Mewarnai Pendidikan Indonesia

Tulisan ini diikutsertakan dalam Aku Untuk Indonesiaku Blog Competition Lintas.me 

“…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….” – Alinea ke-4 UUD 1945

Alinea ke-4 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 memuat beberapa hal, salah satunya adalah tujuan negara yang juga merupakan sebuah janji kemerdekaan. Muatan janji kemerdekaan yang terkandung dalam alinea ini antara lain melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam pelaksanaan misi ketertiban dunia. Aplikasi dari masing-masing janji kemerdekaan ini sudah terlaksana, meskipun semuanya belum optimal, terutama pada janji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan merupakan cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Wikipedia, pendidikan dapat didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Hal-hal ini sangat esensial untuk terbentuknya kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Sayangnya, dewasa ini kesempatan untuk memperoleh pendidikan tidak merata. Di Indonesia, pendidikan yang layak hanya milik mereka yang berada di kota besar. Mengingat wilayah Indonesia yang memang sangat luas dari Sabang sampai Merauke sangat sulit untuk menjamin pemerataan kesempatan pendidikan di Indonesia.

Adalah seorang Anies Baswedan, tokoh dan negarawan yang kemudian mendirikan gerakan bernama Indonesia Mengajar yang memiliki misi untuk menyebarkan pendidikan di sudut-sudut republik yang terlupakan. Gerakan ini juga melatih para sarjana muda yang ingin menyebarkan kebaikan dan menanamkan pemahaman akar rumput agar mereka mampu memahami denyut nadi negaranya, mulai dari sudut-sudut kecil Nusantara.

Para pengajar muda ini dilatih sedemikian rupa, “dibuang”, dan memberikan inspirasi kepada anak-anak. Mereka adalah para pembawa harapan akan datangnya sebuah generasi yang lebih baik dengan cara yang paling manusiawi sepanjang sejarah manusia : pendidikan.

Bagaimana dengan saya? Apa yang sudah saya lakukan?

Saya sendiri merupakan mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang juga merupakan penerima beasiswa Tanoto National Champion Scholarship dari Tanoto Foundation, sebuah yayasan yang bergerak dalam peningkatan kualitas dan mutu hidup masyarakat, salah satunya dengan peningkatan kesempatan pendidikan. Saya beserta penerima beasiswa yang sama lainnya membentuk sebuah asosiasi yang bertujuan untuk membagikan kesempatan pendidikan yang kami terima dengan mengabdi sebagai pengajar di sebuah desa di kawasan Sukadamai, Kabupaten Bogor.

Kawasan Sukadamai memang tidak sesulit desa-desa tempat para pengajar muda di Indonesia Mengajar ditempatkan, tetapi saya harus mengakui bahwa desa tersebut kekurangan infrastruktur mengingat berada cukup jauh dengan pusat kota. Anak-anak di sana juga kekurangan bahan bacaan untuk memperkaya khazanah ilmu mereka. Waktu belajar di sekolah juga terlalu sebentar dan anak-anak cenderung enggan untuk belajar bila tidak ada mengajar di rumah. Kami mengisi kekosongan waktu belajar mereka di luar sekolah.

Misi kami sederhana, setiap Sabtu siang hingga sore menyempatkan diri untuk hadir ke desa tersebut dan mengajar anak-anak PAUD, TK dan SD. Setiap individu akan mengajar kelas tertentu dan mengajarkan materi sesuai dengan yang mereka dapat saat di sekolah. Jadinya semacam pendalaman materi. Kami juga membawa beberapa buku untuk kami bacakan bila mereka mau. Akses terhadap buku yang minim ini membuat kami ingin menciptakan taman bacaan agar mereka bisa leluasa membaca kapanpun di desa tersebut.

Saya mendapatkan jatah untuk mengajar kelas 3 SD. Mereka diam saja saat saya tanya mau belajar apa. Takut mungkin. Akhirnya karena memang jatah belajar saat itu matematika, saya berikan materi tentang perkalian. Secara konsep, mereka bisa memahami perkalian, tetapi mereka sangat kesulitan jika mengalikan angka di atas 6, karena mereka masih menggunakan tangan untuk menambah setiap angka yang dikalikan. Mula-mula saya jelaskan bahwa sebenarnya hakikat perkalian ujung-ujungnya bukan untuk dihitung, tapi untuk dihafal. Ketika nanti mereka menghadapi perkalian di atas 1 digit, akan sangat sulit jika mereka masih menggunakan tangan. Mereka mengangguk.

Akhirnya saya hanya memberikan latihan perkalian kepada mereka, agar mereka dapat lebih hafal. Saya juga jelaskan bahwa jika dihitung, perkalian memiliki sifat khusus, seperti : 3x6 = 3x(5+1) sehingga mereka tidak perlu mengulang dari angka 3 untuk menghitung 3x6, mereka cukup menambah 15 (hasil dari 5x3) dengan 3. Saya jelaskan ini karena dari cara menghitung yang mereka lakukan, mereka seringkali lupa dengan hasil penjumlahan tangan mereka sendiri.

Setelah mengajar, mereka minta satu hal : dibawakan buku cerita minggu depan. Mereka yang berasal dari kaum yang sulit mendapatkan akses buku sewajarnya merasa "haus" dengan cerita-cerita dari dunia 'lain', dunia khayal. 

Ini adalah beberapa dokumentasi yang terekam selama kegiatan kami beberapa minggu yang lalu : 
mbak Desti sedang mengajar menggambar anak-anak tingkat PAUD

ini mereka siswa-siswanya haha itu yang baju merah putih di tengah  jadi primadona dicubitin mulu sama pengajar :D

cheese :))

Gerakan Indonesia Mengajar, saya, dan Anda semua, dapat berperan besar untuk mewarnai pendidikan Indonesia. Mumpung kita masih muda, mumpung kita masih diberkan kesempatan untuk membuat banyak karya. Mewarnai dan membuat pelangi untuk pendidikan Indonesia.
me-melangikan bumi Indonesia :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)