Mosaik Mudik Lebaran 2013 Ep.2 : Setelah 44 Tahun Berlalu

plang reuni SMP 1 Bukateja angkatan 1969 di Majatengah, Bukateja
Salah satu agenda besar pada mudik tahun ini adalah reuni angkatan SMP Bapak. Bapak sekolah di SMP Bukateja. Bukateja itu salah satu kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Zaman dahulu belum ada istilah SMP 1 atau SMP 2, lha wong SMP nya memang hanya SATU. Tapi bangunannya memang sekarang menjadi SMPN 1 Bukateja. 

Tahun 1969 masuk SMP adalah barang mewah. Tidak semua orangtua memiliki keinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Hanya sedikit anak desa yang mengenyam pendidikan di SR (Sekolah Rakyat -sebutan SD pada zaman dahulu-) Yang masuk SR saja sudah sedikit, yang lulus SR makin sedikit, apalagi yang melanjutkan ke SMP. Dari desa saya di Wanogara Wetan, pada zaman itu yang melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP bisa dihitung dengan jari.

Salah satu anugrah memiliki Mbah (bapaknya Bapak) yang sangat concern terhadap pendidikan anak-anaknya. Mbah adalah manusia langka di desa yang bisa baca tulis, yang membuatnya dipercaya menjadi carik desa selama bertahun-tahun. Mbah, dengan segala pengetahuannya, sadar bahwa pendidikan yang terbaik adalah kunci bagi kesuksesan anak-anaknya kelak. Sebuah kesadaran orang tua yang amat langka mengingat mindset orang tua saat itu tidak ambil pusing dengan pendidikan formal. Kesadaran ini pula yang mengantarkan keluarga besar kami, alhamdulillah, hampir semuanya memetik hasil yang manis.

Keengganan orang tua zaman dahulu untuk menyekolahkan anak-anaknya tidak terlepas juga dari jauhnya jarak sekolah dari rumah. SR di desa sudah ada meskipun se-adanya, sedang SMP hanya ada di Bukateja. Saya ingin mengatakan bahwa jarak antara Rembang-Bukateja adalah jarak yang cukup jauh, mungkin sekitar 30 km. Bayangkan di zaman itu belum ada jalan utama, anak yang ingin sekolah paling tidak harus tinggal nge-kos di Bukateja untuk sekolah, kan tidak mungkin juga 30 km jalan kaki menyusur sawah menyeberang sungai setiap hari. Ini berarti ada biaya tambahan yang diperlukan untuk transportasi dan tempat tinggal.

