Belajar Apa Saja?

Menyambung posting sebelumnya yang berisikan jadwal kuliah saya selama satu minggu, berikut akan saya beberkan ‘perwujudan’ asli dari mata kuliah tersebut. Nama-nama yang jadi mata kuliah saya memang terkadang membingungkan, bahkan setelah ikut kuliahnya malah ngaco, beda banget sama ekspektasi awal -_-

Saya menuliskan ini karena saya yakin departemen tempat saya belajar bukanlah departemen yang umum di masyarakat. Juga karena beberapa mata kuliah sangat sangat unik dan saya yakin beberapa di antaranya hanya ada di departemen tempat saya belajar sekarang.

Nah, inilah dia wujud asli mereka!

1. Perhitungan Dasar Rekayasa Proses (PDRP)
Awalnya saya tidak pernah punya perasaan, firasat dan prasangka buruk tentang mata kuliah ini, karena saya menganggap toh ada kata ‘dasar’ nya. Sesuatu yang ‘dasar’ kan biasanya simpel, tidak rumit dan menyenangkan. Kata ‘rekayasa proses’ juga terdengar biasa-biasa saja, belum ada hawa horrornya.

Namun ternyata ekspektasi itu hancur saat pertama kali kuliah. Dr. Ika Amalia, dosen pengajar di kelas saya mengatakan bahwa mata kuliah ini dulu bernama Dasar Teknik Kimia. Great. Serigala berbulu domba.

Intinya, mata kuliah ini menggabungkan ilmu fisika, kimia dan matematika. Menurut Ibu Ika, inilah yang membedakan antara TIN IPB dengan jurusan serupa di universitas lain. Di TIN IPB, konsep engineering yang ditanamkan ke mahasiswa jauh lebih kuat. Mahasiswa yang mengambil Processing stream di TIN IPB memang lebih ditekankan pada rekayasa kimia, jadi dasar teknik kimianya juga harus kuat.

2. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Mata kuliah ini adalah salah satu mata kuliah penghibur di semester ini. Kuliahnya sangat menyenangkan dan dosennya, Dr. Tajuddin Bantacut, juga jago melawak. Pak Tajuddin ini orang Aceh, tapi beliau piawai dalam mengucapkan berbagai macam logat daerah. Bahkan waktu menirukan logat Banyumasan, saya merasa beliau lebih medok daripada anggota keluarga besar saya di Purbalingga.  

K3 ini intinya mengajarkan bagaimana prosedur kerja yang membuat ‘selamat dan sehat’. Ditampilkan beberapa aturan pemerintah yang mengatur tentang K3 dan bagaimana implementasi K3 dalam dunia industri. Juga ditampilkan beberapa gambar tentang kecelakaan kerja, ada yang terbakar, terpotong mesin, terlindas, matanya mencair, masuk ke dalam tanur baja dan kecelakaan lain yang membuat manusia waras bergidik.

Anehnya, dosen saya selalu menjelaskan kecelakaan-kecelakaan fatal tersebut dengan gaya biasa-biasa saja, seolah beliau menceritakan kalau tadi pagi baru saja sarapan bubur ayam. Selow parah. Bahkan gambar beberapa hasil kecelakaan dijelaskan sambil tertawa senang -___- Mengerikan.

3. Analisis Bahan dan Produk Agroindustri (ABPA) dan Pengetahuan Bahan Agroindustri (PBA)
ABPA murni 100% praktikum. Praktikum ABPA dilangsungkan selama 6 jam, padahal jatah untuk mata kuliah ini hanya 2 sks.

ABPA mempelajari tentang bahan-bahan yang akan digeluti di TIN selama 3 tahun ke depan. Bahan yang dipelajari antara lain umbi-umbian, minyak lemak, minyak atsiri, buah-buahan, bahan hewani, sayur-sayuran dan beberapa substansi dasar seperti karbohidrat dan protein. Praktikum pertama adalah uji identifikasi karbohidrat. Ada 9 (ya, beneran ada sembilan) rentetan praktikum. Saya kebagian penghitungan neraca massa dan uji penampakan umbi talas.

