Gantian, Giliran Kita

siklus, kodrat, dan akan terus berulang :')
Saat pulang terakhir saya melontarkan wacana tentang praktik lapang yang akan berlangsung semester depan ke Bapak dan Ibu di rumah. Praktik lapang di Fateta mewajibkan mahasiswanya magang di perusahaan/lembaga penelitian selama 40 hari kerja. Lazimnya di TIN hampir 100% PL di industri, cuma segelintir aja yang di dinas atau lembaga penelitian.

Beberapa tahun terakhir momen PL selalu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tahun kemarin angkatan 2010 juga demikian.

Saya melontarkan wacana untuk PL di provinsi lain, atau bahkan pulau lain. Ingin mencari pengalaman baru, niat saya.

Saya (S) : "Pak, semester depan PL boleh di tempat jauh ga?"
Bapak (B) : "Tempat jauh? Maksudnya?"
S : "Ya yang jauh, di luar Jakarta. Atau bahkan di luar Jawa"
B : "Kapan sih kamu PL?"
S : "Semester depan pak, papasan sama bulan puasa"
B : "Ga usah deh dek, kamu cari yang di deket rumah aja. Kan di Cikarang banyak, bahkan di Ciracas, Pasar Rebo juga ada Frisian Flag, Indomilk, Nutricia......"

Saya tidak perlu menanyakan lebih dalam alasannya karena apa. Saya manut, kalau memang Bapak ridhonya seperti itu :)
~~~

Menjadi bungsu dengan beda usia 15 tahun dari kakak yang paling muda membuat saya harus sadar diri. Anak terakhir, sementara kakak-kakaknya yang lain sudah punya anak, sudah punya kesibukan sendiri, dan yang paling utama sudah tidak tinggal serumah dengan Bapak dan Ibu.

Rasa sadar ini juga yang membuat saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di IPB. Karena adanya mereka, saya jadi merasa harus kuliah di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya tinggal UI atau IPB. Berhubung preferensi jurusan saya di UI tidak ada yang 'sreg' betul, bertualanglah saya ke Bogor. Dalam hati padahal ingin juga sekolah yang jauh, biar berasa benar aroma merantaunya.

Bapak dan Ibu sudah tidak muda, cucu mereka sudah tiga. Sudah tidak selincah dulu. Dalam hal apapun saya tidak bisa merajuk. Kalau izin saya ditolak, ya sudah. Kalau kata Raditya Dika, kan kemungkinan besar mereka yang akan pergi mendahului kita duluan, jadi selama mereka masih ada kenapa kita tidak berusaha membahagiakan mereka. Yaa paling tidak dengan berusaha tetap berada tidak jauh dari mereka.

Bahasa kerennya, menunda sebentar sebagian mimpi kita untuk memberikan sepotong kebahagiaan buat mereka.

Gantian lah, masa iya sih mereka yang terus-terusan berkorban buat kita :)

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

One Response to : Gantian, Giliran Kita

  1. Renchis says:

    sejenis dengan tulisan ini http://sheverlasting.wordpress.com/2013/10/30/301013-reverse-sebuah-konsep-bertukar-peran/
    tapi sedikit berbeda, haha good job!

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)