A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada 3rd Day : Presentasi dan Pasar Malam

Hari ketiga! Hari di mana seluruh paper participants akan mempresentasikan paper yang telah mereka buat. Buat saya pribadi, hari ini merupakan hari pertama saya presentasi secara ilmiah di hadapan publik. Apalagi dengan bahasa Inggris.

Meskipun saya presentasi dengan topik ilmiah, saya berkeyakinan harus mengemas presentasi ini dengan santai dan menyenangkan. Saya terinspirasi dari slide kawan jauh saya di Jogja sana, Nita Wakan, yang dipasang di dalam blognya. Buat saya pribadi, slide buatannya simpel dan benar-benar bukan seperti slide kuliah (noh wa, udah gue puji tuh :P) Alhasil, saya juga membuat slide presentasi dengan rona yang serupa.

Saya presentasi di cluster 5, Infrastructure and Renewable Energy. Jadi memang masing-masing partisipan hanya akan mempresentasikan hasil papernya di hadapan partisipan lain yang tergabung dalam kluster yang sama. Mengingat banyaknya jumlah peserta jika disatukan dalam hall yang sama. Cluster 5 ini entah kenapa semuanya adalah orang Indonesia.

Sebelumnya saya sudah pernah mengatakan bahwa AISCT ini awalnya memang konferensi untuk orang-orang Indonesia yang diadakan sama PPI Taiwan, baru di tahun ini saja huruf I pada AISCT berubah menjadi ‘International’. Hanya ada dua partisipan yang ternyata tidak ‘benar-benar’ asli Indonesia karena sudah menetap lama dan kuliah di Taiwan, mereka adalah Mas Nizar dan Ibu Nurhayati. Kami hanya bertemu beberapa saat, saling memperhatikan presentasi satu sama lain, tapi entah kenapa interaksi kami menjadi begitu hangat. Mungkin karena topik permasalahan yang kecil sehingga kami dapat saling menasihati dalam presentasi kawan yang lain. Padahal sebelumnya kami belum pernah kenal.

Hari ketiga ini juga saya maksimalkan untuk membagikan paket promosi dari PT. Multistrada yang menjadi sponsor keberangkatan saya ke Taiwan. Beberapa paket promosi itu saya berikan bersamaan dengan kartu nama yang baru saya cetak beberapa hari sebelum keberangkatan ke Taiwan. Paket promosi tersebut antara lain notes, brosur, dan stiker, yang hampir semuanya habis pada hari presentasi.
menyerahkan paket promosi Multistrada ke salah satu peserta di dalam kluster 5
kalau yang ini ke salah satu peserta dari Barbados *lupa namanya siapa -__-
kalau yang ini ke Mas Riki, Teknik Biomedik Unair 2009 :D
Kalau sempat melihat-lihat slide presentasi yang saya upload di atas, logo PT. Multistrada juga setia nangkring di setiap slide, bersama dengan logo klub Manchester United. Di akhir presentasi, saya bahkan harus mengklarifikasi bahwa tujuan saya memasang logo tersebut semata-mata bukan karena saya fans berat MU, melainkan karena saya disponsori sama perusahaan yang juga sponsor MU. Padahal saya fans Chelsea begini, apa daya Samsung tidak mungkin mendanai *random

Hari presentasi ini juga menjadi hari akhir konferensi di Asia University, karena keesokan harinya para partisipan akan menjalani fieldtrip ke Sun Moon Lake dan perusahaan JohnFord. Kebanggaan juga menyelimuti kontingen IPB karena salah satu delegasinya, Mujtahid Alfajri, yang juga anak TIN, menjadi salah satu pemenang best paper dalam klusternya. Keren lah!


