Dari Dapur @payungmama : Mencari Ide Brilian Melawan Kenihilan

"The best ideas come as jokes. Make your thinking as funny as possible" 
- David M. Ogilvy

Berangkat dari kesulitan yang kami hadapi karena Pemira berlangsung dengan calon tunggal [selengkapnya di post ini], maka kami harus meramu sesuatu yang baru. Sesuatu yang melekat sampai atmosfer Pemira ini bisa hidup walau hanya dengan calon tunggal. Kami harus serius. Kampanye ini tidak main-main dan harus digarap dengan serius.

Kami harus meramu dan menemukan ide kampanye yang cerdas dan brilian untuk melawan sesuatu yang tidak ada. Melawan kenihilan dan penolakan. Melawan kata 'TIDAK'.

Di awal kumpul bareng tim sukses, terlebih dahulu kami mengkaji beberapa materi dari buku Malcolm Gladwell, The Tipping Point. Untuk pembekalan dan penyamaan suhu. Dalam buku tersebut, Gladwell menjelaskan mengenai tiga kaidah epidemi sosial, antara lain The Law of The Few, Stickiness Factor, dan terakhir The Power of Context. Kaidah ini memudahkan terjadinya kondisi tipping, atau fenomena dimana gagasan cepat tersebar. [resume The Tipping Point] 
salah satu recommended book, harus baca!
Ada dua bab yang jadi perhatian utama dan relevan dalam kampanye kami, yakni Stickiness Factor dan The Power of Context.

The Stickiness Factor is a law about the actual informational content and packaging of a message. Connections and the personal character of the people trying to spread a message can certainly help it spread, but if the message is not worth spreading, then it is doomed to failure. The stickiness factor says that messages must have a certain character which causes them to remain active in the recipients' minds. Moreover, they must be deemed worthy of being passed on. [more about Stickiness Factor

The law of context is a rule about the environment in which a message spreads. Small changes in the context of a message can determine whether or not it tips. Thus, these social epidemics can fail if the geographic location where they are introduced is wrong or if the current mental state of the population is not prepared for the message. [ more about The Law of Context
grafik ilustrasi fenomena Tipping Point
Kami yakin, dengan pemahaman kampanye menggunakan teori-teori sosial yang sederhana akan mengantarkan kami pada hasil yang lebih baik.
~~~
Salah satu agenda besar rapat perdana tim sukses adalah mencari 'sesuatu'. 'Sesuatu' ini bisa berupa apapun, entah hewan, benda, atau wujud fisik lainnya. Fungsi si 'sesuatu' ini adalah sebagai kristalisasi dari visi misi yang kami tawarkan. Kami berharap si 'sesuatu' ini bisa jadi 'ledakan awal' supaya pesan atau ide yang kami sampaikan menjadi sticky. Sebelum kita lanjut ke ide publikasi dan kampanye, izinkan saya untuk memperkenalkan visi dan misi yang saya dan Jamhari bawa :
Visi
“Mewujudkan BEM Fateta 2014 yang melayani lebih, bermakna dan penuh manfaat bagi seluruh civitas Fateta”

Misi*
1. Menumbuhkan kepercayaan dan hubungan sinergis bersama lembaga dan komunitas di Fateta IPB demi terwujudnya harmonisasi dan kesolidan Fateta
2. Membangun BEM Fateta sebagai rumah sederhana dan nyaman untuk menempa diri, menyalurkan passion dan berkreasi bagi mahasiswa Fateta
3. Mengoptimalkan secara konsisten sarana informasi dan pelayanan kesejahteraan mahasiswa Fateta
4. Peduli dan proaktif menjalankan pergerakan kreatif dan berkelanjutan yang menyentuh seluruh civitas Fateta
5. Tulus dalam mengabdi secara nyata kepada masyarakat berbasiskan spirit berkontribusi dan intelektualitas
*warna-warna ini ada artinya, lihat nanti di bagian bawah :P
Di bagian visi, ada 3 concern utama kami, yakni melayani lebih, bermakna, dan penuh manfaat. Kami harus mencari 'sesuatu' ini sebagai bentuk kristalisasi tiga hal tersebut. Kristalisasi ini yang akan selalu kita bawa dalam semua bentuk publikasi atau kampanye terbuka. 

Di rapat, pembahasan ini berlangsung rada ngaco. Bukan ngaco sih sebenarnya, hanya terlalu kreatif. Ada yang usul paperclip, ulat dll. Yaa kalo disambung-sambungin sih sebenarnya masuk akal dan masuk tema, cuma kayaknya rada kurang 'lengket' gimana gitu.
epic juga sih sebenernya, dan idenya paperclip kayak gini bakal dibikin 'bentuk' tertentu, sayang agak kurang sreg
*uget uget
Hingga pada akhirnya, lahir benda yang mengawali semua gerakan kami. Payung
payung, merangkum seluruh inti visi kami :)
Kami menganggap payung adalah benda yang bisa merangkum tiga unsur visi kami. Melayani lebih, bermakna, dan penuh manfaat. Kami juga menganggap bahwa payung adalah benda yang sangat dekat, apalagi di Bogor yang julukannya Kota Hujan. Tambah lagi ketika kampanye kemarin hujan lumayan sering turun. Kami yakin payung bisa menambah ke'lengket'an pesan yang kami bawa. Fix.
~~~
Ada tiga acuan 'kemasan' yang kami sepakati dalam kampanye ini. Yang pertama kampanye harus 'dekat' dan sederhana. Dom Cobb (Di Caprio) di film Inception juga melakukan hal yang sama ketika melakukan inception, untuk menanamkan 'sesuatu' di pikiran harus dimulai dengan ide yang paling sederhana. Yang kedua adalah penuh warna, supaya enak dipandang dan tidak membosankan. Yang terakhir, kami sepakat untuk tidak menjual sosok. Kami percaya mahasiswa Fateta adalah mahasiswa yang cerdas, yang mementingkan ide daripada tampang. 

