Kata Mereka

a wild paper appeared
Tiba-tiba sebuah kertas aneh nyempil di berkas-berkas saya setelah packing ulang dan beberes kamar setelah 2 minggu meninggalkan asrama tercintah. 

Ternyata kertas ini adalah kertas pas main kesan dan pesan saat makrab Q11 semester lalu (klik disini buat ulasan makrab bagian pertama atau klik disini untuk bagian kedua)

Dan inilah beberapa yang mereka tulis di kertas saya:

Omongannya ga nahan | seremm!! | songong | sexy? aw aw aw (gajelas) |tengil omongannya haha | bijaksana apa-apa dipikirin mulu (-_-)| teori mulu | wooo delmar, suka gajelas, kalo ngomong dalem | kokom STRES! | komti terbaik se-IPB (gombal) |baik, penuh ekspresi cemungudh! | sesama alis tebal, gue puji lu (apa coba ini?) |ga bisa diem |cihuy, lola tapi asik (-_-)| NIKMAT (dafuq?) |komti labil | koruptor ilmu

Ga jelas emang kelas saya -__-

Notes : komti=ketua kelas

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Lupa atau Salah Orang?


Kemarin maghrib di Musholla An-Nur di basement Cibubur Junction, ketika saya ada di antrian untuk ambil air wudhu, a wild man menengok ke arah saya, sambil mengisyaratkan sesuatu. Dia sudah ada di dalam musholla dan sudah bersiap untuk solat, menunggu imamnya untuk menyelesaikan rokaat kedua. Melambai tangan, lalu menggerakan bibir seolah bertanya sama saya. 

Fulan : *melambai tangan
Saya : *mangap, nunjuk diri sendiri seolah nanya “Ngomong sama siapa ini orang? Gue?”
Fulan : *mengangguk, menggerakan bibir tanpa suara, “Lagi ngapain?”
Saya : *nunjuk ke arah atas (maksudnya dari atas, entah saya juga bingung maksudnya apaan, reflek aja bilang gitu. Awalnya mau mengisyaratkan ‘abis makan’ tapi selek reflek saya. Kalo dilihat lagi, awkward banget jawaban saya, secara itu di basement ya iyalah datengnya dari atas, masa dari bawah tanah -__-)
Fulan : *mengangguk (entah mengerti atau pasrah) lalu memulai solat maghrib

Saya tidak ingat siapa gerangan si Fulan.

Setelah kejadian itu, saat wudhu, setelah wudhu sampai setelah naik kembali ke dunia nyata bareng keluarga, saya masih tidak bisa mengingat siapa gerangan yang tadi menyapa saya di musholla. Saya baru mau mulai solat dengan jamaah baru, dia masih solat. Saya sudah kelar, dia sudah menghilang. Saya ingat-ingat kembali kok mukanya mirip sama Fauzan komti TMB pas TPB kemarin, tapi Fauzan lebih pendek dan bentuk wajahnya beda.

Sampai saat saya menulis ini, saya masih tidak bisa mengingat. Parah. 

Kemungkinannya ada dua, saya yang memang lupa atau ternyata dia yang salah orang?
Wallahu’alam

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Selamat Idul Fitri 1433 H :)


Taqobalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H :)
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih paripurna setelah melalui bulan yang penuh berkah ini, dan menjalani hidup di 11 bulan berikutnya dengan kualitas yang lebih baik.

Semoga Allah memperkenankan setiap dari kita untuk menikmati limpahan kebaikan-Nya di Ramadhan tahun depan.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Dua di Malam Takbiran 1433 H


Hari ini malam takbiran dan saya secara random  memikirkan dua hal yang (entah kenapa) sangat mengusik pikiran saya semenjak awal hari ini. Jikalau ternyata dua hal ini juga digelisahkan oleh para pembaca blog ini, yaa Alhamdulillah, tapi kalau ternyata bukan, yaa maklumi saja. Saya, seperti anak muda pada umumnya, memang banyak gelisahnya.

SATU
Teman sekamar saya di asrama PPSDMS, Diki Saefurrohman (THH, Fahutan 47) menjelaskan ketika sharing competency tentang bahasa Arab dasar dan kiat-kiat belajar bahasa Arab. Yaa memang sih tidak terlalu mendetil karena waktunya cuma 10 menit. Cuma ada satu hal yang saya ingat betul, tentang kekeliruan arti ucapan selamat pada hari raya idul fitri. 

