Yotsuba-chan! :3

Akhir-akhir ini saya suka baca manga lagi. Kemarin waktu menentukan judul apa yang akan saya download dengan referensi Goodreads, ketemulah judul Yotsuba, yang juga didapuk sebagai manga terbaik di genre slice of life manga di Goodreads.
Yotsuba-chan! :3
Yotsuba ini komiknya lucu banget. Ceritanya tanpa plot, tapi bukan berarti ngebosenin. Setiap lembarnya cuma nyeritain kehidupan anak kecil yang namanya Yotsuba. Yotsuba tinggal berdua sama ayahnya, Koiwai, yang sebenarnya bukan ayah kandungnya. Ada beberapa bagian di komik Yotsuba yang menjelaskan bahwa Yotsuba ini sebenarnya adalah anak yang abandoned, ditinggalkan. Yotsuba ini tingkahnya aneh banget. Selalu aktif kesana-kemari, ketawa-ketiwi walau juga sering celaka.
hahahaha :'
ahahaha :'
Gak cuma Yotsuba aja, Koiwai yang jadi ayahnya juga rada-rada tingkahnya.
bapaknya juga rada gesrek tingkahnya
Yotsuba dan Koiwai di awal cerita baru saja pindahan ke lingkungannya yang baru, bertetangga dengan keluarga Ayase yang memiliki tiga orang anak, Asagi, Fuuka, dan Ena. Tiga-tiganya punya karakter masing-masing yang khas. Asagi yang sulung usil, Fuuka si anak tengah yang semangat, dan Ena si bungsu yang baik. Koiwai dan Yotsuba juga punya teman namanya Jumbo yang badannya gede banget dan kerja di toko bunga. Tingkahnya juga rada-rada.
berlagak penjahat setelah nonton film :D
Ada beberapa hal yang membuat saya sangat-sangat ketagihan sama Yotsuba. Pertama, humor-humor yang ditampilkan di Yotsuba sangat alami, tapi di sisi lain sangat menghibur. Humornya tidak menghilangkan kesan slice of life, jadinya lahirlah kejadian-kejadian yang memang sering juga terjadi di kehidupan nyata kita. Tidak dibuat-buat, tapi bikin ngakak.
very interesting :'D
Kedua, komik Yotsuba ini sering sekali menyempilkan nilai-nilai moral ke dalam beberapa babnya. Judul komik ini sebenarnya ‘Yotsuba &’ artinya di setiap bab nya selalu berjudul ‘Yotsuba dan [sesuatu]’, misalkan ‘Yotsuba & TV’. Di chapter ‘Yotsuba & Opposite’ misalnya diceritakan Yotsuba mengantar bingkisan ke rumah keluarga Ayase, dan diberikan bingkisan juga sebagai balas budi bingkisannya.
Sederhana banget ceritanya, tapi punya arti.

Terakhir, dan yang paling penting, komik ini mengajarkan tentang bagaimana menghadapi anak kecil. Yang paling sederhananya seperti fragmen chapter ‘Yotsuba & Lies’ di bawah ini:

It’s okay, that you broke the dishes. And when you broke the window and spilled the coffee, that’s okay too.
What if I break a plate again?
That’s okay too. It’s your job to make mistakes.
What if I break your computer?
Anything but that. But, don’t lie. Okay?
Okay. I won’t lie anymore.

Fragmen dialog di atas terjadi setelah Yotsuba tidak sengaja memecahkan piring di rumah sewaktu usil main bola. Dialognya sederhana sekali, tapi sangat kuat artinya. Kamu boleh berbuat kesalahan, tapi jangan bohong. Entah kenapa bagian ini paling ngena sekali. Mungkin karena fragmen dialog ini juga harusnya terjadi di rumah-rumah seluruh keluarga Indonesia.

Sayangnya (menurut saya), orang tua di Indonesia tak tolerir terhadap kesalahan, dan cenderung lalai memberikan teladan tentang kejujuran. Pelajaran parenting sederhana ini malah disajikan oleh orang Jepang dengan media yang paling menyenangkan.

Di review internasional, komik ini disebut-sebut sebagai salah satu komik yang 'berhasil dengan indah membingkai kehidupan anak-anak yang menyenangkan'. Anak-anak yang benar-benar masih anak-anak, tanpa dandanan berlebihan, tanpa badan yang terlalu bongsor, tanpa lisan yang kurang ajar dan tanpa kehidupan cinta-cintaan anak-anak di sinetron Indonesia. This is what real childhood look alike. 

