(Selalu) Ada di Rongga

“Hati itu kan terdiri jaringan dan sel ya, kata Robert Hooke, sel itu rongga. Jadi hati itu punya rongga juga. Enggak masalah tempat baru lebih nyaman atau orang baru lebih baik, karena setiap peristiwa, atau keluarga, pasti punya tempat khusus di hati masing-masing. I’m happy here right now, but I always keep the warmness from the past”

Karena memang sejatinya kita hidup dengan berbagai kenangan dari masa lalu. Dan berkat kenangan akan kehangatan orang-orang yang pernah kita temui, kita bisa terus bertahan. Mereka, yang pernah (dan akan selalu) mengisi rongga hati kita, akan selalu hidup, bahkan ketika mereka tidak ada di sekitar kita.

Atau bahkan ketika kita berbeda dunia. Mungkin itu satu-satunya cara untuk mereka tetap 'hidup'. Di rongga kecil yang (selalu) kita pelihara.

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

Pelajaran Penuh Makna dari Timnas Tahiti

"Mimpi terliar kami dalam mengikuti ajang ini bukanlah menjadi juara, mimpi terliar kami saat ini adalah mencetak gol ke gawang Nigeria."
Eddy Etaeta - Pelatih Timnas Tahiti
Timnas Tahiti
Ada yang unik dalam babak penyisihan gelaran Piala Konfederasi 2013 di Brazil pekan lalu. Di antara para raksasa yang menghuni grup B, yakni Spanyol, Uruguay, dan Nigeria, terselip negara Tahiti. Negara dari kepulauan Pasifik ini datang ke Brazil dan menjadi salah satu peserta Piala Konfederasi 2013 setelah berhasil menjadi kampiun dalam kejuaraan regional Piala Oseania. Cukup mengejutkan karena Tahiti berhasil mengalahkan Selandia Baru -yang langganan menjadi juara- di partai pamungkas dan berhak atas Piala Oseania pertama mereka dan menjadi wakil Oseania di Brazil.

Tahiti adalah sebuah negara kecil yang berada di kepulauan Polinesia. Wikipedia berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 2007 mencatat hanya ada 178.133 jiwa yang menjadi penduduknya. Karena wilayahnya yang eksotis, Tahiti menyandarkan kegiatan perekonomiannya dari sektor wisata. Tahiti pada saat tulisan ini diturunkan menurut situs resmi FIFA menduduki peringkat 138.

Menarik untuk disimak adalah bagaimana komposisi pemain dari timnas Tahiti di penyisihan Piala Konfederasi kemarin. Timnas Tahiti, yang dilatih oleh Eddy Etaeta, mayoritas terdiri atas pemain-pemain amatir yang memiliki pekerjaan yang beragam. Beberapa berita yang turun dari Brazil menyatakan bahwa hanya ada satu orang pemain sepakbola profesional yang bermain untuk Tahiti di Piala Konfederasi. Sisanya?

"Kami memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda, tapi sembilan pemain timnas adalah pengangguran. Beberapa dari mereka ada yang kurir, sopir truk, dan ada juga yang guru olahraga, atau sebagai akuntan," ujar Eddy sang pelatih Timnas Tahiti yang berjuluk Fenua itu.

"Kami juga memiliki pemain (Teheivarii Ludivion) yang bangun pukul 04.30 pagi untuk pergi ke gunung," ujar Etaeta menjelaskan."Dia adalah pendaki gunung. Tapi dia akan memanjat apa saja. Dia memanjat pohon kelapa, memanjat apa pun. Lalu dia datang ikut berlatih. Itulah kesehariannya. Dia memanjat pohon kelapa dan mendaki gunung," ungkap Eddy Etaeta. Sumber lain juga mengatakan bahwa pemain lainnya adalah buruh bangunan, tour guide dan karyawan bank.