Walaupun topik kekeliruan arti ini memang sudah sangat sering diangkat dari entah kapan , tapi herannya masyarakat kok sedikit yang engeh ya -___-

Saya lupa juga sih detil pembentukan katanya seperti apa, tapi sebenarnya ada kesalahan mendasar pada pengartian kita secara harfiah pada kata ‘Idul Fitri. Selama ini masyarakat (dan saya juga sebelum mengetahui hal ini) mengartikan kata ‘Idul Fitri sebagai “kembali ke fitrah” atau “kembali kepada kesucian”. Memang kata ‘Id sendiri bermakna kembali, namun yang harus ditinjau adalah kata fitri. Kata fitri pada dasarnya satu bentukan kata dengan iftor yang berarti ‘makan kembali’ atau dapat juga diartikan ‘berbuka puasa’

Jadi sebenarnya makna ‘Idul Fitri adalah ‘kembali makan’ atau ‘kembali berbuka’ setelah berpuasa di bulan Ramadhan.

Jauh banget ya ternyata dengan pemahaman kita selama ini.

Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana arti yang selama ini ada di media ternyata sangat berbeda dengan arti sebenarnya. Mungkin karena ‘kembali makan’ bukanlah kata-kata yang memiliki rasa religius yang kuat di telinga masyarakat, sehingga digunakanlah arti 'kembali ke fitrah' yang memiliki semangat kebaikan yang lebih kentara, dan juga (tentunya) lebih memikat secara komersil. 

Saya sih secara pribadi tidak terlalu mempermasalahkan sebab kenapa artinya dipelintirkan, selama kata-katanya baik. Namun ada sedikit keraguan jangan-jangan ini adalah sebuah kekeliruan umat yang besar, yang bisa merusak arti hari raya yang bersangkutan secara keseluruhan? Saya belum mengerti.

Masih menyangkut arti harfiah, media dan masyarakat juga seringkali mengartikan kalimat ‘Minal aidin wal faizin’ sebagai ‘Mohon maaf lahir dan batin'. Ini sebenarnya yang paling sering dikoreksi tapi kok masih saja terulang kekeliruannya. -____-

Arti dari ‘Minal aidin wal faizin’ kurang lebih ‘bagian dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang’. Dan kalimat ini memang tidak berasal dari Rasulullah SAW secara langsung. Yang diucapkan Rasulullah adalah ‘Taqobalallahu minna wa minkum’ yang berarti ‘semoga Allah menerima (ibadah) aku dan (ibadah) kalian’.

Tujuan saya menuliskan ini hanya sekedar informasi belaka, dan karena ilmu saya masih cetek saya tidak akan membiarkan opini saya mengotori informasi ini. Silahkan pembaca yang lebih bijak memutuskan kalimat mana yang lebih baik diucapkan pada hari raya.

Wallahu’alam.

DUA
Kalau yang ini sih lebih ke ranah pribadi. Saya akhir-akhir ini agak ‘kecewa’ dengan pesan singkat, SMS dan gambar ucapan selamat Idul Fitri yang disebarkan secara brutal ke orang-orang yang ada di kontaknya atau yang ada di friend list nya. Seringkali format SMS yang dikirmkan sama persis, bahkan saya beberapa tahun yang lalu menemukan 3 SMS yang isinya sama persis dari 3 orang yang berbeda!

Kenapa semakin lama ucapan selamat Idul Fitri semakin tidak personal ya?

Saya membayangkan belasan tahun yang lalu ketika handphone dan Facebook belum ramai (dan bahkan memang belum ada) gimana ya cara masyarakat mengucapkan selamat hari raya? Lewat pos ya? Meskipun terkadang juga kartu pos yang digunakan seringkali sama, tapi somehow saya merasa cara ini jauh lebih personal dan jauh lebih menyentuh penerima pesan. Karena at least sang pengirim menuliskan nama dan alamat kita di surat tersebut.

Beberapa tahun yang lalu waktu hape saya W302, saya malah merasa cukup terganggu dengan ragam SMS ucapan karena memang kapasitas inbox saya yang menyedihkan. Baru berapa SMS yang masuk, tau-tau sudah penuh. Tengah malam karena terganggu dengan hape yang bunyi terus menerus. Batin saya waktu itu karena kesal, “Kalau begini caranya, mending ga usah SMS sekalian, toh SMS pun malah menambah penderitaan saya” 

Namun saya sadar pemikiran itu juga keliru. Tidak ada hal yang salah dalam usaha meminta maaf.