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

Renungan Pasca Praktik Lapang

Dua bulan terakhir dari bulan Juni-Agustus tahun ini saya merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ‘karyawan’ di mata kuliah Praktik Lapang. Fakultas Teknologi Pertanian IPB memang menugaskan seluruh mahasiswa tingkat tiga (kecuali Ilmu dan Teknologi Pangan karena masih bersifat elektif) untuk menimba ilmu di industri yang relevan dengan bidang kerjanya selama 40 hari kerja aktif.

Lokasi PL saya di PT Niramas Utama, Tambun, Bekasi, bareng-bareng sama lima teman yang juga satu departemen (Ihsan, Yudhis, Salman, Indah, Santi). Enam orang dipecah ke tiga divisi yang berbeda : produksi, gudang, dan lingkungan (limbah). Mungkin jarang yang engeh sama PT Niramas Utama (sejujurnya saya juga baru tau waktu mau PL) tapi pasti familiar sama produk yang ini.
Iya, PT Niramas Utama itu perusahaan yang membawahi merek Inaco.

Saya menulis ini bukan untuk membagi cerita tentang berbagai proses produksi atau perubahan fisik/kimia selama operasi. Lagi ogah. Saya cuma pengin membagikan apa yang selama ini saya renungkan selama menjalani masa ‘karyawan’ selama dua bulan terakhir.

Alasan kenapa saya memilih PL di Inaco semata-mata karena terpaksa. Ditolak di mana-mana. Akhirnya barengan sama ‘barisan-tertolak’ lainnya buat daftar PL di Inaco. Secara lokasi Inaco sebenarnya tidak terlalu ideal buat saya. Terlalu dekat untuk ngekos dan agak terlalu jauh untuk pulang-pergi. Bekasi luas bro, Tambun itu sudah masuk wilayah kabupaten. Kira-kira dari rumah ke pabrik sekitar 20 km, ditempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam karena banyak titik macet. Pulang-balik 40 km, 2 jam perjalanan total. Lumayan banget. Tapi akhirnya PP harus dipilih karena biaya untuk ngekos jauh lebih tidak masuk akal.
titik warna hitam : rumah saya ; titik warna merah : lokasi PL. Sekitar 21.6 km. Jauh engga, dekat juga engga
Bagi saya pribadi, PL itu kayak ‘demo game’. Ngerasain bagaimana setiap hari masuk jam 8 dan pulang jam 5, tapi masih banyak fitur ‘purchased game’ yang belum bisa diunlock. Nanti diunlocknya pas udah lulus, dunia pasca kampus. Di tempat PL pula saya sadar bahwa di industri yang relevan dengan bidang yang saya pelajari, entah kenapa, hmm kerjanya monoton abis.

Partisi kerja per bagian sudah jelas, masalah dan tantangan juga enggak pernah jauh beda setiap harinya. Saya ditempatkan di bagian produksi, dan masalah yang ada di sana selalu tentang downtime mesin dan produktivitas operator yang rendah. Itu-itu aja. Yang bagian gudang juga sama saja, bahkan lebih tidak jelas dibanding bagian produksi karena order kirim barang selalu tidak terjadwal.

Monoton banget. Saya nggak betah.

Tapi justru ini yang menjadi pelajaran besar buat saya. Berhadapan dengan dunia kerja berarti harus siap dengan rutinitas kerja yang begitu-begitu saja. Saya baru merasakan apa yang sebenarnya dibicarakan sama om @ReneCC di sesi TEDxJakarta-nya dan buku yang ditulisnya, Your Job is Not Your Career.
recommended book!
Di lampu merah sepanjang perjalanan pulang saya sering tengok kanan-kiri, sekedar pengen tahu dari mana saja kawan-kawan sepengendaraan saya ini. Bisa jadi jarak yang mereka tempuh lebih dekat dari yang saya jalani setiap hari, tapi bisa jadi juga jarak yang mereka tempuh berkali lipat dibandingkan jarak saya ke rumah. Sembari bertanya-tanya, “Sudah berapa tahun mereka menjalani rutinitas kayak gini? Apa yang membuat mereka bisa bertahan?”
kalau nggak karena cinta pekerjaan atau karena motivasi hebat lainnya, susah bro menjalani rutinitas kayak begini setiap hari
Saya merasa mereka harus benar-benar do what you love or love what you do buat menjalani tahun-tahun pekerjaan mereka. Entah kenapa saya yakin sekali bahwa orang-orang yang bekerja di industri, di pabrik, sama sekali bukan passion mereka. Saya enggak yakin ada orang yang passionnya bawa forklift. Rasanya nggak ada.
"serius nih bang gak mau naik forklift bareng aku?" ; "aduh si eneng..."
Satu-satunya kemungkinan adalah para pekerja ini harus love what you do, atau (terpaksa) love what you do. Orang yang kerja di pabrik pasti work for money. Mereka butuh uang untuk memenuhi biaya sewa petakan dan beli susu untuk bayi kecilnya. Bisa jadi hal-hal ini yang membuat mereka bisa bertahan.

