A Trip to AISC Taiwan 2013 with Multistrada : Prologue

BIOETHANOL FROM SUGARCANE WASTE (BAGASSE) USING BACTERIUM CLOSTRIDIUM THERMOCELLUM
Ari Permana Putra1), Delmar Zakaria Firdaus1), Ginanjar Ummi Pratiwi1)

Paper di atas adalah paper yang membuat saya bisa mendapat undangan untuk pergi ke Taiwan. Menjadikan saya sebagai satu-satunya orang dalam tim yang bisa berangkat karena dana keberangkatan yang tidak mencukupi. Layaklah saya berterima kasih yang sebesar-besarnya di alinea pertama ini pada kedua orang hebat yang juga telah menyusun paper ini, Ari Permana Putra dan Ginanjar Ummi Pratiwi.

Rasanya kontribusi saya dalam pengerjaan paper ini sungguh minim, mereka berdua lah yang sebenarnya “mengerjakan” paper ini. Dana yang minim membuat keberangkatan kami bertiga cukup sulit diwujudkan, sampai akhirnya diputuskan hanya satu yang berangkat. Saya merasa tidak layak untuk berangkat kesana, tapi karena keputusan dari yang lain menginginkan demikian, saya tidak bisa menolak. Semoga keberangkatan dan presentasi saya di sana adalah kontribusi terbaik yang dapat saya lakukan untuk tim kita ya, Ka Ari dan Ka Tiwi :)
poster AISC Taiwan 2013

Keberangkatan saya ke Taiwan kali ini juga mendapat dukungan dari PT. Multistrada Arah Sarana, yang namanya juga saya kristalkan dalam seri post liputan trip ke Taiwan tahun ini. Memang ini tidak masuk ke dalam kontrapretasi dan perjanjian yang kami sepakati, tapi saya merasa punya tanggung jawab untuk meliput acara ini dan melampirkan nama ‘Multistrada’ sebagai bentuk rasa terima kasih atas partisipasinya membantu keberangkatan ke Taiwan. Sekadar info, Multistrada adalah perusahaan produsen ban yang memproduksi ban merek Corsa dan Achilles, yang sekarang telah menjadi sponsor resmi Manchester United. Salah satu perusahaan asli Indonesia yang mampu menjadi official sponsor untuk tim besar Eropa setelah Dua Kelinci dengan Real Madrid. Hebat bener euy :D

logo perusahaan Multistrada
Official Tire Partner of Manchester United :D
Bagi saya pribadi, perjalanan ini sungguh mahal harganya. Saya bukan berasal dari keluarga yang kaya raya sehingga awalnya agak berat untuk menomboki sisa biaya perjalanan yang harus ditanggung. Tapi saya kemudian berpikir, bahwa ini adalah kesempatan yang langka. Selain mahal secara materi, perjalanan ini juga ‘mahal’ dari segi waktu. Departemen saya setiap hari ada praktikum dan responsi, perizinannya juga bukan masalah kecil. Sadar bahwa perjalanan ini butuh ‘tebusan’ yang mahal, maka saya tidak akan membiarkan perjalanan ini menjadi sekadar perjalanan ‘biasa’. Harus ada sesuatu yang spesial supaya perjalanan ini berharga setara dengan uang, waktu dan tenaga yang dihabiskan.

Setelah ini saya akan melaporkan perjalanan saya dari hari ke hari. Mungkin tidak live hari itu juga dipost, karena saya tidak bisa memastikan koneksi internet di sana bagaimana. Dokumentasi dan kisah-kisah lainnya akan terangkum dalam payung serial post yang sama.

Saya berharap melalui liputan dan tulisan yang saya buat, saya bisa berbagi untuk semua orang yang menyempatkan diri untuk mampir ke blog ini. Saya ingin perjalanan ini tidak hanya saya saja yang merasakan manfaatnya. Seperti yang dikatakan Agustinus Wibowo,
“Perjalananku adalah perjalananmu”

Malam ini, pukul 23:55 WIB insyaAllah saya akan berangkat naik pesawat dan keluar Pulau Jawa untuk pertama kalinya. Cupu banget ya -__-

Mohon doa agar perjalanan ini memiliki lebih banyak manfaat daripada mudharatnya dan agar saya dan rombongan yang lain selamat sampai tujuan dan bisa kembali lagi (juga) dengan selamat.

Let the trip begin :)

DISCUSSION 0 Comments

Dapur Pribadi



Dapur pribadi, tempat banyak hal bermula dalam semester ini. Nyaman banget rasanya mengerjakan banyak hal di meja ini :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Ayo Bikin Paspor!

