Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa

Judul : David and Goliath : Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa
Penulis : Malcolm Gladwell
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jenis Buku : Non-Fiksi
Tebal Buku : 300 halaman

Nama Daud dan Goliat mewakili pertarungan antara si lemah dan raksasa. Kemenangan Daud tak terduga dan ajaib. Seharusnya dia tidak menang. Benarkah demikian?

Gladwell menantang cara kita berpikir tentang rintangan dan kelemahan, arti diskriminasi, menghadapi cacat, kehilangan orangtua, masuk sekolah jelek, atau menderita berbagai kerugian.

Buku ini membahas keunggulan pengidap disleksia, cara pikir unik peneliti kanker dan pemimpin pergerakan hak sipil, mahalnya balas dengam, serta dinamika kelas sekolah yang sukses dan yang tidak -menunjukkan betapa banyak hal indah dan penting di dunia yang berasal dari apa yang disebut sebagai penderitaan dan kesukaran.

Mengikuti jejeak buku-buku laris Gladwell sebelumnya - The Tipping Point, Blink, Outliers, dan What the Dog Saw - buku ini merangkum sejarah, psikologi, dan kisah-kisah menarik untuk mengubah cara pikir kita tentang dunia.

Ini adalah buku ketiga Gladwell yang pernah saya baca setelah The Tipping Point dan What the Dog Saw. Bagi saya pribadi, dua buku tersebut menawarkan cara unik dalam memahami dunia kita. Bisa-bisanya Gladwell memadukan antara penelitian psikologi, hasil-hasil riset dari para ahli dunia dengan cerita-cerita sarat hikmah yang berkaitan dengan tema. Lalu soal tema, bisa-bisanya Gladwell mengangkat tema yang selama ini kita anggap agak 'remeh', tetapi nyata tidak seremeh yang kita kira, seperti kajian tentang saus tomat dalam What the Dog Saw. 

Kisah-kisah dalam David and Goliath lagi-lagi mengusik, membahas fenomena underdog dalam pertarungan-pertarungan yang tidak seimbang. Si kuat melawan si lemah, dimenangkan oleh si lemah. Pertarungan yang selama ini kita anggap sebagai sebuah keajaiban. Gladwell tidak sepakat bahwa semua itu adalah keajaiban. Underdog memang layak untuk menang, asalkan memenuhi beberapa persyaratan. 

Tidak hanya melulu membahas underdog, Gladwell juga mengatakan bahwa hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai sebuah kelebihan ternyata di sisi lain adalah sebuah relung kelemahan yang amat besar. Di lain pihak, sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai sebuah kelemahan ternyata membawa dampak positif besar. Gladwell membolak-balik persepsi kita tentang kelebihan dan kekurangan. 

Saya akan meresume beberapa kisah-kisah dan kajian penting dalam buku ini di  posting berikutnya, segera setelah saya bisa menerapkan sistem spoiler dalam blog ini. Takut nanti jika saya post terang-terangan, ada yang merasa dirugikan karena pengen beli tapi sudah tahu duluan isi bukunya kayak gimana.

Ending statement, buku ini adalah gizi yang sangat baik, sangat disarankan dibeli untuk bahan pengayaan ketika liburan awal semester besok! :D

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Dari Dapur @payungmama : The Team!

Ini sebenarnya posting yang sangat sangat telat. Saya merasa tidak adil ketika membagikan semua ide, semua kejadian yang terjadi selama tim @payungmama bekerja tapi tidak pernah memberitahu siapa saja orang-orang yang ada di balik segala keanehan @payungmama. Saya berhutang banyak pada entitas ini, karena ada banyak sekali pelajaran dari masa kampanye yang begitu singkat. 

Hampir dari semua nama yang saya sebutkan melanjutkan kontribusi di BEM Fateta 2014. Ada Rhefa, Salman, Uci, dan Devi yang memilih untuk melanjutkan karir organisasi di tempat lain, entah di himpunan atau organisasi lainnya.

