plastik ‘bolong’ dan membentuk ‘kantong’. Kemudian digulung melalui beberapa roller hingga akhirnya berbentuk gulungan. Warna dasar plastik dapat diatur, dengan menambahkan colorant pada adonan bijih plastik. Ditambah colorant hijau nanti gulungan plastiknya juga akan jadi warna hijau.
alat blown film extrusion, di Tirta Marta tingginya lebih dari 5 meter
skema roll printing pada plastik
Nah kemudian plastik yang sudah berbentuk gulungan akan masuk ke lini printing, dicetak sesuai dengan warna yang klien minta. Prinsip printing pada plastik menggunakan roll dan baskom tinta. Satu roll mewakili satu warna. Plastik dilewatkan dari satu roll ke roll yang lain, dari mulai warna yang paling muda hingga ke warna yang paling tua. Roll tersebut sudah disetting untuk menempelkan dot-dot tinta yang dibutuhkan di plastik, jadi ketika plastik melewati roll, tinta yang sebelumnya ada di roll akan pindah ke plastik. Begitu seterusnya hingga selesai. Tambahan informasi, lini printing baunya bukan main, karena menggunakan tinta dengan pelarut toluena. Baru sebentar disana udah pusing.
contoh alat untuk printing plastik
Abis dari printing, plastik akan dipotong sesuai dengan ukuran pesanan masing-masing. Saya lupa nama prosesnya apa, tapi intinya adalah gulungan plastik dipotong hingga sesuai dengan ukuran standar yang akan digunakan. Khusus untuk membuat plastik tipe ‘kantong’ di lini akhir akan ada proses cutting untuk membuat sisi ‘tentengan’ pada kantong plastik. Pernah mendapat plastik yang tidak ada ‘tentengan’nya? Artinya ada failure di proses ini.

Semua pemrosesan plastik sama saja, yang berbeda pada Oxium dan Ecoplas adalah bahan bakunya. Oxium menggunakan resin khusus yang membuat bahan plastik yang dihasilkan jadi mudah terurai dibanding plastik biasa. Resin ini dicampur dengan bijih plastik dari fraksi minyak bumi dengan takaran yang dirahasiakan. Oxium disebut semi-degredable karena resin tambahan Oxium hanya semacam ‘aditif’ yang membuat plastik menjadi ‘agak lebih’ mudah terurai. Berbeda dengan Ecoplas yang bahan bakunya berasal dari pati singkong, jadinya bisa terurai seluruhnya oleh mikroba dalam tanah. Ecoplas dan Oxium adalah hasil dari riset selama 8 tahun di TM, hingga akhirnya menjadi merek yang banyak sekali meraih penghargaan dan sertifikasi internasional.
beberapa penghargaan yang diberikan untuk TM. Hebat!
Pabrik TM kecil sekali, untuk ukuran pabrik produk plastik yang paling inovatif saat ini. Pelajaran moral pertama : jangan pernah melihat industri HANYA dari ukuran pabriknya.

Lebih banyak tentang PT. Tirta Marta silahkan akses di http://www.tirtamarta.com/, http://www.oxium.net/, dan http://eco-plas.net/friendly-plastic/


Day 2 - PT. Sido Muncul (Herbal-Tolak Angin, Kuku Bima dll.) Ungaran, Jawa Tengah.
Hari kedua kami bertolak ke Ungaran, dekat sekali dengan Semarang. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari kunjungan ke Sido Muncul, karena kunjungannya sangat sebentar -__-

Ceritanya bermula ketika kami menjadwalkan untuk datang ke Sido Muncul jam 1 siang. Hanya saja kondisi tol dalam kota yang macet parah membuat kami stuck hingga 3 jam, baru sampai Sadang jam 11 malamnya. Lalu kondisi pantura yang banjir membuat kami harus lewat jalur selatan, jaraknya lebih jauh. Jam 8 pagi kami baru sampai Wangon, Banyumas. Diperparah dengan supir bis kami yang salah jalan, harusnya setelah Temanggung kami lewat Secang, tapi sang supir mengambil jalan ke arah Kendal. Jalan memutar dan kondisi jalan di Kendal yang rusak parah plus berliku-liku membuat kami harus menambah 3 jam waktu perjalanan. Akhirnya sampai di Sido Muncul jam setengah 6.
pabrik Sido Muncul tampak atas
Pelajaran moral kedua : ketika fieldtrip, pastikan anak-anak dari daerah sekitar yang paham jalan standby di dekat supirnya dan memastikan jalan yang diambil BENAR. Bisa jadi supirnya khilaf.

