LGB PPSDMS Jilid 1 | Outliers : Amplifying The Wonders

PPSDMS Nurul Fikri, bertempat di Gedung Pusat PPSDMS Jakarta, mengadakan Latihan Gabungan Barat pada hari Kamis-Jumat (15-16 November 2012) yang mempertemukan 3 regional di wilayah barat, yakni Regional 1 Jakarta (Pa/Pi), Regional 2 Bandung dan Regional 5 Bogor. Latihan Gabungan merupakan agenda rutin yang diadakan 4 bulan sekali di wilayah masing-masing (timur dan barat) Satu hari setelah LGB selesai diadakan pula LGT (Latihan Gabungan Timur) untuk Regional 3 Yogyakarta (Pa/Pi) dan Regional 4 Surabaya yang diadakan di Yogyakarta.

Istilah Outliers yang menjadi tema besar LGB merujuk pada kata yang sama yang menjadi judul buku Malcolm Galdwell. Line up pembicara LGB itu cetar banget, ada Jend (Purn).Endriartono Sutarto (Mantan Panglima TNI), Ir. Hasnul Suhaimi, MBA (Persiden Direktur PT. XL Axiata), Ir. Marwan Batubara (Direktur Eksekutif Institute Resource Studies), Gol A Gong (Penulis) dan Rene Suhardono (Penulis ‘Your Job is Not Your Career’, CareerCoach), walaupun pada akhirnya yang terakhir, Mas Rene, tidak jadi datang. Padahal saya udah bela-belain bawa buku ‘Your Job is Not Your Career’ buat minta tanda tangan T.T Tapi gapapa kok, setelah acara, saya colek beliau lewat akun @ReneCC dan janji untuk bertemu di lain kesempatan *wuhu

Saya punya beberapa resume untuk hampir seluruh pemateri yang datang, kecuali untuk Ir. Marwan Batubara karena topiknya terlalu cepat dan seru untuk dicatat. Inti materi Pak Marwan membahas masalah energi di Indonesia dan masalah BP Migas yang beberapa waktu yang lalu dibekukan. Yang saya dapat dari materi Pak Marwan adalah bahwa permasalahan energi minyak dan tambang yang terjadi di Indonesia sudah berlangsung sejak sangat lama, kronis, dan membahayakan negara dalam jangka pendek maupun panjang.

Sisa resume materinya akan saya share di bawah ini. Selamat membaca! :D

Sekedar catatan, hampir seluruh materi yang disajikan adalah share pengalaman dari narasumber yang bersangkutan. Seringkali (dan memang SERING) koherensi setiap konten materi tidak erat, karena memang narasumber menyampaikannya seperti itu -___-


Dialog Tokoh 1st Session
Kamis, 15 November 2012 @ Auditorium PPSDMS Pusat Jakarta
Narasumber : Jend (Purn.) Endriartono Sutarto | Panglima TNI RI (2002-2006)

Sebelum materi dimulai, ada pengantar moderator yang menurut saya patut untuk disimak dan dicermati. Pada tahun 2005, sempat terjadi “Perang Bintang” saat pemilihan umum presiden. Kata ‘bintang’ merujuk pada konotasi kepangkatan tinggi dalam tubuh TNI. Beberapa pelaku “Perang Bintang” ini antara lain Susilo Bambang Yudhoyono dan Wiranto. Sebelumnya, Soeharto, yang sempat memimpin Indonesia di 3 dekade, juga berasal dari tubuh TNI. Kenapa ini bisa terjadi? Mengapa kepemimpinan ala TNI menjadi sangat spesial?

Ada beberapa sebab yang menjadikan kepemimpinan TNI menjadi sangat khas dan spesial. Yang pertama adalah TNI memiliki sistem pembinaan yang sistemik. Proses pembinaan TNI membutuhkan waktu yang panjang dan metode yang tidak sembarangan. Ini yang menyebabkan regenerasi di dalam tubuh TNI tetap terjaga dengan kualitas yang sangat baik. Yang kedua adalah sistem dalam TNI memungkinkan semua unsur dalam TNI untuk meraih pangkat tinggi dengan berdasarkan pada kompetensi. Kenaikan pangkat pada TNI berdasarkan pada kompetensi yang memang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan. Jenjang karir dan kepangkatan TNI sangat jelas dan memiliki syarat. Inilah sebab mengapa kepemimpinan TNI memiliki kesan yang spesial di mata masyarakat.