Ah klise banget lo mar! Kerja emang gitu! Buat cari makan kok gak mau susah, manja!

Itu dia makanya. PL ini benar-benar memberikan pelajaran berharga tentang realita dunia pasca kampus. Mumpung masih diberi kesempatan jadi mahasiswa (Alhamdulillah Yaa Rabb...) yang notabene nggak semua orang diberikan kesempatan serupa, yuk monggo kita siapkan dengan baik dunia pasca kampus kita. 

Dengan status sebagai mahasiswa, ada lebih banyak pilihan yang tersedia selepas dari kampus, bisa lanjut ke studi master, kerja, wirausaha, ikut program-program semacam Indonesia Bangun Desa atau Indonesia Mengajar, dan banyak lagi. Disiapin aja maunya yang mana.

We ought to do what we love to do.

Kita semua punya hak atas penentuan nasib kita sendiri. Supaya nanti dunia pasca kampus kita nggak kayak lagunya Nafa Urbach, Hatiku Bagai Terpenjara :P


Kalaupun nanti (misalnya terpaksa) terpenjara di dunia kerja, biarlah tingkah lucu anak-anak kita dan bahagianya keluarga di rumah yang menjadi penyemangat dan pelipur lara sepulang kerja :) 

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Pengantar Krisis Pangan Dunia Eps. 1 : Prolog

“For years, we've been able to take the food we eat for granted. We go to the supermarkets and it's all there, at a cost that most of us can afford. And then, of course, there's the huge variety. But in the last few years there've been warning signs that all that is about to change.” – BBC Future of Food

Pertambahan jumlah penduduk dunia membuat isu ketersediaan pangan menjadi isu yang sangat krusial. Permasalahan pangan tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di seluruh dunia. Apa yang sebenarnya terjadi?
Photograph by John Stanmeyer - National Geographic
Pengantar Krisis Pangan Dunia adalah posting berseri yang akan menceritakan tentang berbagai permasalahan pangan yang terjadi di dunia, terinspirasi oleh documentary series BBC Future of Food. Dokumenter ini hanya terdiri dari tiga episode yang masing-masing episodenya memiliki durasi sekitar 1 jam. Meski demikian, apa yang sebenarnya disampaikan dalam dokumenter ini menurut saya sangat lengkap dan berhasil merangkum beberapa masalah kritis dalam krisis pangan dunia.

Entah mengapa saya merasa pengetahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi di berbagai belahan dunia terkait dengan permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan perlu diketahui banyak orang, apalagi mahasiswa di rumpun pertanian. Mungkin harusnya documentary series ini, dan bahan kajiannya (Pengantar Krisis Pangan Dunia) harus juga diberikan ke setiap mahasiswa baru IPB sebagai mata kuliah lanjutan Pengantar Ilmu Pertanian. Lumayan lah bisa nambah 2 sks :P
Grumpy Cat said : Yaelah bro, gue kan bukan anak pertanian, peduli amat tentang krisis pangan. Itu sih masalah lo sama institut lo!

Ckck mpus. Tim Lang (Professor of Food Policy, City University, UK) mengatakan bahwa di tahun 2050 populasi dunia akan menjadi 9 miliar manusia, sementara sekarang saja kita sudah kesulitan dalam memperjuangkan pangan bagi 7 miliar manusia. Semakin besar kebutuhan akan susu, daging, ikan, dan bahan pangan lainnya.

“Unless we change how we grow food, how we eat it, what we eat, how much we prepared to pay for it, we're walking into crisis.” – Tim Lang

Iya, kecuali kamu makan angin, masalah pangan tetap masalah kamu :)
"Bener juga bro," kata si empus
Series ini akan membawa kita ke Inggris (sebagai sentral cerita dalam dokumenter), India, Senegal, Kuba, Amerika Serikat, Meksiko, Australia, dan mungkin beberapa kali kita akan membahas Indonesia.

