Dari Dapur @payungmama : Awal Cerita

Akhir tahun di beberapa kampus itu identik dengan musimnya Pemira. Musimnya cari pemimpin baru buat regenerasi lembaga. Entah di tingkat KM, fakultas, atau bahkan himpunan dan unit. Semuanya sibuk cari sosok. Kalau di tingkat KM IPB tahun lalu bahkan sampai rusuh. Lama sekali prosesnya tahun lalu. Gontok-gontokan hanya karena (merasa) beda paham. Padahal toh kalau memang niatnya baik kan tidak perlu ada yang diributkan. Duh jadi curhat.

Di Fateta, Pemira selalu menjadi hal yang unik. Unik karena… sepi. Asing.

Bukan karena kehidupan kemahasiswaan di Fateta yang gersang. BEMnya cukup hidup dan himpunannya kece badai. Tapi, entahlah saya juga tidak paham -___- Pemira Eksekutif (BEM) di Fateta sering sekali berakhir dengan calon tunggal. Termasuk tahun ini. Calonnya tunggal, saya sebagai calon ketua dan teman saya –yang ternyata alumni 20 BR, SMP seberang SMP saya yang ber’musuh’an- Jamhari Abidin sebagai calon wakil ketuanya.

Sesungguhnya kami bukan satu-satunya pasangan calon yang mendaftarkan diri. Ada satu lagi, sepasang mahasiswa tingkat 2 yang berani-beraninya mencalonkan diri. Edan. Mereka adalah Ruziqo dan Alfandias. Mereka punya nyali. Sayang, karena waktu yang tersisa tinggal sedikit, mereka gagal melengkapi semua berkas dan gagal lolos verifikasi. Padahal kami sudah senang kalau mereka jadi juga, kan bagus kalau ada musuhnya.

Info sedikit, jika Pemira calonnya tunggal maka pilihannya hanya 2, yakni ‘YA’ atau ‘TIDAK’, dan baru akan menang jika yang memilih ‘YA’ berjumlah 60%+1 dari total suara yang masuk. Menjadi calon tunggal sangat menyedihkan karena ‘musuh’ saya adalah kata ‘TIDAK’. Lawan saya adalah kata penolakan. Sakit rasanya jika bila kalah karena penolakan. Bahkan rasanya ada yang menolak dan memilih ‘TIDAK’ saja rasanya juga sakit. Bayangkan, si ‘TIDAK’ tidak pernah kampanye dan ada orang yang memilih dia! -___-

Saya, Jamhari, dan beberapa teman-teman 48 lain bahkan membantu Iqo dan Alfan melengkapi berkas mereka. Sayang itu tidak merubah kenyataan bahwa tahun ini Pemira Fateta harus calon tunggal (lagi).

~~~
Keadaan calon tunggal sesungguhnya menyusahkan. Atmosfer Pemira jadi hambar. Tugas berat bagi kami adalah bagaimana caranya menjadi calon tunggal yang ‘menghidupkan’ suasana Pemira. Di beberapa fakultas lain yang ada pesaingnya atmosfer ini akan terbentuk dengan sendirinya. Namun tidak demikian jika calonnya tunggal.

Selanjutnya, kita harus memastikan bahwa kepemimpinan tahun depan harus dilandasi dengan rasa percaya terhadap pemimpinnya sendiri. Kami menargetkan lebih dari 90% dari jumlah suara yang masuk memilih ‘YA’. Kami tidak ingin ‘naik’ dengan presentase ‘TIDAK’ di atas 10% Bayangkan, apa jadinya kalau nanti beneran ‘jadi’, tapi sebenarnya lebih dari 10% massa fakultas tidak menginginkan keberadaan saya dan Jamhari di posisi tersebut.

Jika direview, misi kami ada dua. Pertama untuk memastikan atmosfer Pemira tetap berjalan seru walaupun dalam kondisi calon tunggal, dan kedua, target suara di atas 90% total suara yang masuk memilih ‘YA’.

Kami harus kampanye dengan cara yang ‘berbeda’, dengan orang-orang yang mau diajak ‘berbeda’. Saya dan Jamhari merekrut beberapa superstar yang cukup berpengaruh untuk menjalankan misi berat ini.

Ngomong-ngomong, jika ditanya kenapa saya mau-maunya menyalonkan diri, alasannya sungguh sederhana. Saya dan beberapa teman yang lain sudah menganggap BEM ini sebagai ‘rumah’. Saya sayang setengah mati dengan ‘rumah’ ini dan saya tahu ada banyak orang, teman-teman saya sendiri, yang juga memiliki rasa sayang yang sama. Saya cuma ingin memberikan yang terbaik. Saya percaya bahwa kontribusi tidak harus dari posisi tertentu, tapi saya juga sadar bahwa semakin strategis posisi yang kita tempati maka semakin besar pengaruh yang bisa dicapai.


Lagipula kan seru kalau punya ladang amal baru :)

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

One Response to : Dari Dapur @payungmama : Awal Cerita

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)