Dua di Malam Takbiran 1433 H


Hari ini malam takbiran dan saya secara random  memikirkan dua hal yang (entah kenapa) sangat mengusik pikiran saya semenjak awal hari ini. Jikalau ternyata dua hal ini juga digelisahkan oleh para pembaca blog ini, yaa Alhamdulillah, tapi kalau ternyata bukan, yaa maklumi saja. Saya, seperti anak muda pada umumnya, memang banyak gelisahnya.

SATU
Teman sekamar saya di asrama PPSDMS, Diki Saefurrohman (THH, Fahutan 47) menjelaskan ketika sharing competency tentang bahasa Arab dasar dan kiat-kiat belajar bahasa Arab. Yaa memang sih tidak terlalu mendetil karena waktunya cuma 10 menit. Cuma ada satu hal yang saya ingat betul, tentang kekeliruan arti ucapan selamat pada hari raya idul fitri. 

Walaupun topik kekeliruan arti ini memang sudah sangat sering diangkat dari entah kapan , tapi herannya masyarakat kok sedikit yang engeh ya -___-

Saya lupa juga sih detil pembentukan katanya seperti apa, tapi sebenarnya ada kesalahan mendasar pada pengartian kita secara harfiah pada kata ‘Idul Fitri. Selama ini masyarakat (dan saya juga sebelum mengetahui hal ini) mengartikan kata ‘Idul Fitri sebagai “kembali ke fitrah” atau “kembali kepada kesucian”. Memang kata ‘Id sendiri bermakna kembali, namun yang harus ditinjau adalah kata fitri. Kata fitri pada dasarnya satu bentukan kata dengan iftor yang berarti ‘makan kembali’ atau dapat juga diartikan ‘berbuka puasa’

Jadi sebenarnya makna ‘Idul Fitri adalah ‘kembali makan’ atau ‘kembali berbuka’ setelah berpuasa di bulan Ramadhan.

Jauh banget ya ternyata dengan pemahaman kita selama ini.

Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana arti yang selama ini ada di media ternyata sangat berbeda dengan arti sebenarnya. Mungkin karena ‘kembali makan’ bukanlah kata-kata yang memiliki rasa religius yang kuat di telinga masyarakat, sehingga digunakanlah arti 'kembali ke fitrah' yang memiliki semangat kebaikan yang lebih kentara, dan juga (tentunya) lebih memikat secara komersil. 

Saya sih secara pribadi tidak terlalu mempermasalahkan sebab kenapa artinya dipelintirkan, selama kata-katanya baik. Namun ada sedikit keraguan jangan-jangan ini adalah sebuah kekeliruan umat yang besar, yang bisa merusak arti hari raya yang bersangkutan secara keseluruhan? Saya belum mengerti.

Masih menyangkut arti harfiah, media dan masyarakat juga seringkali mengartikan kalimat ‘Minal aidin wal faizin’ sebagai ‘Mohon maaf lahir dan batin'. Ini sebenarnya yang paling sering dikoreksi tapi kok masih saja terulang kekeliruannya. -____-

Arti dari ‘Minal aidin wal faizin’ kurang lebih ‘bagian dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang’. Dan kalimat ini memang tidak berasal dari Rasulullah SAW secara langsung. Yang diucapkan Rasulullah adalah ‘Taqobalallahu minna wa minkum’ yang berarti ‘semoga Allah menerima (ibadah) aku dan (ibadah) kalian’.

Tujuan saya menuliskan ini hanya sekedar informasi belaka, dan karena ilmu saya masih cetek saya tidak akan membiarkan opini saya mengotori informasi ini. Silahkan pembaca yang lebih bijak memutuskan kalimat mana yang lebih baik diucapkan pada hari raya.

Wallahu’alam.

DUA
Kalau yang ini sih lebih ke ranah pribadi. Saya akhir-akhir ini agak ‘kecewa’ dengan pesan singkat, SMS dan gambar ucapan selamat Idul Fitri yang disebarkan secara brutal ke orang-orang yang ada di kontaknya atau yang ada di friend list nya. Seringkali format SMS yang dikirmkan sama persis, bahkan saya beberapa tahun yang lalu menemukan 3 SMS yang isinya sama persis dari 3 orang yang berbeda!

Kenapa semakin lama ucapan selamat Idul Fitri semakin tidak personal ya?

Saya membayangkan belasan tahun yang lalu ketika handphone dan Facebook belum ramai (dan bahkan memang belum ada) gimana ya cara masyarakat mengucapkan selamat hari raya? Lewat pos ya? Meskipun terkadang juga kartu pos yang digunakan seringkali sama, tapi somehow saya merasa cara ini jauh lebih personal dan jauh lebih menyentuh penerima pesan. Karena at least sang pengirim menuliskan nama dan alamat kita di surat tersebut.

Beberapa tahun yang lalu waktu hape saya W302, saya malah merasa cukup terganggu dengan ragam SMS ucapan karena memang kapasitas inbox saya yang menyedihkan. Baru berapa SMS yang masuk, tau-tau sudah penuh. Tengah malam karena terganggu dengan hape yang bunyi terus menerus. Batin saya waktu itu karena kesal, “Kalau begini caranya, mending ga usah SMS sekalian, toh SMS pun malah menambah penderitaan saya” 

Namun saya sadar pemikiran itu juga keliru. Tidak ada hal yang salah dalam usaha meminta maaf.

Dan sekarang, malam ini, di depan laptop dan TV yang menyiarkan Arsenal vs Sunderland, di tengah penderitaan saya karena tidak memiliki sisa pulsa di malam yang (harusnya) membutuhkan banyak pulsa untuk mengirim balasan pesan, dan di tengah kumandang takbir yang seirama dengan ritme beduk, saya merenungi kembali tentang esensi pesan-pesan ucapan hari raya yang selama ini saya kirimkan.

Apakah saya selama ini hanya terjebak pada formalitas? Terjebak sehingga keinginan meminta maaf yang seharusnya ter-attach dalam setiap SMS saya tahun-tahun sebelumnya sebenarnya tidak ada? Apa sih sebenarnya yang saya cari ketika mengirimkan pesan-pesan itu?

Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari SMS atau BBM yang Anda sampaikan?

Apakah ucapan ‘maaf lahir batin’ itu memang datang dari lubuk hati yang terdalam? Adakah sepercik ketulusan, atau hanya sekedar meramaikan?
~~~
Mari kita beranjak dari dua hal tadi dan yang paling penting, mari kita berdoa agar kita diberikan umur agar bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)