Selamat datang di kelas kuliah Pengantar Krisis Pangan Dunia. Bukan berarti saya mengerti benar tentang topik ini, tapi mari kita belajar bersama-sama. Silahkan duduk :)

"Tonight, I will reveal the global food security crisis and what it could mean for the food on our plates." – BBC Future of Food

DISCUSSION 0 Comments

Makan Bubur Panas

Koran SINDO beberapa hari yang lalu (7/8/2014) memuat satu artikel yang sangat menarik di kolom analisis, ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali. Judulnya Bubur Panas dan Pengendalian BBM :

"Anda pernah makan bubur di kawasan Cikini, Jakarta? Dulu, menjelang tengah malam, kala pikiran jenuh dengan pekerjaan yang bertimbun, sementara perut lapar minta diisi, dari Kampus Salemba saya sering mampir makan bubur di daerah Hayam Wuruk-Kota. Panasnya bubur bisa membuat perut kita hangat. Energi kita serasa pulih dan kita bisa kembali bekerja hingga lewat tengah malam. Padahal, namanya juga bubur, airnya lebih banyak daripada berasnya.

Tapi, makan bubur panas tidak bisa dengan sekali serbu. Lidah bisa terbakar. Itu sebabnya saat makan bubur, kita memulai dengan pinggirnya terlebih dahulu. Baru setelah panasnya berkurang, kita mulai bergerak ke tengah."

Analogi 'makan-bubur-panas' dalam artikel ini menjadi perumpamaan bagi strategi pemerintah dalam mengendalikan subsidi BBM. Strategi yang bernada sama juga diterapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menjerat pelaku tindak pidana korupsi.

"Misalnya, sebelum menjerat salah satu tokoh puncak suatu partai yang terlibat perkara korupsi, KPK mulai dengan menahan beberapa bawahannya. Akhirnya setelah cukup bukti, KPK pun menahan sang tokoh tersebut. Teman-teman di KPK menyebutnya sebagai 'strategi membakar obat nyamuk.'"

Nadanya sama, dari pinggir bergerak ke tengah. Saya suka dengan cara dan strategi ini. Walau kadang dalam beberapa kondisi kita diharuskan mengambil keputusan dengan cepat, secepat-cepatnya makan bubur, dan secepat-cepatnya kita membakar obat nyamuk, tetap saja mulai dari pinggirnya dulu. Ada prosesnya. Tidak instan.

Jangan pernah makan bubur langsung dari tengah mangkoknya. Pelan-pelan saja, abang nungguin kok #lah :3

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Lahirnya Republik Nyinyir dan Ideologi Tuh-kanisme

Beberapa bulan terakhir, iklim media sosial semakin panas. Pemilihan presiden yang akan diselenggarakan 9 Juli besok ternyata membawa dampak yang besar di beberapa bulan terakhir. Dampak yang sebenarnya mungkin sepele, tapi setelah saya pikir-pikir kembali bisa sangat mengkhawatirkan. Sejelek-jeleknya, mungkin bisa menghancurkan asas ke-3 Pancasila : Persatuan Indonesia. Sebelum saya lanjut, saya mau bilang dulu bahwa berhubung saya bukan mahasiswa jurusan sosial atau humaniora, sangat-sangat bisa jadi apa yang saya tuliskan salah. Mohon maklum, di bangku kuliah saya cuma belajar tentang bikin onggok sama gaplek.

Pilpres 2014 adalah ajang pemilihan presiden paling unik setelah masa reformasi. Untuk pertama kalinya pemilihan presiden hanya terdiri dari dua pasang calon. Sebelum-sebelumnya calonnya lebih dari dua, meski tetap direduksi jadi dua di pemilu putaran dua. Hal ini membuat pilihan masyarakat menjadi sangat kontras. Pilih Prabowo, atau pilih Jokowi. Bulat.

                                 


