Bani Pergi Sekolah



Iseng buka ebook Bahasa Indonesia buat kelas 1 SD, malah nemu beginian.

Mari berprasangka baik, nama anak itu sesungguhnya mungkin Bani Al-Amin. 

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

The 19th Birthday Project

Alih-alih menerima hadiah, kenapa kita tidak menjadi ‘hadiah’ untuk orang lain di hari ulang tahun kita sendiri?

Ide saya sederhana. Nama saya (Delmar – Delapan Maret) diambil dari tanggal ulang tahun saya di penanggalan masehi. Karena diambil dari penanggalan, berarti pasti di luar sana ada ‘Delmar’ yang lain, yang meskipun saya haqqul yakin namanya bukan Delmar (ya nama ini memang langka dan agaknya aneh)

Tahun ini, saya ingin menengok ‘Delmar’ yang lain di hari lahirnya –yang berarti juga hari ulang tahun saya- dan memberikan hadiah sederhana untuk dirinya dan keluarganya.

Buat apa? Sekedar memberi salam hangat dan doa untuk seorang bayi yang memiliki nasib yang sama dengan saya (lahir di tanggal 8 Maret) supaya kelak bisa menjadi orang yang selalu menebar manfaat untuk orang-orang di sekelilingnya. Siapa tau orangtuanya jadi pengen nama anaknya ‘Delmar’ jugaPhotobucket

Caranya? Saya harus bisa menemukan bayi yang lahir di tanggal 8 Maret (syukur-syukur kalau ada tahun ini) di beberapa rumah sakit di kawasan Bogor. Atau sekitar tanggal 8 juga gapapa deh, mengingat probabilitas pas di tanggal 8 cukup sulit didapat. Jangan lupa mencari ide untuk cari uang buat membelikan keluarganya bingkisan sederhana.

Butuh beberapa bantuan nih sepertinya. Ada yang mau bantu?milkysmile

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Selalu Ada Cara Untuk Kuliah! : Cerita Tentang Pokja SPP

Banyak yang bilang kuliah itu susah karena biayanya mahal. Saya tidak bisa membantah argumen ini karena pada dasarnya kata 'murah' dan 'mahal' adalah relatif, sama sekali tidak mutlak. Tapi saya ingin mengatakan bahwa ada banyak sekali cara yang dapat ditempuh untuk membayar biaya kuliah. 

Nyatanya, di kampus saya, IPB, ada banyak sekali beasiswa yang dapat diambil oleh mahasiswa. Beasiswa perusahaan, beasiswa dari instansi pemerintah dan lain sebagainya. Pokoknya banyak, tinggal gimana mahasiswanya mau usaha lebih atau tidak.

Tahun ini, saya diamanahkan di Departemen Adkesmah BEM Fateta IPB 2013. Salah satu amanah yang diberikan kepada kami adalah memastikan bahwa tidak ada satupun mahasiswa Fateta yang aktif yang kesulitan dalam membayar SPP semester. Tidak boleh ada satupun mahasiswa Fateta yang cuti ataupun dinon-aktifkan hanya gara-gara masalah SPP. Salah satu sistem penjaminan yang diterapkan di Fateta (dan di seluruh fakultas di IPB juga sebenarnya) adalah sistem Pokja SPP.


salah satu publikasi Pokja SPP di Fateta
Pokja SPP pada dasarnya adalah uang pinjaman yang diberikan pihak fakultas untuk membayar biaya SPP semesteran mahasiswa. Uang ini bisa berasal dari banyak sumber, tergantung kebijakan masing-masing fakultas dan BEM yang membumikan program ini ke mahasiswa luas. 

Alhamdulillah, Fateta adalah salah satu fakultas yang memiliki dana cukup besar dalam pembiayaan Pokja SPP dibandingkan fakultas lain yang ada di IPB. Dananya terbilang lancar dan proses seleksi internalnya juga relatif lebih mudah. Ini semua karena hubungan yang erat antara fakultas dengan himpunan alumni fakultas.