ABPA adalah penyebab mahasiswa TIN galau parah setiap minggunya mengingat seluruh laporan murni ditulis tangan sebanyak paling tidak 12-14 halaman. Karena sekali praktikum 6 jam, maka prosedur rancangan kerja dan konten pembahasan laporannya juga panjang. Sangat sangat panjang. Anehnya meskipun mata kuliah ini sangat tidak sebanding (6 jam praktikum cuma 2 sks) masih ada saja mahasiswa departemen lain yang mengambil ini sebagai Supporting Course -___-

Sementara PBA adalah mata kuliah terpisah yang menjelaskan materi-materi yang dipraktekkan di ABPA. Dosen mata kuliah PBA adalah Dr. Erliza Hambali yang selalu memberikan cerita-cerita unik dalam setiap kuliahnya. Bagi saya, kuliah PBA adalah salah satu hiburan dalam satu minggu kuliah, karena Ibu Erliza selalu menyediakan paket hadiah khusus dalam setiap kuliahnya. Hadiah biasanya berupa laptop, mobil, TV, mesin cuci coklat, sabun transparan dan cupcake.

4. Dasar Teknik Pengendalian Sistem Industri (DTPSI)
DTPSI adalah mata kuliah baru di TIN. Sebelumnya hanya ada TPSI (tanpa kata ‘Dasar’) dan itu jatahnya diberikan saat semester 5. Jadi kondisinya sekarang adalah mahasiswa semester 5 mengambil TPSI dan semester 3 mengambil DTPSI. Setelah dikaji dan dipertanyakan lebih dalam ternyata tidak ada bedanya, hanya dimajukan dan ditambahkan kata ‘Dasar’ supaya terdengar lebih imut.

Senior saya sudah mewanti-wanti bahwa TPSI adalah perwujudan lain dari Kalkulus 3, sesuatu yang tidak pernah diambil oleh departemen lain di Fateta. Dosen saya, Pak Muslich juga mengatakan bahwa mata kuliah ini pada zaman dahulu bernama Kalkulus Industri. Intinya, TPSI mempelajari tentang sistem kendali industri yang digambarkan dengan permodelan matematika. Permodelan matematika inilah yang mengantarkan kita pada bahan-bahan yang (harusnya) hanya diajarkan pada Kalkulus 3.

Beberapa statement Pak Muslich saat kuliah pertama DTPSI terasa kurang mengenakkan, Beliau bilang,

“ Kalau saja dosen punya wewenang untuk menolak mata kuliah yang ditugaskan, dan disuruh memilih sendiri mata kuliah yang ingin mereka ajar, saya yakin tidak akan ada dosen yang ingin mengajar mata kuliah ini”

Tapi saya suka statement berikutnya,

“Saya sadar betul bahwa mata kuliah ini sangat susah dan membingungkan, jadi saya tidak akan melarang ada mahasiswa yang tidur di dalam kelas saya”

NICE!

5. Metode Statistika (Metstat)
Metstat sebenarnya sama seperti ekspektasi saya, berurusan dengan data, penghitungan peluang dan penerapan statistika lainnya. Tidak banyak yang bisa diceritakan karena statistika yaa statistika.

6. Penerapan Komputer (Penkom)
Penkom pada dasarnya adalah mata kuliah inter-departemen dari Departemen Ilkom, FMIPA. Bahan kuliah Penkom dari Ilkom tidak jauh berbeda dengan TIK zaman SMA. TIK zaman SMA adalah TIK yang sama dengan zaman SMP. Begitu terus berulang-ulang hingga bosan.

Namun sayangnya TIN tidak rela HANYA mengajarkan bahan yang diberikan oleh Ilkom, mereka ingin agar mahasiswanya punya dasar programming dan algoritma yang kuat karena sangat dibutuhkan di Penelitian Operasional dan Analisis Sistem Pengambilan Keputusan di tingkat 3 dan 4. Alhasil TIN adalah satu-satunya departemen di luar Ilkom yang sudah belajar koding berbasis Java.

Alhamdulillah saat SMA saya sempat ikut OSP Informatika DKI Jakarta, masih tersisa logika pemrograman saat muda dulu. Meskipun bahasanya berbeda, tapi logikanya tetap sama.
Penkom adalah mata kuliah yang komponen tugasnya paling banyak, ada laporan praktikum, tugas terstruktur dan rancangan kerja praktikum. Sejauh ini, bagi saya mata kuliah ini adalah mata kuliah sulit yang mampu saya nikmati. Sampai tulisan ini diturunkan -__-