Passport
Oleh Rhenald Kasali

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di Universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
~~~
Saya membaca tulisan ini beberapa bulan yang lalu, mempertanyakan hal yang sama dengan Pak Rhenald katakan dalam tulisan di atas. Mulai timbul niatan untuk membuat paspor entah dengan tujuan apa, karena belum ada yang ingin dituju.

Rupanya pertanyaan saya menjadi doa, dan Allah mengabulkannya. Akhirnya ada tempat di luar sana yang harus saya tuju. Menginjakkan kedua kaki di belahan bumi-Nya yang lain.

Taichung, Taiwan, April 2013. Bismillah :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Membesarkan Hal-Hal Kecil

Judul : What the Dog Saw
Penulis : Malcolm Gladwell
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jenis Buku : Non Fiksi
Cetakan : I :2010
Tebal Buku : 457 halaman
ISBN : 978-979-22-5249-1

Apakah John Kennedy Jr. tercekat atau panik ketika mengemudikan pesawat terbang yang akhirnya mengalami kecelakaan yang menewaskannya? Apa yang diajarkan pemain sepakbola Amerika tentang bagaimana memilih guru yang baik? Apa peran pewarna rambut dalam sejarah abad kedua puluh?

Pertama kali saya mendengar nama Malcolm Gladwell adalah ketika penjelasan mengenai tema Latihan Gabungan Barat I PPSDMS, November 2012, yang mengambil salah satu judul bukunya yang terkenal, Outliers. Semenjak itu saya jadi penasaran berat sama buku-bukunya. Beberapa kali mencari di toko buku entah kenapa ga pernah ketemu, sampai pada akhirnya saya menemukan buku ini di pojok rak Toko Gunung Agung Pondok Gede. Tersudut, tertumpuk di bawah buku-buku lainnya.

Setelah mulai membaca daftar isi buku ini, saya menemukan hal yang aneh. Dalam hati saya, "Ini buku apaan ngebahas hal-hal kayak gini?" -__- Ada kajian tentang sejarah saus tomat, pewarna rambut, tukang jual kecap, sejarah pil KB, penjinak anjing dan kajian lainnya, yang entah kenapa menurut saya.... kurang begitu penting. Agak sedikit banyak kurang kerjaan.

Anggapan saya sirna ketika makin menyelami isi bukunya. Kajian dan paparan Gladwell terhadap hal-hal yang buat saya (dan saya yakin buat orang lain juga) tidak terlalu penting, berhasil dikemas dengan cara yang sangat menarik. Gladwell menemukan orang-orang yang memang berkecimpung dalam bidang tersebut, menyajikan berbagai fakta dan data interdisiplin ilmu, dan entah bagaimana caranya membuat buku ini menjadi sangat kaya dengan berbagai pengetahuan yang dimilikinya.

Contoh yang menurut saya paling menarik adalah bagaimana Gladwell menceritakan saus tomat dalam bab Teka-Teki Saus Tomat dengan opening line yang menggelitik, "Moster sekarang banyak macamnya, mengapa saus tomat tetap tak berubah?" Bab ini mengisahkan Jim Wigon yang ingin membuat varian rasa baru dalam per-saus-tomatan Amerika, serta Howard Moskowitz, seorang peneliti dari Harvard yang pernah melakukan penelitian menarik perihal perilaku dan keinginan konsumen dalam konsumsi dengan pendekatan racikan dan komposisi bahan yang digunakan. Gladwell mengisahkan saus tomat sebagai tokoh utama, bagaimana sebenarnya saus tomat dilahirkan setelah semakin cintanya masyarakat Amerika terhadap tomat, mengapa tomat sangat disukai, bagaimana perannya dalam konsumsi di masyarakat, bahkan kisah 'perang' per-saus-tomatan Amerika juga diceritakan dalam bab ini. 

Saus tomat setelah Anda membaca buku ini bukan hanya sekadar pasta tomat dengan sedikit rasa asam dan asin.

Atau tengok juga kisah Cesar Millan dalam bab Apa Yang Dilihat Anjing, sosok pembawa acara Dog Whisperer yang kisahnya menjadi ilham bagi judul buku ini. Cesar adalah sosok ajaib yang jika pernah ada yang menonton Dog Whisperer, akan mengetahui betul bagaimana seekor anjing yang galak bisa menjadi penurut di hadapan Cesar. Apa yang membuat sang anjing berlaku demikian? Atau bisa juga dibaca bab Murray Sejuta Dollar, menceritakan tentang pengelolaan tunawisma di Amerika yang kajiannya (bagi saya) cukup mencengangkan, dengan opening line "Mengapa masalah seperti tunawisma boleh jadi lebih mudah dipecahkan daripada dikelola?" dan membuat kita berpikir ulang tentang cara penanganan tunawisma yang tepat di Indonesia dari studi kasus Gladwell di Amerika.

