Mahasiswa Biasa dengan Segudang Wacana (Nyata)

“Aduh, pengen deh ke luar negeri. Iri banget liat temen gue si Anu kemarin ke Australia buat ikut model konferensi PBB di sana. Gimana caranya ya?
“Coba deh liat, si Anu, dia kemarin baru pulang dari Jerman loh buat ikutan lomba karya ilmiah internasional. Paper nya diterbitkan di jurnal pula. Pengen banget deh kayak dia.
“Kalian udah pada tau belom, itu si Anu, temen TPB gue, denger-denger bulan depan mau exchange ke Eropa. Keren banget kan? Gue pengen banget kayak dia.

Meskipun ‘Anu’ yang saya tuliskan dalam kolom ini adalah tokoh fiktif, tapi saya yakin ada banyak sekali ‘Anu’ lain yang bermodel sama seperti yang saya gambarkan dalam monolog singkat di atas berkeliaran di sekitar kita. Tipikal pribadi yang akan membuat kita iri setengah mati melihat beragam prestasi yang dia ukir. Dan mayoritas dari kita akan melontarkan hal yang kurang lebih sama seperti kalimat yang saya bold dalam monolog di atas, seperti “Pengen banget deh kayak dia” atau modifikasi dengan nada yang agak curious sedikit, “Gimana caranya ya?”
~~~
Mari berkenalan dengan Muhammad Iman Usman, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang tahun kemarin berhasil menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2012. Anak muda berdarah Minang yang lahir tanggal 21 Desember 1991, melalui blog-nya Indonesian Future Leaders (IFL) telah memberikan manfaat pada 32 ribu orang, khususnya anak muda. Mengenai prestasinya melalui blog tersebut, Iman mendapatkan penghargaan Microsoft Bloggership Termuda 2011.

Ia mendirikan Indonesian Future Leaders pada tahun 2009, sebuah organisasi kepemudaan non profit yang bertujuan untuk memberdayakan anak muda untuk mampu membuat perubahan yang konstruktif dan menjadi solusi bagi berbagai permasalahan sosial. Di  Indonesian Future Leaders, ia memimpin beberapa program layanan masyarakat, pembangunan kapasitas kaum muda yang secara rutin digelar, seperti Children Behind Us, SEAChange, IFL Goes to School, Speak Up! dan pemberian berbagai pelatihan serta seminar.

Pada tahun 2008, Presiden RI pernah memberikan penghargaan sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2008 dan menjadi Mondialogo Junior Ambassador untuk dialog antarbudaya oleh Daimler dan UNESCO. Bersama 9 anak muda dari seluruh dunia, ia menerima Youth Achiever Recognition Award dan terpilih sebagai Penasehat Remaja United Nations Populations Fund Indonesia sebagai peserta paling muda di Youth Advisory Panel. Selain menjadi icon Majalah Gatra 2010 dan menjadi Duta Muda ASEAN, Iman juga penerima penghargaan sebagai Global Changemaker oleh British Council 2010. Semua ini dia raih bahkan sebelum umurnya mencapai 20 tahun!

Iman memulai segalanya semenjak umur 10 tahun. Dia sudah mulai tertarik dengan bidang sosial dan budaya dalam usia yang sangat muda. Iman, seperti mahasiswa seperti kita, memulai segalanya dari ide. Iman berhasil melakukan inkubasi terhadap ide-idenya, sehingga ide yang ada di kepalanya berkecambah, berkembang hingga siap dieksekusi. Pertanyaannya, sudah berapa banyak ide yang kita miliki? Berapa banyak ide yang sudah berhasil dieksekusi? Berapa banyak ide yang sampai sekarang (masih) menjadi wacana belaka?
~~~
Zaman sekarang, dunia menawarkan kemudahan bagi kita untuk mengukir prestasi di bidang manapun. Ya, bidang manapun, bahkan di bidang yang tidak pernah dikenal sepuluh tahun yang lalu. Sebut saja lomba blogging dan lomba menulis kreatif. Blog dan segala platform pendukungnya bahkan belum menjamur di Indonesia sampai awal dekade 2000-an. Sekarang blog menjadi salah satu media penyebaran ide paling mudah dan komunikatif di dunia setelah Twitter. Ngomong-ngomong soal Twitter, beberapa event organizer bahkan mengadakan lomba nge-twit! Entah kenapa saya yakin sekali lima tahun yang lalu kita sama sekali tidak membayangkan fenomena semacam ini.

