Pahlawan 1500 Rupiah

Hari ini saya bisa begitu lancar membaca dan menulis. Dan hari ini juga, saya mulai mengingat kembali, siapa yang membuat saya bisa melakukan semua ini. Ketika mengingatnya kembali, maka memori saya terlempar ke sebuah surau kecil, belasan tahun yang lalu

//||\\
15 tahun yang lalu...

Saya menemukan masa kecil saya berbaring di sudut surau, tidur-tiduran sambil menyandarkan kaki ke arah tembok. Melihat langit-langit surau sambil minum susu coklat dari sebotol dot. Ditemani seorang kakak perempuan yang sepertinya sudah bosan melihat saya tak kunjung bergerak. Malas. Menunggu giliran uji membaca.

Setiap hari, kecuali hari Jumat dan Minggu, saya selalu datang ke surau ini. Pagi-pagi berangkat ditemani oleh Ibu atau kakak perempuan jika ia sedang libur. Ibu memasukkan saya semenjak saya masih umur 3 tahun karena memang di rumah tidak banyak teman bermain. Teman saya hanya sekitar rumah, kakak-kakak saya juga sudah SMA. Beda usia yang cukup jauh membuat saya jarang bermain dengan mereka. 

Ini memang surau tempat belajar Al-Quran, tetapi kami tidak hanya belajar tentang ilmu agama. Kami diajarkan untuk membaca, menulis dan berhitung. Surau ini adalah kombinasi indah antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Seimbang. Porsi belajar di tempat ini juga cukup satu jam. 

Satu jam yang sangat berharga.

Surau ini digawangi oleh para teteh (sebutan kakak perempuan dalam bahasa Sunda) yang selalu setia mengajar kami sejak pagi. Mereka adalah para ibu muda yang penuh semangat dalam menghadapi masa kecil kami yang tidak jelas. Murid-murid di surau ini adalah mereka yang tidak mampu memasukkan anaknya ke TK. Kebanyakan dari kami adalah anak dari orangtua berpenghasilan pas-pasan.

Lembaga yang mengampu pengajaran di surau ini hanya menetapkan 'tarif' yang diambil sebagai infaq sebesar Rp. 1500/bulan. Pada saat itu, Rp. 1500 hanya bisa untuk membeli semangkuk bubur ayam komplit. Saya tidak habis pikir bagaimana lembaga ini bisa bertahan, dengan infaq yang sangat-sangat minimum. Bayangkan saja, andaikata surau ini mengasuh sekitar 40 siswa dalam satu kelas, dan ada sekitar 4 kelas terpisah, maka pemasukan dari infaq hanya sebesar 160 x Rp. 1500 = Rp.  240.000!

Ada sekitar 6 pengajar dan tenaga administratif, dan total pemasukan mereka dari infaq siswa hanya Rp. 240.000, berarti satu orang hanya mendapatkan Rp. 60.000/bulan sebagai pengganti tenaga mereka. 

Saya yakin sekali bahwa para teteh-teteh ini memiliki pekerjaan lain di samping menjadi pengajar di tempat ini. Tapi bayaran sebesar itu untuk mengajar membaca dan menulis selama hampir seminggu penuh setiap bulannya....

Betapa besar jasa seorang guru yang mengajarkan membaca dan menulis. Jika kita mampu mengartikan definisi pahala sebagai sesuatu yang memiliki efek domino, maka saya yakin yang paling banyak mendapatkan pahala atas segala yang kita lakukan sekarang salah satunya adalah seseorang yang dahulu mengajarkan kita menulis dan membaca. Karena hampir seluruh aktivitas yang kita lakukan sangat berkaitan dengan dua hal ini, terlebih dalam dunia akademik.

Saat ini, beberapa alumni surau itu memiliki banyak capaian mengagumkan, meskipun awalnya kami hanya sekelompok anak ingusan dari keluarga marjinal. Ada sekitar 5 orang teman sekelas saya dulu yang saat ini menempuh pendidikan sarjana di beberapa universitas favorit. Saya, salah satunya, alhamdulillah diberikan kesempatan belajar di salah satu kampus terbaik negeri ini, Institut Pertanian Bogor. Hebatnya lagi, salah seorang rival saya sejak kecil, saat ini sedang belajar Chemical Engineering di salah satu universitas di Jepang.

Para pahlawan 1500 saya mungkin 15 tahun yang lalu belum tahu, bahwa bibit yang mereka  pupuk saat ini telah berbunga. Berbunga indah sekali.

//||\\

"Delmar, ayo giliran kamu baca!" panggil Teh Yati

Saya melihat seorang anak kecil yang merasa terpanggil, awalnya menyandarkan kaki ke  tembok di sudut surau sambil minum susu coklat, berdiri dan berjalan setengah berlari ke arahnya. Botol susunya dibiarkan begitu saja. Duduk bersila membaca alfabet dalam buku berwarna hijau muda mengkilap.

Baru sekarang saya sadar, bahwa masa kini yang sedang saya alami, tidak akan pernah menjadi seperti ini tanpa buku hijau itu. Tanpa surau itu. Tanpa teteh pengajar.

Mereka ada di daftar orang-orang yang akan saya kenang sepanjang masa. Para pahlawan 1500 rupiah saya.

POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

2 Responses to : Pahlawan 1500 Rupiah

  1. Lia says:

    kalau ini akan diikutsertakan dalam lomba GIB, you better put the banner in the end of your story. jangan lupa direct link ke webnya.

    aniwei, good story, cuma kependekan, hihi, :D

  2. iya tadi laptop ngelag, restart dulu baru pasang banner -__-

    oke makacih :D gamau kalah dong gue dari cerita lu yang heroik mbak :P

    yeah, ada beberapa laporan yang harus gue tulis juga, pikiran gue terpecah belah T.T

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)