Dan inilah mereka, tim inti kampanye @payungmama 2013! :)

Muhammad Salman Al-Farisi (TIN 48), salah satu dedengkot desain yang melahirkan bentuk 'payung' :))
Devi Matudiliva Yusuf (SIL 48), ide nama 'payungmama' bermulai darinya, ga kontrol abis
Anugrah Susilowati (SIL 48), mbak-mbak perwakilan SIL lain selain Devi
Zein Fadhlurrahman (ITP 49)
Haekal Rasyid (ITP 49)
Andita Dwi Sefiani (SIL 49)
Amalia Khoirun Nisa (ITP 48), ibu-ibu galak yang perkasa, jadi ketua tim @payungmama :E
Andhika Prasetyo (ITP 48)
Nur Angel Mut'iah (TIN 49)
Rhefa Dahtiar -kiri- (SIL 48) ketua divisi kampanye pusat @payungmama
Jamhari Abidin (TMB 48), ini sih bukan TS -___-
M. Irham Raenaldi (TIN 48) ketua divisi visual @payungmama, balihonya dia yang bikin looh
Alfakhri Salas (TIN 48)
M. Sophia Ramdhan (TMB 48) yang beli payung warna-warni yang keren abis, bela-belain ke stasiun Bogor cuma buat beli payung -yang akhirnya ilang- salut!
Bareng-bareng sama mereka kampanye nyeleneh ini bermula. Bersyukur banget kenal mereka yang mau ikutan padahal waktu kemarin masih masuk masa-masa UTS :')

Epilog
Buat yang mau tau hasil dari Pemira Fateta gimana, ini ada screenshot dari Pineapple Softhouse, rumah produksi yang bikin software F-Vote buat Pemira Fateta kemarin (punyanya M. Raja Ihsan, kawan belajar jadi papa yang baik)
hasil Pemira Fateta 2013 :')
Menang 91.2%. Hasilnya cukup telak dan menembus target awal yang >90%

Yah namanya juga usaha lebih, yakin lah Allah pasti memberikan hasil yang 'lebih' juga :')

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Dari Dapur @payungmama : Mencari Ide Brilian Melawan Kenihilan

"The best ideas come as jokes. Make your thinking as funny as possible" 
- David M. Ogilvy

Berangkat dari kesulitan yang kami hadapi karena Pemira berlangsung dengan calon tunggal [selengkapnya di post ini], maka kami harus meramu sesuatu yang baru. Sesuatu yang melekat sampai atmosfer Pemira ini bisa hidup walau hanya dengan calon tunggal. Kami harus serius. Kampanye ini tidak main-main dan harus digarap dengan serius.

Kami harus meramu dan menemukan ide kampanye yang cerdas dan brilian untuk melawan sesuatu yang tidak ada. Melawan kenihilan dan penolakan. Melawan kata 'TIDAK'.

Di awal kumpul bareng tim sukses, terlebih dahulu kami mengkaji beberapa materi dari buku Malcolm Gladwell, The Tipping Point. Untuk pembekalan dan penyamaan suhu. Dalam buku tersebut, Gladwell menjelaskan mengenai tiga kaidah epidemi sosial, antara lain The Law of The Few, Stickiness Factor, dan terakhir The Power of Context. Kaidah ini memudahkan terjadinya kondisi tipping, atau fenomena dimana gagasan cepat tersebar. [resume The Tipping Point] 
salah satu recommended book, harus baca!
Ada dua bab yang jadi perhatian utama dan relevan dalam kampanye kami, yakni Stickiness Factor dan The Power of Context.

The Stickiness Factor is a law about the actual informational content and packaging of a message. Connections and the personal character of the people trying to spread a message can certainly help it spread, but if the message is not worth spreading, then it is doomed to failure. The stickiness factor says that messages must have a certain character which causes them to remain active in the recipients' minds. Moreover, they must be deemed worthy of being passed on. [more about Stickiness Factor

