Kuliah Santai? Bohong!

"Makanya mar, buruan kuliah, belajarnya santai, banyak waktu kosong, enak deh jadwalnya gak kayak sekolah" - Senior, tahun 2011

Terkadang saya bingung sama teman-teman saya sendiri, entah dari fakultas lain atau kampus lain, yang kayaknya jadwal kuliahnya jauh lebih santai dibanding jadwal waktu SMA. Atau imaji anak kuliah di sinetron-sinetron murahan yang kayaknya setiap hari jauh lebih banyak main sambil gaul sambil pacaran sambil nongkrong. Lah jadwal saya?

jadwal semester 5 saya, 23 sks. 
Dear anak SMA, jangan mudah dibohongi sama senior kamu yang sudah kuliah ya. Kuliah sama sekali bukan hal yang santai.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Mosaik Mudik Lebaran 2013 Ep.2 : Setelah 44 Tahun Berlalu

plang reuni SMP 1 Bukateja angkatan 1969 di Majatengah, Bukateja
Salah satu agenda besar pada mudik tahun ini adalah reuni angkatan SMP Bapak. Bapak sekolah di SMP Bukateja. Bukateja itu salah satu kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Zaman dahulu belum ada istilah SMP 1 atau SMP 2, lha wong SMP nya memang hanya SATU. Tapi bangunannya memang sekarang menjadi SMPN 1 Bukateja. 

Tahun 1969 masuk SMP adalah barang mewah. Tidak semua orangtua memiliki keinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Hanya sedikit anak desa yang mengenyam pendidikan di SR (Sekolah Rakyat -sebutan SD pada zaman dahulu-) Yang masuk SR saja sudah sedikit, yang lulus SR makin sedikit, apalagi yang melanjutkan ke SMP. Dari desa saya di Wanogara Wetan, pada zaman itu yang melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP bisa dihitung dengan jari.

Salah satu anugrah memiliki Mbah (bapaknya Bapak) yang sangat concern terhadap pendidikan anak-anaknya. Mbah adalah manusia langka di desa yang bisa baca tulis, yang membuatnya dipercaya menjadi carik desa selama bertahun-tahun. Mbah, dengan segala pengetahuannya, sadar bahwa pendidikan yang terbaik adalah kunci bagi kesuksesan anak-anaknya kelak. Sebuah kesadaran orang tua yang amat langka mengingat mindset orang tua saat itu tidak ambil pusing dengan pendidikan formal. Kesadaran ini pula yang mengantarkan keluarga besar kami, alhamdulillah, hampir semuanya memetik hasil yang manis.

Keengganan orang tua zaman dahulu untuk menyekolahkan anak-anaknya tidak terlepas juga dari jauhnya jarak sekolah dari rumah. SR di desa sudah ada meskipun se-adanya, sedang SMP hanya ada di Bukateja. Saya ingin mengatakan bahwa jarak antara Rembang-Bukateja adalah jarak yang cukup jauh, mungkin sekitar 30 km. Bayangkan di zaman itu belum ada jalan utama, anak yang ingin sekolah paling tidak harus tinggal nge-kos di Bukateja untuk sekolah, kan tidak mungkin juga 30 km jalan kaki menyusur sawah menyeberang sungai setiap hari. Ini berarti ada biaya tambahan yang diperlukan untuk transportasi dan tempat tinggal.