Dan sekarang, malam ini, di depan laptop dan TV yang menyiarkan Arsenal vs Sunderland, di tengah penderitaan saya karena tidak memiliki sisa pulsa di malam yang (harusnya) membutuhkan banyak pulsa untuk mengirim balasan pesan, dan di tengah kumandang takbir yang seirama dengan ritme beduk, saya merenungi kembali tentang esensi pesan-pesan ucapan hari raya yang selama ini saya kirimkan.

Apakah saya selama ini hanya terjebak pada formalitas? Terjebak sehingga keinginan meminta maaf yang seharusnya ter-attach dalam setiap SMS saya tahun-tahun sebelumnya sebenarnya tidak ada? Apa sih sebenarnya yang saya cari ketika mengirimkan pesan-pesan itu?

Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari SMS atau BBM yang Anda sampaikan?

Apakah ucapan ‘maaf lahir batin’ itu memang datang dari lubuk hati yang terdalam? Adakah sepercik ketulusan, atau hanya sekedar meramaikan?
~~~
Mari kita beranjak dari dua hal tadi dan yang paling penting, mari kita berdoa agar kita diberikan umur agar bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

(Sepinya) Dirgahayu Indonesia ke-67!


“Dirgahayu Indonesia ke 67! Kapan ya bisa lomba-lomba lagi di daerah rumah? Udah 11 tahun sepi -,-“ – Amalia Khoirun Nisa – Teknologi Pangan IPB

Setuju banget. Hari kemerdekaan tahun ini sangat sepi.

Pertama-tama saya ingin cerita bahwa dalam lubuk hati terdalam saya, saya sungguh kangen dengan berbagai lomba-lomba 17-an. Makan kerupuk, ambil koin, balap karung, dan lain-lain. Terakhir kali saya ikut lomba ini di lingkungan rumah adalah saat saya masih kelas VII SMP. Setelahnya saya udah ga pernah lagi main-main seperti ini. Salah satu sebabnya ya posting saya sebelumnya (baca: Macet Suksesi diRumah Sendiri) Dihitung tahun, berarti sudah sekitar 6 tahun yang lalu terakhir saya ikut lomba (itu Mbak Lia lama amat 11 tahun -.-)

Saya sebenarnya sampai sekarang masih tidak mengerti, kenapa masyarakat merayakan kemerdekaan dengan ragam perlombaan ya? Sejak kapan perlombaan ini menjadi salah satu simbol dari perayaan kemerdekaan?

Pertanyaan selanjutnya: Masih adakah simbol perlombaan dalam perayaan kemerdekaan di lingkungan teman-teman semua? Kapan terakhir kali kalian bergembira dan merasakan euforianya?

Pertanyaan yang lebih mendalam : Masih relevan ga sih lomba-lomba tersebut dengan euforia kemerdekaan? Terus kita sebagai yang bukan anak-anak lagi, masih perlu ga sih main-main seperti ini?

Cuma bertanya.

Apapun itu, semoga di tengah sepinya perayaan kemerdekaan ini, kita masih bisa meneladani para pahlawan yang telah memperjuangkan terwujudnya negara Indonesia. Kembali menerapkan semangat yang mereka bawa, bersama-sama, mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

 Dirgahayu Indonesia. Terima kasih pahlawan Indonesia:)

POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

Contribution on The Spot 2nd & 3rd Episode: (Lagi-lagi) Bara


Contribution on The Spot 2nd Episode, Selasa, 31 Juli 2012, 06:30-10:00 WIB

“Yang kedua pake kelompok yang kemaren aja. Tempatnya sama, tapi bentuk kontribusinya harus beda.” – MA Regional V

Hari Senin saya sudah mulai galau karena pengumuman lanjutan tentang CoTS esok hari tidak muncul-muncul. Setelah disambangi di kantor, sang MA mengeluarkan pernyataan di atas, sekaligus memulai pencarian ide bakal ngapain aja kami esok hari. Malamnya kami belum mencapai titik temu dengan kelompok. Baru mulai diskusi lagi setelah Al-Ma’tsurat pagi-pagi ba’da subuh dan brifing beberapa kegiatan Ramadhan Regional V. 

Saya sejak habis subuh udah ngantuk berat, entah kenapa (bukannya selalu gitu Mar?) Sampai kelar briefing juga masih ngantuk parah. Kelompok saya sudah mulai diskusi, saya mati konyol di tengah ruang keluarga sambil tengkurap. Yang lain sudah mengeluarkan ide, bahkan beberapa kelompok sudah mulai bergerak ke TKP masing-masing, dan saya masih tidak sadarkan diri.

Sampai akhirnya seorang teman bertanya kepada saya yang masih tergeletak dan saya bilang dengan spontan:

 “Yaudah gini aja, pegang kertas yang isinya pesan apa kek, berdiri di Berlin sambil pake helm biar ga malu”

bayangan saya sih kayak gini
Ini sebenarnya terinspirasi dari salah seorang teman saya yang hobi banget melakukan ini pas rapat. Tulisannya aneh-aneh, mulai dari “Jangan marah”, “Ayo focus” dan lain-lain lah. Saya mengungkapkan ide ini sekenanya aja, tanpa pikir panjang. Bayangan saya, yaa bikin tulisan yang menyangkut tentang Ramadhan lah, sekalian mengingatkan orang-orang. Sebenernya saya juga males sih melakukan ini, aneh banget rasanya. Namanya juga asal ceplos.

Anehnya, ternyata satu kelompok setuju. Sebenarnya ini ide saya yang memang brilian apa mereka yang sudah habis akal? Entahlah.
Kegiatan selanjutnya: mandi, persiapan, eksekusi!
~~~
Tim lapang dari kelompok ini adalah Muis, Ahmad, Ari, Arif, Barli dan saya. Adzkiy standy di asrama untuk bikin laporan. Karena saya pencetusnya, akhirnya secara tidak langsung saya punya tanggung jawab buat jadi koordinator lapang buat episode ini. Sekali lagi saya jelaskan biar terbayang, konsep awalnya adalah kita ingin menyebarkan pesan-pesan kebaikan terkait dengan bulan suci Ramadhan dengan media kertas buram. Kertas buram itu kita tulis satu persatu dengan tulisan-tulisan yang mengingatkan kita akan kebaikan. Contohnya adalah, “Perbanyak istighfar”, “Cemungudh eaaa puasanya”, “Jagalah hati”, “Bisa jadi ini ramadhan terakhir kita”, dan “Kalo puasa disayang papa dan mama”.

