Berjanji Untuk Memberi : Behind The Scene Pokja SPP Fateta

Kemarin, 7 Maret 2013, adalah hari yang cukup membahagiakan bagi kami, Adkesmah BEM Fateta 2013, karena merupakan hari puncak dalam kerja keras mengurus Pokja SPP periode ganjil 2013. Buat yang belum tau Pokja SPP itu sistemnya kayak gimana, silahkan baca postingan bulan lalu (klik disini)

Hasilnya, 47 orang apply dan terbantu dengan jumlah dana yang digelontorkan mencapai lebih dari Rp. 78 juta. Ini rekor transaksi Pokja terbesar sepanjang sejarah Fateta. Biasanya transaksi Pokja ada di kisaran 20-40 jutaan, baru kali ini tembus di atas 70 juta. Kami dan pihak dekanat sama-sama senang. Kami senang karena berhasil menjembatani harapan teman-teman Fateta untuk membantu bayar SPP, pihak dekanat juga senang karena dana beasiswa Pokja dari alumni berhasil terserap secara maksimal.

Baru beberapa jam yang lalu saya rapat koordinasi dengan Tim Pokja KM IPB, dan ternyata memang dana Pokja Fateta semester ini paling besar. Perbandingannya, seluruh fakultas kecuali Fateta menyerap dana Direktorat Kemahasiswaan IPB sebesar kurang lebih Rp. 40 juta, nyaris setengah dari dana satu fakultas Fateta. Fakultas ini memang ajaib.

~~~
Beberapa minggu yang lalu...
Kami duduk melingkar setelah melakukan wawancara dengan beberapa orang yang apply Pokja semester ini. Setelah semuanya selesai, kami semua sepakat satu hal : wawancara Pokja adalah pekerjaan yang melelahkan dengan cara yang aneh. Melelahkan hati.

Wawancara Pokja berarti menyediakan waktu sebentar untuk mendengarkan cerita orang lain yang belum tentu kita kenal baik. Dan banyak di antara cerita mereka, adalah cerita yang membuat segala masalah tugas, laporan, asmara, keuangan dan lain sebagainya yang kami (Tim Pokja) alami menjadi sebuah masalah yang sangat sepele.

"Kamu kenapa ikut Pokja?"
"Ayah meninggal beberapa waktu yang lalu, Ibu juga meninggal tahun kemarin." 
*speechless

"Ini rumah kakak jauh banget, kakak kapan terakhir pulang?"
"Beberapa minggu yang lalu."
"Pas liburan kak?"
"Iya, setelah kelar fieldtrip saya dapet telpon dari rumah katanya Ayah meninggal, jadi saya langsung pulang ke rumah."
*speechless

Ada yang orangtuanya sudah pensiun, pedangang kerupuk, buruh bangunan, dan profesi lain yang.... berat rasanya membayangkan mereka bisa survive sedemikian rupa di IPB. Musibah yang mereka alami juga beragam, ada yang rumahnya habis dihantam banjir besar dan harus ulang membangun rumah dan isinya, ada yang terlilit banyak utang, ada yang orangtuanya stroke dan tidak bisa lagi bekerja dan lain sebagainya.

Cerita mereka memang heartbreaking banget, tapi saya yakin mereka adalah orang-orang dengan jiwa yang lapang dan semangat yang tinggi. Malahan kami yang wawancara berlinangan air mata -____-

Saya juga sempat bilang ke teman-teman di Adkesmah, 

"Sebenarnya pekerjaan kita bukan cuma sekedar melaksanakan Pokja, lebih dari itu, ada harapan dari 40-an orang yang berharap pada kita supaya bisa diperjuangkan dari Pokja. Kita sudah banyak menjual harapan pada mereka, tinggal bagaimana kita memenuhi semua harapan mereka."

Banyak harapan yang terbeli adalah konsekuensi logis dari banyaknya harapan yang kami jual melalui beragam publikasi di media.
~~~
7 Maret 2013, Auditorium Abdul Muis Nasution, 12:42 WIB
Sekitar 40 orang yang apply Pokja Fateta duduk rapi, menyimak kata-kata dari Dr. Sam Herodian, Dekan Fateta IPB.

"Dulu ketika saya menjadi dosen muda, saya dan istri diberikan tempat untuk tinggal dari tante saya. Saya senang karena saat itu gaji dosen tidak banyak. Sejak saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri, saya akan melakukan hal yang sama ketika saya sudah dalam posisi yang lebih baik. Teman-teman semua yang dikumpulkan di sini juga sama, mendapatkan bantuan dari alumni untuk pembiayaan kuliah. Maka berjanjilah, suatu saat nanti ketika sudah mapan dan mampu, lakukanlah hal yang sama." - Dr. Sam Herodian, Dekan Fateta IPB

Saya yang turut serta hadir dalam auditorium rasanya sangat tersentuh mendengar kalimat terakhir Pak Sam. Hanya karena inilah program Pokja Fateta bisa berjalan dengan lancar.

Buat kamu-kamu yang sekarang masih dibantu oleh orang lain, entah orangtua, ataupun program beasiswa, keluarga angkat, dan lain sebagainya, berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa suatu saat nanti kamu akan melakukan hal yang sama.

Sekadar memastikan bahwa rantai kebaikan yang ada di dunia ini tidak putus di diri kita sendiri, dan akan terus berlanjut sampai akhir dunia nanti.

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)