foto bareng mas Nizar setelah papernya terpilih jadi best paper di kluster saya :D
all participants of AISCT 2013! :D
Selain itu saya dan Afif juga menemukan peserta PPSDMS yang lain yang nyangkut juga dalam konferensi kali ini, mereka adalah Darmadi Geologi ITB sama Bang Iqbal dari Bioproses UI. Darmadi seangkatan di angkatan 6, Bang Iqbal agak senior sedikit dari angkatan 5. Emang jagoan deh anak-anak PPSDMS kalau masalah beginian!
kuartet PPSDMS di AISCT 2013 :)
Sepulang dari Asia University, kami sepakat untuk menghabiskan malam dengan jalan-jalan ke pasar malam di kawasan Feng Chia. Pasarnya panjaaaaaaaang banget, lumayan juga jalan kaki di sepanjang pasar. Jadi pasar malam di Feng Chia ini kayak semacam pasar baru di Jakarta, cuma jalannya jauh lebih panjang. Awalnya niatan kami pergi ke pasar malam adalah untuk mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang, tapi ternyata pasar malam ini sama sekali tidak menyediakan barang-barang cenderamata.
suasana di pasar malam Feng Chia
bernarsis ria di tengah jalan huhuhu
penuh dengan tukang jajanan dan berbagai barang jualan lainnya 
Barang-barang modern macam sepatu Adidas, malah tersedia. Percuma kayaknya jauh-jauh ke Taiwan malah membeli sesuatu yang tidak khas Taiwan. Ingin jajan makanan, sekali lagi, terkendala masalah kehalalan dan aroma yang tidak ramah. Di pasar malam ini bahkan terdapat sebuah kedai yang baunya luar biasa sampai-sampai rombongan orang Indonesia semuanya menutup hidung dan menahan mual. Baunya seperti bau comberan, dan keluar dari restoran. Saya tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya mereka sajikan.

Pulang ke hotel dan persiapan untuk berangkat fieldtrip keesokan harinya. Plus, berhubung pesawat pulang saya berangkat tanggal 30 jam 10 pagi, saya sudah harus beberes. Besok sudah tanggal 29 dan kemungkinan besar kami sampai di hotel malam hari. Itu berarti kami harus sudah siap malam ini untuk packing pulang ke Indonesia.

Fieldtrip I’m coming! :D

DISCUSSION 1 Comment

A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada 2nd Day : Conference Day!

Hari kedua saya berada di Taiwan, dan merupakan hari pertama conference AISCT. Sesuai jadwal acara, kami sudah harus berada di kompleks kampus Asia University pukul 9 pagi. Keterangan dari Mbak Aini perjalanan dari pusat kota Taichung ke Asia University kira-kira memakan waktu 1 jam naik bis umum. Buat jaga-jaga takut nyasar akhirnya kami serombongan sepakat malamnya untuk berangkat dari hotel jam 7 pagi. Nyatanya, pas bangun tidur Taichung dalam kondisi hujan deras. Kondisi cuaca jauh lebih buruk dibandingkan hari pertama.

Bangun tidur, mandi, beberes sebentar dan langsung berangkat ke Asia University!
disambut hujan deras, dari dalam bis kota
Berangkat ke kampus naik bis nomor 100. Bisnya enak, rapi dan tertata. Jadwalnya juga teratur, di pemberhentian di depan Taichung Station tempat kami naik bis selalu ada pemberitahuan bis berapa akan datang dalam waktu berapa menit lagi. Sesungguhnya saya bingung apakah Taiwan yang sudah modern atau Indonesia yang terlalu tertinggal -__- karena sepertinya di berbagai negara transportasi kotanya sudah baik sekali. PR besar.

Naik bisnya juga nyaman. Mayoritas masyarakat Taiwan menggunakan kartu elektronik unutk bayar bis. Kartu elektronik ini dijual di 7Eleven atau supermarket lainnya, sistemnya sih kayak semacam eTollCard dan Flazz nya BCA. Uang elektronik yang bisa diisi ulang. Bedanya kalau di Taiwan penggunaannya sudah jauh lebih terpadu, bisa buat belanja di supermarket ataupun bayar bis. Biaya naik bisnya juga jauh lebih murah kalau pake kartu. Kalau kartunya ga punya, bayarnya pakai uang logam yang ditaruh di kotak di dekat supir.

