Makna Pulang dan Rumah

“Sebab seperti kau yang punya tempat untuk pulang di senjakalamu, begitu juga kelana yang ada dalam dirimu, yang senantiasa jauh dan sendiri. Rumahmu adalah tubuhmu yang lebih luas. Ia tumbuh di bawah matahari dan tidur di ketenangan malam, bukannya tanpa mimpi.” – Kahlil Gibran

Malam beberapa hari yang lalu, ketika saya mulai meninggalkan asrama untuk menuju ke rumah di Pondok Gede, mulut saya reflek mengucapkan doa keluar rumah. Sejenak saya bingung. Kan saya mau pulang ke rumah, kenapa saya malah mengucap doa keluar rumah? Yang mana ‘rumah’ saya yang sebenarnya? Asrama di Bogor tempat saya bernaung selama belajar, atau bangunan rumah tempat saya tinggal sejak kecil di Pondok Gede?

Berawal dari kebingungan ini, hati saya mulai bertanya lebih dalam. Apa sebenarnya makna ‘rumah’? Kemana sebenarnya kita menuju ketika ada kata kerja ‘pulang’?


~~~
Kajian ini harusnya menjadi kajian yang sederhana saja. Pertama karena semata-mata rentetan pertanyaan ini hanya datang tiba-tiba di senjakala, yang kedua karena latar belakang pendidikan saya yang sepertinya tidak layak untuk bermain semiotika. Yaa namanya juga orang iseng, maka kajian ini tak lebih dari pengelanaan perasaan saja.

Buat saya pribadi, pulang dan rumah adalah dua kata yang selama ini dalam percakapan dan penggunaannya dalam kalimat sehari-hari telah mengalami pendangkalan makna. Seringkali makna pulang, yaa pulang saja. Tidak salah memang. Tapi saya percaya makna pulang pada hakikatnya jauh lebih transenden. Menyangkut masalah 'kembali' ke tempat kita mengawali semuanya.

Berangkat dari kosan ke kampus untuk kuliah, seselesainya kegiatan di kampus kemudian kita pulang (ke kosan lagi). Kembali ke tempat kita berawal. Berangkat merantau dari kampung halaman untuk mencari nafkah di ibukota, lalu saat lebaran pulang ke kampung halaman. Untuk contoh yang kedua, maknanya jauh lebih dalam karena tujuan kita pulang bukan hanya sepetak rumah ataupun tempat tinggal. Lebih dalam lagi karena menyangkut tempat kita dilahirkan atau dibesarkan. Kalau mau lebih dalam lagi pemaknaan pulangnya yaa tentu saja ketika nanti kita akan pulang, sama-sama ke Dia Yang Maha Memiliki Segalanya.

Ternyata dalam beberapa contoh kalimat, kata 'pulang' selalu memiliki arti yang sama meskipun dalam selimut aura yang berbeda-beda. Ada yang beraura sederhana (bahkan cenderung dangkal), beraura rindu, atau bahkan beraura spriritual.


~~~
Rumah adalah kata selanjutnya yang sebenarnya sangat dekat dengan pulang. Seperti yang saya katakan di atas, selama ini kata 'rumah' seringkali (sama halnya dengan 'pulang') mengalami pendangkalan makna. Rumah sering diartikan 'hanya' sebatas bangunan poligon dinding tetutup dengan atap, pintu, jendela dan seisinya.

Dalam Encarta Dictionaries, home memiliki beberapa artian, antara lain residence, birthplace, native habitat, place of origin of something, dan family group. Yang menarik, di akhir page tentang home, Encarta Dictionaries memberikan beberapa catatan yang tidak dimasukkan ke dalam contoh kalimat.

"Home is nonetheless useful to express the idea of dwelling places of various sorts, including apartments and condominiums, hogans and huts, and other dwellings that are not accurately described as houses; it can also add a connotation of warmth and security when appropriate."

Konotasi dari kehangatan dan kenyamanan.

Dari definisi yang diberikan oleh Encarta Dictionaries terlihat bahwa beberapa definisi tentang rumah erat pula kaitannya dengan keberadaan keluarga yang ada di dalamnya. Mungkin inilah yang menyebabkan rumah juga memiliki makna konotatif kenyamanan dan kehangatan. Keluarga selalu mempunyai cara yang khas dalam memanusiakan kita.

Lalu bagaimana dengan orang-orang tuna wisma? Mereka yang benar-benar tidak memiliki 'rumah' dalam bentuk fisik, apakah mereka benar memiliki 'rumah'?

Setiap orang selalu memiliki 'rumah', disadari ataupun tidak. 'Rumah' mereka adalah tempat dimana mereka bisa menaruh hatinya dengan nyaman, meskipun beralas aspal panas dan beratap bintang gemintang. Semua orang selalu punya tempat persinggahan tubuh dan hatinya. Seperti yang dikatakan Raditya Dika di salah satu baris kontemplatifnya :

"Bagi sebagian orang, rumah adalah kasur kecil yang ditaruh di atas lantai kamar berukuran empat kali empat meter. Bagi orang yang lain, rumah adalah bangunan minimalis besar di kawasan Kebayoran Baru. Bagi orang lain, rumah mereka adalah jalanan karena tidak punya rumah. Rumah adalah sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan."
Manusia Setengah Salmon - Raditya Dika


~~~
Di era modern, ada gejala aneh di mana orang-orang enggan untuk pulang ke 'rumah'nya masing-masing. Padahal mungkin rumahnya mewah luar biasa, ada di apartemen lantai 27 dengan nightview Kota Jakarta yang luar biasa. Tapi mereka memilih untuk tinggal di tempat lain, entah untuk alasan apa.

Maka sejatinya rumah yang benar-benar 'rumah' bukan tentang urusan fisik. Rumah yang sesungguhnya, adalah urusan hati.


"Home is where the heart is"
-Anonim, Judul OST Pohon Penghujan

Saat ini, buat saya, Asrama PPSDMS dan rumah asli saya di Pondok Gede adalah dua tempat untuk persinggahan hati saya. Kedua tempat itu saat ini adalah tempat kemana saya pulang dan tempat hati saya berada :)

Pertanyaan selanjutnya adalah, di mana rumahmu?
Sudahkah 'rumah'mu menjadi tempat singgah yang nyaman untuk hatimu?

POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)