Dua di Hari Pertama Lebaran 1434 H

Tahun lalu saya menuliskan hal yang hampir sama dengan isi post ini, judulnya Dua di Malam Takbiran 1433 H. Isi postingnya seputar dua hal yang secara random mengganjal saya dalam malam takbiran lebaran Idul Fitri tahun lalu. Tahun ini sama. Ada dua hal yang menarik perhatian saya mengenai beberapa fenomena yang selama ini umum terjadi dalam masa-masa lebaran Idul Fitri.

SATU
Harian Kompas 7 Agustus 2013 kemarin memuat opini salah seorang dosen sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga -saya lupa namanya- yang berjudul 'Mudico' Ergo Sum. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Ulil Abshar Abdala (salah satu gembong Jaringan Islam Liberal *cuih dan kader Partai Demokrat) via tweetnya.

Istilah ini mengacu pada ungkapan Rene Descartes : Cogito ergo sum, yang memiliki arti karena aku berpikir, maka aku ada. Maka pelesetannya : 'Mudico' ergo sum dapat memiliki arti karena aku mudik, maka aku ada. Ungkapan ini menyingkap seberapa pentingnya mudik bagi eksistensi seorang manusia, terutama mereka yang hidup merantau dari tempat tinggal mereka. Pertanyaannya sederhana, apa iya mudik sepenting itu?

Mudik memang menyentuh banyak hal. Harian Kompas beberapa hari yang lalu mengatakan bahwa para pemudik membawa total uang sejumlah Rp. 120 triliun ke kampung halaman masing-masing. Maka mudik dalam dimensi ekonomi membawa angin segar dalam pemerataan arus uang nasional yang selama ini banyak terjebak di Ibukota. Dari dimensi spiritual -yaa memang ini agak tidak terlihat- mudik menyegarkan kembali kearifan kampung halaman kepada mereka yang merantau ke kota besar.

Saya biasanya bersama keluarga mudik pada hari kedua lebaran. Buat saya pribadi, jauh lebih nyaman untuk lebaran bersama dengan para tetangga dan keluarga di Jakarta. Jauh lebih hangat. Oleh karena itu kami hampir tidak pernah mengalami kondisi puncak arus mudik yang macet total. Daripada terlalu bercapek-capek di jalan, mending tidak usah jalan sekalian, atau tunggu arusnya mulai sepi.

Orang tua saya (terutama Ibu) seringkali marah-marah sendiri kalau nonton liputan mudik di TV yang menayangkan satu keluarga mudik naik sepeda motor. Kok orang tuanya sampai hati sih, setega itu membawa anaknya yang masih kecil-kecil, naik motor sampai jarak lebih dari 200 km. Atau waktu itu ada yang mudik naik bajaj. Ya memang lebih aman sih naik bajaj tapi kan nyiksa juga getarannya -__- Apalagi kalau udah masuk ke berita korban meninggal akibat mudik sepeda motor. Miris rasanya. Apalagi (lagi) kalau korbannya anak kecil. Dobel miris.

kasian banget anak yang di tengah ya, poor you boy
Kemarin saya lihat berita dari detikNews, hingga H-2 lebaran, sudah ada 232 pemudik yang tewas karena kecelakaan (sumber)  dan sudah terjadi 1.124 kecelakaan selama arus mudik berlangsung. Selain korban meninggal, ada 352 korban luka berat.


motto : mudik harus anti mainstream bro! *teretektektek #bunyi bajaj
Saya memang tidak memiliki data-data tersebut di periode mudik Idul Fitri yang lalu-lalu, tapi saya rasa datanya tidak jauh berbeda. Selalu ada lebih dari ratusan orang yang meninggal pada masa mudik lebaran. Semahal itukah harga mudik, sampai-sampai para perantau dari daerah ini rela menanggung besarnya resiko kehilangan nyawa? Sampai-sampai mereka rela berdesak-desakan dan antre di mana-mana?

Entahlah, saya juga tidak paham.

Tapi mari kita berharap bahwa tradisi mudik lebaran ini membawa manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mudharatnya, dan semoga pemerintah memperbaiki semua hal sarana dan prasarana agar korban akibat mudik dapat diminimalisir. :)


DUA
Bagian ini sungguh bukan bagian yang serius. Tapi juga bukan bagian yang main-main. Bagian ini akan membahas tentang sesuatu yang menyenangkan, hanya apabila kita masih dalam usia anak-anak ataupun usia sekolah. Angpau lebaran.

Barusan saya baru saja pulang dari rumah nenek di Cipinang, kumpul keluarga besar dari Ibu. Biasanya saya berada di sana dari pagi setelah sholat Id dan keliling RT untuk salam-salaman hingga sore hari habis ashar. Ada ritual (menyenangkan) yang sudah lama hilang ketika saya pulang ke rumah dari Cipinang dalam beberapa tahun terakhir : mengkalkulasi jumlah angpau lebaran.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita kupas dahulu mengenai 'angpau lebaran' ini, dan sebelum kita mengupas, mari kita hapuskan asumsi bahwa angpau lebaran adalah sesuatu yang normal dan biasa-biasa saja. Supaya makin seru.

biasanya dibungkus dengan bungkus unyu seperti ini
Sesungguhnya saya juga tidak paham kenapa mesti ada 'angpau lebaran'. Kenapa kita dikasih uang? Apa alasannya? Waktu kecil dulu katanya sebagai upah puasa, tapi sepertinya alasan itu hanya berlaku untuk anak pre-school atau awal SD yang belum paham untuk apa harus puasa. Ya masa puasa diupah sih.

Keponakan saya, Azka, yang sekarang sudah SD kelas 2, beberapa tahun yang lalu menerima amplop dari mbahnya. Setelah amplopnya dibuka, dia malah heran dan nanya dengan suara nyaring sama bundanya, "Kok isinya uang bun?" Kami semua tertawa. Saya juga. Tapi kemudian saya berpikir, pertanyaan Azka ada benarnya juga. Kenapa dia dikasih amplop yang ada uangnya? Dia sudah berbuat apa? Kenapa anak kecil yang belum sekolah sama sekali malah dikasih uang yang nominalnya cukup besar? Toh dia tidak bisa me-manage uangnya sendiri kan.

Kemudian, rentetan pertanyaan ini akan berujung pada pertanyaan yang mengesankan rasa protes karena saya sudah bukan anak-anak dan masa sekolah lagi : kenapa semakin tua usia semakin kecil kemungkinan mendapat 'angpau lebaran'?

Yaa kan sudah saya bilang di awal, bagian ini bukan bagian yang serius :P

~~~

Di akhir, saya sekalian mau pamitan. InsyaAllah besok pagi berangkat pulang kampung ke Purbalingga. Mohon doa semoga perjalanan lancar, semuanya sehat berangkat dan sampai ke rumah lagi, penuh manfaat dan minim mudharat :)

Selamat merasakan aura lebaran di Indonesia!

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)