Ada yang unik dari penggunaan kartu elektronik ini. Bis akan memberikan harga 0 NTD (gratis) jika naik bis kurang dari jarak tertentu dan pembayarannya dengan kartu. Dugaan beberapa orang, jarak tersebut berkisar antara 4 km. Jadi kalau naik bis dengan jarak kurang dari 4 km dan bayarnya pakai kartu, saldo kartu kita tidak berkurang. Sistem ini dimanfaatkan beberapa mahasiswa berotak kriminal cerdas dari Indonesia. Mereka naik bis menuju kampus dengan menyambung beberapa kali dari satu bis ke bis yang lain, dengan jarak kurang dari 4 km setiap kali naik bis, jadi mereka bisa irit ongkos. Faktanya, ada yang berhasil membayar hanya 2 NTD untuk perjalanan menuju kampus, bandingkan dengan harga normal memakai kartu yakni 12 NTD. Mungkin kalau sistem ini kalau diterapkan di Indonesia, perusahaan transportasinya pasti sudah bangkrut total.

Sesampainya di Asia University, kami harus mengakui disclaimer Mbak Aini yang mengatakan Asia University adalah salah satu kampus terindah di Taiwan. Memang indah ternyata :D
dekat halte bis terakhir Asia University
view ke arah dalam kampus dari halte
main building Asia University! :D
dari main building ke arah dalam kampus
Hari pertama ini sebenarnya adalah rangkaian pembukaan plus materi dari beberapa pemateri yang kece. Line up pembicaranya antara lain Chun-Yen Chang, Ph.D (National Chiao Tung Univ.) , Johnson Sher (Vice President ITRI), Ted Sakineh (Global Op-Executive Director OESF Global), Chang-Ming Yang, M.D (Founder Ming-Young Biochemical Corp.), sama terakhir Prof. Dr. Warsito P. Taruno (Executive Director of CTECH Labs Edwar Tech.) yang udah pernah mengisi materi di NLC PPSDMS tahun lalu.
penandatanganan MoU pas pembukaan conference
Pembicaranya ini semuanya orang-orang keren, tapi buat saya pribadi cuma ada beberapa yang notable banget, terutama karena tema yang diangkat sama kualitas bahasa Inggrisnya. Dua favorit saya adalah Chun-Yen Chang sama Johnson Sher. Pak Warsito keren sih, tapi sudah pernah dengar materinya pas NLC, jadi rasanya biasa saja.

Chun-Yen Chang mengangkat tema tentang “The Past and The Post of Information Age”. Pak Chang mengajak kita untuk kembali ke masa lalu era awal teknologi informasi dan melihat bagaimana kondisi dunia teknologi informasi saat ini. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah mengenai bagaimana dinasti WinTel (Windows dan Intel) mengalami tantangan berat pada beberapa tahun terakhir. Beberapa dekade terakhir duet Windows sebagai sistem operasi dan Intel sebagai prosesor sangat merajai pasar. Sekarang? Muncul Android, Apple dengan iOS nya, dan beragam sistem operasi dan alternatif prosesor lainnya. Dunia teknologi informasi kita sesungguhnya sedang mengalami transformasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Jangan lupakan juga tentang cloud computing dan mobile computer yang disadari atau tidak telah berhasil mengubah mindset bagaimana kita menggunakan perangkat teknologi yang kita punya.

Sedangkan Johnson Sher, ini badai. Mr. Johnson adalah orang Taiwan yang kuliah lama di Amerika, jadi bahasa Inggrisnya kece berat. Beliau memimpin lembaga Industrial Technology Research Institute, salah satu lembaga yang memiliki peran vital di pengembangan teknologi di Taiwan. Tema besar yang beliau angkat adalah tentang Commercialization. ITRI, lembaga yang beliau pimpin adalah lembaga yang berfungsi untuk menghubungkan antara kebutuhan industri dengan riset yang dilakukan di universitas lokal Taiwan, sehingga riset teknologi yang dilakukan sangat tepat guna. 

Buat saya pribadi, ITRI adalah salah satu dream work yang harusnya ada di Indonesia, mengingat kita tidak punya lembaga yang melakukan komersialisasi secara menyeluruh dengan menjual riset universitas kepada industri terkait. Terkadang masih miss antara kebutuhan industri dengan riset yang dilakukan di universitas. Indonesia sangat butuh lembaga seperti ITRI. Beliau juga menjelaskan alur sistem dalam ITRI yang memiliki ribuan ahli interdisiplin ilmu sehingga memungkinkan untuk melakukan riset mendalam baik secara teknik maupun secara manajemen penerapan teknologi untuk industri. Mantap.