7. Teknologi Pengemasan, Distribusi dan Transportasi (TPDT)
Di semester ini, TPDT bagi saya adalah mata kuliah paling unik dan menyenangkan. TPDT mempelajari kemasan produk-produk makanan dan minuman, mulai dari plastik, gelas, Styrofoam, kaleng dll.  Dosen kuliah saya, Dr. Indah Yuliansih adalah sosok dosen yang sangat lucu. Materi kuliahnya juga terasa sangat ‘dekat’, karena benda-benda yang dijelaskan dapat dengan mudah dicari di Kantin Sapta dan setiap hari kita konsumsi. Penjelasannya juga menarik, mulai dari kenapa botol plastik minuman soda punya ‘kaki’ tambahan (tonjolan di sekitar pantat botol) dan apa saja yang perlu diperhatikan dalam membeli minuman botol.

Praktikumnya juga aneh. Dua praktikum terakhir kami disuruh memotong beberapa jenis plastik dan kertas, kayak anak TK. Sampel plastik dan kertas itu ditimbang, diukur ketebalan dan diuji coba. Salah satu uji coba adalah uji ketahanan tarik dan regangan putus dengan alat tensile strength tester. Ini alat jaman peninggalan Jepang, fungsinya ketika tuas ditarik, alat ini akan menarik sampel plastik/kertas hingga sobek/regangan maksimal.

Semester 3 memang menantang bung!

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Sulit Bernapas

Senin
Dasar Teknik Pengendalian Sistem Industri (R) 7:00-10:00
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K) 10:30-12:00
Teknologi Pengemasan, Distribusi dan Transportasi (P) 13:00 – 16:00

Selasa
Perhitungan Dasar Rekayasa Proses (K) 7:00 - 8:40
Perhitungan Dasar Rekayasa Proses (R) 9:00 – 12:00
Penerapan Komputer (P) 13:00 – 16:00

Rabu
Analisis Bahan dan Produk Agroindustri (P) 7:00 – 13:00
Dasar Teknik Pengendalian Sistem Industri (K) 13:00 – 14:40

Kamis
Teknologi Pengemasan, Distribusi dan Transportasi (K) 7:00 – 8:40
Metode Statistika (K) 10:00 – 11:40
Metode Statistika (R) 13:00 – 16:00

Jumat
Penerapan Komputer (K) 7:00 – 8:40
Pengetahuan Bahan Agroindustri (K) 9:00 – 10:40

Keterangan : (K) : Kuliah | (R) : Responsi | (P) : Praktikum

Ini mungkin memang bukan jadwal paling padat, tapi buat saya jadwal seperti ini ditambah laporan praktikumnya, rancangan kerja praktikumnya, tugas terstrukturnya dan tugas kelompoknya cukup membuat saya sulit bernapas semester ini.

Seperti yang senior sebelumnya katakan, semester 3 memang…… hmmm

POSTED IN
DISCUSSION 3 Comments

Menikmati Hujan

"Kalo lagi ujan begini, paling enak pulang ke Asrama TPB, mandi, ganti baju, tidur-tiduran atau main laptop sambil menunggu dengan tenang semangkuk mie kuah double teteh kantin. Ya engga bos? :D" - Saya, dalam sebuah SMS dua hari yang lalu yang saya kirimkan ke seluruh teman sekamar di 237

Sampai detik ini, belum ada yang bisa menandingi nikmatnya menikmati hujan Bogor selain di Asrama TPB. Mengingat betapa santainya hidup di TPB, maka hujan pun dapat dengan khidmat dinikmati bersama kawan sekamar.

Sore-sore. Pulang kuliah. Dinginnya hawa kamar. Hangatnya mi kuah. Cerianya suasana kamar.

Kalau sekarang?  Sore-sore. Masih di kampus untuk praktikum.
Sulit juga melakukan transformasi makna 'menikmati'. Masih menunggu waktu sampai makna 'menikmati' itu melipat ulang bentuknya dan menyesuaikan dengan kondisi yang sekarang.

"Yoi mar tambah garuk-garuk perut sambil ngadep jendela" - Rifki Putra Adimulia, balesan sms di atas

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

The Answer


Teruntuk seorang teman baik yang pernah bertanya kepada saya sebuah pertanyaan sulit dan membuat saya banyak berpikir ulang tentang apa yang saya inginkan selama ini. Untuknya yang selama ini merasa nyaman dengan keadaannya mempertanyakan keadaan diri saya yang selalu terlihat ‘tidak nyaman’ di matanya. Ketahuilah bahwa saya hanya berusaha menggunakan segala waktu yang saya punya untuk melakukan hal-hal yang saya inginkan, sebelum saya merasa menyesal di kemudian hari.