Kertas-kertas ini dipegang oleh salah seorang dari kami yang berdiri stand-by di pojok jalan Babakan Raya, tepatnya di kawasan tembok Berlin. Sang pemegang kertas hanya berdiri stand-by di spot-spot tertentu dan mengganti tulisan-tulisan yang dia pegang. Awalnya kami ingin agar identitas sang pemegang kertas tidak ketahuan, maka kami menggunakan sarung untuk menutupi wajah dan jaket hitam untuk menyamarkan identitas kami.
sebelum eksekusi, di pos sementara di Berlin
Di masa percobaan, dua orang pemegang kertas awal adalah Arif dan Muis. Situasi berubah menjadi aneh ketika tim lapang kami menemukan beragam reaksi tidak normal yang ditunjukkan oleh para pejalan kaki yang lewat. Saya memonitor reaksi orang-orang dan ternyata banyak yang ketakutan. -___-
awalnya kami begini karena susah cari helm -_-

kenapa ditutupin? rada kurang pede sama muka
Akhirnya setelah 3 menit melakukan percobaan pertama, kami segera mundur dan melakukan evaluasi. Setalah dikaji, masalahnya terletak pada penampilan kami yang terlalu menyeramkan. Pemecahan masalahnya adalah segala atribut tersebut dilepas dan para pemegang kertas polos hanya menggunakan pakaian asli mereka, serta ditambah senyuman yang manis dan menyenangkan. Alhamdulillah, percobaan kedua dan seterusnya dengan metode ini berhasil dengan sukses. Respon masyarakat bagus, banyak yang senyum dan ketawa liat pesannya. Arif bahkan dibilang ganteng sama yang lewat haha.


