Progress Pembangunan 'Pabrik Roti'

Hari ini, 22 Januari 2013, saya bolak-balik Bogor-Jakarta buat ketemu sama temen-temen kontingen IPB di gedung sementara STIKES Binawan buat persiapan Campus Goes To School 26 Januari besok. Saya bela-belain berangkat pagi dari Bogor dan balik lagi ke Bogor jam 2 siang karena ada persiapan penyambutan BEM Fakultas Teknologi Pertanian UGM yang studi banding ke Fateta IPB keesokan harinya *tuh kurang cinta apa

Karena merasa sayang jauh-jauh ke Jakarta cuma buat ke Binawan doang, akhirnya saya beserta beberapa alumni lain main ke gedung baru. FYI rencananya gedung baru bakal memiliki 4 lantai.


tampak depan dari arah Menara Cawang
progress pembangunan lantai 1
ini lapangan di dalam gedung baru, orientasi arah gedungnya terbalik dengan gedung lama
keliahatan semakin megah :D fufufu
dari lantai tertinggi gedung baru, alumni 14 pasti belum pernah merasakan view setinggi ini dari sekolah

view ke arah tongkrongan paling gaul sedunia, Pusat Grosir  Cililitan!
nasib gedung Science Center dan ruang SAS, hayo yang pernah ngantri disini ngambil LKS cung!
nasib Al-Huda tercinta
ini nasib toilet akhwat, hina banget
lobi masjid Al-Huda, tongkrongan tempat anak-anak gaul 
kondisi dalam Masjid lantai 1, horor banget itu ada tempat tidur UKSnya -___-
kondisi tempat wudhu sekarang, kerannya dilucuti
barang-barang dari negeri antah-berantah juga ditampung di lobi masjid
tempat nongkrong cowo-cowo ganteng, kondisinya sudah mengenaskan
view dari arah masjid ke pintu keluar yang lama
pernah ada objek yang jadi saksi banyak sejarah penting di lokasi ini, bangku merah

POSTED IN
DISCUSSION 3 Comments

Cerita di Balik Banjir Jakarta

Rumah saya memang bukan di Jakarta. KTP saya juga KTP Jawa Barat. Tapi saya telah menghabiskan mayoritas masa sekolah saya di Ibu Kota. Mulai dari akhir SD hingga lulus SMA . Inilah yang membuat hati saya tertambat pada Jakarta. Meskipun saya tidak benar-benar cinta dengan kota ini (macet, kriminalitas dan hal memuakkan lainnya), tapi saya harus mengakui ada banyak sekali serpihan diri saya yang tertinggal di sana, tercecer di pinggiran, di timur Jakarta.

Termasuk memori tentang fenomena banjir. Terutama pada tahun 2002 dan 2007 yang memang tercatat sebagai banjir terburuk dalam sejarah Ibu Kota.

11 tahun yang lalu, awal tahun 2002
Saya masih kelas 3 SD. Sebenarnya semenjak saya kelas 1 SD banjir di lingkungan rumah saya bukanlah hal yang aneh. Got yang dangkal dan jalan yang rendah membuat jalanan depan rumah saya menjadi kolam besar ketika hujan, bahkan ketika jalan tetangga tidak tergenang. Sudah menjadi agenda rutin tahunan bahwa saya dan teman-teman lain harus berangkat dan pulang sekolah sambil menenteng sepatu di tangan kanan dan kiri. Namanya juga masih kecil, saya sih senang-senang saja main banjir-banjiran.

Tapi banjir di tahun 2002, benar-benar parah. Hujan terjadi seharian penuh dari sore hingga pagi lagi. Malam hari kami sekeluarga memutuskan untuk tidur di lantai 2 karena lantai 1 sudah tergenang. Esok subuh, saya melihat pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Lantai 1 tergenang hingga lutut, sofa dan bangku di ruang tamu basah kuyup, lemari di ruang keluarga juga terendam, banyak sekali barang-barang yang mengambang di air.