Rasa capeknya? Anggap saja sebagai sebuah tebusan dari rasa penyesalan dua puluh tahun kemudian yang dikatakan Mark Twain dalam quote di atas. Bahkan sepertinya selelah apapun saya, saya tetap tidak dapat menebus semuanya, mengingat saya tidak mungkin melakukan semuanya, semua yang saya ingin lakukan. Waktu kan hanya 24 jam. Tapi paling tidak saya sudah berusaha.

Yuk melakukan sesuatu. Apapun.
Yang ingin kamu lakukan. Yang membuat kamu bahagia. Sekarang.
Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk dirimu sendiri :)

“Lo ketua angkatan ikut, BEM ikut, apa-apa ikut, sebenernya apa sih yang lo cari?” – Hanum Rahmawati Nur

Semoga bisa menjadi jawaban yang valid dan mencerahkan :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Menakar Kembali Kekuatan Komoditas Pertanian Tropis Nusantara

“Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”  Kolam Susu - Koes Plus

Bukan tanpa alasan grup band Koes Plus yang sangat populer beberapa dekade silam menciptakan lagu Kolam Susu. Konon, lagu ini diciptakan ketika Koes Plus mampir di Kolam Susu, Attambua. Kolam Susu ini adalah sebuah kolam atau tambak ikan bandeng di Attambua, Nusa Tenggara Timur. Lagu yang diciptakan oleh Yok Koeswoyo ini menceritakan tentang bagaimana besarnya anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nusantara, terutama dalam potensi pertanian dan bidang terkait lainnya. Letak geografis Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis yang sangat potensial ditanami berbagai macam komoditas unggulan. Pertanian di iklim tropis (pertanian tropika) memungkinkan berbagai macam komoditas ditanam sepanjang tahun karena tidak memiliki musim-musim yang ekstrim. Kekuatan komoditas pertanian tropis Indonesia menjadi kekuatan utama dalam menyangga kebutuhan dunia akan komoditas unggulan Nusantara.

Contoh komoditas unggulan yang dapat ditanam adalah tanaman kakao (Theobroma cacao) yang menjadi bahan baku makanan atau minuman cokelat. Nama theobroma dalam Theobroma cacao, memiliki arti “makanan para dewa” dalam bahasa Yunani. Ribuan tahun yang lalu, kakao menjadi lambang kemewahan dan status sosial masyarakat serta memiliki nilai sebagai mata uang yang berlaku di masyarakat. Kakao hanya tumbuh di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Indonesia, berdasarkan data panen tahun 2005, tercatat sebagai negara penghasil kakao terbesar ke-3 di dunia, dengan menyumbang 13% dari total produksi kakao dunia. (Wikipedia)

Cukup ironis ketika kita kembali ke masa sekarang dan melihat apa yang terjadi dengan komoditas ini. Tentu kita sering mendengar bahwa negara cokelat adalah Swiss dan Belgia, apalagi setelah salah satu produk es krim terkenal di negeri ini mengeluarkan varian rasa dengan menggunakan  ‘Belgian Chocolate’. Ada banyak sekali pabrik cokelat di Belgia dan Swiss. Faktanya hanya 11% lahan di Swiss yang bisa ditanami, dan iklim Swiss tidak layak untuk menanam kakao. Lalu bagaimana mungkin negara Eropa ini bisa menjadikan cokelat sebagai unggulan mereka padahal mereka sendiri tidak bisa menanam kakao? Bahan baku yang mereka gunakan sudah barang tentu berasal dari negara tropis termasuk Indonesia, tapi apa pernah kita sebagai salah satu produsen terbesar kakao dunia mendapat julukan yang terhormat dalam produk cokelat? Indonesia bahkan mengimpor kembali cokelat Eropa untuk konsumsi dalam negeri! Ironis!

Cerita yang tidak jauh berbeda datang dari komoditas kopi (Coffea sp.). Dari sekian banyak jenis biji kopi yang dijual di pasaran, hanya terdapat 2 jenis varietas utama, yaitu kopi arabika (Coffea arabica) dan robusta (Coffea robusta) (Wikipedia). Fenomena teranyar tentang komoditas ini hadir saat semakin menjamurnya kedai kopi ‘elit’ Starbucks di Indonesia. Kopi yang dijual di Starbucks memiliki harga yang sangat tinggi, berlipat-lipat lebih tinggi dibanding kopi yang dijual di kedai biasa, mengingat pangsa pasar yang dibidik di Indonesia adalah kalangan masyarakat menengah ke atas. Padahal jika kita mau menelaah komposisi kopi yang dijual di Starbucks, hampir semua bahan baku asli lokal Indonesia!