Kiprah Tahiti di penyisihan Piala Konfederasi menjadi rekor terburuk selama turnamen ini diadakan. Kalah berturut-turut 6-1 dari Nigeria, 10-0 dari Spanyol, dan 8-0 dari Uruguay. Namun demikian, selisih 24-1 tidak membuat Tahiti rendah diri. Tahiti pantas untuk pulang dengan kepala tegak karena dengan segala daya dan upaya yang dimilikinya, walaupun dengan keterbatasan pemain profesional, berhasil membuktikan bahwa mereka mampu tampil di gelaran kelas dunia. 


terdiri atas ragam profesi dan pengangguran tidak membuat rendah diri dan mencari-cari alasan
Penampilan mereka mendapatkan aplaus dari publik Brazil. Semangat mereka mendapatkan apresiasi dari publik sepak bola dunia. Fernando Torres sendiri mengaku telah menjadi fans Tahiti, karena merasa bahwa Tahiti telah memainkan sepak bola yang sesungguhnya. Semata-mata karena mereka, yang walaupun berasal dari beragam profesi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan sepak bola ini, benar-benar mencintai sepak bola apa adanya.
"Terima kasih Brazil", disampaikan para pemain Tahiti karena mendapat sambutan yang hangat dari publik Brazil
Sebanyak apapun gawang mereka kebobolan, mereka terus bermain tanpa lelah. Tanpa pernah ada permintaan untuk mengundurkan diri dari permainan yang pernah dialami oleh Persibo Bojonegoro beberapa bulan lalu di gelaran AFC Cup. Mereka layak menjadi pelajaran bagi siapapun yang mencintai sepak bola. Mereka juga tidak pernah mencari kambing hitam atas berbagai kekalahan besar yang mereka terima. Mereka bermain tanpa lelah untuk membahagiakan publik di tanah airnya.

Tanda tanya besar untuk timnas Indonesia. Kemana Indonesia, negara dengan 241 juta penduduk, yang sekarang berdiri di peringkat 170-an FIFA dengan susunan pemain semuanya berlabelkan pemain profesional? Ada apa dengan kepengurusan sepak bola di negara ini?
Timnas Indonesia, ada apa?
~~~
Epilog

Eddy Etaeta dan Tahiti akhirnya berhasil menuntaskan impian terliarnya, menjebol gawang Nigeria dan merayakannya seolah telah menang di babak final. Etaeta dan seluruh publik Tahiti larut dalam euforia. Mereka menuntaskan impian terliarnya dan layak pulang dengan bangga.
euforia luar biasa via twitter Tahiti Football usai Tehau menyarangkan gol 
"Saya sangat terharu, hampir menangis. Kami menyaksikan Piala Dunia di TV. Hari ini kami adalah aktornya. Publik Tahiti menyaksikan ini. Presiden kami mengirimkan dukungan dan menunda rapat kabinet hanya untuk mendukung kami"
Eddy Etaeta - Pelatih Timnas Tahiti

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Makna Pulang dan Rumah

“Sebab seperti kau yang punya tempat untuk pulang di senjakalamu, begitu juga kelana yang ada dalam dirimu, yang senantiasa jauh dan sendiri. Rumahmu adalah tubuhmu yang lebih luas. Ia tumbuh di bawah matahari dan tidur di ketenangan malam, bukannya tanpa mimpi.” – Kahlil Gibran

Malam beberapa hari yang lalu, ketika saya mulai meninggalkan asrama untuk menuju ke rumah di Pondok Gede, mulut saya reflek mengucapkan doa keluar rumah. Sejenak saya bingung. Kan saya mau pulang ke rumah, kenapa saya malah mengucap doa keluar rumah? Yang mana ‘rumah’ saya yang sebenarnya? Asrama di Bogor tempat saya bernaung selama belajar, atau bangunan rumah tempat saya tinggal sejak kecil di Pondok Gede?

Berawal dari kebingungan ini, hati saya mulai bertanya lebih dalam. Apa sebenarnya makna ‘rumah’? Kemana sebenarnya kita menuju ketika ada kata kerja ‘pulang’?


~~~
Kajian ini harusnya menjadi kajian yang sederhana saja. Pertama karena semata-mata rentetan pertanyaan ini hanya datang tiba-tiba di senjakala, yang kedua karena latar belakang pendidikan saya yang sepertinya tidak layak untuk bermain semiotika. Yaa namanya juga orang iseng, maka kajian ini tak lebih dari pengelanaan perasaan saja.