Beda dengan tahun-tahun sebelumnya saat pilihan-pilihan yang dibuat tidak terlalu solid. Katakanlah saat pemilu 2004, ada 5 pasang calon yang bertarung, yakni Amien Rais-Siswono Yudho Husodo (PAN), Hamzah Haz-Agum Gumelar (PPP), Megawati-Hasyim Muzadi (PDIP), SBY-JK (Demokrat, PBB, PK), dan Wiranto-Shalahudin Wahid (Golkar). Sementara itu di tahun 2009 ada 3 pasang calon, Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan JK-Wiranto. Di tahun 2004 distribusi suara merata sekali, dengan partai-partai besar (PDIP, PAN, PPP, Demokrat, dan Golkar) masing-masing punya calonnya sendiri-sendiri. 
hasil pemilihan presiden 2004, atas : periode 1 ; bawah : periode 2
Meskipun calonnya berkurang menjadi 3 di tahun 2009, fenomena yang terjadi malah SBY vs non-SBY, karena ketokohan SBY dalam 5 tahun pemerintahan 2004-2009 sudah terlanjur lekat. Tahun 2004 dan 2009 juga belum marak kampanye via social media. Rasanya dulu bahkan tidak pernah terbayang kampanye partai dan capres via media Facebook/Twitter.
SBY effect, menang jauh di atas lawan-lawannya
Tahun 2014, kita hanya punya dua pasang calon, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Distribusi dukungan partai, meskipun lebih banyak di koalisi Prahara, cenderung berimbang. Di tahun ini juga masyarakat Indonesia melek socmed, termasuk menyuarakan dukungan mereka di Facebook, Twitter, dan lalala.

Sayangnya, yang disuarakan tidak hanya dukungan untuk jagoannya, tapi juga nyinyiran sinis untuk siapapun musuhnya.
~~~
Jadi sebenarnya nyinyir secara harfiah menurut KBBI adalah :

nyi·nyir a mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang- kadang -- , bosan aku mendengarkannya ;

Sementara yang selama ini kita anggap (atau paling tidak saya) sebagai arti dari nyinyir lebih dekat kekerabatannya dengan sinis. Melenceng sih sebenarnya, tapi ya sudah lah #apalahakuini. Nyinyir lebih enak ditulis, dan beraura lebih busuk dibanding sinis. Nyinyir. Kesannya jahat sekali. Saya suka.

Saya menganggap sikap-sikap nyinyir ini begitu mengganggu. Penyinyir setia adalah mereka yang fanatik sekali terhadap capres jagoannya. Masalahnya adalah sikap nyinyir ini seringkali menutupi kebaikan orang-orang yang dinyinyirkan (apakah ini kata yang benar?).

Seolah-olah, semua yang dilakukan selain jagoannya adalah salah. Setidaknya itu yang dapat ditarik dari isi timeline Facebook dan Twitter mereka, dan media-media pendukung capres yang bersangkutan. Pilihannya hanya dua, memberitakan kebaikan jagoan saya, atau memberitakan kesalahan musuh saya. Titik.

Satu contoh kecil, beberapa tulisan para pendukung Prabowo nyinyir tentang kerja Jokowi. Orang berbuat nyata, kerja dengan benar dibilangnya pencitraan. Kan agama mengajarkan prasangka baik, apa baiknya berburuk sangka sama kerja orang lain? Apalagi kalau 'kerja'nya memang benar-benar terasa. Munafik rasanya bagi orang-orang Jakarta bila mengatakan bahwa TIDAK ADA perubahan di Jakarta selama Jokowi menjadi Gubernur. Bagi mereka yang pernah mengurus surat-surat di kelurahan akan mengetahui bahwa proses birokrasi saat ini sudah diperbaiki dan lumayan memuaskan. Normalisasi waduk, bagi orang-orang nyinyir ini juga tidak ada artinya, padahal gubernur sebelum-sebelumnya tidak pernah ada yang mampu melakukannya. Kalau tentang diliput media ya menurut saya wajar saja, seorang capital major, dengan pendekatan dan gaya yang baru sedang bekerja dengan cara yang berbeda dari pendahulunya. Gimana ga jadi mangsa media? Kenapa harus Jokowi yang seolah-olah disalahkan atas kerjanya? Dituduh pencitraan pula. Aneh dan jahat.
salah satu perubahan signifikan waduk Ria Rio era pemerintahan Jokowi
Contoh kecil lain adalah saat Prabowo melakukan jabat tangan saat menyetujui usulan Jokowi tentang ekonomi kreatif di debat capres kedua. Bagi saya yang sedang nonton live, saya sangat terkesan dengan sikap Prabowo. Gentle. Jantan. Macho. Kalau memang baik kenapa harus tidak setuju? Tapi beberapa netizen pro-Jokowi menganggap itu sebagai bendera putih, tanda menyerah. Kata mereka "a good debater never agree. Once he agrees, it means surrender". Ya karena bagi saya Prabowo berdiri di sana bukan sebagai debater. Prabowo bersikap seperti itu sebagai seorang negarawan. Bagi saya harus jadi teladan, kenapa harus dipermasalahkan?
sikap Prabowo saat menyetujui usulan Jokowi tentang ekonomi kreatif di debat capres kedua
Atau simak juga ketika Prabowo menanyakan balik tentang TPID ke Jokowi. Apa salahnya? TPID adalah sesuatu yang mikro, dan para pendukung Jokowi langsung merespon itu seolah-olah ketidaktahuan tentang TPID adalah kegagalan besar bagi seseorang yang mencalonkan diri sebagai presiden. Lebay.

Betapa hebatnya sikap nyinyir bisa menutupi semua kebaikan.
~~~
Acep Iwan Setiadi, Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB, dalam opininya Semiotika Politik Pilpres yang dimuat dalam Kompas, 21 Juni 2014, mengatakan:

