Siapa Yang Tahu?

Dalam keadaan yang sangat hectic dikejar beermacam deadline tugas dari segala penjuru arah mata angin, saat sedang rehat di Home Facebook saya sendiri, tetiba ada yang share tulisan singkat Tere-Liye yang amat, menggelitik. 

"Kalau sudah dicari kemana2 nggak ketemu, dicari jauh2 nggak ada, maka mungkin, ini baru kemungkinan loh, boleh jadi, jodoh kita ada di dekat-dekat kita saja. 

Ayo dilihat lagi, siapa tahu itu teman sekolah, teman kuliah, siapa tahu itu tetangga sebelah rumah, atau kerabat kiri-kanan. Yang setiap hari bertemu, hanya menunggu berseminya perasaan."

--Tere Liye

Saya menulis ini dengan penuh kesadaran, tanpa bermaksud menyebarkan kode-kode aneh yang repot sekali rasanya dibaca, apalagi diterjemahkan. Tapi memang iya, kejadian seperti ini memang banyak. Banyak sekali.

Siapa yang tahu? Masih 19 tahun kan? Santai lah ya :P

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Mencari 'Delmar' Yang Lain

7 Maret 2013, sepulang dari kampus setelah pembagian dana Pokja SPP, saya bertekad untuk menuntaskan proyek ulang tahun saya yang ke 19 (Lihat : The 19th Birthday Project) yang saya rancang bulan lalu. Sore menjelang maghrib, saya berangkat ke RS Hermina Bogor di Yasmin. Bayangan saya, Hermina kan memang rumah sakit ibu dan anak, berarti logikanya paling tidak dalam satu hari ada jadwal operasi caesar ataupun ibu yang dalam keadaan menjelang kelahiran normal.

Sesampainya di sana, saya hanya terdiam di lobi rumah sakit. Batin saya, "Gimana cara nanyanya ya?" -__- Pertama saya merasa data operasi caesar dan kelahiran bayi adalah data yang rahasia, kedua, entah kenapa alasan saya untuk meminta data tersebut agak... abnormal. Setelah merenung sekian lama dan resepsionisnya mulai sepi (ya, rumah sakit ini memang RAME banget) akhirnya saya beranikan diri bertanya.

"Permisi mbak."
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Begini mbak, kira-kira ada ibu yang akan melahirkan besok?"
*mbaknya mulai memasang muka aneh
"Jadi gini mbak, saya besok ulang tahun, dan ingin ngasih kado buat bayi yang lahiran besok, kira-kira ada jadwal operasi caesar atau ibu yang menjelang melahirkan?"
"Besok? 8 Maret ya? Sebentar ya mas." *mulai mencari data dengan senyuman aneh
"Ada mas, 2 jadwal operasi caesar besok pagi, kalau mau jenguk silahkan aja sekitar besok sore."
"Itu bisa lihat bayinya juga kan mbak?"
"Tergantung keputusan keluarganya mas."

Saya pulang, dan memikirkan kado yang harus saya beli untuk bayi-bayi lucu itu. Saya teringat rencana Ibu dan Ayah yang mau main ke Bogor hari Minggu ini, biasalah, memastikan anak bungsunya ini masih hidup. Toh mereka juga kesepian di rumah, orang tua memang butuh jalan-jalan sedikit. Saya minta nitip 2 kado buat bayi yang baru lahir. Ibu bilang buat apa, ya udah saya jelasin lagi seperti sediakala. Ibu cuma ketawa.

~~~

Minggu, 9 Maret 2013
Siangnya, udah siap ke rumah sakit dengan dua bingkisan lucu :3 Ibu ternyata beli satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan, padahal sebenarnya sampai di rumah sakit juga kita masih ga tau jenis kelamin bayinya apa. Tapi yaah namanya juga bayi, peralatannya lebih universal dan kayaknya hampir tidak ada bedanya deh. Ibu juga belinya rada ngasal sih, dia sendiri ga inget isinya yang mana yang buat laki-laki yang mana yang buat perempuan.

kayaknya ini buat laki-laki deh *ngasal mode
atau ini yang buat laki-laki ya? ah entahlah -___-
Setelah sampai dan menceritakan (lagi) maksud kedatangan kami ke resepsionis, kami digelandang ke lantai 2, tempat para bayi-bayi segar bersemayam. Sebenarnya sih karena ini rumah sakit ibu dan anak, hampir di setiap lantai pasti ada bayinya, cuma kayaknya bayi yang benar-benar baru keluar disimpan di lantai 2.

Sampai di sana, kami cerita (lagi-lagi) hal yang sama dengan suster dan dokter jaga. Awalnya mereka pasang muka curiga, tapi akhirnya bisa menerima. Mungkin karena muka saya yang rada kriminal, mereka tetap minta KTP saya buat konfirmasi. Wajar sih sebenarnya, awkward juga kok tiba-tiba ada mas-mas bawa-bawa kado buat bayi yang ga dikenal, jangan-jangan ada niat culik, rampok dll. Itu mungkin pikir mereka. Padahal kan hati saya imut begini.

Dicari sedemikian rupa datanya, dan ketahuan ada 4 bayi yang lahir di tanggal 8. Pilih dua bayi, satu di lantai 2 dan satu di lantai 4. Ini dia si 'Delmar' yang ada di lantai 2 :3

'Delmar' yang ini laki-laki, pasti jadi macho deh :P

Dia belum punya nama, badannya sehat deh ga ada keriputnya. Kalo ga salah dia lahir normal, beratnya lumayan sekitar 2.75 kg. Usut punya usut, ternyata ibunya (yang pake baju batik di samping bayi) itu alumnus Fapet IPB angkatan 40. Ibunya juga masih lemes, jadi ga ngomong banyak. Saya cuma pukpuk bayinya sebentar, soalnya doi lagi sibuk boci (bobo ciang)

Cabut ke lantai 4, dan ternyata keluarga yang ada di sana tidur semua. Karena ga mau ganggu mereka, akhirnya kita ke 'Delmar' yang ada di lantai 3. Kali ini 'Delmar' nya perempuan :3

sini Cherish, liat kamera :3


Kalo yang ini udah punya nama, namanya Cherish. Artinya? Liat kamus aja deh ya :P Cherish ini agak kurang sehat kayaknya, soalnya badannya agak keriput dan beratnya juga 'cuma' 2 kg. Sebenarnya agak sedih liat kondisinya Cherish, cuma jadi terhibur soalnya si Cherish ini banyak gerak. Tangannya bahkan berhasil keluar dari bedongan ibunya. Lucu banget liat dia gerak-gerak terus :3 