Buat saya pribadi, pulang dan rumah adalah dua kata yang selama ini dalam percakapan dan penggunaannya dalam kalimat sehari-hari telah mengalami pendangkalan makna. Seringkali makna pulang, yaa pulang saja. Tidak salah memang. Tapi saya percaya makna pulang pada hakikatnya jauh lebih transenden. Menyangkut masalah 'kembali' ke tempat kita mengawali semuanya.

Berangkat dari kosan ke kampus untuk kuliah, seselesainya kegiatan di kampus kemudian kita pulang (ke kosan lagi). Kembali ke tempat kita berawal. Berangkat merantau dari kampung halaman untuk mencari nafkah di ibukota, lalu saat lebaran pulang ke kampung halaman. Untuk contoh yang kedua, maknanya jauh lebih dalam karena tujuan kita pulang bukan hanya sepetak rumah ataupun tempat tinggal. Lebih dalam lagi karena menyangkut tempat kita dilahirkan atau dibesarkan. Kalau mau lebih dalam lagi pemaknaan pulangnya yaa tentu saja ketika nanti kita akan pulang, sama-sama ke Dia Yang Maha Memiliki Segalanya.

Ternyata dalam beberapa contoh kalimat, kata 'pulang' selalu memiliki arti yang sama meskipun dalam selimut aura yang berbeda-beda. Ada yang beraura sederhana (bahkan cenderung dangkal), beraura rindu, atau bahkan beraura spriritual.


~~~
Rumah adalah kata selanjutnya yang sebenarnya sangat dekat dengan pulang. Seperti yang saya katakan di atas, selama ini kata 'rumah' seringkali (sama halnya dengan 'pulang') mengalami pendangkalan makna. Rumah sering diartikan 'hanya' sebatas bangunan poligon dinding tetutup dengan atap, pintu, jendela dan seisinya.

Dalam Encarta Dictionaries, home memiliki beberapa artian, antara lain residence, birthplace, native habitat, place of origin of something, dan family group. Yang menarik, di akhir page tentang home, Encarta Dictionaries memberikan beberapa catatan yang tidak dimasukkan ke dalam contoh kalimat.

"Home is nonetheless useful to express the idea of dwelling places of various sorts, including apartments and condominiums, hogans and huts, and other dwellings that are not accurately described as houses; it can also add a connotation of warmth and security when appropriate."

Konotasi dari kehangatan dan kenyamanan.

Dari definisi yang diberikan oleh Encarta Dictionaries terlihat bahwa beberapa definisi tentang rumah erat pula kaitannya dengan keberadaan keluarga yang ada di dalamnya. Mungkin inilah yang menyebabkan rumah juga memiliki makna konotatif kenyamanan dan kehangatan. Keluarga selalu mempunyai cara yang khas dalam memanusiakan kita.

Lalu bagaimana dengan orang-orang tuna wisma? Mereka yang benar-benar tidak memiliki 'rumah' dalam bentuk fisik, apakah mereka benar memiliki 'rumah'?

Setiap orang selalu memiliki 'rumah', disadari ataupun tidak. 'Rumah' mereka adalah tempat dimana mereka bisa menaruh hatinya dengan nyaman, meskipun beralas aspal panas dan beratap bintang gemintang. Semua orang selalu punya tempat persinggahan tubuh dan hatinya. Seperti yang dikatakan Raditya Dika di salah satu baris kontemplatifnya :

"Bagi sebagian orang, rumah adalah kasur kecil yang ditaruh di atas lantai kamar berukuran empat kali empat meter. Bagi orang yang lain, rumah adalah bangunan minimalis besar di kawasan Kebayoran Baru. Bagi orang lain, rumah mereka adalah jalanan karena tidak punya rumah. Rumah adalah sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan."
Manusia Setengah Salmon - Raditya Dika


~~~
Di era modern, ada gejala aneh di mana orang-orang enggan untuk pulang ke 'rumah'nya masing-masing. Padahal mungkin rumahnya mewah luar biasa, ada di apartemen lantai 27 dengan nightview Kota Jakarta yang luar biasa. Tapi mereka memilih untuk tinggal di tempat lain, entah untuk alasan apa.