The law of context is a rule about the environment in which a message spreads. Small changes in the context of a message can determine whether or not it tips. Thus, these social epidemics can fail if the geographic location where they are introduced is wrong or if the current mental state of the population is not prepared for the message. [ more about The Law of Context
grafik ilustrasi fenomena Tipping Point
Kami yakin, dengan pemahaman kampanye menggunakan teori-teori sosial yang sederhana akan mengantarkan kami pada hasil yang lebih baik.
~~~
Salah satu agenda besar rapat perdana tim sukses adalah mencari 'sesuatu'. 'Sesuatu' ini bisa berupa apapun, entah hewan, benda, atau wujud fisik lainnya. Fungsi si 'sesuatu' ini adalah sebagai kristalisasi dari visi misi yang kami tawarkan. Kami berharap si 'sesuatu' ini bisa jadi 'ledakan awal' supaya pesan atau ide yang kami sampaikan menjadi sticky. Sebelum kita lanjut ke ide publikasi dan kampanye, izinkan saya untuk memperkenalkan visi dan misi yang saya dan Jamhari bawa :
Visi
“Mewujudkan BEM Fateta 2014 yang melayani lebih, bermakna dan penuh manfaat bagi seluruh civitas Fateta”

Misi*
1. Menumbuhkan kepercayaan dan hubungan sinergis bersama lembaga dan komunitas di Fateta IPB demi terwujudnya harmonisasi dan kesolidan Fateta
2. Membangun BEM Fateta sebagai rumah sederhana dan nyaman untuk menempa diri, menyalurkan passion dan berkreasi bagi mahasiswa Fateta
3. Mengoptimalkan secara konsisten sarana informasi dan pelayanan kesejahteraan mahasiswa Fateta
4. Peduli dan proaktif menjalankan pergerakan kreatif dan berkelanjutan yang menyentuh seluruh civitas Fateta
5. Tulus dalam mengabdi secara nyata kepada masyarakat berbasiskan spirit berkontribusi dan intelektualitas
*warna-warna ini ada artinya, lihat nanti di bagian bawah :P
Di bagian visi, ada 3 concern utama kami, yakni melayani lebih, bermakna, dan penuh manfaat. Kami harus mencari 'sesuatu' ini sebagai bentuk kristalisasi tiga hal tersebut. Kristalisasi ini yang akan selalu kita bawa dalam semua bentuk publikasi atau kampanye terbuka. 

Di rapat, pembahasan ini berlangsung rada ngaco. Bukan ngaco sih sebenarnya, hanya terlalu kreatif. Ada yang usul paperclip, ulat dll. Yaa kalo disambung-sambungin sih sebenarnya masuk akal dan masuk tema, cuma kayaknya rada kurang 'lengket' gimana gitu.
epic juga sih sebenernya, dan idenya paperclip kayak gini bakal dibikin 'bentuk' tertentu, sayang agak kurang sreg
*uget uget
Hingga pada akhirnya, lahir benda yang mengawali semua gerakan kami. Payung
payung, merangkum seluruh inti visi kami :)
Kami menganggap payung adalah benda yang bisa merangkum tiga unsur visi kami. Melayani lebih, bermakna, dan penuh manfaat. Kami juga menganggap bahwa payung adalah benda yang sangat dekat, apalagi di Bogor yang julukannya Kota Hujan. Tambah lagi ketika kampanye kemarin hujan lumayan sering turun. Kami yakin payung bisa menambah ke'lengket'an pesan yang kami bawa. Fix.
~~~
Ada tiga acuan 'kemasan' yang kami sepakati dalam kampanye ini. Yang pertama kampanye harus 'dekat' dan sederhana. Dom Cobb (Di Caprio) di film Inception juga melakukan hal yang sama ketika melakukan inception, untuk menanamkan 'sesuatu' di pikiran harus dimulai dengan ide yang paling sederhana. Yang kedua adalah penuh warna, supaya enak dipandang dan tidak membosankan. Yang terakhir, kami sepakat untuk tidak menjual sosok. Kami percaya mahasiswa Fateta adalah mahasiswa yang cerdas, yang mementingkan ide daripada tampang. 

Lagipula saya dan Jamhari kan enggak ganteng-ganteng amat, apa yang mau dijual?

Setelah si 'payung' lahir, kami membutuhkan satu hal lagi sebagai 'bungkus' terakhir. Bungkus yang membuat si payung ini menjadi benda yang lebih 'hidup'. Semacam 'nama'. Setelah perdebatan sengit akhirnya lahir nama 'payung mama'.

Kata 'mama' dalam 'payungmama' adalah akronim dari melayani lebih, bermakna dan penuh manfaat. Maksa? Ya iyalah :P 'Mama' juga bisa berarti Delmar dan Jamhari. Maksa (lagi)? Ya emang iya, yang penting asik aja didengernya :P
salah satu publikasi awal @payungmama
Kalau dicermati, ada 5 payung warna-warni dalam poster di atas. Ini bermula dari rasa enggan kami membaca misi calon ketua BEM yang entah kenapa selalu banyak, panjang lebar dan sulit diingat. Bagi kami, menempelkan misi yang sepanjang itu di dalam media publikasi adalah sangat tidak efektif. Kami akhirnya melambangkan 5 misi tersebut dalam bentuk payung warna-warni, dan dikristalkan dengan satu kata kunci di setiap poin misi. Ada percaya, tulus, sederhana, konsisten dan peduli.

