Cerita Dari Parkiran

Kenalan dan berbincang dengan satpam kampus merupakan salah satu dari 7 misi yang saya lakukan di #Misi7 minggu lalu. Saya mempunyai beberapa tujuan yang perlu sekali untuk dituntaskan dengan melakukan ini. Pertama, saya ingin mengadukan keluhan beberapa mahasiswa IPB terkait dengan tarif parkir yang berlaku di IPB. Sebenarnya bukan 'tarif'nya , tapi 'kewajiban' untuk membayar yang sering menjadi persoalan. Ada satpam yang ngamuk-ngamuk jika tidak dibayar, meskipun mayoritas selow-selow saja. 

Kedua, saya ingin juga mendengarkan keluhan dari satpam ke mahasiswa. Kan selama ini kebanyakan mahasiswanya saja yang misuh-misuh sana-sini, sementara kita belum pernah mendengar perasaan mereka seperti apa. Intinya adalah, kami perlu tahu bagaimana kebijakan yang benar dan mendengarkan apa yang sebenarnya para bapak satpam ini inginkan dari mahasiswa.

Kita perlu mendengar suara mereka juga.


ini pos satpam yang saya sambangi. Pos satpam FEMA yang dekat dengan Fateta
Posting ini akan meneruskan hal-hal yang saya dapat setelah share dengan Pak Hari dan Pak Atang, dua satpam yang pada hari tersebut bertugas siang hari di parkiran Fema-Fateta. Mereka orang yang sangat menyenangkan.

Berikut ini adalah beberapa intisari dan poin-poin penting yang saya rasa perlu share :

1. Tarif parkir
Sebelum saya share hasil wawancara saya dengan para bapak satpam yang bertugas, terlebih dahulu saya akan share foto kartu parkir yang selama ini digunakan di kampus IPB. Kartu dan ketentuan yang tertulis di dalamnya akan menjadi bahan untuk posting kali ini
bagian depan
bagian belakang
Di bagian depan perhatikan tulisan :
"KARTU PARKIR GRATIS"
DARI JAM 07:00-17:00
dan di bagian belakang tertulis ketentuan spesifik dunia perparkiran IPB :

PERHATIAN
  1. Mintalah kartu parkir pada petugas
  2. Kartu parkir ini sebagai kartu kendali
  3. Gunakan kunci ganda
  4. Kembalikan kartu parkir ini ke petugas saat kendaraan keluar
  5. Apabila kartu hilang tunjukkan STNK pada petugas
  6. Segala jenis kerusakan dan kehilangan menjadi tanggung jawab pemilik kendaraan 
Dari kartu parkir tersebut, sudah dapat disimpulkan bahwa memang parkir gratis untuk jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Ya memang seperti itu adanya, gratis. Masalahnya kalau di luar jam tersebut bagaimana?

Berdasarkan hasil hearing saya dengan Pak Atang dan Pak Hari, pada dasarnya pembuat kebijakan tersebut (Unit Keamanan Kampus) tidak memberlakukan tarif yang mutlak. Lalu harus bayar berapa? "Seikhlasnya aja mas," kata mereka.  "Yaa pakai hati aja ya mas, kita kan kerja satu shiftnya 12 jam, gaji juga ga gede-gede banget. Masa iya sih tega ga ngasih apa-apa. Paling engga buat beli kopi lah."

Meskipun saya bukan seorang pengendara motor yang perlu parkir, tapi saya sarankan untuk membayar tarif parkir seikhlasnya, kapanpun. Karena kewajiban kita bukan hanya yang tertulis di kartu parkir yang kita pegang, lebih dari itu, kewajiban yang kita emban adalah kewajiban sosial yang mutlak harganya ditunaikan. Pakai hati sedikit lah.