Setelah materi selesai sekitar pukul 17:00, para peserta dipersilahkan untuk ke ruang makan untuk dinner. Hari ini istimewa karena para peserta dijamu oleh masakan khas India. Lebih spesial lagi karena bisa makan sepuasnya!
mantap bro! :6
Kenapa India? Karena memang komunitas India yang paling mungkin untuk menyajikan makanan yang kehalalannya dapat dijamin. Secara waktu posting hari pertama saya sudah pernah cerita tentang betapa banyak makanan Taiwan yang kehalalannya diragukan dan baunya tidak sesuai sama sensori orang Indonesia. 

Kelar dinner, kami bergegas ke hotel, menyelesaikan slide presentasi dan materi yang harus kami sajikan keesokan harinya. Memang tidak ada waktu untuk beristirahat kawan! Work!

DISCUSSION 0 Comments

A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada 1st Day : Taiwan Touchdown

Beberapa jam sebelum keberangkatan ke Taiwan, perasaan saya mulai ga tenang. Praktikum Peralatan Industri Pertanian sama Gambar Teknik dari siang sampai jam 3 sore rasanya aneh banget, badan sama pikiran ga sinkron. Badan masih di kampus, pikiran udah menjelajah kemana-mana. Idealnya sih beberapa jam sebelum keberangkatan sudah izin kuliah dan praktikum seperti teman-teman IPB yang lain, tapi apa daya urusan praktikum di departemen saya sungguh payah.

Jam 4 sudah mulai kumpul di depan BNI. Jam 6 mulai berangkat naik bis Damri ke bandara. Sampai di bandara sekitar jam setengah 9.
Pool Damri Botani Square, keren yah ternyata bis bandara Damri, ada wifi sama colokannya :D
baru sampai di bandara Soekarno-Hatta
Salah satu hal penting yang belum sempat saya lakukan menjelang keberangkatan ke Taiwan ini adalah menukar uang. Mata uang Taiwan itu NTD (New Taiwan Dollar) dan di Bogor kata abang-abang money changer di depan stasiun emang rada langka. Saya menukar uang di depan stasiun cuma 300 NTD (Rp. 105.000 kalau dirupiahkan). Di bandara sebenarnya ada tempat untuk menukar uang NTD, cuma males nyarinya. Akhirnya dituker dulu ke USD biar bisa dituker ke NTD lebih mudah di Taiwan. Emang rada tragis ya kalau punya mata uang negara yang lemah, uang segepok aja ditukar ke mata uang lain rasanya cuma jadi beberapa lembar. Lemah sekali rupiah kita tercinta ini.
segepok uang rupiah hanya ditukar dengan 4 lembar dollar. Tidak adil.
Berhubung ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat, saya jadi udik banget. Pertama kali takeoff rasanya merinding disko. Udah begitu bangku saya persis di pinggir jendela, jadi kelihatan dengan jelas bagaimana proses takeoff lengkap dengan gerakan sayap pesawatnya. Saya juga baru tahu bahwa naik pesawat itu bisingnya luar biasa, apalagi pas takeoff. Bikin hati jadi ga tenang. Sudah begitu cuaca pas awal berangkat agak buruk. Kilat menyambar-nyambar dari kejauhan. Cetar.