Coba dilihat lagi di bagian 'misi' di atas, lalu cocokkan warna dengan kata kuncinya :)
baliho 3x4 m, ada unsur payung warna-warninya juga :)
Kami sengaja membuat ini agar pesan tentang 'misi' menjadi mudah diingat karena dikristalkan dengan bentuk dan warna yang khas.

Kami bahkan sengaja membeli payung dengan kelima warna yang serupa lengkap dengan atribut kata-kata di sampingnya untuk disebar di lingkungan Fateta. Jadi semacam seni instalasi gitu. Payungnya kami lakban supaya tidak hilang Supaya kampanyenya lebih 'happening'! :D Ini adalah contoh beberapa  payung yang kami pasang :

warna oranye, Percaya, ada di tengah sapta
warna ungu, Peduli, ada di tengah koridor fateta
warna hijau, Sederhana, ada di tengah sapta juga, di samping payung oranye
Masih ada lagi warna merah dan biru untuk poin konsisten dan peduli, sayang tempatnya di Node Sapta yang gelap jadi jelek difoto.

Minggu malam kami pasang seluruh atribut ini. Plus lakban dan tulisan permohonan agar payung ini tidak diambil atau dipindahkan. Prasangka kami terlalu baik. Kami terlalu polos, dunia terlalu kejam. Senin paginya sang payung ungu sudah lenyap diambil orang. Senin sore, ketika kami baru kelar kuliah dan ingin menyelamatkan sisa payung, giliran payung biru dan merah yang hilang. Hanya tersisa hijau dan oranye.

Besoknya, sisa payung tidak lagi kami tampilkan untuk kampanye. Takut.
~~~
Kami bikin akun twitter @payungmama untuk kanal publikasi alternatif. Akun twitternya sudah dihapus sekarang. Tapi ada sesuatu yang lucu tentang akun ini. Salah satu anggota tim memutuskan untuk mengganti akun twitternya sendiri menjadi @payungpapa

Dan mereka sering saling tweet mesra. 

Rada konyol memang, tapi jadi seru. Orang-orang mulai bertanya-tanya siapa orang di balik @payungpapa, yang ujung-ujungnya akan makin melengketkan citra kami via jagat twitter. Memang benar seperti quotes di awal post ini, ide terbaik lahir dari jokes :D Great jokes team!

Selain itu, benda lain yang kami gunakan adalah coklat payung. Ini jajanan jaman jebot yang jadi sesuai sama tema yang kami bawa. Coklat ini jadi amunisi jitu untuk kampanye kelas, dibagikan buat yang bertanya. Lumayan menambah antusiasme berhubung jajanan kayak gini sudah sulit dicari :D
cap ninja hattori, nyarinya susah nih, sampe Depok .____.
Memang perlu usaha yang jauh lebih keras untuk melawan kenihilan. Jauh lebih keras dibanding melawan 'lawan'.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Dari Dapur @payungmama : Awal Cerita

Akhir tahun di beberapa kampus itu identik dengan musimnya Pemira. Musimnya cari pemimpin baru buat regenerasi lembaga. Entah di tingkat KM, fakultas, atau bahkan himpunan dan unit. Semuanya sibuk cari sosok. Kalau di tingkat KM IPB tahun lalu bahkan sampai rusuh. Lama sekali prosesnya tahun lalu. Gontok-gontokan hanya karena (merasa) beda paham. Padahal toh kalau memang niatnya baik kan tidak perlu ada yang diributkan. Duh jadi curhat.

Di Fateta, Pemira selalu menjadi hal yang unik. Unik karena… sepi. Asing.

Bukan karena kehidupan kemahasiswaan di Fateta yang gersang. BEMnya cukup hidup dan himpunannya kece badai. Tapi, entahlah saya juga tidak paham -___- Pemira Eksekutif (BEM) di Fateta sering sekali berakhir dengan calon tunggal. Termasuk tahun ini. Calonnya tunggal, saya sebagai calon ketua dan teman saya –yang ternyata alumni 20 BR, SMP seberang SMP saya yang ber’musuh’an- Jamhari Abidin sebagai calon wakil ketuanya.

Sesungguhnya kami bukan satu-satunya pasangan calon yang mendaftarkan diri. Ada satu lagi, sepasang mahasiswa tingkat 2 yang berani-beraninya mencalonkan diri. Edan. Mereka adalah Ruziqo dan Alfandias. Mereka punya nyali. Sayang, karena waktu yang tersisa tinggal sedikit, mereka gagal melengkapi semua berkas dan gagal lolos verifikasi. Padahal kami sudah senang kalau mereka jadi juga, kan bagus kalau ada musuhnya.

Info sedikit, jika Pemira calonnya tunggal maka pilihannya hanya 2, yakni ‘YA’ atau ‘TIDAK’, dan baru akan menang jika yang memilih ‘YA’ berjumlah 60%+1 dari total suara yang masuk. Menjadi calon tunggal sangat menyedihkan karena ‘musuh’ saya adalah kata ‘TIDAK’. Lawan saya adalah kata penolakan. Sakit rasanya jika bila kalah karena penolakan. Bahkan rasanya ada yang menolak dan memilih ‘TIDAK’ saja rasanya juga sakit. Bayangkan, si ‘TIDAK’ tidak pernah kampanye dan ada orang yang memilih dia! -___-

Saya, Jamhari, dan beberapa teman-teman 48 lain bahkan membantu Iqo dan Alfan melengkapi berkas mereka. Sayang itu tidak merubah kenyataan bahwa tahun ini Pemira Fateta harus calon tunggal (lagi).

