Mosaik Mudik Lebaran 2013 Ep.1 : Bermula dari Desa

Baru kemarin saya kembali dari perjalanan mudik ke kampung halaman. Mudik tahun ini -2013- sungguh berwarna. Hari pertama saya sampai di rumah Lik di Sokaraja, tetiba saya muntah-muntah. Dari rentang azan maghrib sampai azan isya, total saya sudah BAB 5x (yang isinya air semua) dan muntah hebat sebanyak 3x. Positif muntaber. Kemungkinan besar karena makan siang, yang memang setelah kami ingat lagi agak kurang bersih penyajiannya.

Jadilah saya dibawa ke RSU Banyumas. Langsung ke UGD karena poli umumnya masih tutup. Diberi obat, besoknya alhamdulillah sudah sembuh. Baru kali ini kejadian seperti ini. Unik.

Mari kita selesai dengan basa-basi awalnya. Tujuan saya mudik lebaran kemarin, di samping untuk bertemu dan bersilaturahmi sanak saudara di kampung halaman, paling tidak ada 2 agenda utama yang menarik perhatian saya, dan juga menjadi alasan kenapa saya membuat serial post ini di tengah-tengah keruwetan kepanitiaan MPF dan awal kuliah semester 5, yakni hajatan nikah sepupu jauh dan reunian Bapak dengan teman-temannya di SMP 1 Bukateja tahun 1969. 

1969? Ya, kamu tidak salah membaca. Bapak memang lulus SMP pada tahun 1969, dan baru pada tahun ini -2013- Bapak reunian kembali. Cerita tentang reunian akan saya ceritakan di episode yang kedua :P 

Seharusnya berdasarkan dua hal unik yang saya sebutkan di atas, maka episode ini akan menceritakan tentang hajatan nikah sepupu jauh saya. Tapi kalau hanya tentang hajatan nikah, ya ini akan menjadi post yang pendek dan membosankan. Ada hal unik lainnya di balik budaya hajatan nikah di desa saya, dan untuk menceritakannya, saya harus terlebih dahulu menceritakan seluruh hal yang penting tentang desa saya, Desa Wanogara Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

~~~
Kampung saya ada di kecamatan yang sama dengan lahirnya Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang lahir di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang. Maka supaya akrab dan tidak panjang penulisannya, bolehlah Jenderal Soedirman saya panggil Mbah Dirman, mengingat sebenarnya desa kami bertetangga dan kekerabatan di dalam desa yang sungguh dekat. Hampir semuanya saudara. Jadi cucu jauhnya pahlawan nasional, saya merasa ganteng.
Panglima Besar Jenderal Soedirman, patung di pusat Purbalingga. Jauh lebih kece posenya dibanding patung Jenderal Sudirman di Jakarta :))
Dari jalan utama ke jalan desa saya terdapat sebuah monumen memorial, Monumen Jenderal Soedirman. Monumen ini didirikan untuk mengenang kontribusi dan jasa beliau terhadap kemerdekaan NKRI. Sepengetahuan saya, monumen ini dulunya adalah rumah tempat Mbah Dirman dilahirkan dan dibesarkan. Kini, Monumen Jenderal Soedirman merupakan salah satu objek wisata terkenal di Kabupaten Purbalingga. Oh iya, monumen ini dan desa saya berjarak sekitar kurang lebih 30 km dari pusat Kabupaten Purbalingga.
pintu gerbang Monumen Jenderal Soedirman, Rembang, Purbalingga.
Jalan dari pusat kota Purbalingga sampai ke kawasan ini sudah mulus, walaupun jalannya menurun dan mendaki. Menantang banget lah. Supir amatiran pasti gemetaran. Naik, turun, nikung tajam dengan kemiringan yang fantastis. Dulu waktu zamannya jalannya masih jelek, jalan ini termasuk jalan maut. Sayang tidak ada fotonya fufufu

Desa saya, Wanogara Wetan ada di sebelah kanan foto pintu gerbang di atas. Ada jalan mendaki lagi sekitar 2 km, dan sampailah di desa saya. Berikut adalah beberapa penampakan keadaan desa Wanogara Wetan saat kemarin saya ambil gambarnya.

kurang lebih begini lah suasana desa kemarin, sudah sangat jauh berubah dibanding ketika saya masih SD
pemandangan desa lainnya
Desa Wanogara ada dua, Wanogara Wetan dan Wanogara Kulon. Wanogara Kulon yaa lebih 'ngulon' lagi, lebih jauh masuk ke dalam di bagian 'belakang' Wanogara Wetan. Sekarang desa ini sudah jauh berubah. Dulu waktu saya masih SD jalanannya masih berbatu, mobil dan motor masih sedikit. Transportasi mengandalkan 'coak', sebutan untuk mobil Carry pick-up yang waktu itu hanya dimiliki segelintir orang. Sekarang motor sudah sangat banyak, mobil pribadi juga bukan barang langka. Kalau mau ditarik lebih jauh ke zaman Bapak masih kecil dulu, kemana-mana jalan kaki atau naik kuda. Bayangkan ke pusat kota kecamatan terdekat yang berjarak lebih dari 20 km jalan kaki dan tidak ada jalan utama, menyisir sungai dan menyeberang sawah. Kalau naik kuda saya membayangkan pasti lebih kece lagi, keren banget macam Angling Darma di Indosiar. Tanpa naga tentunya.

Mayoritas rumah di desa juga sudah di renovasi. Sudah banyak yang pakai keramik. Rumah asli di desa ini adalah seperti rumah Mbah dan keluarga besar saya yang sampai sekarang belum pernah di renovasi. Masih terdiri atas bilik-bilik bambu dan tanpa keramik.
tampak luar rumah Mbah, masih orisinal sampai sekarang :))


Beginilah kurang lebih beberapa intro yang ingin saya bagikan terkait dengan keadaan desa dan rumah Mbah tempat saya tinggal.

Terus di desa ngapain aja mar?