~~~

Ada hal lucu lain selama dalam proses proyek ini. Setiap kali kami pindah lantai dalam usaha mencari 'Delmar' ini, suster yang 'mengantar' saya pasti memperkenalkan saya ke teman-teman suster lainnya yang jaga di piket lantai. Dan mereka selalu menanyakan alasan kenapa saya sampai mau capek-capek melakukan hal seperti ini. Saya cuma bilang, "Iseng doang sus," yang akan ditimpali dengan keriuhan tawa mereka dan wish mereka semoga punya anak yang  lahir di 8 Maret juga. 

Selain itu, ada perasaan aneh setiap saya masuk ruangan, bertemu mereka (ibu dan anak) dan melihat kondisi mereka berdua pasca melahirkan. Saya jadi sedih. Berulang kali saya nahan supaya ga nangis di sepanjang lorong, atau ketika saya memberikan doa untuk mereka. Saya memang bukan melankolis, tapi kondisi ini memang tidak umum. Saya seolah melihat masa lalu saya sendiri, 19 tahun yang lalu saya dan Ibu dalam kondisi yang sama. Saya yang masih merah, dan Ibu yang masih lelah.

Ada perasaan yang sama seperti saat saya menjajaki masa lalu saya dan keluarga di sesi Past That Matter beberapa bulan yang lalu. Sedih, tapi menenangkan dan membahagiakan.

Di dalam ruangan, saya hanya memanjatkan doa yang sama untuk para 'Delmar' ini. Semoga kalian semua selalu sehat, tidak menyusahkan orang tua, bermanfaat untuk umat dan selalu dalam lindungan-Nya.

Teringat dengan pertanyaan salah seorang suster saat menimpali jawaban aneh atas pertanyaan mereka, 

"Mas sudah lama melakukan hal kayak gini?"

Saya jawab, "Belum sus, baru kali ini."

Dan entah kenapa, setelah proyek ini selesai, ada happiness yang tidak pernah saya dapatkan di tempat lain. Entah kenapa saya jadi ingin mengulangi proyek ini lagi tahun depan, jika Allah menghendaki saya untuk hidup di bumi-Nya satu tahun lagi :)

Buat kamu-kamu yang penasaran gimana rasanya, silahkan dicoba sendiri ya :D Karena merayakan ulang tahun tidak melulu soal pesta, dan hura-hura. Kamu bisa jauh lebih berarti dibanding dengan apa yang kamu pikir selama ini :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 4 Comments

Berjanji Untuk Memberi : Behind The Scene Pokja SPP Fateta

Kemarin, 7 Maret 2013, adalah hari yang cukup membahagiakan bagi kami, Adkesmah BEM Fateta 2013, karena merupakan hari puncak dalam kerja keras mengurus Pokja SPP periode ganjil 2013. Buat yang belum tau Pokja SPP itu sistemnya kayak gimana, silahkan baca postingan bulan lalu (klik disini)

Hasilnya, 47 orang apply dan terbantu dengan jumlah dana yang digelontorkan mencapai lebih dari Rp. 78 juta. Ini rekor transaksi Pokja terbesar sepanjang sejarah Fateta. Biasanya transaksi Pokja ada di kisaran 20-40 jutaan, baru kali ini tembus di atas 70 juta. Kami dan pihak dekanat sama-sama senang. Kami senang karena berhasil menjembatani harapan teman-teman Fateta untuk membantu bayar SPP, pihak dekanat juga senang karena dana beasiswa Pokja dari alumni berhasil terserap secara maksimal.