Maka sejatinya rumah yang benar-benar 'rumah' bukan tentang urusan fisik. Rumah yang sesungguhnya, adalah urusan hati.


"Home is where the heart is"
-Anonim, Judul OST Pohon Penghujan

Saat ini, buat saya, Asrama PPSDMS dan rumah asli saya di Pondok Gede adalah dua tempat untuk persinggahan hati saya. Kedua tempat itu saat ini adalah tempat kemana saya pulang dan tempat hati saya berada :)

Pertanyaan selanjutnya adalah, di mana rumahmu?
Sudahkah 'rumah'mu menjadi tempat singgah yang nyaman untuk hatimu?

POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

Mahasiswa Biasa dengan Segudang Wacana (Nyata)

“Aduh, pengen deh ke luar negeri. Iri banget liat temen gue si Anu kemarin ke Australia buat ikut model konferensi PBB di sana. Gimana caranya ya?
“Coba deh liat, si Anu, dia kemarin baru pulang dari Jerman loh buat ikutan lomba karya ilmiah internasional. Paper nya diterbitkan di jurnal pula. Pengen banget deh kayak dia.
“Kalian udah pada tau belom, itu si Anu, temen TPB gue, denger-denger bulan depan mau exchange ke Eropa. Keren banget kan? Gue pengen banget kayak dia.

Meskipun ‘Anu’ yang saya tuliskan dalam kolom ini adalah tokoh fiktif, tapi saya yakin ada banyak sekali ‘Anu’ lain yang bermodel sama seperti yang saya gambarkan dalam monolog singkat di atas berkeliaran di sekitar kita. Tipikal pribadi yang akan membuat kita iri setengah mati melihat beragam prestasi yang dia ukir. Dan mayoritas dari kita akan melontarkan hal yang kurang lebih sama seperti kalimat yang saya bold dalam monolog di atas, seperti “Pengen banget deh kayak dia” atau modifikasi dengan nada yang agak curious sedikit, “Gimana caranya ya?”
~~~
Mari berkenalan dengan Muhammad Iman Usman, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang tahun kemarin berhasil menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2012. Anak muda berdarah Minang yang lahir tanggal 21 Desember 1991, melalui blog-nya Indonesian Future Leaders (IFL) telah memberikan manfaat pada 32 ribu orang, khususnya anak muda. Mengenai prestasinya melalui blog tersebut, Iman mendapatkan penghargaan Microsoft Bloggership Termuda 2011.

Ia mendirikan Indonesian Future Leaders pada tahun 2009, sebuah organisasi kepemudaan non profit yang bertujuan untuk memberdayakan anak muda untuk mampu membuat perubahan yang konstruktif dan menjadi solusi bagi berbagai permasalahan sosial. Di  Indonesian Future Leaders, ia memimpin beberapa program layanan masyarakat, pembangunan kapasitas kaum muda yang secara rutin digelar, seperti Children Behind Us, SEAChange, IFL Goes to School, Speak Up! dan pemberian berbagai pelatihan serta seminar.

Pada tahun 2008, Presiden RI pernah memberikan penghargaan sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2008 dan menjadi Mondialogo Junior Ambassador untuk dialog antarbudaya oleh Daimler dan UNESCO. Bersama 9 anak muda dari seluruh dunia, ia menerima Youth Achiever Recognition Award dan terpilih sebagai Penasehat Remaja United Nations Populations Fund Indonesia sebagai peserta paling muda di Youth Advisory Panel. Selain menjadi icon Majalah Gatra 2010 dan menjadi Duta Muda ASEAN, Iman juga penerima penghargaan sebagai Global Changemaker oleh British Council 2010. Semua ini dia raih bahkan sebelum umurnya mencapai 20 tahun!

Iman memulai segalanya semenjak umur 10 tahun. Dia sudah mulai tertarik dengan bidang sosial dan budaya dalam usia yang sangat muda. Iman, seperti mahasiswa seperti kita, memulai segalanya dari ide. Iman berhasil melakukan inkubasi terhadap ide-idenya, sehingga ide yang ada di kepalanya berkecambah, berkembang hingga siap dieksekusi. Pertanyaannya, sudah berapa banyak ide yang kita miliki? Berapa banyak ide yang sudah berhasil dieksekusi? Berapa banyak ide yang sampai sekarang (masih) menjadi wacana belaka?
~~~
Zaman sekarang, dunia menawarkan kemudahan bagi kita untuk mengukir prestasi di bidang manapun. Ya, bidang manapun, bahkan di bidang yang tidak pernah dikenal sepuluh tahun yang lalu. Sebut saja lomba blogging dan lomba menulis kreatif. Blog dan segala platform pendukungnya bahkan belum menjamur di Indonesia sampai awal dekade 2000-an. Sekarang blog menjadi salah satu media penyebaran ide paling mudah dan komunikatif di dunia setelah Twitter. Ngomong-ngomong soal Twitter, beberapa event organizer bahkan mengadakan lomba nge-twit! Entah kenapa saya yakin sekali lima tahun yang lalu kita sama sekali tidak membayangkan fenomena semacam ini.