~~~
Keadaan calon tunggal sesungguhnya menyusahkan. Atmosfer Pemira jadi hambar. Tugas berat bagi kami adalah bagaimana caranya menjadi calon tunggal yang ‘menghidupkan’ suasana Pemira. Di beberapa fakultas lain yang ada pesaingnya atmosfer ini akan terbentuk dengan sendirinya. Namun tidak demikian jika calonnya tunggal.

Selanjutnya, kita harus memastikan bahwa kepemimpinan tahun depan harus dilandasi dengan rasa percaya terhadap pemimpinnya sendiri. Kami menargetkan lebih dari 90% dari jumlah suara yang masuk memilih ‘YA’. Kami tidak ingin ‘naik’ dengan presentase ‘TIDAK’ di atas 10% Bayangkan, apa jadinya kalau nanti beneran ‘jadi’, tapi sebenarnya lebih dari 10% massa fakultas tidak menginginkan keberadaan saya dan Jamhari di posisi tersebut.

Jika direview, misi kami ada dua. Pertama untuk memastikan atmosfer Pemira tetap berjalan seru walaupun dalam kondisi calon tunggal, dan kedua, target suara di atas 90% total suara yang masuk memilih ‘YA’.

Kami harus kampanye dengan cara yang ‘berbeda’, dengan orang-orang yang mau diajak ‘berbeda’. Saya dan Jamhari merekrut beberapa superstar yang cukup berpengaruh untuk menjalankan misi berat ini.

Ngomong-ngomong, jika ditanya kenapa saya mau-maunya menyalonkan diri, alasannya sungguh sederhana. Saya dan beberapa teman yang lain sudah menganggap BEM ini sebagai ‘rumah’. Saya sayang setengah mati dengan ‘rumah’ ini dan saya tahu ada banyak orang, teman-teman saya sendiri, yang juga memiliki rasa sayang yang sama. Saya cuma ingin memberikan yang terbaik. Saya percaya bahwa kontribusi tidak harus dari posisi tertentu, tapi saya juga sadar bahwa semakin strategis posisi yang kita tempati maka semakin besar pengaruh yang bisa dicapai.


Lagipula kan seru kalau punya ladang amal baru :)

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

TPA Galuga


"Disini mah mas, makanan boleh mungut aja pada dimakan."

Kemarin, saya dan teman-teman di TIN 48 berangkat ke TPA Galuga, kunjungan untuk mata kuliah Teknologi Pengendalian Pencemaran Industri. Alih-alih belajar tentang lingkungan, kami malah belajar banyak tentang kehidupan.






Kehidupan di sini keras. Terlalu keras bagi saya dan teman-teman TIN yang lain. Ga kebayang ketika salah satu bapak yang ada di sana bilang kalau dia sudah bekerja selama 20 tahun.