Selanjutnya, materi dari Pak Endriartono diawali dengan kisahnya bersama Anies Baswedan mempelopori Gerakan Indonesia Mengajar. Masalah utama yang terjadi di kampus di Indonesia adalah PTN dan kampus besar mayoritas dan hampir semua berada di kota-kota besar. Hal ini mengakibatkan mahasiswa-mahasiswa cerdas di berbagai perguruan tinggi ternama tidak bisa merasakan ‘denyut asli’ masyarakat Indonesia yang mayoritas berada di pedesaan. Gerakan ini diinisiasi untuk menanamkan pemahaman akar rumput yang selama ini tidak tertanam di mahasiswa.

Pak Endriartono juga mengatakan bahwa bangsa ini memerlukan kebanggaan. Kebutuhan akan kebanggaan ini yang dirasakan Pak Endriartono sangat minim. Negara kita sering sekali menjadi hinaan bahkan oleh rakyatnya sendiri! Dari bidang olahraga, Indonesia juga sudah tidak terlihat ‘menakutkan’, bahkan di cabang bulutangkis yang dulu kita sempat jadi rajanya. Di bidang lain juga tidak lebih baik kondisinya. Kita seringkalo dianggap seperti ‘budak’ oleh negara lain. Kita mengalami sakit kehormatan dan kebanggaan kronis. Menyedihkan!

Pak Endriartono juga pernah menjabat sebagai Komandan Paspampres RI. Beliau menceritakan bagaimana pengalaman beliau ketika menjabat sebagai komandan Paspampres. Beliau mengatakan bahwa tidak peduli siapapun presiden yang menjabat, benci ataupun suka, asalkan konstitusi secara resmi menunjuk seseorang menjadi presiden, maka apapun yang terjadi beliau akan tetap menjalankan tugasnya. Ini adalah cermin profesionalitas, memisahkan antara pekerjaan dengan perasaan, yang seringkali sangat sulit dilakukan oleh mahasiswa saat ini, terutama dengan sistem peng’afwan’an yang seolah menggugurkan kewajiban untuk berlaku professional dalam berorganisasi.

Sesi tanya jawab juga berlangsung menarik. Salah satu pertanyaan yang paling menarik adalah pertanyaan yang menyinggung kelemahan Indonesia dalam mempertahankan batas terluar perbatasan negara. Pak Endriartono menyadari bahwa Indonesia memang tidak memperlakukan wilayah perbatasan sebagaimana mestinya. Indonesia tidak mengembangkan dengan baik wilayah perbatasan, sehingga masyarakat disana menggantungkan hidupnya pada negara tetangga. Pak Endriartono memberikan sebuah perumpamaan menarik terkait dengan sikap pemerintah mengembangkan wilayah perbatasan dengan mengumpamakan wilyaha perbatasan sebagai ‘halaman belakang’ yang berisi ‘rongsokan’ dan ‘barang yang tidak berguna’. ‘Halaman depan’ yang dipercantik Indonesia hanya di kota-kota besar, padahal wilayah perbatasan adalah ‘halaman depan’ yang sebenarnya.
//||\\

Dialog Tokoh 2nd Session
Kamis, 15 November 2012 @ Auditorium PPSDMS Pusat Jakarta
Narasumber : Ir. Hasnul Suhaimi, MBA | Presiden Direktur PT. XL Axiata Tbk.

Hasnul Suhaimi adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung yang pernah menjabat sebagai Presdir Indosat sebelum menjadi Presdir XL Axiata. Pak Hasnul ini memang brilian, fresh graduate dari ITB langsung bekerja jadi engineer di Schlumberger! Materi yang beliau sampaikan di LGB memang menceritakan pengalaman pribadinya, dan memang terdengar agak sedikit… err… mempromosikan XL. Buat saya sih tidak masalah selama masih banyak intisari yang bisa diserap dari pengalaman beliau.

Pak Hasnul mengawali materi dengan menjelaskan bahwa selama ini ada dikotomi (pemisahan) yang terjadi di dalam dunia bisnis, antara kepentingan perusahaan vs kepentingan masyarakat dan manajemen tugas vs manajemen SDM. Akan tetapi Pak Hasnul tidak menganggap dikotomi ini sebagai masalah. Beliau menawarkan solusi cerdas untuk tidak mendikotomikan kedua hal tersebut. Yang pertama adalah bagaimana menyeimbangkan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Pemahaman yang harus ditanam adalah bahwa perusahaan ada untuk mengambil keuntungan dengan melayani masyarakat semaksimal mungkin. Yang kedua, menanamkan etos kerja kreatif dan professional agar tugas selesai dan SDM yang ada tidak terdzolimi.

