Blog Itu Ranah Publik, Bung!


Kemarin seusai waktu tarawih, saya menjalankan ritual rutin baru saya, menyalakan laptop menyala dan akun Facebook tetap dalam kondisi online, sambil mengerjakan segala tugas-tugas saat Ramadhan. Ohiya, sebelumnya selamat menunaikan ibadah puasa semuanya! Semoga kita diberikan kekuatan untuk menjalankan segala ibadah di bulan yang mulia ini, dan semoga tahun depan kita kembali diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang suci ini, lagi. Aamiin. :)


Oke, lanjut.


Saat saya sedang asyik masyuk dengan berbagai tugas saya, tiba-tiba a wild friend appeared di kotak chat saya. Seorang teman perempuan saat SMP. Sebelum ada ‘zon-zon’ yang mengganggu, marilah kita deklarasikan satu hal bahwa dia adalah perempuan baik-baik dan kami tidak memiliki hubungan yang khusus.


Intinya adalah dia ingin menanyakan kepada saya, apakah dia perlu mem-publish blognya atau tidak ke publik. Batin saya, “Lah ini orang punya blog ga pernah di-publish? Buat apa bikin blog?”


Dia lalu menjelaskan alasan kenapa dia takut untuk mem-publish blognya. Jadi ternyata si doi ini merasa terlalu blak-blakan di blognya. Dia sering menghasilkan tulisan-tulisan kurang jelas, curhat frontal, dan mention nama banyak orang. Setelah itu saya tanya balik, “Kalo isinya frontal kenapa mesti bikin blog? Kenapa engga buat file sendiri di laptop? Kan jadi lebih aman dan lebih puas rasanya”


Jawabnya, “Kalo gitu ga seru mar”


Teman saya ini menjadi refleksi dari banyaknya kesalahpahaman yang selama ini terjadi di dunia blog, terutama di kalangan remaja dan abege yang baru bikin blog (berasa senior aja saya -_-). Seringkali kita mengasosiasikan blog pribadi murni sebagai ranah pribadi yang tidak bisa diganggu gugat orang lain. Dan kemudian kita memperlakukan blog pribadi kita sebagai sebuah ajang untuk menumpahkan segala curahan hati, kegundahan, kekesalan dan kegalauan dengan cara yang blak-balakan, tanpa ada saringan kata-kata, dan yang lebih parah menyebutkan nama orang lain secara gamblang.


Padahal ketika kita membuat sebuah blog, ketahuilah bahwa blog kita telah masuk ke dalam sebuah jalinan tali yang luar biasa raksasa dalam jejaring dunia maya. Jika kita telah menyetujui terms and conditions dalam pembuatan akun blog, maka kita telah menyetujui bahwa kita bersedia untuk membagi seluruh konten yang ada dalam blog kita ke seisi dunia maya –kecuali jika Anda mem-protect blog Anda dengan password dan melarang Google melacak blog Anda-


Dengan konsekuensi terebut, jangan pernah memperlakukan blog Anda sebagai sebuah kertas pribadi yang hanya bisa Anda lihat sendiri. Orang lain juga akan melihat, entah bagaimana caranya. Alangkah bijaksananya kita sebagai pengguna blog untuk memanfaatkan media ini sebagai sarana syiar, penyebaran sesuatu yang kita yakini kebenarannya. Supaya jadi manfaat dan amal jariyah kita selama di dunia.


Yuk kita menjadi blogger yang bijaksana dan bermanfaat. :)


“Blog adalah syiar kebajikan” – Prof. Tb. Sjafri Mangkuprawira – Pembina Komunitas Blogger IPB   

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

National Leadership Camp 2012 – Day 1 : Lipat Ulang!

“Sama sekali ga pantas Anda bertemu saya jika IP Anda <3.5, saya akan suruh kalian keluar jika ketemu! Yang IP nya di bawah 3.5 itu orang-orang brengsek!” – Dr. Arief Munandar

Rabu, 11 Juli 2012
Depan Asrama PPSDMS Reg V, 09:30 WIB
Kami berdiri dengan seluruh barang bawaan kami, yang rata-rata 2 tas. Saling menunggu teman-teman lain yang sepertinya dalam perjalanan menuju asrama. Juga satu orang yang memegang kunci keberangkatan kita ke Jakarta pagi ini, Macrush, yang bertugas menjadi PJ angkot untuk mengangkut kami ke stasiun Bogor.

Setelah 3 angkot datang, kami berhamburan masuk ke dalamnya. Naik ke dalam angkot dengan sukacita menuju stasiun kereta.


Stasiun Lenteng Agung, 11:32 WIB
Ini momen yang ga terlalu penting, cuma saat beberapa orang yang pertama kalinya baru naik kereta mulai udik dan kelihatan begitu bergembira -__-


Gedung Pusat PPSDMS, 11:45 WIB
Setelah sampai kami dapat waktu sebentar untuk mampir ke warteg di samping gedung pusat PPSDMS. Perut saya mual, dan ga nafsu makan juga. Alhasil cuma makan buah pisang. Empat buah pisang (katanya ga nafsu makan le?). Berhubung ini buah favorit saya, jadilah saya kalap saudara-saudara, enak pula pisangnya. 