Belum lagi komoditas lain seperti buah-buahan tropis asli Indonesia. Dahlan Iskan dalam sebuah kesempatan mengisi Stadium General memperingati ’60 Tahun Pendidikan Pertanian Indonesia’ di Graha Widya Wisuda, Institut Pertanian Bogor, mengatakan bahwa betapa besar potensi buah-buahan asli Indonesia. Durian contohnya, beliau mengatakan bahwa permintaan buah ini sangat besar dari negara lain di Asia. Belum lagi buah-buahan lokal lainnya yang juga memiliki permintaan yang sangat besar dari publik Indonesia sendiri.

Begitu pula dengan komoditas rempah-rempah. Rempah-rempah, yang menjadi alasan awal Belanda menghampiri Nusantara beberapa ratus tahun silam, kini tetap menjadi primadona karena harganya semakin tinggi seiring dengan permintaan pasar. Salah satu contoh komoditas rempah-rempah adalah lada. Indonesia pada tahun 2008 tercatat sebagai peringkat ke-4 penghasil lada dunia (9%), setelah Vietnam (34%), India (19%) dan Brazil (13%) (Wikipedia). Lada merupakan salah satu komoditas rempah favorit karena memiliki banyak sekali kegunaan, salah satu bumbu masak dan obat. Rempah-rempah unggulan lainnya adalah cengkeh yang juga merupakan salah satu bahan baku rokok kretek Indonesia. Indonesia tercatat sebagai penghasil cengkeh terbesar di dunia dengan produksi 110.500 ton pada tahun 2005 (Wikipedia). Selain menjadi salah satu bahan baku rokok kretek, cengkeh juga memiliki banyak kegunaan seperti bumbu dan obat tradisional.

Juga jangan lupakan komoditas kelapa sawit dan karet. Kelapa sawit saat ini adalah komoditas unggulan dan utama di Indonesia. Kelapa sawit menjadi unggulan karena hampir seluruh bagian dari kelapa sawit, mulai dari bagian pohon, buah dan bijinya dapat dimanfaatkan menjadi produk hasil industri. Pohon industri sawit sangat luas dan dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari tiga negara penghasil karet terbesar di dunia, bersama dengan Thailand dan Malaysia. Pemanfaatan karet antara lain salah satunya sebagai bahan baku industri ban dan tekstil.

Contoh di atas adalah beberapa komoditas unggulan di Indonesia yang perlu kita ketahui bersama agar kita sadar bahwa negara ini memiliki kekuatan yang luar biasa dalam komoditas pertanian tropis. Persaingan dunia semakin ketat dan keunggulan ini tentu dapat kita manfaatkan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. Setelah kita menakar kembali peta kekuatan Indonesia di bidang ini, sekarang waktunya kembali bekerja!  

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Puncak Kangen Paling Dahsyat

"Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon tak saling SMS, BBM-an dan lain-lain tak saling
namun diam-diam keduanya saling mendoakan"
-Sujiwo Tejo

*berdoa :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Yang Terngiang

- Motivator di Techno-F 2012 

"Analogikan hidup kalian itu bersepeda dari titik A ke titik B. Kuliah hanya memberikan ilmu tentang apa itu sepeda, berapa jari-jari rodanya, bagaimana pengemasannya, padahal goal kalian itu naik sepeda! Kalian belum belajar bagaimana caranya naik sepeda dengan benar! Makanya kalian setelah lulus, segeralah cari sepeda, belajar bagaimana cara memakainya." 

"Jangan pernah mimpi dapat ikan besar kalau kalian beraninya hanya main di selokan!"

"Pemilih-pemilih yang cerdas adalah mereka yang menikmati segala konsekuensinya"

"Kebahagiaan berawal dari keputusan Anda untuk bahagia"

Walaupun kalimatnya sedikit klise, tapi saya rasa ketika berbagai pemahaman sederhana ini bisa kita terapkan dengan baik, rasanya hidup akan jauh lebih bermakna

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)