Baru beberapa jam yang lalu saya rapat koordinasi dengan Tim Pokja KM IPB, dan ternyata memang dana Pokja Fateta semester ini paling besar. Perbandingannya, seluruh fakultas kecuali Fateta menyerap dana Direktorat Kemahasiswaan IPB sebesar kurang lebih Rp. 40 juta, nyaris setengah dari dana satu fakultas Fateta. Fakultas ini memang ajaib.

~~~
Beberapa minggu yang lalu...
Kami duduk melingkar setelah melakukan wawancara dengan beberapa orang yang apply Pokja semester ini. Setelah semuanya selesai, kami semua sepakat satu hal : wawancara Pokja adalah pekerjaan yang melelahkan dengan cara yang aneh. Melelahkan hati.

Wawancara Pokja berarti menyediakan waktu sebentar untuk mendengarkan cerita orang lain yang belum tentu kita kenal baik. Dan banyak di antara cerita mereka, adalah cerita yang membuat segala masalah tugas, laporan, asmara, keuangan dan lain sebagainya yang kami (Tim Pokja) alami menjadi sebuah masalah yang sangat sepele.

"Kamu kenapa ikut Pokja?"
"Ayah meninggal beberapa waktu yang lalu, Ibu juga meninggal tahun kemarin." 
*speechless

"Ini rumah kakak jauh banget, kakak kapan terakhir pulang?"
"Beberapa minggu yang lalu."
"Pas liburan kak?"
"Iya, setelah kelar fieldtrip saya dapet telpon dari rumah katanya Ayah meninggal, jadi saya langsung pulang ke rumah."
*speechless

Ada yang orangtuanya sudah pensiun, pedangang kerupuk, buruh bangunan, dan profesi lain yang.... berat rasanya membayangkan mereka bisa survive sedemikian rupa di IPB. Musibah yang mereka alami juga beragam, ada yang rumahnya habis dihantam banjir besar dan harus ulang membangun rumah dan isinya, ada yang terlilit banyak utang, ada yang orangtuanya stroke dan tidak bisa lagi bekerja dan lain sebagainya.

Cerita mereka memang heartbreaking banget, tapi saya yakin mereka adalah orang-orang dengan jiwa yang lapang dan semangat yang tinggi. Malahan kami yang wawancara berlinangan air mata -____-

Saya juga sempat bilang ke teman-teman di Adkesmah, 

"Sebenarnya pekerjaan kita bukan cuma sekedar melaksanakan Pokja, lebih dari itu, ada harapan dari 40-an orang yang berharap pada kita supaya bisa diperjuangkan dari Pokja. Kita sudah banyak menjual harapan pada mereka, tinggal bagaimana kita memenuhi semua harapan mereka."

Banyak harapan yang terbeli adalah konsekuensi logis dari banyaknya harapan yang kami jual melalui beragam publikasi di media.
~~~
7 Maret 2013, Auditorium Abdul Muis Nasution, 12:42 WIB
Sekitar 40 orang yang apply Pokja Fateta duduk rapi, menyimak kata-kata dari Dr. Sam Herodian, Dekan Fateta IPB.

"Dulu ketika saya menjadi dosen muda, saya dan istri diberikan tempat untuk tinggal dari tante saya. Saya senang karena saat itu gaji dosen tidak banyak. Sejak saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri, saya akan melakukan hal yang sama ketika saya sudah dalam posisi yang lebih baik. Teman-teman semua yang dikumpulkan di sini juga sama, mendapatkan bantuan dari alumni untuk pembiayaan kuliah. Maka berjanjilah, suatu saat nanti ketika sudah mapan dan mampu, lakukanlah hal yang sama." - Dr. Sam Herodian, Dekan Fateta IPB

Saya yang turut serta hadir dalam auditorium rasanya sangat tersentuh mendengar kalimat terakhir Pak Sam. Hanya karena inilah program Pokja Fateta bisa berjalan dengan lancar.

Buat kamu-kamu yang sekarang masih dibantu oleh orang lain, entah orangtua, ataupun program beasiswa, keluarga angkat, dan lain sebagainya, berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa suatu saat nanti kamu akan melakukan hal yang sama.

Sekadar memastikan bahwa rantai kebaikan yang ada di dunia ini tidak putus di diri kita sendiri, dan akan terus berlanjut sampai akhir dunia nanti.

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)