Lupa atau Salah Orang?


Kemarin maghrib di Musholla An-Nur di basement Cibubur Junction, ketika saya ada di antrian untuk ambil air wudhu, a wild man menengok ke arah saya, sambil mengisyaratkan sesuatu. Dia sudah ada di dalam musholla dan sudah bersiap untuk solat, menunggu imamnya untuk menyelesaikan rokaat kedua. Melambai tangan, lalu menggerakan bibir seolah bertanya sama saya. 

Fulan : *melambai tangan
Saya : *mangap, nunjuk diri sendiri seolah nanya “Ngomong sama siapa ini orang? Gue?”
Fulan : *mengangguk, menggerakan bibir tanpa suara, “Lagi ngapain?”
Saya : *nunjuk ke arah atas (maksudnya dari atas, entah saya juga bingung maksudnya apaan, reflek aja bilang gitu. Awalnya mau mengisyaratkan ‘abis makan’ tapi selek reflek saya. Kalo dilihat lagi, awkward banget jawaban saya, secara itu di basement ya iyalah datengnya dari atas, masa dari bawah tanah -__-)
Fulan : *mengangguk (entah mengerti atau pasrah) lalu memulai solat maghrib

Saya tidak ingat siapa gerangan si Fulan.

Setelah kejadian itu, saat wudhu, setelah wudhu sampai setelah naik kembali ke dunia nyata bareng keluarga, saya masih tidak bisa mengingat siapa gerangan yang tadi menyapa saya di musholla. Saya baru mau mulai solat dengan jamaah baru, dia masih solat. Saya sudah kelar, dia sudah menghilang. Saya ingat-ingat kembali kok mukanya mirip sama Fauzan komti TMB pas TPB kemarin, tapi Fauzan lebih pendek dan bentuk wajahnya beda.

Sampai saat saya menulis ini, saya masih tidak bisa mengingat. Parah. 

Kemungkinannya ada dua, saya yang memang lupa atau ternyata dia yang salah orang?
Wallahu’alam

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)