Sebelumnya partisipasi mahasiswa dalam bidang bisnis tidak begitu besar. Sekarang lihatlah banyaknya mahasiswa yang membuat proposal PKM Kewirausahaan. Lihatlah jumlah gerai jualan di sekeliling kampus buah karya teman-teman kita sendiri. Bahkan beberapa dari mereka kerap kali muncul di majalah atau koran, sekadar untuk membagi cerita mereka. Bisnis kini menjadi salah satu ladang favorit bagi mahasiswa untuk mengukir prestasi mereka.

Luasnya ruang lingkup ini didasarkan pada kenyataan bahwa bakat seseorang tidak hanya dalam akademik. Semakin hari kita semakin sadar bahwa potensi seseorang memiliki porsi yang berbeda-beda, dan akan sangat disayangkan bila bakat dan potensi yang terpendam itu tidak dimaksimalkan sebaik-baiknya. Tidak semua mahasiswa senang membuat karya tulis ilmiah dan tidak semua mahasiswa gemar berbisnis. Kita semua adalah pribadi yang unik, ada yang senang memasak, ada yang suka bikin film pendek dan sebagainya. Kesadaran ini membuat makin banyaknya lomba-lomba kreatif dalam beberapa tahun terakhir. Siapa yang mengira, mungkin saja kamu-kamu yang gemar memasak bisa menjadi the next Rudi Choiruddin atau yang senang bikin film bisa jadi penerus Riri Riza selanjutnya.

Masalahnya adalah, apakah kita sudah tau bidang yang paling kita senangi? Apakah kita sudah sadar bahwa potensi besar itu ada dalam diri kita sendiri?
~~~
Menjadi seorang mahasiswa berprestasi adalah impian bagi sebagian besar mahasiswa. Tapi tidak semua orang benar-benar ‘ingin’ menjadi mahasiswa berprestasi. Alam akan menyeleksi dengan sendirinya orang-orang yang benar-benar ‘ingin’ berprestasi. Sebagai ilustrasi, dari 100 orang yang ingin ikut PKM, berapa banyak yang ‘benar-benar’ memiliki ide untuk PKM mereka sendiri. Dari yang ‘benar-benar’ memiliki ide, berapa banyak yang ‘benar-benar’ membuat proposal PKM. Dari yang ‘benar-benar’ membuat proposal PKM, berapa banyak yang selesai mengerjakan proposalnya. Dari yang selesai mengerjakan proposalnya, berapa banyak yang menyelesaikannya tepat waktu. Panjang ya? Nyatanya, seleksi alam atas orang-orang yang ‘ingin’ berprestasi jauh lebih kompleks dari yang saya ilustrasikan di atas.

Orang-orang seperti Iman dan figur mahasiswa berprestasi lainnya sebenarnya hanyalah seorang mahasiswa biasa, yang berhasil melompati dinding keterbatasan dalam dirinya, menyatakan sebuah ide besar dalam bidang yang mereka senangi dan dengan sepenuh hati melaksanakannya. Mereka tidak rela ide-ide yang mereka miliki terkungkung menjadi wacana belaka dalam kepala mereka.

Maka perbedaan antara mahasiswa biasa dengan mahasiswa berprestasi hanya terletak di niat dan usaha dalam mewujudkan wacana di dalam kepala mereka. Mahasiswa biasa (mungkin) menciptakan banyak sekali wacana dalam hidupnya, sementara mahasiswa berprestasi mengalirkan banyak energi positif untuk mewujudkan butir demi butir wacana yang mereka rancang. Kecil memang bedanya, tapi efeknya jelas jauh berbeda.

Bagaimana dengan kamu? Sudah siap mengeksplorasi diri? Sudah siap jadi mahasiswa berprestasi? :)

Delmar Zakaria Firdaus - Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB 48
Dimuat dalam Korfat Magz Edisi Mei 2013

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)