A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada Last Day : Pergi Untuk Kembali


Ini merupakan posting terakhir tentang laporan perjalanan saya ke Taiwan bulan lalu. Lama banget ya part terakhirnya -__- ada beberapa project di dunia nyata yang harus diselesaikan beberapa minggu terakhir, alhasil jadinya blog ini rada terbengkalai selama hampir satu bulan. Mohon maklum :) Hari terakhir ini akan menceritakan perjalanan saya selama fieldtrip di tanggal 29 April lengkap dengan kepulangan saya keesokan paginya yang keseluruhan harinya menguras banyak sekali energi.

Awalnya, ketika pemesanan tiket pesawat di Indonesia, saya berencana untuk pulang di tanggal 29 karena panitia di Taiwan mengumumkan saya tidak masuk ke dalam jadwal fieldtrip. Tiket fieldtripnya sudah telanjur penuh dan uang pembayaran fieldtrip saya akan dikembalikan di hari conference. Pertemuan saya dengan Mba Yustika di Sales Office Garuda Indonesia Botani Square merubah keputusan saya. Dia bilang sayang banget pergi jauh-jauh tiket mahal cuma buat beberapa hari doang. Ya sudah akhirnya saya extend sampai tanggal 30, meskipun yang lain mayoritas pulang di tanggal 1 Mei. Kalau saya tidak praktikum ribet di 1 Mei, saya pasti baliknya 1 Mei deh -_-

Setelah dikonfirmasi di kampus ternyata saya bisa masuk ke dalam daftar karena ada beberapa peserta yang mengundurkan diri dari fieldtrip. Sip, paling tidak pengunduran pulang saya jadi berarti.

Fieldtrip kali ini punya 2 destinasi utama, yakni pabrik JohnFord dan Sun Moon Lake, salah satu danau dan destinasi wisata terfavorit di Taiwan. Pertama di pabrik JohnFord buat saya pribadi sih ga ada yang spesial banget, rasanya terlalu sering juga main-main ke pabrik.
suasana pabrik JohnFord Company
Perjalanan yang saya nantikan adalah ke Sun Moon Lake. Berbeda dengan perjalanan dari kampus ke JohnFord yang cuma sekitar 30 menit, perjalanan ke Sun Moon Lake memakan waktu kurang lebih satu setengah jam dengan bis berkecepatan tinggi dan lalu lintas yang super lancar. Lumayan jauh. View menuju ke Sun Moon Lake juga bagus banget. Saya ingat di salah satu fragmen perjalanan bis yang kita tumpangi menembus terowongan di dalam bukit. Terowongannya panjang, mungkin sampai 5 km *ngasal mode eh tapi beneran panjang loh, sampai-sampai saya inget betul ada sekitar 5 pintu keluar di dalam sisi terowongan (nah loh bingung kan di dalam terowongan ada pintu keluar, saya juga bingung -_-) Mungkin itu emergency exit in case kalo misalnya ada longsor mungkin ya.

Mula-mula kita ke instalasi panoramik Sun Moon Lake. Bentuk bangunan ini agak aneh, agak mirip stadion. Mengarah persis ke Sun Moon Lake dan tersimpan banyak ruangan yang memuat galeri beberapa karya seni. Saya sesungguhnya kurang mengerti sih ini bangunan untuk apa. Rombongan mampir kemari juga sebenarnya untuk sholat. Tentang sholat ini juga ada kejadian aneh. Karena komunitas muslim di Taiwan sedikit jadi orang sana sama sekali tidak familiar dengan ritual sholat. Karena juga kita sholatnya rada sembarangan di tengah jalan (yaa kan ga ada musholla) jadinya kita sempat jadi pusat perhatian beberapa turis lokal. Mungkin mereka heran juga ini orang-orang pada ngapain senam di tengah jalan.
instalasi panoramik Sun Moon Lake
foto dulu sama kaus sponsor :3
lagi pada sholat dzuhur, sempet menarik perhatian para turis lokal
kurang lebih beginilah bangunannya, bentuknya rada aneh
Selesai sholat dan istirahat sebentar kita bergegas ke tepi danau. Panitia merencanakan untuk mengadakan perjalanan dengan boat ke 2 tempat di seberang danau, yang pertama ke kuil dan yang kedua ke pusat oleh-oleh. Dalam perjalanan menuju danau, saya menemukan beberapa bebuahan yang ukurannya rada berlebihan. Gede banget. Ada pisang warnanya coklat kemerahan, nanas yang manisnya luar biasa, jambu dan srikaya yang ukurannya jauh di atas normal.
baru pertama kali liat, dan agak ilfeel -__-
ukurannya bok! uuu kalah deh jambu eke di rumah
Naik di atas boat. Sesungguhnya ini adalah kali pertama saya naik transportasi air *cupu berat. Agak-agak pusing di awal, maklum.
indahnyaa :D
foto di depan musisi jalanan
bersama dengan panitia dan rombongan lainnya
Pemberhentian pertama adalah kuil yang berada di sisi lain Sun Moon Lake. Udah aja gitu ini cuma kuil doang. Dan kerjaan para rombongan di sekitar kuil ini hanya berfoto riang gembira. Sempat masuk ke dalam kuil, tapi no idea juga mau ngapain di tempat ibadah orang.
kuil di sisi danau yang lain
salaman dulu sama mbah kakung *salam
Bosan berfoto kami segera beranjak ke pemberhentian kedua, pusat oleh-oleh. Opsi oleh-oleh di sini sebenarnya ga banyak-banyak banget, tapi paling tidak ada beberapa alternatif yang bisa kami pilih untuk buah tangan beberapa kerabat di Indonesia. Harganya juga, yaaa relatif mahal T.T
salah satu kios oleh-oleh yang kami serbu
jumlah oleh-oleh yang saya beli

