Menakar Kembali Kekuatan Komoditas Pertanian Tropis Nusantara

“Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”  Kolam Susu - Koes Plus

Bukan tanpa alasan grup band Koes Plus yang sangat populer beberapa dekade silam menciptakan lagu Kolam Susu. Konon, lagu ini diciptakan ketika Koes Plus mampir di Kolam Susu, Attambua. Kolam Susu ini adalah sebuah kolam atau tambak ikan bandeng di Attambua, Nusa Tenggara Timur. Lagu yang diciptakan oleh Yok Koeswoyo ini menceritakan tentang bagaimana besarnya anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nusantara, terutama dalam potensi pertanian dan bidang terkait lainnya. Letak geografis Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis yang sangat potensial ditanami berbagai macam komoditas unggulan. Pertanian di iklim tropis (pertanian tropika) memungkinkan berbagai macam komoditas ditanam sepanjang tahun karena tidak memiliki musim-musim yang ekstrim. Kekuatan komoditas pertanian tropis Indonesia menjadi kekuatan utama dalam menyangga kebutuhan dunia akan komoditas unggulan Nusantara.

Contoh komoditas unggulan yang dapat ditanam adalah tanaman kakao (Theobroma cacao) yang menjadi bahan baku makanan atau minuman cokelat. Nama theobroma dalam Theobroma cacao, memiliki arti “makanan para dewa” dalam bahasa Yunani. Ribuan tahun yang lalu, kakao menjadi lambang kemewahan dan status sosial masyarakat serta memiliki nilai sebagai mata uang yang berlaku di masyarakat. Kakao hanya tumbuh di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Indonesia, berdasarkan data panen tahun 2005, tercatat sebagai negara penghasil kakao terbesar ke-3 di dunia, dengan menyumbang 13% dari total produksi kakao dunia. (Wikipedia)

Cukup ironis ketika kita kembali ke masa sekarang dan melihat apa yang terjadi dengan komoditas ini. Tentu kita sering mendengar bahwa negara cokelat adalah Swiss dan Belgia, apalagi setelah salah satu produk es krim terkenal di negeri ini mengeluarkan varian rasa dengan menggunakan  ‘Belgian Chocolate’. Ada banyak sekali pabrik cokelat di Belgia dan Swiss. Faktanya hanya 11% lahan di Swiss yang bisa ditanami, dan iklim Swiss tidak layak untuk menanam kakao. Lalu bagaimana mungkin negara Eropa ini bisa menjadikan cokelat sebagai unggulan mereka padahal mereka sendiri tidak bisa menanam kakao? Bahan baku yang mereka gunakan sudah barang tentu berasal dari negara tropis termasuk Indonesia, tapi apa pernah kita sebagai salah satu produsen terbesar kakao dunia mendapat julukan yang terhormat dalam produk cokelat? Indonesia bahkan mengimpor kembali cokelat Eropa untuk konsumsi dalam negeri! Ironis!

Cerita yang tidak jauh berbeda datang dari komoditas kopi (Coffea sp.). Dari sekian banyak jenis biji kopi yang dijual di pasaran, hanya terdapat 2 jenis varietas utama, yaitu kopi arabika (Coffea arabica) dan robusta (Coffea robusta) (Wikipedia). Fenomena teranyar tentang komoditas ini hadir saat semakin menjamurnya kedai kopi ‘elit’ Starbucks di Indonesia. Kopi yang dijual di Starbucks memiliki harga yang sangat tinggi, berlipat-lipat lebih tinggi dibanding kopi yang dijual di kedai biasa, mengingat pangsa pasar yang dibidik di Indonesia adalah kalangan masyarakat menengah ke atas. Padahal jika kita mau menelaah komposisi kopi yang dijual di Starbucks, hampir semua bahan baku asli lokal Indonesia!

Belum lagi komoditas lain seperti buah-buahan tropis asli Indonesia. Dahlan Iskan dalam sebuah kesempatan mengisi Stadium General memperingati ’60 Tahun Pendidikan Pertanian Indonesia’ di Graha Widya Wisuda, Institut Pertanian Bogor, mengatakan bahwa betapa besar potensi buah-buahan asli Indonesia. Durian contohnya, beliau mengatakan bahwa permintaan buah ini sangat besar dari negara lain di Asia. Belum lagi buah-buahan lokal lainnya yang juga memiliki permintaan yang sangat besar dari publik Indonesia sendiri.

Begitu pula dengan komoditas rempah-rempah. Rempah-rempah, yang menjadi alasan awal Belanda menghampiri Nusantara beberapa ratus tahun silam, kini tetap menjadi primadona karena harganya semakin tinggi seiring dengan permintaan pasar. Salah satu contoh komoditas rempah-rempah adalah lada. Indonesia pada tahun 2008 tercatat sebagai peringkat ke-4 penghasil lada dunia (9%), setelah Vietnam (34%), India (19%) dan Brazil (13%) (Wikipedia). Lada merupakan salah satu komoditas rempah favorit karena memiliki banyak sekali kegunaan, salah satu bumbu masak dan obat. Rempah-rempah unggulan lainnya adalah cengkeh yang juga merupakan salah satu bahan baku rokok kretek Indonesia. Indonesia tercatat sebagai penghasil cengkeh terbesar di dunia dengan produksi 110.500 ton pada tahun 2005 (Wikipedia). Selain menjadi salah satu bahan baku rokok kretek, cengkeh juga memiliki banyak kegunaan seperti bumbu dan obat tradisional.

Juga jangan lupakan komoditas kelapa sawit dan karet. Kelapa sawit saat ini adalah komoditas unggulan dan utama di Indonesia. Kelapa sawit menjadi unggulan karena hampir seluruh bagian dari kelapa sawit, mulai dari bagian pohon, buah dan bijinya dapat dimanfaatkan menjadi produk hasil industri. Pohon industri sawit sangat luas dan dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari tiga negara penghasil karet terbesar di dunia, bersama dengan Thailand dan Malaysia. Pemanfaatan karet antara lain salah satunya sebagai bahan baku industri ban dan tekstil.

Contoh di atas adalah beberapa komoditas unggulan di Indonesia yang perlu kita ketahui bersama agar kita sadar bahwa negara ini memiliki kekuatan yang luar biasa dalam komoditas pertanian tropis. Persaingan dunia semakin ketat dan keunggulan ini tentu dapat kita manfaatkan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. Setelah kita menakar kembali peta kekuatan Indonesia di bidang ini, sekarang waktunya kembali bekerja!  

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

One Response to : Menakar Kembali Kekuatan Komoditas Pertanian Tropis Nusantara

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)