Jadilah kunjungan kami di Sido Muncul sekadar nempel pantat sebentar. Kami hanya mengunjungi lini pengemasan sebentar, dan sempat mampir ke kawasan gudang bahan baku. Yang namanya pabrik jamu, gudangnya juga sudah bau jamu. Bertumpuk-tumbuk bubuk dari bahan herbal ada di sana, jadi baunya jelas kemana-mana.

Karena hanya sebentar, kami langsung diarahkan ke Auditorium di kawasan Agrotourism Sido Muncul. Ya, Sido Muncul punya kawasan agrotourism di dalam pabriknya, semacam kebun tanaman herbal dan HEWAN. Mereka punya babi hutan, macan, buaya, dan kolam air terjun besar lengkap dengan ikan buas di dalamnnya. Di dalam kawasan tersebut ada semacam balairung untuk menyambut tamu perusahaan.
suasana agrowisata dalam kawasan pabrik Sido Muncul :3
Penjelasan langsung pada sesi tanya jawab. Tidak banyak yang bisa dijelaskan, tapi ada 2 inti penting yang saya dapat. Pertama bahan baku yang diambil oleh perusahaan berasal dari kawasan Jawa Tengah, sesuai dengan iklim tumbuh tanaman herbal tersebut. Kedua, keunggulan Sido Muncul terletak pada quality control yang tinggi, yang menjamin seluruh produknya sesuai standar mutu. Ini yang membedakan Sido Muncul dengan pabrik jamu lainnya.
air terjun indah dengan ikan buas di dalamnya (beneran loh)
Pabrik Sido Muncul juga sangat besar, untuk ukuran pabrik obat herbal, jamu, dan produk minuman energi. Kece lah pabriknya, sayang hanya bisa mampir sebentar .____.
ya, Sido Muncul punya macan, mungkin dilepas waktu malam? tambahan keamanan?
Info lebih lanjut tentang PT. Sidomuncul : www.sidomuncul.com

Day 3 – PT. Kelola Mina Laut (Seafood) Gresik, Jawa Timur.
Hijrah ke Jawa Timur! PT Kelola Mina Laut bagi mahasiswa TIN adalah legenda, karena pendiri sekaligus CEO perusahaan ini, Muhammad Nadjikh, adalah alumni TIN juga. KML adalah salah satu perusahaan pengolahan seafood terpadu terbesar di Indonesia. KML mengolah dari mulai berbagai jenis ikan, udang, cumi-cumi, gurita dan lain-lain. Saya tidak ingat kapasitas produksi pabrik ini, yang pasti berton-ton ikan laut masuk ke pabrik ini setiap hari dari seluruh penjuru Indonesia.