Sebelumnya partisipasi mahasiswa dalam bidang bisnis tidak begitu besar. Sekarang lihatlah banyaknya mahasiswa yang membuat proposal PKM Kewirausahaan. Lihatlah jumlah gerai jualan di sekeliling kampus buah karya teman-teman kita sendiri. Bahkan beberapa dari mereka kerap kali muncul di majalah atau koran, sekadar untuk membagi cerita mereka. Bisnis kini menjadi salah satu ladang favorit bagi mahasiswa untuk mengukir prestasi mereka.

Luasnya ruang lingkup ini didasarkan pada kenyataan bahwa bakat seseorang tidak hanya dalam akademik. Semakin hari kita semakin sadar bahwa potensi seseorang memiliki porsi yang berbeda-beda, dan akan sangat disayangkan bila bakat dan potensi yang terpendam itu tidak dimaksimalkan sebaik-baiknya. Tidak semua mahasiswa senang membuat karya tulis ilmiah dan tidak semua mahasiswa gemar berbisnis. Kita semua adalah pribadi yang unik, ada yang senang memasak, ada yang suka bikin film pendek dan sebagainya. Kesadaran ini membuat makin banyaknya lomba-lomba kreatif dalam beberapa tahun terakhir. Siapa yang mengira, mungkin saja kamu-kamu yang gemar memasak bisa menjadi the next Rudi Choiruddin atau yang senang bikin film bisa jadi penerus Riri Riza selanjutnya.