Ini secara tidak langsung mengajarkan kami bahwa ternyata kebaikan harus disebarkan dengan cara yang halus, ceria dan menyenangkan. Respon masyarakat akan lebih menerima ketika kita tampil dengan wajah yang menyenangkan :)

Contribution on The Spot 3rd Episode, Rabu, 8 Agustus 2012, 16:00-18:00 WIB

“Kelompoknya sama, tempatnya semua di Bara ya, kontribusinya harus beda” – MA Regional V

Kalimat itu menakdirkan kami melakukan CoTS tiga kali berturut-turut di tempat yang sama. Membosankan -___-

Karena mau menjelang berbuka akhirnya kita sepakat dengan ide yang sederhana: membantu masjid di sekitar Bara menyiapkan takjilan sekalian numpang berbuka disana. Juga penyebaran kertas tentang manfaat puasa ke jamaah setempat.
Masjid Miftahul Jannah, romantis ye pinggir danau :p
Reportnya tidak banyak karena memang hal yang kami lakukan hanya membantu marbot dan membelikan gorengan tambahan juga menyelipkan selebaran di bawah gelas air minum jamaah.
waktu lagi nyiapin takjilan
bapak-bapak jamaah yang baca selebaran yang kami sempil di bawah gelas
DONE. Misi sukses terlaksana.

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Permohonan Maaf


Maaf karena janji saya untuk menyelesaikan serial NLC The Series sampai sekarang masih belum rampung. Beberapa hal yang membuat saya menunda (atau membatalkan?) post selanjutnya adalah karena saya lupa detil peristiwa sebagai akibat tidak menuliskannya di tempat. Saya takut hanya akan menjabarkan poin materi dan mengurangi esensi materi yang disampaikan. Selain itu masih banyak pula tugas yang masih harus saya emban yang saya rasa lebih penting daripada memberikan catatan NLC saya yang lumayan menyedihkan di hari kedua sampai terakhir. 

Sekali lagi mohon maaf. Janji ini saya batalkan (entah untuk sementara atau selamanya)
Maafin ya, saya takut ditagih di akhirat

DISCUSSION 0 Comments

Lebih Indah Dengan Hati



Karena semua keindahan tidak selalu berwujud dan bisa dilihat. Anehnya, hati, sesuatu yang tidak memiliki retina dan rangsang syaraf untuk melihat, bisa menangkap 'wujud' lain dari keindahan yang sebenarnya. Allah Maha Adil untuk orang-orang yang tidak memiliki kemampuan penglihatan, dan oleh-Nya diberikan kenyataan bahwa keindahan hakiki adalah milik 'indra' yang dimiliki semua insan di bumi-Nya. Hati.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Macet Suksesi di Rumah Sendiri

Tulisan ini berangkat dari sebuah diskusi kurang penting dengan Kadiv saya sendiri di Div. Acara MPKMB, di salah satu gerbong KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Kota, malam hari sekitar dua minggu yang lalu. Saya sebenarnya rada bingung juga opening statement dari posting ini harus bagaimana.

Kita urai aja dulu deh ya ceritanya. Perumahan tempat saya tinggal dibangun pada sekitar tahun 1980-an, dan mayoritas memang yang tinggal di sana ketika itu adalah keluarga-keluarga yang masih dalam usia produktif, ketika itu. Hari ini tahun 2012, dan dinasti keluarga kami masih menempati kompleks perumahan yang sama. Banyak penghuni lama yang sudah pindah, tapi masih banyak yang masih tinggal. Dan kebanyakan meskipun banyak orang yang pindahan ke kompleks kami, juga orangtua dengan zaman yang tidak jauh berbeda.

Katakanlah mereka produktif pada tahun 1980-an, logikanya sekarang mayoritas dari mereka sudah menjadi kakek-nenek. Sudah memiliki keturunan jilid kedua (baca: cucu). Jilid satunya adalah saya dan teman-teman seangkatan yang punya rentang umur 18-28 tahun. Tahun 1990 dan 2000-an kami masih dalam usia anak-anak dan remaja dan masih tinggal di rumah orangtua kami masing-masing. Main-main sama teman satu RT masih jadi agenda utama.

Perubahan terjadi ketika memasuki tahun 2008, saat saya sebagai salah seorang yang termuda dari generasi jilid satu memasuki masa SMA. Yang terjadi adalah kami tidak pernah lagi main dirumah. Kami semua disibukan dengan berbagai macam tugas di SMA yang jauh lebih lama jam sekolahnya, juga teman-teman baru di SMA yang membuat kami mulai enggan main dengan tetangga.

Hal ini juga menyebabkan kami jarang bersosialisasi dan terkesan kurang peduli di lingkungan rumah. Akibatnya organisasi karang taruna yang tadinya hidup sekarang mati total. Administrasi dan pengelolaan RT/RW dan juga kepanitiaan di masjid mandek di pangkuan generasi bapak-bapak kami.