Bapak dan Pakde Bambang (kakaknya Bapak) termasuk ke dalam angkatan awal SMP Bukateja, dan termasuk orang paling pertama di desa Wanogara yang masuk ke jenjang pendidikan SMP. Betapa mewah pendidikan di zaman itu.

~~~
Sebelum bulan Ramadhan, Bapak ditelepon oleh beberapa orang temannya. Mengabarkan adanya reuni SMP angkatan 1969. Bapak langsung sumringah. Bayangkan, ada ajakan untuk bertemu kawan-kawan lama yang sudah 44 tahun tidak pernah bertemu. Jangankan wajah, nama pun sebagian besar sudah lupa.

Bapak kelahiran tahun 1953, tahun ini sudah 60 tahun.  Sudah dalam usia pensiun kalau PNS. Sudah S2 (sampun sepuh) dan S3 (sampun sepuh  sanget). Teman-temannya juga. Mayoritas, eh semuanya, sudah menjadi kakek dan nenek. Pembicaraan tentang anak sudah bukan jaman, mereka sudah adu jumlah cucu -___-

para peserta reunian angkatan 1969. Ya, mereka sudah menjadi tua :))
Uniknya, gurunya Bapak masih ada beberapa yang datang. Kalau mau dibikin analoginya jadi begini, kamu punya guru SMP yang sudah 5 tahun yang lalu pensiun, dan ternyata guru SMP nya guru kita masih hidup. Anehnya lagi entah kenapa wajahnya tidak jauh berbeda, malah ada gurunya yang wajahnya kelihatan lebih muda dari muridnya. Keren abis. Sayang foto para guru yang hadir lupa saya ambil.

Reuni diadakan di rumah Bapak Jumadi, eks lurah Majatengah yang sekarang sudah pensiun. Rumah Pak Djumadi disulap menjadi tempat hajat reunian, lengkap dengan meja bundar dan kursi. Makanannya lumayan banyak, ada tempe mendoan, singkong rebus, kacang rebus, ubi rebus, dan es dawet. 
hmmmmm :6
meja tamu reuni
Para 'siswa' ini sekarang pekerjaannya udah beragam banget, ada yang jadi bidan, ada yang jadi guru, ada juga yang jadi ustadz, pedagang, karyawan swasta, petani dan lain-lain. Beberapa teman seangkatan mereka juga sudah ada yang meninggal. Ya iyalah, sudah umur rata-rata 60 tahun ke atas -__-
ini dulunya para gadis idaman sekolah loh :D
Reuni setelah 44 tahun ini sangat menarik, langka, dan mungkin, tidak akan pernah terulang kembali reunian 44 tahun dalam suasana yang serupa di zaman-zaman yang akan datang.

Maksudnya?

Saya juga bingung bagaimana menjelaskannya -__-

Jadi begini. Reunian 44 tahun yang diadakan Bapak dan teman-teman angkatan 1969 di tahun 2013, tidak akan pernah memiliki arti yang sama dengan, misalkan, reuni SMA saya angkatan 2011 ketika tahun 2055. Bapak dan teman-temannya lahir pada generasi di mana komunikasi baru berkembang dengan pesat pada saat mereka sudah dalam usia mapan. Sudah dalam usia cukup tua kalau boleh dibilang. Beberapa bisa keep connected karena sempat bertemu di forum lain entah kondangan atau apa dan saling bertukar nomor telepon. Satu-satunya akses mereka untuk mengetahui kabar-kabar teman-teman lamanya hanya via telepon, itupun kalau ada.

Lain halnya dengan generasi sekarang. Kita sudah saling follow akun Twitter, sudah jadi friend di Facebook, ada grup alumninya pula. Kalau kita mau tahu paling tidak bagaimana wajah teman kita sekarang, iseng-iseng, bisa klik profilnya di Facebook dan lihat beberapa fotonya sekarang. Kalau mau tau sekilas bagaimana pemikirannya sekarang ataupun kesibukannya saat ini bisa dicek di timeline Twitternya. Bukan hal yang sulit untuk mengetahui kondisi teman-teman lama kita di zaman yang serba terhubung seperti sekarang.

Di sinilah letak kelemahan lahir di generasi digital. Reuni menjadi kehilangan sedikit esensinya. SEDIKIT saja loh ya. Karena sebenarnya tanpa bertemu pun kita bisa cari segala hal yang berhubungan dengannya. Via media sosial apapun. Saling komunikasi tanpa bertatap muka. Hal ini yang kemudian pada tahun 2055, misalkan saya mengadakan reuni dengan teman-teman SMA angkatan 2011, saya tidak terlalu terkejut dengan perubahan yang terjadi pada kebanyakan teman-teman saya. Paling tidak saya beberapa kali melihat foto mereka di News Feed Facebook saya meskipun hanya sebesar kuku jempol di layar laptop.

Karena itulah saya menganggap reuni angkatan 1969 di tahun 2013 adalah barang antik. Sepuluh tahun lagi ataupun dua puluh tahun lagi mungkin mayoritas generasi ini akan punah, tergantikan oleh katakanlah, generasi 1980-an yang jauh lebih fleksibel dan mungkin lebih connected dengan perubahan teknologi. Yang tentu saja, sense of reunion nya akan jauh berbeda dengan angkatan 1969.

Tapi tetap saja, yang namanya reuni tetap menjadi pertemuan yang sakral. Merasakan kebahagiaan dari rasa syukur kita karena diizinkan bertemu kembali dengan orang-orang yang kita sayangi. Bersyukur karena kita pernah bertemu, bermain, dan bersama saling mengisi cerita satu sama lain.

"...namun ku telah berjanji, suatu waktu, kita bertemu lagi" 
- 'Semalam di Cianjur'

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

Mosaik Mudik Lebaran 2013 Ep.1 : Bermula dari Desa

Baru kemarin saya kembali dari perjalanan mudik ke kampung halaman. Mudik tahun ini -2013- sungguh berwarna. Hari pertama saya sampai di rumah Lik di Sokaraja, tetiba saya muntah-muntah. Dari rentang azan maghrib sampai azan isya, total saya sudah BAB 5x (yang isinya air semua) dan muntah hebat sebanyak 3x. Positif muntaber. Kemungkinan besar karena makan siang, yang memang setelah kami ingat lagi agak kurang bersih penyajiannya.

Jadilah saya dibawa ke RSU Banyumas. Langsung ke UGD karena poli umumnya masih tutup. Diberi obat, besoknya alhamdulillah sudah sembuh. Baru kali ini kejadian seperti ini. Unik.

Mari kita selesai dengan basa-basi awalnya. Tujuan saya mudik lebaran kemarin, di samping untuk bertemu dan bersilaturahmi sanak saudara di kampung halaman, paling tidak ada 2 agenda utama yang menarik perhatian saya, dan juga menjadi alasan kenapa saya membuat serial post ini di tengah-tengah keruwetan kepanitiaan MPF dan awal kuliah semester 5, yakni hajatan nikah sepupu jauh dan reunian Bapak dengan teman-temannya di SMP 1 Bukateja tahun 1969. 

1969? Ya, kamu tidak salah membaca. Bapak memang lulus SMP pada tahun 1969, dan baru pada tahun ini -2013- Bapak reunian kembali. Cerita tentang reunian akan saya ceritakan di episode yang kedua :P 

Seharusnya berdasarkan dua hal unik yang saya sebutkan di atas, maka episode ini akan menceritakan tentang hajatan nikah sepupu jauh saya. Tapi kalau hanya tentang hajatan nikah, ya ini akan menjadi post yang pendek dan membosankan. Ada hal unik lainnya di balik budaya hajatan nikah di desa saya, dan untuk menceritakannya, saya harus terlebih dahulu menceritakan seluruh hal yang penting tentang desa saya, Desa Wanogara Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