Masalahnya adalah, apakah kita sudah tau bidang yang paling kita senangi? Apakah kita sudah sadar bahwa potensi besar itu ada dalam diri kita sendiri?
~~~
Menjadi seorang mahasiswa berprestasi adalah impian bagi sebagian besar mahasiswa. Tapi tidak semua orang benar-benar ‘ingin’ menjadi mahasiswa berprestasi. Alam akan menyeleksi dengan sendirinya orang-orang yang benar-benar ‘ingin’ berprestasi. Sebagai ilustrasi, dari 100 orang yang ingin ikut PKM, berapa banyak yang ‘benar-benar’ memiliki ide untuk PKM mereka sendiri. Dari yang ‘benar-benar’ memiliki ide, berapa banyak yang ‘benar-benar’ membuat proposal PKM. Dari yang ‘benar-benar’ membuat proposal PKM, berapa banyak yang selesai mengerjakan proposalnya. Dari yang selesai mengerjakan proposalnya, berapa banyak yang menyelesaikannya tepat waktu. Panjang ya? Nyatanya, seleksi alam atas orang-orang yang ‘ingin’ berprestasi jauh lebih kompleks dari yang saya ilustrasikan di atas.

Orang-orang seperti Iman dan figur mahasiswa berprestasi lainnya sebenarnya hanyalah seorang mahasiswa biasa, yang berhasil melompati dinding keterbatasan dalam dirinya, menyatakan sebuah ide besar dalam bidang yang mereka senangi dan dengan sepenuh hati melaksanakannya. Mereka tidak rela ide-ide yang mereka miliki terkungkung menjadi wacana belaka dalam kepala mereka.

Maka perbedaan antara mahasiswa biasa dengan mahasiswa berprestasi hanya terletak di niat dan usaha dalam mewujudkan wacana di dalam kepala mereka. Mahasiswa biasa (mungkin) menciptakan banyak sekali wacana dalam hidupnya, sementara mahasiswa berprestasi mengalirkan banyak energi positif untuk mewujudkan butir demi butir wacana yang mereka rancang. Kecil memang bedanya, tapi efeknya jelas jauh berbeda.

Bagaimana dengan kamu? Sudah siap mengeksplorasi diri? Sudah siap jadi mahasiswa berprestasi? :)

Delmar Zakaria Firdaus - Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB 48
Dimuat dalam Korfat Magz Edisi Mei 2013

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada Last Day : Pergi Untuk Kembali


Ini merupakan posting terakhir tentang laporan perjalanan saya ke Taiwan bulan lalu. Lama banget ya part terakhirnya -__- ada beberapa project di dunia nyata yang harus diselesaikan beberapa minggu terakhir, alhasil jadinya blog ini rada terbengkalai selama hampir satu bulan. Mohon maklum :) Hari terakhir ini akan menceritakan perjalanan saya selama fieldtrip di tanggal 29 April lengkap dengan kepulangan saya keesokan paginya yang keseluruhan harinya menguras banyak sekali energi.

Awalnya, ketika pemesanan tiket pesawat di Indonesia, saya berencana untuk pulang di tanggal 29 karena panitia di Taiwan mengumumkan saya tidak masuk ke dalam jadwal fieldtrip. Tiket fieldtripnya sudah telanjur penuh dan uang pembayaran fieldtrip saya akan dikembalikan di hari conference. Pertemuan saya dengan Mba Yustika di Sales Office Garuda Indonesia Botani Square merubah keputusan saya. Dia bilang sayang banget pergi jauh-jauh tiket mahal cuma buat beberapa hari doang. Ya sudah akhirnya saya extend sampai tanggal 30, meskipun yang lain mayoritas pulang di tanggal 1 Mei. Kalau saya tidak praktikum ribet di 1 Mei, saya pasti baliknya 1 Mei deh -_-

Setelah dikonfirmasi di kampus ternyata saya bisa masuk ke dalam daftar karena ada beberapa peserta yang mengundurkan diri dari fieldtrip. Sip, paling tidak pengunduran pulang saya jadi berarti.

Fieldtrip kali ini punya 2 destinasi utama, yakni pabrik JohnFord dan Sun Moon Lake, salah satu danau dan destinasi wisata terfavorit di Taiwan. Pertama di pabrik JohnFord buat saya pribadi sih ga ada yang spesial banget, rasanya terlalu sering juga main-main ke pabrik.
suasana pabrik JohnFord Company