Di dalam pesawat mati gaya. Ngantuk berat sebenarnya tapi susah tidur, mungkin belum terbiasa sama bisingnya pesawat. Cuma sempat tidur ayam-ayam aja beberapa jam. Paginya sekitar jam 4 pagi, pramugari mulai bagi-bagi sarapan. Sarapannya enak, entah karena lapar atau memang enak. Kentang, ikan fillet, telur dadar, yoghurt, buah, roti. Sayang di tengah-tengah lagi makan tetiba ketiduran, dan yoghurt, buah dan roti terlanjur diambil sama pramugari lagi. Sial.
mantap lah sarapannya, sayang malah ketiduran, disita lah makanannya -__- 
Menjelang pagi hari, cuaca jauh lebih cerah. Tapi ternyata setelah masuk ke Taiwan cuacanya mendung berat, jauh lebih bikin galau dibanding mendungnya Bogor. Setelah sekitar 6 jam perjalanan, akhirnya mendarat juga di Taoyuan International Airport. First touch di negeri orang :)
cerah banget di luar
sudah masuk Taiwan, jadi kayak maket kalo dilihat dari atas
pas udah mau landing, desa banget ga sih kelihatannya?
suasana Taoyuan International Airport, Taiwan, titik touch down di Taiwan :)
rombongan IPB rehat sebentar di lounge bandara
Selesai dari sana, segera naik UBus ke Taichung. Jadi sebenarnya bandara internasional Taiwan itu bukan di Taipei, maksudnya bukan dekat pusat kotanya. Bandaranya ada di kawasan Taoyuan, lumayan jauh dari Taipei. Sepanjang jalan dari Taoyuan sampai Taichung itu hampir 90% kawasan persawahan. Rumahnya juga jarang-jarang, dan bentuknya agak familiar buat yang pernah nonton film animasi 5 Centimeters Per Second. Waktu si cowoknya pindah ke desa, banyak sawahnya terus bentuk rumahnya agak kotak-kotak. Rasanya juga sering liat deh di beberapa episode film kartun Jepang yang lain.
suasana perjalanan dari bandara Taoyuan ke Taichung
bener-bener kayak 5 cm per second lah suasananya
Dan juga perjalanan dari Taoyuan ke Taichung tanah di sekitar jalannya berkontur. Banyak kawasan perbukitan di kanan kiri. Agak diluar ekspektasi karena awalnya mengira bakalan jauh lebih well developed daripada kawasan sekitar bandara Soetta, eh ternyata lebih ramean Soetta kemana-mana. Papan selamat datang dari berbagai produk elektronik yang biasa dijumpai di Soetta sama sekali ga ada di perjalanan dari Taoyuan. Taichung sendiri rasanya beda jauh sama Jakarta yang riuh. Taichung suasananya agak lebih mirip Purbalingga, sepi-sepi gimana gitu.
pusat kota Taichung
sepi, jauh berbeda sama Jakarta, lebih mirip Purbalingga kalau masalah keramaiannya -__-
Perjalanan dari Taoyuan ke Taichung memakan waktu sekitar 2 jam. Sampai di pusat kota Taichung kita segera ke hotel tempat rombongan IPB reservasi, di Chance Hotel yang ternyata berada sangat dekat dari stasiun sama shelter bus kota. Chance Hotel itu hotel berlantai 10 yang lobinya bau banget sama dupa. Hotelnya juga ga elit-elit banget. Gambarannya, 4 hari stay kena sekitar Rp. 630.000 per orang. Hotel ini juga tidak menyediakan makan sama sekali. Sampai di hotel udah sekitar jam 12 siang. Sampai di kamar mulai berbenah, bersih-bersih dan sholat.
inilah kamar kami, sekamar berdua sama Agung, MSP IPB 48
Puas berleha-leha sebentar, akhirnya kita memutuskan buat jalan-jalan. Sekalian cari makanan dan cari colokan, soalnya colokan di Taiwan aneh, tipis banget jadinya ga ada satupun alat elektronik kita yang cocok. Di bawah, ternyata ada 2 orang mahasiswa Indonesia di Taiwan yang salah satunya adalah committee AISCT yang sedang mengurus hotel beberapa peserta lain. Mereka adalah Mbak Aini dan Mbak Tati. Ngobrol sebentar, akhirnya kita ikut mereka buat makan siang di warung Indonesia.
perjalanan menuju kawasan warung Indonesia di Taichung
Jadi ternyata hotel kami juga dekat dengan kawasan orang Indonesia di Taichung. Kawasan Indonesia itu isinya yaa orang-orang Indonesia yang merantau ke Taiwan. Biasanya juga sering jadi tempat kumpul para TKI di Taichung. Warung disana juga isinya menu-menu khas Indonesia, kayak pecel ayam, soto ayam, pecel lele dll. Anehnya, disini pecel lele jauh lebih mahal dibanding pecel ayam. Pecel lele harganya 120 NTD, pecel ayam harganya malah 100 NTD (1 NTD = Rp.350)  Mahal banget ya? Apa boleh buat, disini cari makanan yang halal agak susah. Lagipula masakan ibunya enak, ayam sama lelenya juga jauh lebih gede dibanding di Indonesia.
penampakan sekitar warung Indonesia
ga asing banget lah papan namanya :D
(ki-ka) : Afif, Agung, Mbak Aini, Mbak Tati, sibuk menyantap pecel :9
Di warung, Mbak Aini sama Mbak Tati cerita-cerita kehidupan mereka di Taiwan. Mbak Aini rumahnya di Pulomas, kuliah di Asia University tempat kami conference, S3 jurusan bisnis. Mbak Tati dari Kalimantan, kuliah S3 jurusan kesehatan masyarakat di kampus yang sama. Mereka cerita suka duka kuliah di negeri orang. Duit beasiswa yang sering telat (ah ini mah sama aja kayak di kampus) sampai urusan masak-memasak gara-gara susah cari makanan halal.