"Ngeliat kayak gini, masa kuliah cupu banget. Lemah banget gue kalo kuliah aja banyak ngeluhnya."
-Imam Muharram Alitu

Hidup keras.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Gantian, Giliran Kita

siklus, kodrat, dan akan terus berulang :')
Saat pulang terakhir saya melontarkan wacana tentang praktik lapang yang akan berlangsung semester depan ke Bapak dan Ibu di rumah. Praktik lapang di Fateta mewajibkan mahasiswanya magang di perusahaan/lembaga penelitian selama 40 hari kerja. Lazimnya di TIN hampir 100% PL di industri, cuma segelintir aja yang di dinas atau lembaga penelitian.

Beberapa tahun terakhir momen PL selalu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tahun kemarin angkatan 2010 juga demikian.

Saya melontarkan wacana untuk PL di provinsi lain, atau bahkan pulau lain. Ingin mencari pengalaman baru, niat saya.

Saya (S) : "Pak, semester depan PL boleh di tempat jauh ga?"
Bapak (B) : "Tempat jauh? Maksudnya?"
S : "Ya yang jauh, di luar Jakarta. Atau bahkan di luar Jawa"
B : "Kapan sih kamu PL?"
S : "Semester depan pak, papasan sama bulan puasa"
B : "Ga usah deh dek, kamu cari yang di deket rumah aja. Kan di Cikarang banyak, bahkan di Ciracas, Pasar Rebo juga ada Frisian Flag, Indomilk, Nutricia......"

Saya tidak perlu menanyakan lebih dalam alasannya karena apa. Saya manut, kalau memang Bapak ridhonya seperti itu :)
~~~

Menjadi bungsu dengan beda usia 15 tahun dari kakak yang paling muda membuat saya harus sadar diri. Anak terakhir, sementara kakak-kakaknya yang lain sudah punya anak, sudah punya kesibukan sendiri, dan yang paling utama sudah tidak tinggal serumah dengan Bapak dan Ibu.

Rasa sadar ini juga yang membuat saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di IPB. Karena adanya mereka, saya jadi merasa harus kuliah di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya tinggal UI atau IPB. Berhubung preferensi jurusan saya di UI tidak ada yang 'sreg' betul, bertualanglah saya ke Bogor. Dalam hati padahal ingin juga sekolah yang jauh, biar berasa benar aroma merantaunya.

Bapak dan Ibu sudah tidak muda, cucu mereka sudah tiga. Sudah tidak selincah dulu. Dalam hal apapun saya tidak bisa merajuk. Kalau izin saya ditolak, ya sudah. Kalau kata Raditya Dika, kan kemungkinan besar mereka yang akan pergi mendahului kita duluan, jadi selama mereka masih ada kenapa kita tidak berusaha membahagiakan mereka. Yaa paling tidak dengan berusaha tetap berada tidak jauh dari mereka.

Bahasa kerennya, menunda sebentar sebagian mimpi kita untuk memberikan sepotong kebahagiaan buat mereka.

Gantian lah, masa iya sih mereka yang terus-terusan berkorban buat kita :)

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Masa Kecil (Lagi)

Jadi kemarin ceritanya si Ibu menemukan beberapa foto berbingkai saya ketika masih kecil. Masih bayi. Dilihat dari manapun, sepertinya bayi saya jauh lebih lovable dan menyenangkan untuk dicubit dibandingkan yang sekarang :3

belum ada giginya :3
polos banget haha
Ingat loh, foto masa kecil adalah salah satu harta yang tidak ternilai. Wajib disimpan. Yaah paling tidak kalau nanti sudah punya anak, bisa bilang sama mereka, "Ini loh papah waktu masih kecil, mirip banget ya lucunya sama kamu. Sisanya sih mirip mamah kamu." #eeaa

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Kenangan 3 Tahun dari Printscreen Desktop

printscreen laptop saya, 3 tahun yang lalu :)
19 Oktober 2010

Masih duduk di bangku SMA, baru dua bulan setelah serah terima jabatan ketua OSIS dan sudah ambil ancang-ancang untuk rentetan ujian perguruan tinggi. Seminggu dua kali ikut bimbel NF, hampir setiap minggu ikut try out. Try out apapun, pokoknya mengerjakan soal. Mulai dari try out STAN sampai SIMAK UI semuanya ikut, asal tempatnya masih bisa dijangkau. Padahal niat masuk pun tidak. Cuma karena senang mengerjakan latihan soal. Di sekolah kegiatan juga mulai melunak. Yang lain juga sudah pasang ancang-ancang tinggi untuk SNMPTN. Atmosfer kelas XII, khas banget.

Desktop Agus (nama laptop saya) penuh dengan elemen Rainmeter, terpengaruh forum Desktopmodding di Kaskus. Isinya penuh sama (lagi-lagi) jadwal ujian dan try out. Si laptop baru berumur satu tahun lebih sedikit. Windows 7 sudah keluar, tapi enggan pindah OS, terlanjur cinta dengan Windows XP. Hampir setiap minggu cari utility baru buat laptop, cari di forum CCPB Kaskus. Download game, software dan lain-lain buat modifikasi. Ujung-ujungnya berakhir dengan laptop berperforma lemot.

3 tahun kemudian...

printscreen laptop saya hari ini~~
19 Oktober 2013

Sudah semester 5 di TIN. Masih bingung mau ambil stream apa. Sudah harus siap-siap PL di tengah tahun depan. Banyak kegiatan sampingan selain kuliah, mulai dari jualan, mainan di BEM, sampai iseng ikut lomba sana-sini. Selebihnya rasanya tidak jauh berbeda, tetap dengan sosok dan kepribadian yang sama seperti 3 tahun yang lalu :)

Desktop berantakan. Rainmeter sudah tidak ada, diganti Rainlendar yang lebih ramah memori. Beragam file tugas bertebaran di desktop. Lampiran laporan, kerjaan di BEM, konten tugas dan lain-lain. Windows 8 sudah lama keluar, tapi ternyata tak kunjung pindah dari Windows XP. Si Agus masih bertahan sampai sekarang :D
~~~