"Ini Perang Badar," demikian lebih kurang Amien Rais. Tanpa keterangan 'badar' pun, perang merupakan metafora mengerikan. Dalam perang, apa pun sah dilakukan. Perang hanya punya satu kebijakan, yakni menghancurkan lawan.

Saya menghormati Amien Rais, tetapi saya tidak setuju dengan ucapan beliau yang ini. Masa iya kita saling menghancurkan saudara-saudara sebangsa kita sendiri cuma gara-gara beda pilihan. Agak berlebihan.

Rakyat harus diingatkan bahwa segala perang, perdebatan dan kenyinyiran ini harus berakhir setelah masa pencoblosan (9 Juli) berakhir. Berdasarkan survei Litbang Kompas (21/6/14) dengan pertanyaan "Jika Pilpres 2014 dilakukan saat ini, siapakah yang Anda pilih?" menunjukkan 35.3% memilih Prabowo-Hatta, 42.3% memilih Jokowi-JK, dan 22.4% belum menentukan pilihan. Jokowi memang unggul, tetapi keberadaan 22.4% massa mengambang ini jauh lebih menentukan. Keunggulan 7% terhitung sangat tipis. Keduanya masih punya peluang menang.

Interpretasi data yang lain dari hasil survey Kompas adalah bahwa kemungkinan Prabowo atau Jokowi akan menang dengan keunggulan tipis. Tidak telak. Tebakan mode dukun saya mengatakan siapapun yang menang tidak akan menang dengan selisih lebih dari 10 persen.

Data Kompas juga menyebutkan, bahwa jumlah pemilih yang resisten (menolak) terhadap Prabowo-Hatta sebesar 33.6 persen, sementara yang menolak Jokowi-JK berkisar 30.6 persen. Bayangkan, siapapun yang menang dalam Pilpres tahun ini akan memimpin rakyat yang sekitar +- 30% menolak dirinya.