Agak siangan setelah air selesai dikeluarkan dari rumah, pertama kali saya melihat jejak keganasan banjir di depan mata saya sendiri. Lumpurnya tebal, dan ada jejak binatang melata di sepanjang ruangan. Kemungkinan ada ular masuk malam harinya. Barang-barang yang lain basah kuyup dan rumah beraroma apek. Untungnya alat-alat listrik dan elektronik beberapa sudah diselamatkan ke lantai 2.

Rumah tetangga saya bahkan ada yang bernasib lebih parah karena lantai rumah mereka yang lebih rendah. Setelah rumah saya selesai dengan beberes sisa banjir, TV menyiarkan kejadian yang sama, terjadi di hampir seluruh wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Tercatat, tahun 2002 merupakan salah satu banjir terburuk dalam sejarah Ibu Kota. 

Bagi Anda yang juga pernah merasakan banjir 2002, saya ucapkan selamat. Karena Anda telah merasakan salah satu bagian sejarah banjir yang paling terkenang di Jakarta.milkysmile

Kejadian yang hampir sama (bahkan disebut-sebut lebih buruk daripada 2002) terjadi 5 tahun kemudian, di tahun 2007.

7-6 tahun yang lalu, 2006 dan Februari 2007
Sebenarnya sekolah saya, SMP Negeri 49 Jakarta memang menjadi sekolah langganan banjir. Sekolah saya sendiri terdiri atas 2 gedung utama, gedung A dan gedung B. Gedung B terletak pada ketinggian yang jauh lebih rendah dibandingkan jalan utama, dan memang sudah menjadi langganan banjir semenjak bertahun-tahun gedung itu didirikan. Jika kali di pertigaan Hek meluap, luapannya akan mengalir deras ke gedung B. Hasilnya gedung B dan jalan menuju kesana menjadi kolam besar. 

Hidup di 49 berarti hidup berdampingan dengan banjir. Memori saya tentang banjir di SMP terjadi semenjak tahun 2005-2006, tahun pertama saya di 49. Di tahun 2006, pertama kalinya saya merasakan tidak bisa sekolah karena akses jalan menuju Kramat Jati terputus total. Jalan Raya Pondok Gede, yang menjadi akses utama dari arah Pondok Gede menuju Lubang Buaya, Kramat Jati dan Taman Mini lumpuh karena Kali Sunter yang meluap. Luapannya sangat tinggi dan tidak ada kendaraan yang bisa melaluinya. Seingat saya, waktu itu bahkan ada yang menyewakan rakit dan perahu karet untuk menyeberang. 

Di tahun 2006 juga, terjadi bencana hebat di kawasan Kramat Jati. Angin kencang bertiup hingga merubuhkan pohon depan sekolah dan melumpuhkan Jalan Raya Bogor! Siapapun tahu bahwa jalan ini adalah salah satu jalanan paling sibuk di timur Jakarta. Lalu lintas kacau balau, apalagi kejadian tersebut terjadi sore hari, pas jam pulang kerja. Chaos. 

Selain itu mangkuk dan gelas di kantin sekolah beterbangan kemana-mana (ini beneran), dan kelas saya di lantai 4 porak poranda. Kaca jendela pecah, foto presiden dan wapres juga pecah berserakan. Kami dievakuasi di kelas laboratorium bahasa selama beberapa hari.

Februari 2007 adalah pertama kalinya (dan yang terakhir) saya mendapatkan libur RESMI dari sekolah karena bencana banjir. Gedung B, yang diisi oleh kelas 9, porak poranda dihantam banjir, sehingga kegiatan KBM kelas 9 dipindahkan ke gedung A, yang harusnya diisi oleh kami, kelas 8. Karena menjelang UAN, kelas 9 diprioritaskan, dan kami diliburkan kurang lebih 3 hari.