Tiga tahun sudah berlalu semenjak printscreen desktop di tahun 2010. Banyak banget yang sudah terjadi. Banyak. Banget. Menyenangkan bagaimana sebuah hal sesederhana printscreen desktop bisa merekam dengan baik apa yang terjadi dalam hari-hari kita di masa lalu ya ternyata :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Cara Terbaik untuk Pergi

Kemarin siang, 17 Oktober 2013, ketika saya sedang mampir ke BSM Dramaga untuk ambil uang fieldtrip, tetiba ada SMS dari Bang Junasa :

"Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah meninggal dunia, Ratna Sogian Siwang setelah melahirkan putra pertamanya di Cilegon. Mohon dimaafkan atas segala khilaf - nazrul"

Berkali-kali saya baca ulang isi SMSnya. Berharap ada kata yang menjelaskan 'siapa'nya Mbak Ratna yang meninggal. Mungkin saya luput membaca hingga harusnya misal kalimatnya jadi 'kakak dari Ratna Sogian Siwang'. Rupanya mata saya tidak luput. Yang meninggal benar Mbak Ratna.

Badan saya lemes banget rasanya.

Di laptop saya masih tersimpan folder Nazrul Wed, berisikan foto-foto ketika kami seasrama beserta PPSDMS angkatan sebelumnya berangkat ke Sukabumi untuk menghadiri resepsi Bang Nazrul dan Mbak Ratna. Details fotonya tertulis September 2012. Rasanya ada yang aneh ketika satu tahun kemudian saya datang lagi ke Sukabumi, untuk orang yang sama, tapi dalam suasana yang jauh berbeda.
Sukabumi, September 2012. Resepsi pernikahan Bang Nazrul dan Mbak Ratna
Tapi kan toh semuanya sudah terjadi. Life keeps on turning. Lagipula, bagi perempuan, rasanya tidak ada cara pergi yang lebih baik dari meninggal dalam perjuangan melahirkan anaknya sendiri :)
jagoan baru, laki-laki :')
"It's okey baby. Everything's gonna be alright. Umi udah berjuang dengan usaha yang terbaik, sehingga sekarang ada di tempat terbaik di sisi-Nya. Sekarang, dan nanti-nanti giliran kita di sini yang harus kasih yang terbaik buat umi. Yang kuat ya, Nak. Yang sholeh, yang pinter."
-Nazrul Anwar

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Inspirasi dari Anies Baswedan

Anies Baswedan
Anies Baswedan, salah satu tokoh muda yang saya kagumi semenjak inisiatif briliannya mendirikan Indonesia Mengajar, dan membuat saya menangis terisak membaca feature tentang kisah gerakannya dan para Pengajar Muda di Kompas Minggu 2 tahun yang lalu. Dan sekarang, beliau turun tangan untuk ikut dalam konvensi capres Partai Demokrat.