Beliau punya cara unik dalam menerapkan kedua usaha anti-dikotomi tersebut. Konsepnya adalah bagaimana mengajak para karyawan untuk memecahkan solusi perusahaan bersama-sama untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu contohnya adalah bagaimana ia menantang para karyawannya untuk menurunkan tarif hingga Rp.100! Bisa tidak dengan tarif seperti itu perusahaan masih tetap mendapatkan margin yang cukup. Ternyata akhirnya bisa, dan seperti itulah cara Pak Hasnul dalam mengakali dikotomi perusahaan tersebut.

Intinya adalah bagaimana melibatkan proses kreatif karyawan kita sendiri untuk memecahkan permasalahan besar agar mereka merasa memiliki andil dalam perusahaan dan merasa semangat dalam bekerja.

Setelah menceritakan pelbagai pengalamannya bersama XL, Pak Hasnul memberikan beberapa materi kepemimpinan. Mengutip dari John C. Maxwell, pemimpin adalah mereka yang knows the way (vision) , goes the way (courage), shows the way (influence). Kemudian Pak Hasnul menambahkan pelengkap contribute along the way.

Trivia 1 : Meskipun XL banyak memberikan gratis, perusahaan mendapatkan comeback profit 2x lipat! Entah karena apa.

Trivia 2 : Pak Hasnul sebagai Presdir XL Axiata mengaku menggunakan kartu prabayar! Selain itu, melalui teknisinya, ia meminta untuk menaruh priority call nomornya di urutan terbawah. Ini dilakukannya untuk bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi customer. Salut!

                                                                //||\\

Setelah itu, dilanjutkan dengan materi dari Ir. Marwan Batubara yang tidak sempat saya catat isinya. -____-

Di malam hari, ada evaluasi Bang Aji (Manajer Bid. Program PPSDMS) untuk evaluasi masa internalisasi. Tidak banyak yang bisa diceritakan karena isinya sebagian besar pemaparan statistik kehadiran dan keaktifan peserta, hanya saja ada beberapa bait kalimat yang saya rasa sangat baik untuk di-share:

Be careful of your thoughts for your thoughts become your words
Be careful of your words for your words become your actions
Be careful of your actions for your actions become your habits
Be careful of your habits for your habits become your characters
Be careful of your characters for your characters become your destiny
:)
 //||\\

Dialog Tokoh 4th Session
Jumat, 16 November 2012 @ Auditorium PPSDMS Pusat Jakarta
Narasumber : Gol A Gong | Penulis

Gol A Gong kehilangan tangan kirinya karena kecelakaan yang menimpanya saat masih anak-anak. Saat itu orangtuanya berujar :

“Ini buku, bacalah! Maka kamu tidak akan pernah ingat bahwa kamu pernah cacat”

Kalimat inilah yang memicu semangat dan kecintaannya pada dunia membaca. Gol A Gong juga merupakan pendiri Rumah Dunia, sebuah taman membaca yang didirikannya bersama istri dan dihidupkan oleh masyarakat sekitar di lingkungan rumahnya.

Gol A Gong mengkritik sikap orang-orang terdidik, maksudnya mereka yang berkuliah di perguruan tinggi, karena mayoritas mereka menyimpan bukunya di rak buku. Sentilan ini sangat terasa karena memang kenyataannya ternyata kita sendiri yang membuat bodoh orang Indonesia karena telah menyimpan buku terlalu banyak, tanpa pernah memberikan kesempatan untuk orang lain menikmati buku-buku yang kita miliki. Gol A Gong menyerukan sebuah gerakan yang bernama Gempa Literasi.

Ketika beranjak dewasa, Gol A Gong semakin cinta terhadap dunia kepenulisan. Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meminta izin kepada sang ibu. Sang ibu hanya berujar, “Benar kamu ingin menjadi penulis? Jika iya, jadilah penulis yang mampu membawa pembacanya ke mata air” Mata air yang dimaksud adalah pencerahan dan inspirasi.

Closing statement dari Gol A Gong : menjadi berguna jauh lebih penting daripada menjadi orang penting.
 //||\\

Sayang sekali, Rene Suhardono tidak jadi hadir dalam LGB, jadi tidak ada resumenya *yaaah

Sampai jumpa di LGB Jilid 2, 4 bulan lagi! :D

POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)