Ada salah satu cerita unik dari Mbak Aini tentang kawasan Indonesia. Taiwan, katanya, adalah salah satu negara teraman. Jarang banget ada copet ataupun kejahatan lainnya (padahal saya dari kemarin malah menyangka Taiwan itu super ga aman dan copet ada di mana-mana) Tapi kalau sial kemalingan di Taiwan, berarti tandanya lagi dekat sama kawasan Indonesia. Artinya, tidak ada copet di Taiwan melainkan orang Indonesia. Hina banget ga sih?

Selain itu, kawasan Indonesia juga terkenal sebagai ajang berkumpul dan dangdutan rame-rame bersama para TKI di Taiwan. Polisi di Taiwan juga terkenal rada sensi dengan kelakuan orang-orang berpaspor Indonesia, akibat ulah beberapa TKI yang pernah mabuk-mabukan dan melakukan tindakan tidak terpuji di pinggir jalan. Lengkap sudah kehinaan ini.

Pamitan sama Mbak Aini dan Mbak Tati, kita jalan-jalan ke salah satu supermarket yang ndilalahnya malah jualan produk Indonesia. Saya beli biskuit Hatari rasa jeruk sama strawberry (serius, ini di Indonesia ga ada loh padahal produk lokal -__-) Afif malah beli Malkist Abon. Ini mah kayak belanja di Bara. Setelah itu balik ke hotel buat boci sebentar.
suasana malam hari Taichung dari beranda kamar hotel, pojok kiri kiri itu stasiun besar Taichung, semacam stasiun Bogor gitu deh gedenya
Malamnya, kami diberi tugas dari Mbak Tati untuk menjemput salah satu anak UI yang ikut AISCT di depan stasiun. Menunggulah kami di depan stasiun jam 8 malam. Lapar, akhirnya beli onigiri ikan, pisang, sama susu di 7Eleven. Onigirinya enak banget, dan halal kok kan isinya ikan. Susunya juga unik, ada yang namanya susu apel, dan itu rasanya…… enak banget. Bisa lah buat ide PKM tahun depan.

Sampai jam 9, tidak ada kabar. Ya sudah, kami tinggal untuk sesi pemrotetan di sekitar jalan raya. Berjalan-jalanlah kami sebentar di kawasan trotoar kota Taichung. Di tengah jalan kami baru sadar bahwa masakan-masakan di taiwan itu BAU banget. BAU. Di trotoar saja kami beberapa kali mengernyitkan dahi dan menutup hidung akibat bau yang tidak familiar. Ada yang bau tengik, bau empang, ga enak lah pokoknya. Jadi sebenarnya bukan hanya karena kehalalannya diragukan, tapi karena memang secara sensori orang Indonesia, makanan Taiwan benar-benar jauh di bawah layak.
foto-foto di pertokoan sekitar hotel
Kami balik pulang ke hotel melanjutkan slide presentasi sambil nonton WWE The Rock lawan John Cena di TV kabel, sampai kantuk menyerang dengan brutal.
udah ngantuk berat, tapi harus selesai ngerjain presentasi buat hari Minggu, haphap!
To be continued....

DISCUSSION 2 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)