Macet Suksesi di Rumah Sendiri

Tulisan ini berangkat dari sebuah diskusi kurang penting dengan Kadiv saya sendiri di Div. Acara MPKMB, di salah satu gerbong KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Kota, malam hari sekitar dua minggu yang lalu. Saya sebenarnya rada bingung juga opening statement dari posting ini harus bagaimana.

Kita urai aja dulu deh ya ceritanya. Perumahan tempat saya tinggal dibangun pada sekitar tahun 1980-an, dan mayoritas memang yang tinggal di sana ketika itu adalah keluarga-keluarga yang masih dalam usia produktif, ketika itu. Hari ini tahun 2012, dan dinasti keluarga kami masih menempati kompleks perumahan yang sama. Banyak penghuni lama yang sudah pindah, tapi masih banyak yang masih tinggal. Dan kebanyakan meskipun banyak orang yang pindahan ke kompleks kami, juga orangtua dengan zaman yang tidak jauh berbeda.

Katakanlah mereka produktif pada tahun 1980-an, logikanya sekarang mayoritas dari mereka sudah menjadi kakek-nenek. Sudah memiliki keturunan jilid kedua (baca: cucu). Jilid satunya adalah saya dan teman-teman seangkatan yang punya rentang umur 18-28 tahun. Tahun 1990 dan 2000-an kami masih dalam usia anak-anak dan remaja dan masih tinggal di rumah orangtua kami masing-masing. Main-main sama teman satu RT masih jadi agenda utama.

Perubahan terjadi ketika memasuki tahun 2008, saat saya sebagai salah seorang yang termuda dari generasi jilid satu memasuki masa SMA. Yang terjadi adalah kami tidak pernah lagi main dirumah. Kami semua disibukan dengan berbagai macam tugas di SMA yang jauh lebih lama jam sekolahnya, juga teman-teman baru di SMA yang membuat kami mulai enggan main dengan tetangga.

Hal ini juga menyebabkan kami jarang bersosialisasi dan terkesan kurang peduli di lingkungan rumah. Akibatnya organisasi karang taruna yang tadinya hidup sekarang mati total. Administrasi dan pengelolaan RT/RW dan juga kepanitiaan di masjid mandek di pangkuan generasi bapak-bapak kami.

Hari ini 2012 dan banyak dari generasi kami yang merantau ke luar kota, bahkan ke luar Jawa. Ada yang kerja, kuliah, atau bahkan memulai hidup baru disana.

Saya baru sadar betapa kurangnya kepedulian angkatan saya terhadap regenerasi di lingkungan rumah sendiri setelah beberapa bulan terakhir banyak tetangga saya yang meninggal. Batin saya, “Ini generasi bapak-bapak kami sudah pada tua, siapa yang melanjutkan?” Ada sih beberapa warga yang memang masih dalam usia produktif, cuma yaa tidak banyak jumlahnya. Longkap umurnya juga jauh, sekitar 20 tahunan.