~~~
Kampung saya ada di kecamatan yang sama dengan lahirnya Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang lahir di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang. Maka supaya akrab dan tidak panjang penulisannya, bolehlah Jenderal Soedirman saya panggil Mbah Dirman, mengingat sebenarnya desa kami bertetangga dan kekerabatan di dalam desa yang sungguh dekat. Hampir semuanya saudara. Jadi cucu jauhnya pahlawan nasional, saya merasa ganteng.
Panglima Besar Jenderal Soedirman, patung di pusat Purbalingga. Jauh lebih kece posenya dibanding patung Jenderal Sudirman di Jakarta :))
Dari jalan utama ke jalan desa saya terdapat sebuah monumen memorial, Monumen Jenderal Soedirman. Monumen ini didirikan untuk mengenang kontribusi dan jasa beliau terhadap kemerdekaan NKRI. Sepengetahuan saya, monumen ini dulunya adalah rumah tempat Mbah Dirman dilahirkan dan dibesarkan. Kini, Monumen Jenderal Soedirman merupakan salah satu objek wisata terkenal di Kabupaten Purbalingga. Oh iya, monumen ini dan desa saya berjarak sekitar kurang lebih 30 km dari pusat Kabupaten Purbalingga.
pintu gerbang Monumen Jenderal Soedirman, Rembang, Purbalingga.
Jalan dari pusat kota Purbalingga sampai ke kawasan ini sudah mulus, walaupun jalannya menurun dan mendaki. Menantang banget lah. Supir amatiran pasti gemetaran. Naik, turun, nikung tajam dengan kemiringan yang fantastis. Dulu waktu zamannya jalannya masih jelek, jalan ini termasuk jalan maut. Sayang tidak ada fotonya fufufu