Kalau anggapan 'perang' dan rangkaian kenyinyiran ini tidak berakhir sampai setelah 9 Juli, maka siapapun presiden terpilih kita nanti akan menjadi 'musuh' bagi ratusan juta penduduknya sendiri. Sedih gak sih bro?
~~~
Tulisan ini semata-mata dibuat karena saya semakin bosan dengan pemberitaan hitam-putih yang selama ini dilakukan oleh media pendukung pasangan calon dan para pendukungnya yang entah kenapa setia sekali share berita-berita dan mendebatkan sesuatu yang, ah sudahlah. Setia sekali sampai saya muak.

Sejujurnya saya termasuk ke dalam 22.4% massa mengambang yang belum menentukan pilihan, dan ragam informasi di Facebook, Twitter dan lalala bukan membuat saya semakin yakin, tetapi membuat saya semakin muak. Afiliasi politik sih boleh aja, share berita juga boleh aja, tapi bosan juga lama-lama setiap harinya selalu ada saja berita-berita nyinyir busuk setia hinggap di news feed akun Facebook saya.

Saya hanya takut, setelah 9 Juli nanti, orang-orang yang dengan setianya bersikap nyinyir ini melahirkan ideologi tuh-kanisme.
weh ideologi apa lagi itu om?
Setelah 9 Juli dan pasca pengumuman resmi penghitungan hasil pemilu. Pasti ada yang kalah di antara Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Ideologi tuh-kanisme adalah ideologi yang dianut oleh salah satu pendukung fanatik yang jagoannya kalah, lalu menjalani 5 tahun ke depan penuh dengan kalimat,
"Tuh kan, mending si xxxx aja presidennya. Kalau si xxxx yang jadi presidennya pasti perekonomian Indonesia jauh lebih baik dari ini."
"Tuh kan, coba si xxxx presidennya, negara kita pasti kuat. Amerika pasti takut sampai ngompol lawan Indonesia kalau presidennya xxxx."
"Tuh kan Indonesia gagal lolos Piala Dunia. Coba presidennya si xxxx, Brasil bisa kita cukur, Italia bisa kita libas!"
Ideologi tuh-kanisme adalah ideologi para pengandai, dan mengandai-andai adalah hal yang mengerikan. 

Indonesia harus diingatkan. Diingatkan bahwa setelah hasil pilpres keluar maka negara ini akan mempunyai satu pasang presiden dan wakil presiden. Satu saja. Betapa mengerikannya ketika setelah pilpres keluar tetapi tingkah orang-orang Indonesia tidak jauh berbeda dengan masa kampanye. Kita harus berubah.

Siapapun capres jagoannya, tetap harus siap dan rela dipimpin oleh siapapun presidennya.

Kalau kita tetap begini-begini saja, saya takut segala kebijakan dari Istana Negara hanya akan menjadi olok-olok rakyatnya, yang setiap harinya dengan nyinyir mendengungkan kalimat "Tuh kan, coba si xxxx presidennya....."

POSTED IN
DISCUSSION 5 Comments

Industri Tapioka dan Sisi Gelap Saos Murahan

Apa yang terlintas di pikiran ketika melihat bongkahan putih seperti ini?

Onggok. Ini adalah salah satu hasil samping dari industri tepung tapioka yang kami kunjungi beberapa hari yang lalu. Kabar baiknya, industri ini memanfaatkan onggok sebagai hasil samping agar tercipta produksi bersih yang mendekati zero waste. Kabar buruknya, onggok ini dimanfaatkan untuk sesuatu yang seringkali kita konsumsi di warung bakso dan mie ayam langganan kita: saus tomat.
tetereeet
Sebenarnya sih saya rasa semua orang sudah tau kalau onggok adalah bahan baku saus tomat. Yang belum banyak orang tahu adalah bagaimana onggok bisa tercipta?
"hmmm emangnya gimana om?" empus pun penasaran
Karena onggok adalah limbah industri tapioka, lebih baik sekalian saja saya jelaskan tentang proses pembuatan tepung tapioka.

Industri tepung tapioka yang kami kunjungi ada di kawasan Sentul, persis di belakang Giant Ekstra Sentul City. Supaya tidak ada kesalahpahaman, mari kita samakan persepsi kita tentang makna kata ‘industri’. Industry dalam kamus bahasa Inggris Kielikone MOT Dictionary di handphone saya tertulis seperti ini :

English : industryplural industries - noun(any part of) the business of producing or making goods.

Industri bukan berarti ada cerobong asap, bukan berarti ada kawasan khusus yang berjejer pabrik di kanan kiri, karena definisinya sederhana sekali: memproduksi atau membuat barang. Karena industri yang kami temui sungguh sederhana sekali.

Pernah lewat Tol Jagorawi atau Tol Lingkar Bogor? Coba tengok kanan kiri, utamanya di kawasan kosong yang tidak ada perumahannya. Pasti ada beberapa industri serupa. Industri tepung tapioka memang banyak di beberapa titik di pinggiran tol. Ciri khasnya adalah jejeran tampah yang dikeringkan di bawah terik matahari.

Tepung tapioka adalah tepung berbahan dasar singkong. Diagram cara memproduksi tepung tapioka menurut Tjiptadi (1985) adalah seperti di bawah ini

diagram alir pembuatan tepung tapioka

Cerita pembuatan tepung tapioka bermula dari singkong utuh. Dikupas sedemikian rupa sampai bersih. Oh hampir lupa, singkong yang umumnya digunakan sebagai bahan baku industri tapioka bukanlah jenis singkong yang selama ini kita makan. Singkong secara garis besar ada 2 jenis, yakni ‘singkong hitam’ dan ‘singkong putih’. Sekadar info, sebenarnya semua jenis singkong mengandung racun sianida (HCN). 