Setelah itu, kami pulang ke kampus, dan berpisah dengan para rombongan yang berbeda tempat tinggal, salah satunya adalah dengan rombongannya Mba Yustika, Mas Eko, Mas Anggi dan Mbak Fitri yang sering banget jadi partner in crime saya selama di Taiwan.
saya dan beberapa teman-teman lainnya

Sesampainya di hotel, saya dan Agung yang pulang keesokan paginya masih punya misi lain. Pesawat kami berangkat keesokan paginya jam 9 pagi, berarti kami sudah harus sampai di airport sekitar pukul 7 pagi. Menghitung perjalanan dari Taichung ke Taoyuan yang sekitar 2 jam berarti kami paling tidak sudah berangkat sejak jam 5 pagi. Setelah dirundingkan dengan beberapa teman yang memiliki tiket pulang yang sama, jam 5 pagi terlalu riskan karena rawan telat bangun. Akhirnya kami sepakat untuk mencari tiket UBus sekitar jam 2 atau jam 3, dengan maksud supaya tidak terlanjur tidur dulu. Dapat jam 03:01 *presisi banget tiketnya

Malam terakhir di Taiwan kami habiskan dengan mencari tambahan oleh-oleh di bookstore di dekat hotel, yang kemudian kami dapati beberapa item yang lebih menarik dan murah ketimbang di Sun Moon Lake. Saya, Afif dan Agung juga membeli beberapa camilan untuk teman dan kerabat di asrama dan kosan. Pasti ngamuk deh anak-anak asrama kalau tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Rada repot juga karena kita harus memastikan ada label halalnya atau paling tidak kita bisa memastikan produk tersebut tidak memiliki komposisi yang mengharamkan dari keterangan di belakangnya. Puas berbelanja jilid 2, kami kembali ke hotel, menghabiskan beberapa bekal Pop Mie dan Super Bubur yang kami bawa dari Indonesia.
semangat habiskan semuanya! :D
Kelar makan kami beberapa kali mengunjungi kamar teman-teman Indonesia lainnya yang pulang tanggal 1 untuk pamit pulang duluan. Mayoritas dari mereka berencana untuk berjalan-jalan ke Taipei keesokan harinya. Banyak orang bilang Taiwan yang benar-benar ‘entertaining’ adanya di Taipei, karena hampir di setiap sudut kota ada objek wisata yang keren. Dan di tahun ini saya tidak kesampaian untuk jalan-jalan ke Taipei. Semoga beberapa tahun nanti bisa kembali ke sini menuntaskan ‘dendam’ ini.

Jam 3 sudah datang dan kami sudah berdiri di halte UBus. Tepat waktu sekali bis hijau kesayangan ini. Naik ke dalam bis dan kami semua larut dalam kantuk.
standby di halte UBus pagi-pagi buta
Sesampainya di airport sekitar jam setengah 6. Lama juga ya ternyata perjalanannya. Duduk-duduk sebentar di lobby karena baru bisa cek in sekitar jam setengah 8. Kami akhirnya solat subuh di sudut airport, di depan bagian airport yang sedang diperbaiki. Kejadian yang sama seperti di instalasi panoramik Sun Moon Lake kembali terulang, bahkan ketika kami wudhu di wastafel airport ibu-ibu yang bersih-bersih toilet memandang kami semua dengan tatapan yang aneh. Campuran antara takut, curiga, dan heran. Biarlah kami semua cuma ketawa sendiri.
suasana cek in di bandara Taoyuan, siap untuk pulang :)
Perjalanan pulang ternyata selalu lebih menyenangkan dan menenangkan dibandingkan dengan waktu berangkat. Saya jauh lebih rileks dan bisa menikmati penerbangan. Saya bahkan sampai beberapa kali menamatkan film yang ada di layanan hiburan pesawat. Menyenangkan sekali.

Epilog

Garuda Indonesia punya cara unik dalam membuat seluruh penumpangnya rindu dengan kampung halaman. Setelah landing dan ketika taxi seisi pesawat diperdengarkan lagu Indonesia Pusaka dan Rasa Sayange dalam aransemen yang amboi,  keren banget. Etnik dan megah. Baik ketika landing di Taoyuan ataupun landing di Cengkareng. Seolah memanggil-manggil dengan nada syahdu bahwa kamu masih punya tanah air yang tidak boleh kamu lupakan.

Setelah perjalanan ke Taiwan saya baru sadar bahwa sesungguhnya selama saya ada di sana saya rindu dengan Indonesia. Ini beneran. Terlebih ketika susah cari makanan, rasanya kepikiran pusat jajanan atau warung-warung yang bertebaran di Indonesia. Susah cari tempat sholat, yang kalau di Indonesia tidak mungkin dirasakan karena hampir di setiap pengkolan ada surau.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa sebenarnya negara ini hanyalah satu noktah dalam peta dunia dengan segala kejadian yang ada di dalamnya. Bahwa sebenarnya ada miliaran noktah lain yang ternyata memiliki kehidupan yang jauh berbeda. Kenyataan ini harusnya datang bersamaan dengan rasa syukur bahwa kehidupan di Indonesia memang tiada duanya, meski dirundung pelbagai masalah yang berkepanjangan.

Dan saya baru merasakan, bahwa perjalanan memang perlu dilakukan.
Semoga lain waktu bisa diberi kesempatan kembali oleh-Nya :)

DISCUSSION 1 Comment

One Response to : A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada Last Day : Pergi Untuk Kembali

  1. Prisca Yoko says:

    Assalamualaikum.. like this, bikin iri.

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)