Ini memang bukan masalah besar sebenarnya, cuma saya merasa terusik sama keadaan ini. Kurang lebih beginilah cuplikan perbincangannya setelah saya berikan pengantar sedemikian rupa dengan Pak Kadiv:
Saya    : *setelah menjelaskan kegelisahan saya “Jadi gitu boi, menurut lo gimana?”
Kadiv  : “Hmmm” *diem sebentar “kalo gue sih engga bingung”
Saya    : “Oh begitukah? Jadi kejadian kayak gini cuma ada di kompleks gue doang?”
Kadiv  : “Engga, soalnya gue belom pernah mikir kayak gini sebelum lo ngomong barusan”
Saya    : -__________- “Tapi kondisinya sama engga sama lingkungan di rumah lo?”
Kadiv  : “Sama sih sebenernya. Tapi ya mau gimana lagi”
Saya    : “Nah kan. Gue tuh ngerasa kita terlalu disibukkan sama sesuatu yang sebenernya ‘jauh’. Kayak aktif di kampus lah, organisasi ini itu lah, tapi kita ga pernah ngurus masalah regenerasi di lingkungan rumah kita sendiri”
Kadiv  : “Iya sih”
Saya    : “Terus menurut lo gimana?”
Kadiv  : “Ya emang gitu sih, mungkin emang waktunya kita bukan di tempat rumah kita”
Saya    : “Maksudnya?”
Kadiv  : “Ya maksudnya kan tadi lo bilang kalo generasi kita terbentuk karena arus urbanisasi kan? Orangtua kita dulu juga memutuskan buat ‘pindah’ dan engga melanjutkan suksesi di tempat mereka dulu kan? Ya berarti kita mungkin akan melakukan hal yang sama”
Saya    : “Terus?”
Kadiv  : “Jadi yaa mungkin bukan kita yang nanti ngelanjutin suksesi di rumah mar. Kita kan udah pada kuliah jauh-jauh, susah juga buat balik ke rumah sering-sering”
Saya    : “Lah entar yang jadi pemimpin disana siapa dong?”
Kadiv  : “Entahlah”
*keheningan yang cukup lama
Saya    : “Gue pernah merasakan beberapa tahun yang lalu ada masa dimana di lingkungan rumah gue ga ada anak kecil sama sekali”
Kadiv  : “Gue juga!”
Saya    : “Dan itu rasanya ga enak banget, ga ada yang main-main di depan rumah. Sepi banget rasanya”
Kadiv  : “Iyalah, ga seru kalo ga ada anak-anak yang main di depan rumah. Jadi ga hidup suasananya”

Masalahnya memang sepele. Jawabannya juga sepele. Mau bagaimanapun pasti ada seseorang yang melanjutkan. Regenerasi itu akan tetap ada, walaupun waktunya lama, generasinya berbeda jauh dan kita tidak terlibat karena jarak memisahkan.

Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan.

Poin penting yang ingin saya garis bawahi adalah kenyataan bahwa kita selama ini selalu disibukkan dengan sesuatu yang ‘jauh’ dari habitat awal kita. Kampus, sekolah, organisasi, bisnis dll. Kita mungkin jarang sekali buat menengok sebentar untuk melihat bagaimana lingkungan tempat kita dilahirkan. Coba deh sejenak lupakan masalah kampus, organisasi dll, dan luangkan waktu sejenak untuk melihat bagaimana tetangga-tetangga kita hidup di lingkungan rumah kita.

Sekadar untuk memastikan bahwa ada seseorang, siapapun dia, yang masih melanjutkan keharmonisan hidup dalam lingkungan rumah kita. 

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

2 Responses to : Macet Suksesi di Rumah Sendiri

  1. Lia says:

    aniwei, dari dulu karang taruna gue udah mati mar. bahkan dari gue lahir. emang ga ada organisasi kepemudaan apapun disini, karena memang yg nerusin kuliah dari 1 desa, paling cuma 2-3 org, dan itu warga pendatang.

    kalo anak kecil sih masih banyak di rumah gue, soal regenerasi jalan terus, kayaknya banyak yg ga kenal KB disini, walau kayaknya iklan di tv udah santer bgt tuh.

    kalo gue sih udah lama kepikiran, tp karena ga ada temen seperjuangan, ya akhirnya gue pendem aja. akhirnya selama nyaris 21 tahun gue idup, karang taruna nya ga pernah aktif.

    tp organisasi macem PNPM Mndiri, ibu2 PKK, ibu pengajian, dll disini aktif. cuma yaa... ga ada ladang buat pemudanya.

    when you're the only one here, entah kenapa sebelum memulai gue udah pesimis dluan T.T

  2. lah ini komen belom gue reply ya? -_-

    yaa itu dia makanya mbak, gue ngenes sama lingkungan rumah, temen seperjuangan sih ada, tapi susah banget... niatinnya -_-'

    mungkin karena lingkungan rumah ga begitu 'menjanjikan' kali ya?

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)