~~~

1. Hajatan
Seperti yang sudah saya bilang, salah satu agenda besar saya pulang mudik tahun ini adalah karena saudara jauh saya, Mbak Ayu, nikahan. Sesungguhnya saya tidak tahu betul garis keturunan antara saya dengan Mbak Ayu, kan sudah saya bilang hampir sebagian besar di desa ini jadi keluarga dengan jalur yang amat kompleks -__- Mbak Ayu kerjanya di Cikarang dan sering banget main ke rumah.

Di desa, kalau ada orang hajatan, semua tetangga satu desa akan mengirimkan bahan makanan ke keluarga yang gelar hajat. Barang-barang macam telur, minyak ataupun kebutuhan pokok lainnya. Pulangnya, para undangan juga menerima 'balik' barang-barang tersebut dalam kuantitas yang lebih sedikit. Ini biasanya dilakukan di hari sebelum resepsi digelar.

Tahun ini, desa banyak sekali menyelenggarakan hajatan. Total semasa libur lebaran saja ada 43 hajatan yang digelar. Ada yang nikahan, ada juga yang khitan. 43 hajatan. Wow. Ini yang menjadi alasan kenapa saya susah tidur di kampung, speaker dari segala penjuru menyahut-nyahut, entah setel lagu dangdut, keroncong ataupun campur sari hingga malam.