Desa saya, Wanogara Wetan ada di sebelah kanan foto pintu gerbang di atas. Ada jalan mendaki lagi sekitar 2 km, dan sampailah di desa saya. Berikut adalah beberapa penampakan keadaan desa Wanogara Wetan saat kemarin saya ambil gambarnya.

kurang lebih begini lah suasana desa kemarin, sudah sangat jauh berubah dibanding ketika saya masih SD
pemandangan desa lainnya
Desa Wanogara ada dua, Wanogara Wetan dan Wanogara Kulon. Wanogara Kulon yaa lebih 'ngulon' lagi, lebih jauh masuk ke dalam di bagian 'belakang' Wanogara Wetan. Sekarang desa ini sudah jauh berubah. Dulu waktu saya masih SD jalanannya masih berbatu, mobil dan motor masih sedikit. Transportasi mengandalkan 'coak', sebutan untuk mobil Carry pick-up yang waktu itu hanya dimiliki segelintir orang. Sekarang motor sudah sangat banyak, mobil pribadi juga bukan barang langka. Kalau mau ditarik lebih jauh ke zaman Bapak masih kecil dulu, kemana-mana jalan kaki atau naik kuda. Bayangkan ke pusat kota kecamatan terdekat yang berjarak lebih dari 20 km jalan kaki dan tidak ada jalan utama, menyisir sungai dan menyeberang sawah. Kalau naik kuda saya membayangkan pasti lebih kece lagi, keren banget macam Angling Darma di Indosiar. Tanpa naga tentunya.

Mayoritas rumah di desa juga sudah di renovasi. Sudah banyak yang pakai keramik. Rumah asli di desa ini adalah seperti rumah Mbah dan keluarga besar saya yang sampai sekarang belum pernah di renovasi. Masih terdiri atas bilik-bilik bambu dan tanpa keramik.
tampak luar rumah Mbah, masih orisinal sampai sekarang :))


Beginilah kurang lebih beberapa intro yang ingin saya bagikan terkait dengan keadaan desa dan rumah Mbah tempat saya tinggal.