Rasa syukur yang amat saya rasakan datang ketika kemarin hadir dalam rapat koordinasi Pokja SPP se-IPB dari Kementerian Kebijakan Kampus BEM KM IPB. Di forum itu, semua fakultas memberikan penjelasan kondisi perkembangan Pokja SPP di fakultas masing-masing. Saya, sebagai satu-satunya wakil dari Fateta merasa beruntung. Fakultas lain menggunakan formulir dari BEM KM yang banyak detilnya, seperti kondisi atap rumah, rekening listrik dan lain sebagainya. Sementara di Fateta formulir yang saya gunakan sudah dibakukan fakultas dan hanya selembar dan sangat simpel.

Sementara di fakultas lain pinjaman dibebankan dengan tenggat waktu kira-kira 1-2 tahun, di Fateta malah mahasiswa bisa mengganti uang pinjaman saat sudah lulus dan memiliki pekerjaan. Sementara di fakultas lain advokasi BEM-nya harus melibatkan rektorat karena dana fakultas sering tidak cukup, di Fateta alhamdulillah dananya selalu tersedia sampai sekarang.

Apa rahasianya?
Pertama Fateta memiliki jalinan alumni yang kuat. Alumni Fateta juga terkenal banyak menduduki posisi strategis di industri, jadi masalah uang bukan lagi masalah :)

Kedua, Fateta menyandarkan program Pokja SPP-nya pada kepercayaan penuh. Ini yang membuat saya terharu ketika Bu Darsah, bendahara fakultas menceritakan detil program ini ketika ngobrol-ngobrol di ruangan beliau beberapa minggu yang lalu. Alasan mengapa Fateta mengeluarkan formulir baku yang simpel karena Fateta menaruh kepercayaan pada mahasiswanya. Kalau-kalau memang membutuhkan pasti akan dilayani.

Lalu yang bikin saya acung jempol untuk sistem Pokja SPP Fateta adalah kepercayaan penuh fakultas bahwa mahasiswanya akan membayar uang pinjamannya. Tadi kan sudah saya jelaskan bahwa Pokja SPP adalah dana pinjaman untuk membantu bayar SPP dan bayarnya bisa dilakukan setelah lulus dan sudah mendapat pekerjaan.

Lalu siapa yang akan menjamin mahasiswa akan mengganti uangnya saat sudah lulus nanti?
Jawabannya : tidak ada.

"Kalau kata bapak (Sam Herodian - Dekan Fateta IPB) masalah kayak gitu masalah mahasiswa sama akhirat. Kami mah percaya saja" - Ibu Darsah - Bendahara Fateta IPB

Justru dengan sistem seperti ini, pundi-pundi fakultas untuk sistem ini terus mengalir.

Seringkali hal yang hebat dan luar biasa terjadi ketika kita menyandarkan masalah dunia pada langit :) 


publikasi Pokja SPP + timeline semester genap 2013
Bersama tim di Adkesmah, kami juga merancang publikasi yang menarik supaya banyak yang engeh bahwa ada program sehebat Pokja SPP. Kami sengaja pakai hashtag #bilangmamaadaPOKJA supaya banyak yang mau tau tentang program ini. Karena masalah utama dari tahun ke tahun adalah minimnya informasi tentang program ini.

Sampai saat tulisan ini saya buat, sekitar 26 orang mahasiswa Fateta dari 3 angkatan sudah apply untuk pinjaman Pokja semester ini. 

Semoga dilancarkan. Karena selalu ada cara untuk bisa kuliah :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Belajar Menjadi Pahlawan

Sejenak, dalam ketegangan masa evaluasi PPSDMS -yang memang menegangkan- saya teringat materi yang pernah saya dapatkan saat training motivasi saat Techno F 2012 kemarin. Pemateri saya saat itu bercerita, pernah ada sebuah survei di Amerika yang bertanya siapa sebenarnya pahlawan Amerika di hati para warganya. Hasilnya, nama pahlawan yang muncul bukanlah Captain America, Batman atau Superman, melainkan Dick Hoyt

Dick Hoyt (kanan) bersama dengan anaknya, Rick Hoyt
Dick Hoyt adalah seorang ayah dari Rick Hoyt. Rick menderita sebuah penyakit yang mengakibatkan dirinya tidak dapat berbicara, berjalan ataupun melakukan sesuatu yang lain secara normal seperti halnya manusia lainnya. Rick melakukan aktivitasnya dari kursi roda. Namun, Dick dan istrinya ingin agar Rick hidup sebagaimana anak normal lainnya.