jengjeng!! singkong? beracun??
Pada ‘singkong hitam’, kandungan HCN tersebar di seluruh tubuh umbi, sehingga tidak layak dikonsumsi manusia. Kandungan racun HCN dalam umbi singkong pada varietas singkong hitam berkisar antara 50-100 mg HCN/kg singkong. Varietas ‘singkong hitam’ inilah yang menjadi bahan baku industri tapioka. Rangkaian proses pengolahan mulai dari pencucian, pengendapan, dan pengeringan mengurangi kadar HCN pada singkong hingga layak dikonsumsi

Berbeda halnya dengan 'singkong putih' atau singkong manis yang umumnya dikonsumsi langsung. Kandungan HCN nya berkisar 40 mg HCN/kg singkong, dan racun HCN pada varietas ini hanya terdapat di kulitnya saja, sehingga bisa dikonsumsi langsung.

Cara membedakannya? Kalau singkong hitam rasanya pahit (ya iyalah). Secara fisik saya tidak pernah membandingkan langsung bedanya apa, cuma katanya internet sih cirinya kulit luarnya berwarna putih tipis, setipis tissue. warna daunnya hijau sangat tua (jika masih dalam pohon). Tenang saja kok, biasanya singkong hitam begini tidak dijual bebas di pasar, karena stoknya hanya untuk produksi tapioka saja. Jangan khawatir duhai pecinta singkong.

Lanjut ke proses pembuatan tapioka. Setelah singkong selesai dikupas dan dicuci bersih, singkong kemudian diparut dan dipisahkan antara ampas dan air.
singkong yang sudah diparut akan disaring di saringan ini, air akan masuk ke bawah saringan sementara ampasnya akan bergerak ke ujung saringan
Setelah selesai disaring, air parutan dari singkong tersebut diendapkan dalam settling tank. Settling tank adalah tangki yang akan memisahkan antara padatan dengan cairan dengan cara pengendapan. Padatan akan terbentuk di dasar settling tank sementara air akan berada di atasnya. Di industri yang kami kunjungi, sepertinya lebih enak untuk menyebut settling tank seumpama bak mandi. Kenapa? Ya karena mirip bak mandi -__-
Settling tank, a.k.a bak mandi
Air parutan singkong diendapkan sekitar 7 jam, hingga nanti akan terbentuk endapan. Kata bapaknya, endapan yang terbentuk disebut 'aci basah'. Setelah 7 jam, lubang air dibuka dan menguras air yang terpisah dari endapan, meninggalkan aci basah di dalam settling tank. Si aci basah ini kemudian di angkat ke atas, ditaruh di atas bambu yang dilapisi karung agar air dalam aci turun ke bawah.
gumpalan putih itu namanya aci basah, ngambilnya pake gayung. Nah di pojok kiri atas itu namanya kaki. Iya KAKI.
Setelah itu aci basah dipindahkan ke meja, dilakukan pengecilan ukuran dan dikeringkan dengan tampah di bawah sinar matahari.



brand ambassador tepung tapioka 2014
Setelah kering, tapioka dikemas di dalam karung. Proses pembuatan tapioka memang sederhana dan singkat. Jika sedang dalam cuaca panas, penjemuran akan selesai sekitar jam setengah 2 siang. Simpel sekaligus hmmm agak tidak steril prosesnya, kalau tidak mau dibilang menjijikkan.
sudah kering, siap dimasukkan ke dalam karung

Oh mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa tepung tapioka bisa seputih itu? Setelah melalui proses sepanjang itu masa iya tidak ada perubahan warna dari singkong yang diolah?

Cerdas sekali. Putih yang ada di foto memang lebay. Masa iya singkong diolah tanpa ada perubahan warna sama sekali, dijemur bak warna mutiara. Jawabannya sudah jelas, karena pada proses pengendapan ditambahkan dengan zat pemutih sulfit. 
ini nih zat pemutihnya, kata Bapaknya ini bikinan Jerman
Dalam praktik yang dilakukan oleh si Bapak, takaran penambahan sulfit terhadap jumlah tapioka tidak pernah jelas. Begitu ditanya apakah bahan ini aman untuk kesehatan atau tidak, katanya, "Kalau tidak aman pasti rakyat Indonesia semua sudah mati. Kan sekarang masih pada hidup, ya berarti aman-aman saja." Indikator yang super sekali.
"LAH SI ONGGOKNYA KEPIYE OM?"
Weh selow pus. Jadi kita harus flashback ke proses ini penyaringan yang ini.
nih penyaringan yang ini nih
Jadi kan tadi udah dibilang kalau si ampas akan jatuh di ujung saringan bergerak ini. Sekarang mari kita sorot ada apa di ujung saringan ini.

Agak geser sedikit ke sebelah kiri, inilah yang akan kita temukan. 
selokan buangan tidak sampai 1 meter dengan tumpukan onggok basah
Dekat sekali dengan selokan. Gimana gimana? Ampas singkong ini kemudian diinjak-injak agar air di dalamnya turun, kemudian baru deh dikepal-kepal seukuran tangan, dikeringkan, ditumbuk, dan dijadikan bahan baku saus kesayangan kamu untuk makan bakso. 
"HAH?"
Gitu deh ceritanya. Yuk makan bakso neng sama abang. Pake saos. Yang banyak.

POSTED IN ,
DISCUSSION 5 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)