Bapak dan Pakde Bambang (kakaknya Bapak) termasuk ke dalam angkatan awal SMP Bukateja, dan termasuk orang paling pertama di desa Wanogara yang masuk ke jenjang pendidikan SMP. Betapa mewah pendidikan di zaman itu.

~~~
Sebelum bulan Ramadhan, Bapak ditelepon oleh beberapa orang temannya. Mengabarkan adanya reuni SMP angkatan 1969. Bapak langsung sumringah. Bayangkan, ada ajakan untuk bertemu kawan-kawan lama yang sudah 44 tahun tidak pernah bertemu. Jangankan wajah, nama pun sebagian besar sudah lupa.

Bapak kelahiran tahun 1953, tahun ini sudah 60 tahun.  Sudah dalam usia pensiun kalau PNS. Sudah S2 (sampun sepuh) dan S3 (sampun sepuh  sanget). Teman-temannya juga. Mayoritas, eh semuanya, sudah menjadi kakek dan nenek. Pembicaraan tentang anak sudah bukan jaman, mereka sudah adu jumlah cucu -___-

para peserta reunian angkatan 1969. Ya, mereka sudah menjadi tua :))
Uniknya, gurunya Bapak masih ada beberapa yang datang. Kalau mau dibikin analoginya jadi begini, kamu punya guru SMP yang sudah 5 tahun yang lalu pensiun, dan ternyata guru SMP nya guru kita masih hidup. Anehnya lagi entah kenapa wajahnya tidak jauh berbeda, malah ada gurunya yang wajahnya kelihatan lebih muda dari muridnya. Keren abis. Sayang foto para guru yang hadir lupa saya ambil.

Reuni diadakan di rumah Bapak Jumadi, eks lurah Majatengah yang sekarang sudah pensiun. Rumah Pak Djumadi disulap menjadi tempat hajat reunian, lengkap dengan meja bundar dan kursi. Makanannya lumayan banyak, ada tempe mendoan, singkong rebus, kacang rebus, ubi rebus, dan es dawet. 
hmmmmm :6
meja tamu reuni
Para 'siswa' ini sekarang pekerjaannya udah beragam banget, ada yang jadi bidan, ada yang jadi guru, ada juga yang jadi ustadz, pedagang, karyawan swasta, petani dan lain-lain. Beberapa teman seangkatan mereka juga sudah ada yang meninggal. Ya iyalah, sudah umur rata-rata 60 tahun ke atas -__-
ini dulunya para gadis idaman sekolah loh :D
Reuni setelah 44 tahun ini sangat menarik, langka, dan mungkin, tidak akan pernah terulang kembali reunian 44 tahun dalam suasana yang serupa di zaman-zaman yang akan datang.

Maksudnya?

Saya juga bingung bagaimana menjelaskannya -__-

Jadi begini. Reunian 44 tahun yang diadakan Bapak dan teman-teman angkatan 1969 di tahun 2013, tidak akan pernah memiliki arti yang sama dengan, misalkan, reuni SMA saya angkatan 2011 ketika tahun 2055. Bapak dan teman-temannya lahir pada generasi di mana komunikasi baru berkembang dengan pesat pada saat mereka sudah dalam usia mapan. Sudah dalam usia cukup tua kalau boleh dibilang. Beberapa bisa keep connected karena sempat bertemu di forum lain entah kondangan atau apa dan saling bertukar nomor telepon. Satu-satunya akses mereka untuk mengetahui kabar-kabar teman-teman lamanya hanya via telepon, itupun kalau ada.

Lain halnya dengan generasi sekarang. Kita sudah saling follow akun Twitter, sudah jadi friend di Facebook, ada grup alumninya pula. Kalau kita mau tahu paling tidak bagaimana wajah teman kita sekarang, iseng-iseng, bisa klik profilnya di Facebook dan lihat beberapa fotonya sekarang. Kalau mau tau sekilas bagaimana pemikirannya sekarang ataupun kesibukannya saat ini bisa dicek di timeline Twitternya. Bukan hal yang sulit untuk mengetahui kondisi teman-teman lama kita di zaman yang serba terhubung seperti sekarang.

Di sinilah letak kelemahan lahir di generasi digital. Reuni menjadi kehilangan sedikit esensinya. SEDIKIT saja loh ya. Karena sebenarnya tanpa bertemu pun kita bisa cari segala hal yang berhubungan dengannya. Via media sosial apapun. Saling komunikasi tanpa bertatap muka. Hal ini yang kemudian pada tahun 2055, misalkan saya mengadakan reuni dengan teman-teman SMA angkatan 2011, saya tidak terlalu terkejut dengan perubahan yang terjadi pada kebanyakan teman-teman saya. Paling tidak saya beberapa kali melihat foto mereka di News Feed Facebook saya meskipun hanya sebesar kuku jempol di layar laptop.

Karena itulah saya menganggap reuni angkatan 1969 di tahun 2013 adalah barang antik. Sepuluh tahun lagi ataupun dua puluh tahun lagi mungkin mayoritas generasi ini akan punah, tergantikan oleh katakanlah, generasi 1980-an yang jauh lebih fleksibel dan mungkin lebih connected dengan perubahan teknologi. Yang tentu saja, sense of reunion nya akan jauh berbeda dengan angkatan 1969.

Tapi tetap saja, yang namanya reuni tetap menjadi pertemuan yang sakral. Merasakan kebahagiaan dari rasa syukur kita karena diizinkan bertemu kembali dengan orang-orang yang kita sayangi. Bersyukur karena kita pernah bertemu, bermain, dan bersama saling mengisi cerita satu sama lain.

"...namun ku telah berjanji, suatu waktu, kita bertemu lagi" 
- 'Semalam di Cianjur'

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

One Response to : Mosaik Mudik Lebaran 2013 Ep.2 : Setelah 44 Tahun Berlalu

  1. Miftahgeek says:

    Busyet, kalo kemaren saya reuni SD dengan jarak 10 tahun, ketemuan ngomongin siapa aja yang udah nikah, kalo reuni berjarak 44 tahun gitu bisa jadi ngomongin siapa aja yang udah mati kali ya --a

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)