Suatu hari, Rick ingin mengikuti sebuah lomba lari. Karena keterbatasan yang dimilikinya, Rick hanya duduk di kursi roda yang didorong oleh ayahnya. Ternyata perlombaan lari yang diikutinya -meski Rick tidak benar-benar 'berlari'- membuat Rick merasa sangat senang. Ayahnya, Dick yang sebenarnya bukan seorang pelari dan hanya ingin membuat Rick bahagia kemudian mendaftarkan diri untuk lomba-lomba lari lainnya.

Rick merasa sangat bahagia ketika 'berlari' 
Dick bahkan mendaftarkan diri dalam perlombaan triathlon! Buat yang belum tau, triathlon itu balapan lari, renang dan sepeda secara kontinu melintasi jarak yang jauh. Hanya atlit terlatih saja yang bisa menuntaskan perlombaan triathlon. Sekali lagi, meski Dick bukan seorang pelari, tapi rasa cintanya terhadap anaknya membuatnya tetap bisa menuntaskan setiap balapan. Bahkan ketika berenang dalam triathlon, Dick mengikat tubuhnya dengan tali untuk menarik perahu yang dinaiki Rick.
Dick (berenang) menarik perahu Rick
Videonya bisa cari sendiri di Youtube. Ada banyak banget video tentang ayah dan anak ini, cukup ketik 'hoyt' dan hasilnya keluar semua. 

Pada intinya, melalui post ini saya ingin mengingatkan diri sendiri -dan yang membaca ini- bahwa menjadi pahlawan itu bukan tentang memiliki kekuatan super. Bukan melulu tentang melawan kekuatan jahat. Menjadi pahlawan adalah bagaimana cara untuk menjadi berarti untuk kehidupan orang lain.

"A hero is someone who has given his or her life to something bigger than oneself" - Joseph Campbell

Mulai sekarang, yuk kita belajar menjadi pahlawan :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Mengurai Benang Kusut Rokok dan Tembakau Indonesia

Indonesia pada beberapa waktu terakhir dihebohkan dengan kejadian banjir besar yang melanda wilayah Jabodetabek, yang melumpuhkan nyaris sebagian besar kehidupan di Ibu Kota. Berdasarkan dara yang ada, banjir Jakarta beberapa minggu yang lalu mengakibatkan kerugian triliunan rupiah harta milik pribadi dan dunia usaha. Tidak hanya kerugian harta, 20 orang juga tewas sebagai akibat dari musibah ini. Tidak banyak masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa selama ini ada ‘bencana’ yang jauh lebih merugikan dan mematikan dibandingkan dengan banjir di Jakarta, yakni ‘bencana’ akibat industri rokok.

tanaman tembakau, si emas hijau
Kompas (1/2/13) mencatat, terjadi penghamburan dana dan kerugian oleh rokok sebesar Rp 225 triliun per tahun. Bayangkan! Dibandingkan proyek penyelamatan banjir Jakarta yang ‘hanya’ sebesar Rp 60 triliun, kerugian yang ditimbulkan akibat rokok nyaris empat kali lipatnya. Dibandingkan dengan banjir Jakarta beberapa minggu yang lalu yang ‘hanya’ merenggut nyawa 20 orang, nyatanya rokok telah mengakibatkan kematian 400.000 orang per tahunnya! Bencana rokok mengakibatkan korban jiwa 20.000 kali lebih banyak dibandingkan banjir Jakarta kemarin.

