Akhir Cerita Cinta "Pabrik Roti" Cililitan

Malam ini saya baru pulang dari berbagai kepenatan dunia kampus dan kembali ke asrama dengan riang gembira. Iseng saya membuka akun Facebook dan menemukan foto yang cukup mengusik dan membuat saya cukup sedih

SMA Negeri 14 Jakarta dalam proses penghancuran T.T

pemandangan dari luar pagar sekolah
Saya sebelumnya sudah pernah menceritakan bagaimana awalnya sampai saya bersekolah di SMA ini di posting yang ini. Sampai sekarang saya masih menganggap bahwa masuk ke SMA Negeri 14 Jakarta adalah salah satu kecelakaan.

Kecelakaan karena satu soal matematika di UN SMP. Satu soal matematika.

Dan akhirnya menjadi salah satu kecelakaan yang paling membahagiakan dalam sejarah hidup saya sampai saat ini. :)

Tak bisa dipungkiri bahwa first reaction ketika melihat bangunan sekolah ini biasanya (kurang lebih) sama: prihatin. Prihatin karena bentuk bangunannya yang cuma-begitu-doang dan retak mau rubuh di sana sini dilengkapi dengan lingkungan Cililitan yang kurang kondusif untuk sekolah memperlengkap kriteria keprihatinan bagi orang-orang yang baru pertama kali melihatnya. Lingkungan yang kurang kondusif maksudnya karena di depannya ada apartemen 14 lantai dan dekat sama pasar.

Cililitan juga terkenal sebagai sarangnya narkoba di tahun 1990-an. Jaman dulu juga sekolah ini termasuk salah satu sekolah dengan pengguna ganja (kalo ga salah) sampai-sampai pernah didirikan satu bidang khusus di kesiswaan yang mengurus tentang narkoba dan kawan-kawannya. Sekolah ini juga salah satu sekolah yang hobi tawuran puluhan tahun yang lalu. Cililitan sampai awal tahun 2000-an dan sebelum Pusat Grosir Cililitan dibangun terkenal sebagai salah satu base camp preman wilayah Jakarta Timur. Tukang palak, rampok berandalan, gelandang dan pengemis banyak berkeliaran dan bermukim di daerah ini.

Mengerikan? Memang.

Tapi (akhirnya) saya jatuh cinta dengan SMA saya sendiri. Dengan cara klasik ala orang Jawa, “witing tresno jalaran soko kulino” (cinta tumbuh karena terbiasa)

Tiga tahun saya bersekolah di sana, dan entah sudah ada berapa banyak kenangan yang tersimpan dalam gedung bapuk itu. Dan hari ini saya melihat melalui foto bahwa bangunan tempat saya menyimpan kenangan-kenangan itu sudah dihancurkan dan akan diratakan dengan tanah.
 
Tapi kenangan ada di hati dan tidak akan pernah hancur. Tidak akan pernah hancur.

Sepercik kenangan yang sempat terdokumentasikan:
perayaan ulang tahun Bu Nesta di XII A4
ini saat jadi instruktur dan pemandu untuk diklat OSIS 2010
foto bersama my precious eight 2009 :) *kurang satu what a great times with you guys!
ini dengan teman-temang BPH yang lain pasca masa diklat
menjelang upacara serah terima jabatan 2010
menunggu saat-saat pengumuman yang akan melanjutkan perjuangan kami
pasca serah terima jabatan 2010. 17 Agustus 2009-8 Agustus 2010
Siswa ataupun alumni 14 seringkali ‘mengejek’ sekolah ini sebagai ‘pabrik roti’ atau ‘pabrik tahu’ mengingat usianya sudah sangat tua dan sudah lebih dari 20 tahun tidak direnovasi. Ejekan ini pada dasarnya juga merupakan sebuah kebanggaan karena meski bangunannya memperihatinkan tapi tetap mampu mencetak kader-kader calon mahasiswa hebat.

Ini adalah akhir cerita cinta ‘pabrik roti’ dalam usahanya mencetak ‘roti’ berkualitas.

SMA Negeri 14 Jakarta akan tetap berdiri, dengan atau tanpa status ‘pabrik roti’ kebanggaan kami selama ini. :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)