Terus di desa ngapain aja mar?

~~~

1. Hajatan
Seperti yang sudah saya bilang, salah satu agenda besar saya pulang mudik tahun ini adalah karena saudara jauh saya, Mbak Ayu, nikahan. Sesungguhnya saya tidak tahu betul garis keturunan antara saya dengan Mbak Ayu, kan sudah saya bilang hampir sebagian besar di desa ini jadi keluarga dengan jalur yang amat kompleks -__- Mbak Ayu kerjanya di Cikarang dan sering banget main ke rumah.

Di desa, kalau ada orang hajatan, semua tetangga satu desa akan mengirimkan bahan makanan ke keluarga yang gelar hajat. Barang-barang macam telur, minyak ataupun kebutuhan pokok lainnya. Pulangnya, para undangan juga menerima 'balik' barang-barang tersebut dalam kuantitas yang lebih sedikit. Ini biasanya dilakukan di hari sebelum resepsi digelar.

Tahun ini, desa banyak sekali menyelenggarakan hajatan. Total semasa libur lebaran saja ada 43 hajatan yang digelar. Ada yang nikahan, ada juga yang khitan. 43 hajatan. Wow. Ini yang menjadi alasan kenapa saya susah tidur di kampung, speaker dari segala penjuru menyahut-nyahut, entah setel lagu dangdut, keroncong ataupun campur sari hingga malam.

Mbak Ayu nikahan di hari Minggu, 11 Agustus 2013. Di hari yang sama, ternyata ada 16 akad nikah dalam satu kecamatan. Mirisnya, satu kecamatan hanya memiliki SATU penghulu. Iya, SATU. Mbak Ayu kebagian akad nomor 2, sekitar jam 10 pagi. Hajatan yang pertama (nomor 1) hanya berjarak 50 meter dari rumah Mbak Ayu. Sebelum ijab kabul dimulai, sang penghulu terlebih dahulu mengucapkan maaf karena sedang sakit. Pilek berat. Saya tidak membayangkan bapak penghulu yang sedang sakit ini masih harus keliling untuk mengesahkan akad 14 pasangan lainnya. Hajatan kedua saja sudah lemas pilek berat, bisa-bisa pingsan mendadak di akad ke-16 -__-

selamat berbahagia pengantin baru :) (ki-ka : Bapak, Mas Eko, Mbak Ayu, Ibu)
2. Keliling-keliling random
Menyambut 17-an, kemarin desa mengadakan lomba panjat pinang di lapangan belakang balai desa. Iseng-iseng saya mampir ke sana, nonton panjat pinang. Enggak jauh beda dengan panjat pinang di tempat lain, cuma yang ini hadiahnya sebagian besar baju sama celana. Kalau di kota biasanya jauh lebih mewah. Hadiah lainnya, pak rokok sama tenggok. Tenggok itu semacam bakul yang dipakai warga desa untuk belanja, buat bawa barang. 
arena lomba panjat pinang
Warga juga mengerumun di sekitar area lomba untuk berjualan. Barang jualannya macam-macam, ada bakso, somay, es mambo, dan tebu. Udah lama banget kayaknya terakhir kali liat jual tebu batangan kayak gini. Tebunya dikupas, dipotong kecil-kecil, dan dikunyah dengan nikmat. Pengen banget rasanya beli tapi sayang gigi lagi bermasalah huhu

ibu-ibu penjual tebu batangan. Klasik :)
Bapak juga mengajak ke kebun pepaya milik Pak Kowo, tetangga belakang rumah yang juga punya rumah di Cibubur. Pepayanya manis luar biasa. Kami lalu ditawari untuk makan buah pepaya langsung di bawah pohonnya. Nikmatnya benar-benar tiada dua. Enak banget ya rasanya kalau punya kebun buah sendiri :)
kebun pepaya Pak Kowo di belakang rumah, banyak banget bro buahnya
merah, manisnya kayak gula :))
oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah. Kurang banyak kayaknya :6
Keesokan paginya, saya ikut Ibu ke pasar untuk beli sarapan sama beberapa oleh-oleh untuk tetangga di rumah. Pasar di desa kurang lengkap, jadi kita mampir habis subuh ke desa Sumampir. Di sana pasarnya lebih besar, karena memang beneran 'pasar'. Kalau di desa pasarnya cuma orang gelar 'bakul'nya ramai-ramai di pinggir jalan.

Pasar Sumampir ini letaknya tidak terlalu jauh, 15 menit naik mobil dari rumah. Barang utama yang ingin kami beli adalah Leper. Leper adalah makanan tradisional khas daerah sini. Semacam opak, terbuat dari ketan yang dibakar. Rasanya gurih banget, dan Leper dari Semampir adalah Leper terbaik. Kriuk banget.