Mbak Ayu nikahan di hari Minggu, 11 Agustus 2013. Di hari yang sama, ternyata ada 16 akad nikah dalam satu kecamatan. Mirisnya, satu kecamatan hanya memiliki SATU penghulu. Iya, SATU. Mbak Ayu kebagian akad nomor 2, sekitar jam 10 pagi. Hajatan yang pertama (nomor 1) hanya berjarak 50 meter dari rumah Mbak Ayu. Sebelum ijab kabul dimulai, sang penghulu terlebih dahulu mengucapkan maaf karena sedang sakit. Pilek berat. Saya tidak membayangkan bapak penghulu yang sedang sakit ini masih harus keliling untuk mengesahkan akad 14 pasangan lainnya. Hajatan kedua saja sudah lemas pilek berat, bisa-bisa pingsan mendadak di akad ke-16 -__-

selamat berbahagia pengantin baru :) (ki-ka : Bapak, Mas Eko, Mbak Ayu, Ibu)
2. Keliling-keliling random
Menyambut 17-an, kemarin desa mengadakan lomba panjat pinang di lapangan belakang balai desa. Iseng-iseng saya mampir ke sana, nonton panjat pinang. Enggak jauh beda dengan panjat pinang di tempat lain, cuma yang ini hadiahnya sebagian besar baju sama celana. Kalau di kota biasanya jauh lebih mewah. Hadiah lainnya, pak rokok sama tenggok. Tenggok itu semacam bakul yang dipakai warga desa untuk belanja, buat bawa barang. 
arena lomba panjat pinang
Warga juga mengerumun di sekitar area lomba untuk berjualan. Barang jualannya macam-macam, ada bakso, somay, es mambo, dan tebu. Udah lama banget kayaknya terakhir kali liat jual tebu batangan kayak gini. Tebunya dikupas, dipotong kecil-kecil, dan dikunyah dengan nikmat. Pengen banget rasanya beli tapi sayang gigi lagi bermasalah huhu

ibu-ibu penjual tebu batangan. Klasik :)
Bapak juga mengajak ke kebun pepaya milik Pak Kowo, tetangga belakang rumah yang juga punya rumah di Cibubur. Pepayanya manis luar biasa. Kami lalu ditawari untuk makan buah pepaya langsung di bawah pohonnya. Nikmatnya benar-benar tiada dua. Enak banget ya rasanya kalau punya kebun buah sendiri :)
kebun pepaya Pak Kowo di belakang rumah, banyak banget bro buahnya
merah, manisnya kayak gula :))
oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah. Kurang banyak kayaknya :6
Keesokan paginya, saya ikut Ibu ke pasar untuk beli sarapan sama beberapa oleh-oleh untuk tetangga di rumah. Pasar di desa kurang lengkap, jadi kita mampir habis subuh ke desa Sumampir. Di sana pasarnya lebih besar, karena memang beneran 'pasar'. Kalau di desa pasarnya cuma orang gelar 'bakul'nya ramai-ramai di pinggir jalan.

Pasar Sumampir ini letaknya tidak terlalu jauh, 15 menit naik mobil dari rumah. Barang utama yang ingin kami beli adalah Leper. Leper adalah makanan tradisional khas daerah sini. Semacam opak, terbuat dari ketan yang dibakar. Rasanya gurih banget, dan Leper dari Semampir adalah Leper terbaik. Kriuk banget.
Pasar Gemah Ripah ternyata namanya, itu Ibu yang lagi di depan pake jilbab abu
ini bakul Leper nya, saya lupa ambil gambar close-up Leper -__- ya gitu deh kayak opak aja
suasana jual beli di pasar, kegiatan jual beli sudah normal meski baru H+4 lebaran
sudut pandang yang lain, di bagian pojok kanan bakul cemilan sarapan
Iseng sore, saya juga berangkat hingga ke kecamatan sebelah untuk ambil gambar. Subhanallah, alam disini masih begitu indah :))


hijaunya sawah di belakang rumah. Menentramkan :))
jalan menuju Karangmoncol yang masih belum selesai dibangun dan Gunung Slamet angkuh di kejauhan
Untuk foto yang terakhir, jalan tersebut benar-benar baru dibangun. Dulu tidak ada sama sekali. Warga jalan kaki menyusur sawah sejauh mata memandang dan menyebrang sungai di ujung jalan ini. Benar-benar pejalan kaki tangguh!

Next : Mosaik Mudik 2013 Ep.2 : Setelah 44 Tahun Berlalu

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)