Berikut adalah email dari Anies Baswedan kepada Badariah Rosiyana yang dimuat dalam blog ini yang menjelaskan beberapa hal mengenai kesediaan beliau menerima undangan konvensi capres Partai Demokrat, yang kemudian (mungkin) akan menjawab beberapa pertanyaan besar yang muncul di publik ketika seorang Anies Baswedan memutuskan untuk memilih jalan lain.


Assalamu’alaikum wr wb dan salam sejahtera.

Kepada Yth Badariah Yosiyana 
Di tempat 

Semoga email ini menemui teman-teman dalam keadaan sehat wal afiat dan makin produktif. 

Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat. Saya merasa perlu untuk mengirimkan surat ini secara pribadi karena selama ini kita telah bekerja bersama baik di Kelas Inspirasi atau Indonesia Menyala atau kegiatan lain sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar. Selama ini kita telah sama-sama ikut aktif menata masa depan Indonesia tercinta. Ikhtiar ini, sekecil apapun kini, Insya Allah akan punya dampak yang besar di kemudian hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya semakin renungkan tentang bangsa kita, tentang negeri ini. 

Para pendiri Republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negarawan. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna “politik” dan “politisi” terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500-an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari tiga kali lipat dalam waktu kurang dari delapan tahun. Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?

Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governance masih amat minoritas. Mari kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang, maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena -apapun tujuannya- faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di semua partai agar calon presiden ditentukan oleh rakyat juga.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekedar menjadi kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis. 

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, “mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer?” Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekedar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggungjawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya sungguh renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tetapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta. Jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera merah putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainnya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Republik ini berdiri. Mereka berjuang “menaikkan” Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun bukan sekedar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka juga masih muda, namun tidak ada kata terlalu muda untuk turun tangan bagi bangsa. Berpikir ada yang terlalu muda, hanya akan membawa kita berpikir ada yang terlalu tua untuk turun tangan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia meneruskan sms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya “Ketuhanan Yang Maha Esa” diubah jadi “keuangan yang maha kuasa” dan seterusnya. Lalu ia tuliskan, “Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan ‘gain’ apa.” 

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambil berkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederetan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah “jembatan” menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nenek kita, bahwa kita tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Saya pilih ikut ambil tanggung jawab tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas, mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.

Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tetapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.

Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekedar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut tentang pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini: diam atau turun tangan. Para sejarawan kelak akan menulis soal pilihan ini.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya mengemban misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian Republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.

Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.

Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum menjadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru Republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh Republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf¬- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platform www.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa. 

Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan aktif gunakan hak untuk turut menentukan arah negara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, “Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus.” Istri mengatakan, “yang penting tetap jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita.” Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi Ibu lalu katakan, “terus jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya.”

Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, Insya Allah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Bismillah, kita masuki proses ini dengan kepala tegak, Insya Allah terus jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah … bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa.

Sebagai penutup, saya mengajak teman-teman untuk menengok video klip yang direkam dengan maksud sederhana untuk menyampaikan pertimbangan saya saat memutuskan untuk menerima tawaran ikut turun tangan dalam konvensi Partai Demokrat di link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0 Semoga Allah SWT selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga semakin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini. 

Terima kasih dan salam hangat,

Anies Baswedan

Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan. :')

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Orang-Orang Tidak Penting

tukang sapu, salah satu indikator kasih sejati :)
"Dus, kalau hendak melihat apakah seseorang memiliki kasih sejati, perhatikanlah bagaimana saat berinteraksi dengan orang-orang yang 'tidak penting'"
- J. Sumardianta dalam Guru Gokil Murid Unyu

Sesederhana itu. Bagaimana kita bersikap dengan tukang parkir, pak satpam, penjual sate, tukang roti, petugas sapu fakultas dan lain-lain? Sudahkah kita memiliki kasih sejati? :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)