Pasar Gemah Ripah ternyata namanya, itu Ibu yang lagi di depan pake jilbab abu
ini bakul Leper nya, saya lupa ambil gambar close-up Leper -__- ya gitu deh kayak opak aja
suasana jual beli di pasar, kegiatan jual beli sudah normal meski baru H+4 lebaran
sudut pandang yang lain, di bagian pojok kanan bakul cemilan sarapan
Iseng sore, saya juga berangkat hingga ke kecamatan sebelah untuk ambil gambar. Subhanallah, alam disini masih begitu indah :))


hijaunya sawah di belakang rumah. Menentramkan :))
jalan menuju Karangmoncol yang masih belum selesai dibangun dan Gunung Slamet angkuh di kejauhan
Untuk foto yang terakhir, jalan tersebut benar-benar baru dibangun. Dulu tidak ada sama sekali. Warga jalan kaki menyusur sawah sejauh mata memandang dan menyebrang sungai di ujung jalan ini. Benar-benar pejalan kaki tangguh!

Next : Mosaik Mudik 2013 Ep.2 : Setelah 44 Tahun Berlalu

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Dua di Hari Pertama Lebaran 1434 H

Tahun lalu saya menuliskan hal yang hampir sama dengan isi post ini, judulnya Dua di Malam Takbiran 1433 H. Isi postingnya seputar dua hal yang secara random mengganjal saya dalam malam takbiran lebaran Idul Fitri tahun lalu. Tahun ini sama. Ada dua hal yang menarik perhatian saya mengenai beberapa fenomena yang selama ini umum terjadi dalam masa-masa lebaran Idul Fitri.

SATU
Harian Kompas 7 Agustus 2013 kemarin memuat opini salah seorang dosen sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga -saya lupa namanya- yang berjudul 'Mudico' Ergo Sum. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Ulil Abshar Abdala (salah satu gembong Jaringan Islam Liberal *cuih dan kader Partai Demokrat) via tweetnya.

Istilah ini mengacu pada ungkapan Rene Descartes : Cogito ergo sum, yang memiliki arti karena aku berpikir, maka aku ada. Maka pelesetannya : 'Mudico' ergo sum dapat memiliki arti karena aku mudik, maka aku ada. Ungkapan ini menyingkap seberapa pentingnya mudik bagi eksistensi seorang manusia, terutama mereka yang hidup merantau dari tempat tinggal mereka. Pertanyaannya sederhana, apa iya mudik sepenting itu?

Mudik memang menyentuh banyak hal. Harian Kompas beberapa hari yang lalu mengatakan bahwa para pemudik membawa total uang sejumlah Rp. 120 triliun ke kampung halaman masing-masing. Maka mudik dalam dimensi ekonomi membawa angin segar dalam pemerataan arus uang nasional yang selama ini banyak terjebak di Ibukota. Dari dimensi spiritual -yaa memang ini agak tidak terlihat- mudik menyegarkan kembali kearifan kampung halaman kepada mereka yang merantau ke kota besar.

Saya biasanya bersama keluarga mudik pada hari kedua lebaran. Buat saya pribadi, jauh lebih nyaman untuk lebaran bersama dengan para tetangga dan keluarga di Jakarta. Jauh lebih hangat. Oleh karena itu kami hampir tidak pernah mengalami kondisi puncak arus mudik yang macet total. Daripada terlalu bercapek-capek di jalan, mending tidak usah jalan sekalian, atau tunggu arusnya mulai sepi.

Orang tua saya (terutama Ibu) seringkali marah-marah sendiri kalau nonton liputan mudik di TV yang menayangkan satu keluarga mudik naik sepeda motor. Kok orang tuanya sampai hati sih, setega itu membawa anaknya yang masih kecil-kecil, naik motor sampai jarak lebih dari 200 km. Atau waktu itu ada yang mudik naik bajaj. Ya memang lebih aman sih naik bajaj tapi kan nyiksa juga getarannya -__- Apalagi kalau udah masuk ke berita korban meninggal akibat mudik sepeda motor. Miris rasanya. Apalagi (lagi) kalau korbannya anak kecil. Dobel miris.

kasian banget anak yang di tengah ya, poor you boy
Kemarin saya lihat berita dari detikNews, hingga H-2 lebaran, sudah ada 232 pemudik yang tewas karena kecelakaan (sumber)  dan sudah terjadi 1.124 kecelakaan selama arus mudik berlangsung. Selain korban meninggal, ada 352 korban luka berat.