Buku ini sangat cocok untuk orang-orang yang ingin tahu lebih banyak hal-hal menarik di balik hal-hal yang selama ini kita anggap 'biasa'. Mengeluarkan kisah-kisah fakta yang jarang dipublikasi orang lain dan memetik hikmah-hikmah tersembunyi di dalamnya.  Overall, buku ini sangat layak dibaca untuk memperkaya pengetahuan kita, membangkitkan rasa penasaran kita terhadap dunia luar, dan belajar bagaimana mengambil hal-hal besar dari hal-hal 'kecil' di sekitar kita.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Bahagia dalam Ketidaktahuan


Mungkin hanya inilah ketidaktahuan yang dapat dibenarkan dan harus dijadikan pelajaran. Tidak tahu bahwa kita berada di dunia yang kejam, materialis, dan hina. Sehingga kita tidak pernah peduli dengannya dan tetap teguh dengan mimpi-mimpi yang kita punya. Acuh dengan ketidakmungkinan.

Seandainya saya bisa...


"They did'nt know it was impossible, so they did it"
- Mark Twain

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Nutrisi Bacaan Bulan Ini

Semenjak beberapa bulan yang lalu sudah punya niatan untuk belanja buku online. Baru bulan ini kesampaian setelah ga tahan membaca review Titik Nol-nya Agustinus Wibowo di Goodreads mencapai angka 4.4, ini tinggi banget, sejauh ini baca reviewnya Goodreads rasanya jarang banget sampai bintang 4. Kalau udah sampe 4.4 pastilah buku ini sungguh spesial.

Hasrat belanja buku makin tidak tertahan manakala menemukan fakta bahwa belanja buku online di Gramedia.com dapat potongan harga 10%, dan ongkos kirim ke Bogor cuma sekitar Rp. 12.000. Artinya, jika kita belanja dengan total belanja di atas Rp. 120.000 dan berat total buku masih dibawah 1 kg, kita bakalan untung sekian ribu rupiah daripada belanja buku di outletnya. Karena Titik Nol harganya (sebelum didiskon) Rp. 98.000, butuh satu buku lagi biar belanjanya di atas Rp. 120.000.

Pilihan jatuh ke Stand and Deliver-nya Dale Carnegie. Selain karena ingin meningkatkan skill public speaking yang masih cupu, juga karena ingin menggali manfaat sebesar-besarnya dari buku Dale Carnegie lainnya setelah How To Win Friends and Influence People in Digital Life-nya berhasil memberikan saya banyak sekali inspirasi, terutama dalam berhubungan dengan orang lain di sekitar saya.

Inilah total belanjaan saya : NO. PESANAN: 0406D0042
Tanggal 2013-04-06 16:24:57
=====================

Titik Nol - Gramedia Pustaka Utama GPU (9789792292718) 1 x Rp88.200 (Rp98.000,- disc.10%) 
Stand and Deliver - Gramedia Pustaka Utama GPU (9789792283082) 1 x Rp48.600 (Rp54.000,- disc.10%)
Subtotal = Rp136.800,-

Expeditur : JNE-TransferBank Ongkos Kirim : Rp12.872,-
########## TOTAL BAYAR : Rp.149.672,- ##########

Bayangkan jika beli di outlet, maka harga yang harus saya bayar (tanpa diskon) adalah Rp. 98.000 + Rp. 54.000 = Rp. 152.000. Lumayan hemat sekitar 3000 perak, plus tidak perlu ke mall di Bogor yang biaya transport dan parkirnya bikin nyesek dompet.

Makanya belanja buku online aja om, di Gramedia.com! *promosi

Dan inilah sinopsis dua buku yang menjadi nutrisi tambahan otak saya bulan ini :)


Titik Nol

oleh Agustinus Wibowo
SINOPSIS
Perjalananku bukan perjalananmu Perjalananku adalah perjalananmu Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak. Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

 Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

 "Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini." —Qaris Tajudin, editor Tempo dan penulis novel.

Stand and Deliver

oleh Dale Carnegie Training
SINOPSIS