KML mewajibkan pengunjung untuk menggunakan sepatu boot, sarung tangan, hair net dan jas lab untuk masuk ke ruang produksi. Juga termasuk prosedur cuci tangan dan cuci kaki dengan air klorin. Karena memang produk sea food adalah produk yang rentan sekali terhadap kontaminan, dan juga karena mayoritas produk KML adalah produk ekspor yang memiliki standar tinggi. Ada rambut saja di dalam kontainer, bisa dipulangkan semua isi kontainernya. Sadis.
suasana di dalam ruang produksi KML, banyak banget orangnya
KML, dari seluruh pabrik yang kami kunjungi, merupakan pabrik yang paling padat karya. Banyak sekali pekerjanya dalam satu ruangan produksi. Hampir semua pekerjaan dilakukan oleh pekerja, mesin hanya melakukan sortasi ukuran, dan pre cooking untuk produk seafood udang.
Lalu karena seafood juga rawan rusak, beberapa bagian dari pabrik merupakan gudang pendingin, ada bahkan dengan suhu -32 derajat Celcius. Pekerja yang di bagian sana memakai pakaian setebal orang Eskimo. Kami yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam saja merasakan betapa dingin dan berkabutnya kompartemen pendingin di KML.
Sulit untuk menjelaskan alur pekerjaan yang terjadi di KML, berhubung karena banyak sekali varian produk dan bahan baku yang diolah. Secara garis besar ada proses pembuangan isi perut/buntut/kepala, sortasi, dan olahan lanjutan. Tapi overall, pabrik KML seru untuk dikunjungi :D

Lebih banyak tentang KML dapat mengunjungi www.kmlseafood.com

Bersambung... :3

DISCUSSION 0 Comments

Memberikan Sebagian Hidup

Waktu pertama kali kumpul Eveks (penegak kedisiplinan di masa perkenalan fakultas) hal pertama yang saya ucapkan adalah rasa terima kasih banyak kepada semuanya karena sudah mau mengorbankan waktu liburan semesternya untuk berada di posisi yang tidak semua orang mau ada di sana. Ngorbanin 3 bulan liburan cuma buat jadi penegak kedisiplinan? A big no buat mayoritas orang.

Tapi mereka mau daftar. Ga abis pikir.

Semenjak saat itu saya bertekad mati-matian ngejaga integritas mereka, menjaga supaya mereka tidak kecewa dengan waktu yang sudah mereka korbankan.

Jadi inget beberapa bulan yang lalu, temen saya sendiri, yang pernah jadi ketua panitia acara besar di himpunannya pernah curhat via email. Dia bete berat karena anak-anaknya di kepanitiaan pada 'bebal', susah banget dibilangin, dan kerjanya lambat. Lalu saya balas emailnya :

"Masih nyambung ke masalah kenyamanan. Gue perhatiin selama di **** (disamarkan) lu sering 'ngomel'. Thats okay sih, ga masalah. Tapi inget, orang-orang yang lu 'omelin' itu ga pernah lu bayar loh. Mereka udah ada, udah bersedia jadi panitia aja harusnya bersyukur, di tengah berbagai terpaan tugas mereka di kampus, kemungkinan exchange ke luar negeri, ngerancang PKM dll. Tapi mereka malah milih jadi panitia **** loh di tengah berbagai kemungkinan yang mungkin bisa bikin mereka jauh lebih keren dan kece dibanding 'cuma' jadi panitia ****."

Dan beberapa waktu yang lalu, main-main ke tumblrnya Camila Baraqbah (FHUI 2011), temen kriminal saya semenjak di SMA, dan menemukan kata-kata berikut : 

printscreen tumblrnya Camila (http://camila-baraqbah.tumblr.com/)
Ketika kita meminta bantuan kepada orang lain, pada dasarnya kita meminta sebagian dari hidupnya. Mereka harus memberikan sebagian waktu mereka untuk kita, sementara waktu adalah penyusun kehidupan, bukan? Maka hormati, sangatlah hormati, orang yang bersedia membantu, berpartisipasi, berkontribusi untuk kita. Meski tidak memuaskan, meski pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, jangan sesekali menghargai murah apa yang telah mereka berikan. Karena pada dasarnya, yang mereka berikan adalah sebagian dari hidup mereka.
Besok-besok rasanya saya harus ngeprint dan nempelin kalimat ini di mading kamar saya. Supaya suatu saat nanti, selama kepengurusan BEM setahun ini, jika saya sedang bete berat -karena kinerja anak-anak saya yang tidak sesuai harapan- saya tetap ingat satu hal.

Ingat bahwa di masa yang lalu mereka pernah merelakan separuh waktunya untuk membantu saya memulai semuanya :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)