Sayangnya, meskipun data dan statistik mencatat kerugian yang luar biasa, rokok seperti tidak dijadikan prioritas utama dalam masalah negara. Cukai rokok per tahun memang sangat menguntungkan, sekitar Rp 55 triliun, tetapi biaya konsumsi rokok, biaya perawatan kesehatan dan penyakit akibat rokok jauh lebih tinggi dari cukai yang diterima. Juga jangan lupakan para korban yang kehilangan produktifitasnya dalam bekerja dan menjadi beban keluarga.
penerimaan cukai sangat besar ini masih tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan
Tren lain menyangkut rokok pada beberapa dekade terakhir adalah kecenderungan anak-anak muda dan anak-anak di bawah umur untuk merokok. Hal ini umumnya diakibatkan oleh makin banyaknya iklan-iklan rokok yang beredar di media beberapa tahun terakhir. Imej yang ditampilkan dalam iklan rokok menghasilkan citra ‘keren’ dan ‘gaul’ dalam merokok, sehingga anak-anak yang masih labil akan dengan mudah terpengaruh. Pengaruh lainnya juga datang dari internal keluarga yang memiliki orang tua perokok. Kebiasaan merokok pada orang tua juga –cepat atau lambat- menurunkan kebiasaan tersebut ke anak-anaknya. Akibatnya, saat ini Indonesia adalah negara peringkat ketiga perokok terbanyak di dunia setelah Cina dan India. Kompas menuturkan ada sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia dan 60-70 persennya adalah orang dewasa.
sebuah kasus yang terjadi di Indonesia, bahkan sampai diliput media asing!
Bayangkan jika semakin lama semakin banyak generasi muda yang terjangkit ‘bencana’ rokok ini. Indonesia akan menderita semakin banyak kerugian secara materi dan korban jiwa akibat penyakit rokok juga akan semakin banyak. Bayangkan jika pemerintah masih saja tidak menjadikan permasalahan rokok dan pengendalian tembakau sebagai prioritas utama negara. Masa depan Indonesia akan diujung tanduk. Regenerasi macet.

Permasalahan rokok dan tembakau di Indonesia pun bak menegakkan benang basah. Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Pasifik yang belum meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) yang dicanangkan oleh WHO pada tahun 2003. Ahmad Sujudi, mantan Menteri Kesehatan RI yang aktif dalam penyusunan FCTC pada akhirnya dilarang berangkat ke Genewa untuk menandatangani FCTC oleh Presiden RI –saat itu- Megawati Soekarnoputri. Megawati mendapat tekanan dan protes keras dari petani tembakau di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Alhasil sampai sekarang Indonesia belum meratifikasi FCTC.

Masalah rokok dan tembakau juga erat kaitannya dengan sosial ekonomi petani tembakau. Masyarakat di daerah penghasil tembakau dan rokok seperti Kudus dan Temanggung memang menggantungkan penghidupan mereka pada komoditas ini. Namun demikian, di negara lain, pemerintahnya mampu mendorong dan membantu para petani untuk pindah menanam jenis tanaman lain jika hasilnya jauh lebih menguntungkan dibanding tembakau.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pernah mengadakan pengamatan pada tahun 2008 di terhadap 450 buruh tani tembakau di tiga kabupaten, yakni Bojonegoro, Kendal dan Lombok Timur. Berdasarkan penelitian tersebut, 65% petani ingin berpindah menanam jenis tanaman yang lain jika memang terbukti lebih menguntungkan. Temuan ini diperkuat dengan fakta bahwa ada tanaman yang mampu memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan tembakau.

Kompas (1/2/13) menyatakan bahwa beberapa komoditas seperti bawang merah, melon dan cabe merah lebih menguntungkan daripada tembakau pada ketinggian 0-900 mdpl (dataran rendah dan menengah). Sementara itu untuk dataran tinggi (ketinggian di atas 900 mdpl) tanaman kentang lebih menguntungkan dibanding tembakau. Namun demikian, alih jenis tanaman di daerah penghasil tembakau tidak mungkin dapat dilakukan seperti membalik telapak tangan, seperti halnya tidak mungkin untuk meniadakan produksi tembakau dan menghilangkan rokok dalam satu malam.

Proses transisi mutlak perlu dilakukan. Selain dari sisi petani dan produsen rokok, konsumen juga perlu diberi pencerdasan mengenai bahaya merokok. Kabarnya dalam beberapa kurun waktu ke depan, Indonesia akan mencontoh apa yang dilakukan oleh Thailand, yakni melampirkan foto-foto penyakit akibat merokok di setiap bungkus rokok. Gambar-gambar ini akan membuat para pembeli rokok berpikir kembali untuk membeli.
contoh kemasan rokok di Thailand
Akhir kata, masalah rokok dan tembakau di Indonesia sudah seperti benang kusut. Perlu kesabaran dalam mengurai satu persatu jalinan permasalahan yang ada dengan kontinu. Sekusut-kusutnya benang pasti ada cara untuk mengurainya kembali. Masalahnya adalah, apakah kita punya cukup kemauan, kesabaran, nyali dan keberanian dalam proses mengurainya? 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)