Banjir di tahun 2007, buat saya pribadi hampir sama dengan banjir 2002. Banjir masuk ke dalam rumah, dan warga komplek kami terjebak. Listrik juga sangat bermasalah di tahun 2007. Power supply di PC rumah saya sampai rusak karena listrik mati mendadak berulang kali selama beberapa hari.

Hari ini, Januari 2013
Saya terpaksa masih harus berada di Bogor karena beberapa alasan, dan belum merasakan bagaimana banjir di Jakarta saat ini. Tadi pagi saya telepon Ibu di rumah dan katanya di lingkungan rumah alhamdulillah tidak banjir.

Sampai saat ini saya hanya memantau berita terbaru banjir Ibu Kota via portal berita dan lini massa beberapa akun di Twitter. Berikut beberapa foto banjir Jakarta saat ini :
Situasi lalu lintas di sekitar Bundaran hotel Indonesia, Jakarta yang penuh dengan genangan banjir dan sejumlah kendaraan yang mengalami kemacetan. Foto Annisianti Septiani untuk Tempo
Kondisi lalu lintas di sekitar bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, (17/1) yang penuh dengan genangan banjir sehingga menyebabkan kemacetan yang cukup panjang. Foto Ichwan Hanuranto Untuk Tempo
Seorang bapak bersama anaknya melewati banjir di derah Pulomas, Jakarta, Selasa (15/1). Banjir disebabkan buruknya drainase sehingga tidak dapat menampung air yang turun sejak Selasa dinihari. TEMPO/Tony Hartawan
Warga melintasi banjir di perumahan Pondok Gede Permai, Jatiasih, Bekasi, (18/1). Banjir diakibatkan jebolnya tanggul dan meluapnya kali Cikeas dan Cileungsi. Tempo/Rully Kesuma

Seperti kata-kata dalam post saya sebelumnya, banjir Jakarta bukanlah kesalahan satu pihak saja. Semangat Pak Gubernur membenahi banjir Jakarta! :D
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menunjukan wajah yang murung saat meninjau lokasi tanggul jebol di kawasan Latuharhary, Jakarta, Jumat (18/1)3. Sulitnya medan dan hujan yang terus mengguyur menyulitkan proses perbaikan tanggul yang juga menggerus tanah di bawah rel kereta api tersebut. TEMPO/Subekti

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Hanyutnya Harapan di Ibu Kota

Kompas, Rabu, 16 Januari 2013

JAKARTA, KOMPAS - DKI Jakarta sebagai ibu kota negara tidak memberi harapan. Jakarta sangat rentan terhadap banjir setiap kali terjadi hujan deras, tingginya pasang, dan banjir kiriman dari Puncak, Bogor, Jawa Barat. Pemerintah pusat tidak bisa membiarkan kondisi ini terus terjadi menahun.

Hasil pemantauan Kompas, Selasa (15/1) pagi hingga malam, jutaan warga dari DKI Jakarta, Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi kesulitan beraktivitas di ibukota karena banyak jalan dilanda banjir. Sedemikian menjengkelkannya, suasana Ibu Kota kemarin benar-benar tidak memberi harapan. 

Saya merasa sangat tergelitik dengan headline Kompas di atas. Jakarta merupakan pusat segala-galanya di Indonesia. Pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian negara. Banyak orang, di pulau-pulau lain menganggap tanah Jawa dan Ibu Kota Jakarta adalah tanah harapan mereka.

Kompas, dengan headline di atas, ingin mengatakan bahwa saat banjir seperti ini, Ibu Kota yang adidaya di Indonesia, pusat segala-galanya, ternyata takluk, kalah telak dari banjir. Bukan berarti saya membenci kerja Pak Jokowi, karena memang beliau baru memimpin Jakarta dalam beberapa bulan. Banjir bukan kesalahan salah satu pihak saja. Ia adalah hasil dari kesalahan yang kolektif dan sembarang. Buah kegagalan berteman dengan alam.

Dan buah ini, telah menghanyutkan harapan warga Ibu Kota.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)