Lagipula saya dan Jamhari kan enggak ganteng-ganteng amat, apa yang mau dijual?

Setelah si 'payung' lahir, kami membutuhkan satu hal lagi sebagai 'bungkus' terakhir. Bungkus yang membuat si payung ini menjadi benda yang lebih 'hidup'. Semacam 'nama'. Setelah perdebatan sengit akhirnya lahir nama 'payung mama'.

Kata 'mama' dalam 'payungmama' adalah akronim dari melayani lebih, bermakna dan penuh manfaat. Maksa? Ya iyalah :P 'Mama' juga bisa berarti Delmar dan Jamhari. Maksa (lagi)? Ya emang iya, yang penting asik aja didengernya :P
salah satu publikasi awal @payungmama
Kalau dicermati, ada 5 payung warna-warni dalam poster di atas. Ini bermula dari rasa enggan kami membaca misi calon ketua BEM yang entah kenapa selalu banyak, panjang lebar dan sulit diingat. Bagi kami, menempelkan misi yang sepanjang itu di dalam media publikasi adalah sangat tidak efektif. Kami akhirnya melambangkan 5 misi tersebut dalam bentuk payung warna-warni, dan dikristalkan dengan satu kata kunci di setiap poin misi. Ada percaya, tulus, sederhana, konsisten dan peduli.

Coba dilihat lagi di bagian 'misi' di atas, lalu cocokkan warna dengan kata kuncinya :)
baliho 3x4 m, ada unsur payung warna-warninya juga :)
Kami sengaja membuat ini agar pesan tentang 'misi' menjadi mudah diingat karena dikristalkan dengan bentuk dan warna yang khas.

Kami bahkan sengaja membeli payung dengan kelima warna yang serupa lengkap dengan atribut kata-kata di sampingnya untuk disebar di lingkungan Fateta. Jadi semacam seni instalasi gitu. Payungnya kami lakban supaya tidak hilang Supaya kampanyenya lebih 'happening'! :D Ini adalah contoh beberapa  payung yang kami pasang :

warna oranye, Percaya, ada di tengah sapta
warna ungu, Peduli, ada di tengah koridor fateta
warna hijau, Sederhana, ada di tengah sapta juga, di samping payung oranye
Masih ada lagi warna merah dan biru untuk poin konsisten dan peduli, sayang tempatnya di Node Sapta yang gelap jadi jelek difoto.

Minggu malam kami pasang seluruh atribut ini. Plus lakban dan tulisan permohonan agar payung ini tidak diambil atau dipindahkan. Prasangka kami terlalu baik. Kami terlalu polos, dunia terlalu kejam. Senin paginya sang payung ungu sudah lenyap diambil orang. Senin sore, ketika kami baru kelar kuliah dan ingin menyelamatkan sisa payung, giliran payung biru dan merah yang hilang. Hanya tersisa hijau dan oranye.

Besoknya, sisa payung tidak lagi kami tampilkan untuk kampanye. Takut.
~~~
Kami bikin akun twitter @payungmama untuk kanal publikasi alternatif. Akun twitternya sudah dihapus sekarang. Tapi ada sesuatu yang lucu tentang akun ini. Salah satu anggota tim memutuskan untuk mengganti akun twitternya sendiri menjadi @payungpapa

Dan mereka sering saling tweet mesra. 

Rada konyol memang, tapi jadi seru. Orang-orang mulai bertanya-tanya siapa orang di balik @payungpapa, yang ujung-ujungnya akan makin melengketkan citra kami via jagat twitter. Memang benar seperti quotes di awal post ini, ide terbaik lahir dari jokes :D Great jokes team!

Selain itu, benda lain yang kami gunakan adalah coklat payung. Ini jajanan jaman jebot yang jadi sesuai sama tema yang kami bawa. Coklat ini jadi amunisi jitu untuk kampanye kelas, dibagikan buat yang bertanya. Lumayan menambah antusiasme berhubung jajanan kayak gini sudah sulit dicari :D
cap ninja hattori, nyarinya susah nih, sampe Depok .____.
Memang perlu usaha yang jauh lebih keras untuk melawan kenihilan. Jauh lebih keras dibanding melawan 'lawan'.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)