2. Tanggung jawab satpam
Apa sebenarnya tanggung jawab seorang satpam? Andaikan satu parkiran dipenuhi sekitar 150 motor, apa yang terjadi pada para satpam jika ada SATU SAJA yang kemalingan?
kawasan parkiran Fateta-Fema
Saya          : "Pak selama ini sempat ada yang kemalingan?"
Pak Atang  : "Alhamdulillah di bagian sini (Fateta-Fema) belum pernah ada mas"
Saya         : "Kalau misalnya ada yang kemalingan, gimana pak?"
Pak Hari   : "Satpamnya diskors mas"
Saya         : "Sampai kapan pak?"
Pak Hari   : "Sampai waktu yang ga pernah ditentukan mas. Dipecat."

Satu saja motor kemalingan dan mereka kehilangan pekerjaan mereka.

Ada penjelasan tambahan perihal tanggung jawab satpam ini. Satpam hanya bertanggungjawab terhadap motor yang MEMILIKI kartu parkir. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam bagian belakang kartu parkir, kartu tersebut berperan menjadi kontrol.

3. The 3rd magic word named "Terima Kasih"
"Ingat, ada three magic word, yang pertama 'tolong', yang kedua 'maaf', dan yang ketiga 'terima kasih'." - Kuntum Apriani - Guru BP SMP Negeri 49 Jakarta

Saya masih ingat betul kata-kata Bu Kuntum 7 tahun yang lalu. Beliau lah yang pertama kali memberitahukan kepada saya bahwa tiga kata itu dapat merubah kalimat yang kita ucapkan atau kita tuliskan menjadi jauh lebih menyentuh orang lain.

"Asalkan bilang terima kasih aja, kami udah seneng. Atau kalau engga pasang muka bersahabat deh. Ya gimana ya mas, masa iya sih cuma buat ngomong 'makasih' doang susah banget. Istilahnya kan motor udah kita jagain, paling engga itu aja deh," begitu kata Pak Hari.

Apa susahnya sih bilang terima kasih? 

4. Etika perparkiran lainnya
Ada beberapa hal yang juga rasanya harus saya sampaikan terkait masalah etika perparkiran, antara lain : 

  1. JANGAN PERNAH TINGGALKAN KUNCI DI MOTOR. Oke ini memang HARUS dilakukan, tapi sampai saat ini masih saja banyak orang yang sering meninggalkan kunci menempel di kontak. Pak Atang cerita bahwa beliau sering menyimpan kunci-kunci yang ketinggalan dan menunggu ada mahasiswa yang mengambilnya. "Orang baru merasakan rasanya kemalingan ya kalau pernah kemalingan mas, kalau belum pernah kemalingan ga tau gimana rasanya," kata Pak Hari.
  2. Kalau ingin di kampus hingga sangat larut malam, usahakan masukkan motor ke dalam bangunan kampus. Satpam IPB bekerja dalam 2 shift, shift pertama (07:00-19:00) dan shift kedua (19:00-07:00) Satpam shift kedua area tugasnya juga meliputi bangunan kampus, sehingga tidak selamanya ada di pos jaga parkir. Seringkali para satpam malam merasa serba salah apabila masih ada 1-2 motor yang masih ada di parkiran. Kalau ditinggal, takut kemalingan, dan bisa dipecat. Mau ditungguin, entah sampai jam berapa, dan masih ada tugas untuk patroli bangunan.

Mahasiswa parkir dengan cara mahasiswa dong. Cara mahasiswa cara yang bijaksana. :D

POSTED IN
DISCUSSION 4 Comments

4 Responses to : Cerita Dari Parkiran

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  2. hmm kesimpulannya, gw ngasih 50rb juga gpp kan ? #slapped

    hha nice try deh mar, btw itu kapan lu ngewawancarainnya ?

  3. @thaher : jangan her, kalo 50rb kasih ke gue aja wakakak

    pas kapan ya, sore-sore gitu deh abis kelar kuliah hoho

  4. haha, bu Kuntum...
    kayaknya nih orang spesialisasi guru BP kelas 7 nih

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)