Mengurai Benang Kusut Rokok dan Tembakau Indonesia

Indonesia pada beberapa waktu terakhir dihebohkan dengan kejadian banjir besar yang melanda wilayah Jabodetabek, yang melumpuhkan nyaris sebagian besar kehidupan di Ibu Kota. Berdasarkan dara yang ada, banjir Jakarta beberapa minggu yang lalu mengakibatkan kerugian triliunan rupiah harta milik pribadi dan dunia usaha. Tidak hanya kerugian harta, 20 orang juga tewas sebagai akibat dari musibah ini. Tidak banyak masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa selama ini ada ‘bencana’ yang jauh lebih merugikan dan mematikan dibandingkan dengan banjir di Jakarta, yakni ‘bencana’ akibat industri rokok.

tanaman tembakau, si emas hijau
Kompas (1/2/13) mencatat, terjadi penghamburan dana dan kerugian oleh rokok sebesar Rp 225 triliun per tahun. Bayangkan! Dibandingkan proyek penyelamatan banjir Jakarta yang ‘hanya’ sebesar Rp 60 triliun, kerugian yang ditimbulkan akibat rokok nyaris empat kali lipatnya. Dibandingkan dengan banjir Jakarta beberapa minggu yang lalu yang ‘hanya’ merenggut nyawa 20 orang, nyatanya rokok telah mengakibatkan kematian 400.000 orang per tahunnya! Bencana rokok mengakibatkan korban jiwa 20.000 kali lebih banyak dibandingkan banjir Jakarta kemarin.

Sayangnya, meskipun data dan statistik mencatat kerugian yang luar biasa, rokok seperti tidak dijadikan prioritas utama dalam masalah negara. Cukai rokok per tahun memang sangat menguntungkan, sekitar Rp 55 triliun, tetapi biaya konsumsi rokok, biaya perawatan kesehatan dan penyakit akibat rokok jauh lebih tinggi dari cukai yang diterima. Juga jangan lupakan para korban yang kehilangan produktifitasnya dalam bekerja dan menjadi beban keluarga.
penerimaan cukai sangat besar ini masih tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan
Tren lain menyangkut rokok pada beberapa dekade terakhir adalah kecenderungan anak-anak muda dan anak-anak di bawah umur untuk merokok. Hal ini umumnya diakibatkan oleh makin banyaknya iklan-iklan rokok yang beredar di media beberapa tahun terakhir. Imej yang ditampilkan dalam iklan rokok menghasilkan citra ‘keren’ dan ‘gaul’ dalam merokok, sehingga anak-anak yang masih labil akan dengan mudah terpengaruh. Pengaruh lainnya juga datang dari internal keluarga yang memiliki orang tua perokok. Kebiasaan merokok pada orang tua juga –cepat atau lambat- menurunkan kebiasaan tersebut ke anak-anaknya. Akibatnya, saat ini Indonesia adalah negara peringkat ketiga perokok terbanyak di dunia setelah Cina dan India. Kompas menuturkan ada sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia dan 60-70 persennya adalah orang dewasa.
sebuah kasus yang terjadi di Indonesia, bahkan sampai diliput media asing!
Bayangkan jika semakin lama semakin banyak generasi muda yang terjangkit ‘bencana’ rokok ini. Indonesia akan menderita semakin banyak kerugian secara materi dan korban jiwa akibat penyakit rokok juga akan semakin banyak. Bayangkan jika pemerintah masih saja tidak menjadikan permasalahan rokok dan pengendalian tembakau sebagai prioritas utama negara. Masa depan Indonesia akan diujung tanduk. Regenerasi macet.

Permasalahan rokok dan tembakau di Indonesia pun bak menegakkan benang basah. Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Pasifik yang belum meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) yang dicanangkan oleh WHO pada tahun 2003. Ahmad Sujudi, mantan Menteri Kesehatan RI yang aktif dalam penyusunan FCTC pada akhirnya dilarang berangkat ke Genewa untuk menandatangani FCTC oleh Presiden RI –saat itu- Megawati Soekarnoputri. Megawati mendapat tekanan dan protes keras dari petani tembakau di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Alhasil sampai sekarang Indonesia belum meratifikasi FCTC.

Masalah rokok dan tembakau juga erat kaitannya dengan sosial ekonomi petani tembakau. Masyarakat di daerah penghasil tembakau dan rokok seperti Kudus dan Temanggung memang menggantungkan penghidupan mereka pada komoditas ini. Namun demikian, di negara lain, pemerintahnya mampu mendorong dan membantu para petani untuk pindah menanam jenis tanaman lain jika hasilnya jauh lebih menguntungkan dibanding tembakau.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pernah mengadakan pengamatan pada tahun 2008 di terhadap 450 buruh tani tembakau di tiga kabupaten, yakni Bojonegoro, Kendal dan Lombok Timur. Berdasarkan penelitian tersebut, 65% petani ingin berpindah menanam jenis tanaman yang lain jika memang terbukti lebih menguntungkan. Temuan ini diperkuat dengan fakta bahwa ada tanaman yang mampu memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan tembakau.

Kompas (1/2/13) menyatakan bahwa beberapa komoditas seperti bawang merah, melon dan cabe merah lebih menguntungkan daripada tembakau pada ketinggian 0-900 mdpl (dataran rendah dan menengah). Sementara itu untuk dataran tinggi (ketinggian di atas 900 mdpl) tanaman kentang lebih menguntungkan dibanding tembakau. Namun demikian, alih jenis tanaman di daerah penghasil tembakau tidak mungkin dapat dilakukan seperti membalik telapak tangan, seperti halnya tidak mungkin untuk meniadakan produksi tembakau dan menghilangkan rokok dalam satu malam.

Proses transisi mutlak perlu dilakukan. Selain dari sisi petani dan produsen rokok, konsumen juga perlu diberi pencerdasan mengenai bahaya merokok. Kabarnya dalam beberapa kurun waktu ke depan, Indonesia akan mencontoh apa yang dilakukan oleh Thailand, yakni melampirkan foto-foto penyakit akibat merokok di setiap bungkus rokok. Gambar-gambar ini akan membuat para pembeli rokok berpikir kembali untuk membeli.
contoh kemasan rokok di Thailand
Akhir kata, masalah rokok dan tembakau di Indonesia sudah seperti benang kusut. Perlu kesabaran dalam mengurai satu persatu jalinan permasalahan yang ada dengan kontinu. Sekusut-kusutnya benang pasti ada cara untuk mengurainya kembali. Masalahnya adalah, apakah kita punya cukup kemauan, kesabaran, nyali dan keberanian dalam proses mengurainya? 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)