Pelajaran Penuh Makna dari Timnas Tahiti

"Mimpi terliar kami dalam mengikuti ajang ini bukanlah menjadi juara, mimpi terliar kami saat ini adalah mencetak gol ke gawang Nigeria."
Eddy Etaeta - Pelatih Timnas Tahiti
Timnas Tahiti
Ada yang unik dalam babak penyisihan gelaran Piala Konfederasi 2013 di Brazil pekan lalu. Di antara para raksasa yang menghuni grup B, yakni Spanyol, Uruguay, dan Nigeria, terselip negara Tahiti. Negara dari kepulauan Pasifik ini datang ke Brazil dan menjadi salah satu peserta Piala Konfederasi 2013 setelah berhasil menjadi kampiun dalam kejuaraan regional Piala Oseania. Cukup mengejutkan karena Tahiti berhasil mengalahkan Selandia Baru -yang langganan menjadi juara- di partai pamungkas dan berhak atas Piala Oseania pertama mereka dan menjadi wakil Oseania di Brazil.

Tahiti adalah sebuah negara kecil yang berada di kepulauan Polinesia. Wikipedia berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 2007 mencatat hanya ada 178.133 jiwa yang menjadi penduduknya. Karena wilayahnya yang eksotis, Tahiti menyandarkan kegiatan perekonomiannya dari sektor wisata. Tahiti pada saat tulisan ini diturunkan menurut situs resmi FIFA menduduki peringkat 138.

Menarik untuk disimak adalah bagaimana komposisi pemain dari timnas Tahiti di penyisihan Piala Konfederasi kemarin. Timnas Tahiti, yang dilatih oleh Eddy Etaeta, mayoritas terdiri atas pemain-pemain amatir yang memiliki pekerjaan yang beragam. Beberapa berita yang turun dari Brazil menyatakan bahwa hanya ada satu orang pemain sepakbola profesional yang bermain untuk Tahiti di Piala Konfederasi. Sisanya?

"Kami memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda, tapi sembilan pemain timnas adalah pengangguran. Beberapa dari mereka ada yang kurir, sopir truk, dan ada juga yang guru olahraga, atau sebagai akuntan," ujar Eddy sang pelatih Timnas Tahiti yang berjuluk Fenua itu.

"Kami juga memiliki pemain (Teheivarii Ludivion) yang bangun pukul 04.30 pagi untuk pergi ke gunung," ujar Etaeta menjelaskan."Dia adalah pendaki gunung. Tapi dia akan memanjat apa saja. Dia memanjat pohon kelapa, memanjat apa pun. Lalu dia datang ikut berlatih. Itulah kesehariannya. Dia memanjat pohon kelapa dan mendaki gunung," ungkap Eddy Etaeta. Sumber lain juga mengatakan bahwa pemain lainnya adalah buruh bangunan, tour guide dan karyawan bank.

Kiprah Tahiti di penyisihan Piala Konfederasi menjadi rekor terburuk selama turnamen ini diadakan. Kalah berturut-turut 6-1 dari Nigeria, 10-0 dari Spanyol, dan 8-0 dari Uruguay. Namun demikian, selisih 24-1 tidak membuat Tahiti rendah diri. Tahiti pantas untuk pulang dengan kepala tegak karena dengan segala daya dan upaya yang dimilikinya, walaupun dengan keterbatasan pemain profesional, berhasil membuktikan bahwa mereka mampu tampil di gelaran kelas dunia. 


terdiri atas ragam profesi dan pengangguran tidak membuat rendah diri dan mencari-cari alasan
Penampilan mereka mendapatkan aplaus dari publik Brazil. Semangat mereka mendapatkan apresiasi dari publik sepak bola dunia. Fernando Torres sendiri mengaku telah menjadi fans Tahiti, karena merasa bahwa Tahiti telah memainkan sepak bola yang sesungguhnya. Semata-mata karena mereka, yang walaupun berasal dari beragam profesi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan sepak bola ini, benar-benar mencintai sepak bola apa adanya.
"Terima kasih Brazil", disampaikan para pemain Tahiti karena mendapat sambutan yang hangat dari publik Brazil
Sebanyak apapun gawang mereka kebobolan, mereka terus bermain tanpa lelah. Tanpa pernah ada permintaan untuk mengundurkan diri dari permainan yang pernah dialami oleh Persibo Bojonegoro beberapa bulan lalu di gelaran AFC Cup. Mereka layak menjadi pelajaran bagi siapapun yang mencintai sepak bola. Mereka juga tidak pernah mencari kambing hitam atas berbagai kekalahan besar yang mereka terima. Mereka bermain tanpa lelah untuk membahagiakan publik di tanah airnya.

Tanda tanya besar untuk timnas Indonesia. Kemana Indonesia, negara dengan 241 juta penduduk, yang sekarang berdiri di peringkat 170-an FIFA dengan susunan pemain semuanya berlabelkan pemain profesional? Ada apa dengan kepengurusan sepak bola di negara ini?
Timnas Indonesia, ada apa?
~~~
Epilog

Eddy Etaeta dan Tahiti akhirnya berhasil menuntaskan impian terliarnya, menjebol gawang Nigeria dan merayakannya seolah telah menang di babak final. Etaeta dan seluruh publik Tahiti larut dalam euforia. Mereka menuntaskan impian terliarnya dan layak pulang dengan bangga.
euforia luar biasa via twitter Tahiti Football usai Tehau menyarangkan gol 
"Saya sangat terharu, hampir menangis. Kami menyaksikan Piala Dunia di TV. Hari ini kami adalah aktornya. Publik Tahiti menyaksikan ini. Presiden kami mengirimkan dukungan dan menunda rapat kabinet hanya untuk mendukung kami"
Eddy Etaeta - Pelatih Timnas Tahiti

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)