Perjalanan yang saya nantikan adalah ke Sun Moon Lake. Berbeda dengan perjalanan dari kampus ke JohnFord yang cuma sekitar 30 menit, perjalanan ke Sun Moon Lake memakan waktu kurang lebih satu setengah jam dengan bis berkecepatan tinggi dan lalu lintas yang super lancar. Lumayan jauh. View menuju ke Sun Moon Lake juga bagus banget. Saya ingat di salah satu fragmen perjalanan bis yang kita tumpangi menembus terowongan di dalam bukit. Terowongannya panjang, mungkin sampai 5 km *ngasal mode eh tapi beneran panjang loh, sampai-sampai saya inget betul ada sekitar 5 pintu keluar di dalam sisi terowongan (nah loh bingung kan di dalam terowongan ada pintu keluar, saya juga bingung -_-) Mungkin itu emergency exit in case kalo misalnya ada longsor mungkin ya.

Mula-mula kita ke instalasi panoramik Sun Moon Lake. Bentuk bangunan ini agak aneh, agak mirip stadion. Mengarah persis ke Sun Moon Lake dan tersimpan banyak ruangan yang memuat galeri beberapa karya seni. Saya sesungguhnya kurang mengerti sih ini bangunan untuk apa. Rombongan mampir kemari juga sebenarnya untuk sholat. Tentang sholat ini juga ada kejadian aneh. Karena komunitas muslim di Taiwan sedikit jadi orang sana sama sekali tidak familiar dengan ritual sholat. Karena juga kita sholatnya rada sembarangan di tengah jalan (yaa kan ga ada musholla) jadinya kita sempat jadi pusat perhatian beberapa turis lokal. Mungkin mereka heran juga ini orang-orang pada ngapain senam di tengah jalan.
instalasi panoramik Sun Moon Lake
foto dulu sama kaus sponsor :3
lagi pada sholat dzuhur, sempet menarik perhatian para turis lokal
kurang lebih beginilah bangunannya, bentuknya rada aneh
Selesai sholat dan istirahat sebentar kita bergegas ke tepi danau. Panitia merencanakan untuk mengadakan perjalanan dengan boat ke 2 tempat di seberang danau, yang pertama ke kuil dan yang kedua ke pusat oleh-oleh. Dalam perjalanan menuju danau, saya menemukan beberapa bebuahan yang ukurannya rada berlebihan. Gede banget. Ada pisang warnanya coklat kemerahan, nanas yang manisnya luar biasa, jambu dan srikaya yang ukurannya jauh di atas normal.
baru pertama kali liat, dan agak ilfeel -__-
ukurannya bok! uuu kalah deh jambu eke di rumah
Naik di atas boat. Sesungguhnya ini adalah kali pertama saya naik transportasi air *cupu berat. Agak-agak pusing di awal, maklum.
indahnyaa :D
foto di depan musisi jalanan
bersama dengan panitia dan rombongan lainnya
Pemberhentian pertama adalah kuil yang berada di sisi lain Sun Moon Lake. Udah aja gitu ini cuma kuil doang. Dan kerjaan para rombongan di sekitar kuil ini hanya berfoto riang gembira. Sempat masuk ke dalam kuil, tapi no idea juga mau ngapain di tempat ibadah orang.
kuil di sisi danau yang lain
salaman dulu sama mbah kakung *salam
Bosan berfoto kami segera beranjak ke pemberhentian kedua, pusat oleh-oleh. Opsi oleh-oleh di sini sebenarnya ga banyak-banyak banget, tapi paling tidak ada beberapa alternatif yang bisa kami pilih untuk buah tangan beberapa kerabat di Indonesia. Harganya juga, yaaa relatif mahal T.T
salah satu kios oleh-oleh yang kami serbu
jumlah oleh-oleh yang saya beli

Setelah itu, kami pulang ke kampus, dan berpisah dengan para rombongan yang berbeda tempat tinggal, salah satunya adalah dengan rombongannya Mba Yustika, Mas Eko, Mas Anggi dan Mbak Fitri yang sering banget jadi partner in crime saya selama di Taiwan.
saya dan beberapa teman-teman lainnya

Sesampainya di hotel, saya dan Agung yang pulang keesokan paginya masih punya misi lain. Pesawat kami berangkat keesokan paginya jam 9 pagi, berarti kami sudah harus sampai di airport sekitar pukul 7 pagi. Menghitung perjalanan dari Taichung ke Taoyuan yang sekitar 2 jam berarti kami paling tidak sudah berangkat sejak jam 5 pagi. Setelah dirundingkan dengan beberapa teman yang memiliki tiket pulang yang sama, jam 5 pagi terlalu riskan karena rawan telat bangun. Akhirnya kami sepakat untuk mencari tiket UBus sekitar jam 2 atau jam 3, dengan maksud supaya tidak terlanjur tidur dulu. Dapat jam 03:01 *presisi banget tiketnya