Kita akan langsung mengenali seorang pembicara hebat ketika melihatnya. Ia terlihat memiliki kualitas—kepercayaan diri, karisma, kefasihan berbicara, pengetahuan—yang tidak kita miliki. Namun, kemampuan berbicara dengan baik di hadapan orang lain adalah keahlian, bukan bakat bawaan. Itu artinya, dengan panduan yang tepat, setiap orang bisa belajar mewujudkannya.

Stand and Deliver memberi pembaca segala hal yang harus mereka ketahui untuk menjadi komunikator yang tenang, matang, dan mumpuni. Buku ini mengungkap berbagai teknik yang telah membantu banyak pembicara besar dalam sejarah. Dalam buku ini pembaca akan belajar cara mempersiapkan presentasi dengan baik, membentuk dan memeragakan gaya mereka sendiri yang unik, mengatasi demam panggung, serta menarik perhatian seluruh audiens dalam satu menit.

Dengan begitu banyak petunjuk, strategi, dan contoh nyata, termasuk studi kasus atas beberapa orator terbesar di dunia,Stand and Deliver adalah buku yang sempurna mengenai public speaking. Berbagai teknik luar biasa penting yang bisa dipelajari dari buku ini akan memberikan manfaat yang tak lekang zaman.

Inilah penampakan bukunya di meja belajar kesayangan saya di asrama 
harus minta tolong temen buat bungkusin pake plastik biar ga rusak :P
Saya sudah beberapa puluh halaman melahap Titik Nol meskipun di tengah-tengah masa UTS yang tanpa jeda di semester ini (ya, 10 ujian dalam 8 hari) dan menemukan kenyataan bahwa rasanya nilai yang diberikan Goodreads pada buku ini tidak berlebihan. Di bagian awal, Titik Nol berhasil memberikan impresi yang mengagumkan. 

Dan kedua buku ini adalah dua buku pertama yang saya belanjakan di tahun 2013. Selain karena minim duit, rasanya di bulan-bulan kemarin begitu hectic dan sulit meluangkan waktu untuk membaca buku. Ini agak random, tapi sejujurnya saya merindukan masa-masa ke pasar Jatinegara bareng Ibu buat belanja buku murah di sana :') Kapan ya bisa kesana lagi?

POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

Mendadak Desain

Semenjak SMA, saya seringkali terkagum-kagum dengan teman saya yang serba bisa bikin segala macam atribut publikasi. Mulai dari logo, poster, spanduk dan lain-lain. Kekaguman saya memiliki dua alasan, yang pertama desain mereka (mungkin) keren, dan karena saya tidak pernah bisa membuat yang sebaik mereka. Bahkan mencoba saja belum pernah, sampai pada akhirnya saya mencoba berkat keisengan saya yang memuncak di bangku kuliah tingkat 2.

Sebenarnya bukan cuma dari bangku kuliah sih, dari SMA juga mulai bikin beberapa publikasi kecil-kecilan dengan CorelDraw. Tapi cupu banget -___- Puncaknya adalah ketika saya mengetahui di departemen Adkesmah yang saya urus tahun ini tidak ada satupun yang bisa bikin publikasi. Jadilah saya mendadak harus menghidupkan kembali naluri yang sudah mati semenjak SMA.

Skill saya juga masih cupu sih, cuma bermodal CorelDraw sama Sothink Logo Maker Professional. Saya bahkan hanya menggunakan Photoshop sesekali karena skill yang jongkok paten. Karena saya rajin menyambangi situs-situs tentang desain macam-macam, yaa lumayanlah punya banyak bahan yang bisa ditiru dan dimodifikasi. 
logo departemen tercinta :3
logo resmi BEM Fateta 2013, awalnya diejek karena mirip obat nyamuk, huh padahal... mirip -__-

publikasi Pokja SPP Fateta versi grayscale yang menyambangi kelas-kelas
publikasi resmi Campus Goes To School SMAN 14 Jakarta, Januari kemarin
teaser proker Semai (Sekret Indah dan Nyaman)
spanduk Kongfang (ya memang namanya aneh) -__-
Bahkan beberapa teman juga order untuk bikin logo untuk acara mereka sendiri.
logo acara Season 9 punya SES-C IPB (Eksyar FEM) salah satu logo yang paling memuaskan yang pernah saya ciptakan :)
logo Agroindustrial Fair 2013 punya Himalogin, menang sayembara dan berhasil dapat soto daging gratis dari ketua panitianya :9
Lumayan juga lah ya :P 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)