Hari ini 2012 dan banyak dari generasi kami yang merantau ke luar kota, bahkan ke luar Jawa. Ada yang kerja, kuliah, atau bahkan memulai hidup baru disana.

Saya baru sadar betapa kurangnya kepedulian angkatan saya terhadap regenerasi di lingkungan rumah sendiri setelah beberapa bulan terakhir banyak tetangga saya yang meninggal. Batin saya, “Ini generasi bapak-bapak kami sudah pada tua, siapa yang melanjutkan?” Ada sih beberapa warga yang memang masih dalam usia produktif, cuma yaa tidak banyak jumlahnya. Longkap umurnya juga jauh, sekitar 20 tahunan.

Ini memang bukan masalah besar sebenarnya, cuma saya merasa terusik sama keadaan ini. Kurang lebih beginilah cuplikan perbincangannya setelah saya berikan pengantar sedemikian rupa dengan Pak Kadiv:
Saya    : *setelah menjelaskan kegelisahan saya “Jadi gitu boi, menurut lo gimana?”
Kadiv  : “Hmmm” *diem sebentar “kalo gue sih engga bingung”
Saya    : “Oh begitukah? Jadi kejadian kayak gini cuma ada di kompleks gue doang?”
Kadiv  : “Engga, soalnya gue belom pernah mikir kayak gini sebelum lo ngomong barusan”
Saya    : -__________- “Tapi kondisinya sama engga sama lingkungan di rumah lo?”
Kadiv  : “Sama sih sebenernya. Tapi ya mau gimana lagi”
Saya    : “Nah kan. Gue tuh ngerasa kita terlalu disibukkan sama sesuatu yang sebenernya ‘jauh’. Kayak aktif di kampus lah, organisasi ini itu lah, tapi kita ga pernah ngurus masalah regenerasi di lingkungan rumah kita sendiri”
Kadiv  : “Iya sih”
Saya    : “Terus menurut lo gimana?”
Kadiv  : “Ya emang gitu sih, mungkin emang waktunya kita bukan di tempat rumah kita”
Saya    : “Maksudnya?”
Kadiv  : “Ya maksudnya kan tadi lo bilang kalo generasi kita terbentuk karena arus urbanisasi kan? Orangtua kita dulu juga memutuskan buat ‘pindah’ dan engga melanjutkan suksesi di tempat mereka dulu kan? Ya berarti kita mungkin akan melakukan hal yang sama”
Saya    : “Terus?”
Kadiv  : “Jadi yaa mungkin bukan kita yang nanti ngelanjutin suksesi di rumah mar. Kita kan udah pada kuliah jauh-jauh, susah juga buat balik ke rumah sering-sering”
Saya    : “Lah entar yang jadi pemimpin disana siapa dong?”
Kadiv  : “Entahlah”
*keheningan yang cukup lama
Saya    : “Gue pernah merasakan beberapa tahun yang lalu ada masa dimana di lingkungan rumah gue ga ada anak kecil sama sekali”
Kadiv  : “Gue juga!”
Saya    : “Dan itu rasanya ga enak banget, ga ada yang main-main di depan rumah. Sepi banget rasanya”
Kadiv  : “Iyalah, ga seru kalo ga ada anak-anak yang main di depan rumah. Jadi ga hidup suasananya”

Masalahnya memang sepele. Jawabannya juga sepele. Mau bagaimanapun pasti ada seseorang yang melanjutkan. Regenerasi itu akan tetap ada, walaupun waktunya lama, generasinya berbeda jauh dan kita tidak terlibat karena jarak memisahkan.

Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan.

Poin penting yang ingin saya garis bawahi adalah kenyataan bahwa kita selama ini selalu disibukkan dengan sesuatu yang ‘jauh’ dari habitat awal kita. Kampus, sekolah, organisasi, bisnis dll. Kita mungkin jarang sekali buat menengok sebentar untuk melihat bagaimana lingkungan tempat kita dilahirkan. Coba deh sejenak lupakan masalah kampus, organisasi dll, dan luangkan waktu sejenak untuk melihat bagaimana tetangga-tetangga kita hidup di lingkungan rumah kita.

Sekadar untuk memastikan bahwa ada seseorang, siapapun dia, yang masih melanjutkan keharmonisan hidup dalam lingkungan rumah kita. 

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)