motto : mudik harus anti mainstream bro! *teretektektek #bunyi bajaj
Saya memang tidak memiliki data-data tersebut di periode mudik Idul Fitri yang lalu-lalu, tapi saya rasa datanya tidak jauh berbeda. Selalu ada lebih dari ratusan orang yang meninggal pada masa mudik lebaran. Semahal itukah harga mudik, sampai-sampai para perantau dari daerah ini rela menanggung besarnya resiko kehilangan nyawa? Sampai-sampai mereka rela berdesak-desakan dan antre di mana-mana?

Entahlah, saya juga tidak paham.

Tapi mari kita berharap bahwa tradisi mudik lebaran ini membawa manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mudharatnya, dan semoga pemerintah memperbaiki semua hal sarana dan prasarana agar korban akibat mudik dapat diminimalisir. :)


DUA
Bagian ini sungguh bukan bagian yang serius. Tapi juga bukan bagian yang main-main. Bagian ini akan membahas tentang sesuatu yang menyenangkan, hanya apabila kita masih dalam usia anak-anak ataupun usia sekolah. Angpau lebaran.

Barusan saya baru saja pulang dari rumah nenek di Cipinang, kumpul keluarga besar dari Ibu. Biasanya saya berada di sana dari pagi setelah sholat Id dan keliling RT untuk salam-salaman hingga sore hari habis ashar. Ada ritual (menyenangkan) yang sudah lama hilang ketika saya pulang ke rumah dari Cipinang dalam beberapa tahun terakhir : mengkalkulasi jumlah angpau lebaran.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita kupas dahulu mengenai 'angpau lebaran' ini, dan sebelum kita mengupas, mari kita hapuskan asumsi bahwa angpau lebaran adalah sesuatu yang normal dan biasa-biasa saja. Supaya makin seru.

biasanya dibungkus dengan bungkus unyu seperti ini
Sesungguhnya saya juga tidak paham kenapa mesti ada 'angpau lebaran'. Kenapa kita dikasih uang? Apa alasannya? Waktu kecil dulu katanya sebagai upah puasa, tapi sepertinya alasan itu hanya berlaku untuk anak pre-school atau awal SD yang belum paham untuk apa harus puasa. Ya masa puasa diupah sih.

Keponakan saya, Azka, yang sekarang sudah SD kelas 2, beberapa tahun yang lalu menerima amplop dari mbahnya. Setelah amplopnya dibuka, dia malah heran dan nanya dengan suara nyaring sama bundanya, "Kok isinya uang bun?" Kami semua tertawa. Saya juga. Tapi kemudian saya berpikir, pertanyaan Azka ada benarnya juga. Kenapa dia dikasih amplop yang ada uangnya? Dia sudah berbuat apa? Kenapa anak kecil yang belum sekolah sama sekali malah dikasih uang yang nominalnya cukup besar? Toh dia tidak bisa me-manage uangnya sendiri kan.

Kemudian, rentetan pertanyaan ini akan berujung pada pertanyaan yang mengesankan rasa protes karena saya sudah bukan anak-anak dan masa sekolah lagi : kenapa semakin tua usia semakin kecil kemungkinan mendapat 'angpau lebaran'?

Yaa kan sudah saya bilang di awal, bagian ini bukan bagian yang serius :P

~~~

Di akhir, saya sekalian mau pamitan. InsyaAllah besok pagi berangkat pulang kampung ke Purbalingga. Mohon doa semoga perjalanan lancar, semuanya sehat berangkat dan sampai ke rumah lagi, penuh manfaat dan minim mudharat :)

Selamat merasakan aura lebaran di Indonesia!

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Selamat Idul Fitri 1434 H :)


Taqobalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H :)
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih paripurna setelah melalui bulan yang penuh berkah ini, dan menjalani hidup di 11 bulan berikutnya dengan kualitas yang lebih baik.

Semoga Allah memperkenankan setiap dari kita untuk menikmati limpahan kebaikan-Nya (lagi) di Ramadhan tahun depan. Semoga Allah memperkenankan kita untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Semoga.

Saya hanya berharap, tahun-tahun berikutnya saya masih bisa merasakan hangatnya Idul Fitri bersama keluarga, tetangga dan teman-teman yang lain. Semuanya. Lengkap. 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)