Malam terakhir di Taiwan kami habiskan dengan mencari tambahan oleh-oleh di bookstore di dekat hotel, yang kemudian kami dapati beberapa item yang lebih menarik dan murah ketimbang di Sun Moon Lake. Saya, Afif dan Agung juga membeli beberapa camilan untuk teman dan kerabat di asrama dan kosan. Pasti ngamuk deh anak-anak asrama kalau tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Rada repot juga karena kita harus memastikan ada label halalnya atau paling tidak kita bisa memastikan produk tersebut tidak memiliki komposisi yang mengharamkan dari keterangan di belakangnya. Puas berbelanja jilid 2, kami kembali ke hotel, menghabiskan beberapa bekal Pop Mie dan Super Bubur yang kami bawa dari Indonesia.
semangat habiskan semuanya! :D
Kelar makan kami beberapa kali mengunjungi kamar teman-teman Indonesia lainnya yang pulang tanggal 1 untuk pamit pulang duluan. Mayoritas dari mereka berencana untuk berjalan-jalan ke Taipei keesokan harinya. Banyak orang bilang Taiwan yang benar-benar ‘entertaining’ adanya di Taipei, karena hampir di setiap sudut kota ada objek wisata yang keren. Dan di tahun ini saya tidak kesampaian untuk jalan-jalan ke Taipei. Semoga beberapa tahun nanti bisa kembali ke sini menuntaskan ‘dendam’ ini.

Jam 3 sudah datang dan kami sudah berdiri di halte UBus. Tepat waktu sekali bis hijau kesayangan ini. Naik ke dalam bis dan kami semua larut dalam kantuk.
standby di halte UBus pagi-pagi buta
Sesampainya di airport sekitar jam setengah 6. Lama juga ya ternyata perjalanannya. Duduk-duduk sebentar di lobby karena baru bisa cek in sekitar jam setengah 8. Kami akhirnya solat subuh di sudut airport, di depan bagian airport yang sedang diperbaiki. Kejadian yang sama seperti di instalasi panoramik Sun Moon Lake kembali terulang, bahkan ketika kami wudhu di wastafel airport ibu-ibu yang bersih-bersih toilet memandang kami semua dengan tatapan yang aneh. Campuran antara takut, curiga, dan heran. Biarlah kami semua cuma ketawa sendiri.
suasana cek in di bandara Taoyuan, siap untuk pulang :)
Perjalanan pulang ternyata selalu lebih menyenangkan dan menenangkan dibandingkan dengan waktu berangkat. Saya jauh lebih rileks dan bisa menikmati penerbangan. Saya bahkan sampai beberapa kali menamatkan film yang ada di layanan hiburan pesawat. Menyenangkan sekali.

Epilog

Garuda Indonesia punya cara unik dalam membuat seluruh penumpangnya rindu dengan kampung halaman. Setelah landing dan ketika taxi seisi pesawat diperdengarkan lagu Indonesia Pusaka dan Rasa Sayange dalam aransemen yang amboi,  keren banget. Etnik dan megah. Baik ketika landing di Taoyuan ataupun landing di Cengkareng. Seolah memanggil-manggil dengan nada syahdu bahwa kamu masih punya tanah air yang tidak boleh kamu lupakan.

Setelah perjalanan ke Taiwan saya baru sadar bahwa sesungguhnya selama saya ada di sana saya rindu dengan Indonesia. Ini beneran. Terlebih ketika susah cari makanan, rasanya kepikiran pusat jajanan atau warung-warung yang bertebaran di Indonesia. Susah cari tempat sholat, yang kalau di Indonesia tidak mungkin dirasakan karena hampir di setiap pengkolan ada surau.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa sebenarnya negara ini hanyalah satu noktah dalam peta dunia dengan segala kejadian yang ada di dalamnya. Bahwa sebenarnya ada miliaran noktah lain yang ternyata memiliki kehidupan yang jauh berbeda. Kenyataan ini harusnya datang bersamaan dengan rasa syukur bahwa kehidupan di Indonesia memang tiada duanya, meski dirundung pelbagai masalah yang berkepanjangan.

Dan saya baru merasakan, bahwa perjalanan memang perlu dilakukan.
Semoga lain waktu bisa diberi kesempatan kembali oleh-Nya :)

DISCUSSION 1 Comment

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)