Setelah makan rombongan dari Bogor segera digiring ke belakang gedung pusat, tepatnya di musholla yang sedang dibangun di belakang gedung. Setelah sholat dzuhur dan ashar disana (baru inget ternyata rombongan Bogor juga melaksanakan sholat jama' qasar selama NLC) kami dibariskan di depan gedung pusat. Sadar karena barisnya bukan per regional, saya mulai bingung. Ternyata barisnya dibagi per kelompok, dan kelompoknya ditempel di dinding dalam kantor pusat. Saat kenalan ternyata ada satu muka yang familiar, kakak kelas saya di SMA yang sekarang kuliah di Fasilkom UI, bang Dimas Agung Saputra a.k.a Adang. Dan ternyata dia yang jadi ketua kelompok saya.

Setelah selesai baris-berbaris ditambah dengan omelan dari Bang Acai -supervisor Regional 1 Pa Jakarta- karena barisnya lumayan berantakan, kami dimobilisasi menuju Gedung P4TK yang kira-kira berjarak 1 kilometer dari gedung pusat. Saya berkenalan dengan cukup banyak orang sepanjang perjalanan. Dari mulai ujung timur regional di Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan tentu saja tuan rumah, Jakarta. 


Gedung P4TK Lenteng Agung, 14:30 WIB
Segera setelah sampai ke tempat tujuan saya baris per regional, dan dibagi ke kamar masing-masing. Kamar saya adalah kamar 'institut', karena lengkap semua institut besar di Indonesia bercokol di kamar saya. Satu kamar ada tiga orang, selain saya dari IPB, ada Dita Ahmeta dari Teknik Kimia ITS dan Deny Karamallah dari Teknik Pertambangan ITB. 

Setelah kenalan sama mereka, kami latihan hymne dan mars PPSDMS, langsung sama penciptanya, Bapak Ali Mukhtarom yang emang katanya bang Nazrul kerjaannya emang menggubah lagu. Setelah berlelah-lelah bersuara lantang akhirnya kami dapat jatah makan malam.

Makan malamnya, yaaa seperti biasa latihan kepemimpinan, dipimpin sama TNI AD -___-. Waktunya cuma dikasih beberapa menit, maksimal 5 menit setiap kali sesi makan, dan rasanya itu nelen rendang sama nelen nasi sama aja, ga dikunyah dua-duanya.

Akhirnya setelah makan, kami diberikan welcoming speech dan penjelasan bagaimana jalannya acara NLC ini selama 6 hari oleh bang Aji, Manajer Bid. Program PPSDMS. Setelah dapet penjelasan tentang keseluruhan jalannya NLC, kami mendapat materi pertama dari bang Arif Munandar.

Materi inilah yang kemudian menginspirasi pemberian judul Lipat Ulang! di laporan hari pertama. Materi pertama ini judulnya Transformasi Paradigma Peserta PPSDMS dan inti dari materi ini adalah menyamakan tensi, dan pandangan mengenai beberapa hal fundamental. Membuka lipatan otak kami, dan melipatnya kembali dalam bentuk yang berbeda


Materi 1        : Transformasi Paradigma Berpikir Peserta PPSDMS
Narasumber   : Dr. Arief Munandar, SE., ME
11 Juli 2012, 20:00-22:00 @ Auditorium HB Yasin P4TK Jakarta

Memoar:
- Profil peserta PPSDMS adalah orang-orang yang shalih dan kuat secara fisik. Yang paling beliau khawatirkan : PPSDMS direduksi dari sekolah calon pemimpin menjadi sekadar sekolah mahasiswa berprestasi
- PPSDMS bukan tempat tinggal gratis, dan sama sekali bukan tentang pemuasan kepuasan pribadi
- Peserta PPSDMS yang tidak memiliki keinginan untuk menyampaikan kebaikan agam Allah, lebih baik pulang!
- Terlalu banyak infak orang-orang baik yang telah dititipkan untuk menghidupi institusi ini
- Anak PPSDMS tidak diperlukan di masjid, terlalu banyak orang-orang shalih berkeliaran di sana! Bayangan saya anak PPSDMS mainnya di BEM, jadi anak basket dan tempat-tempat strategis lainnya. Kalau sampai ada anak PPSDMS UI ketemu saya terus di MUI saya tendang kalian! 
- Kalau IP 4 itu ada, Anda harus IP 4!
- Sama sekali ga pantas Anda bertemu saya jika IP Anda <3.5, saya akan suruh kalian keluar jika ketemu! Yang IP nya di bawah 3.5 itu orang-orang brengsek!
- Buat apa menjadi manusia yang kehadiran dan ketidakhadirannya tidak menimbulkan perubahan apapun di dunia, Orang-orang seperti ini mati saja!
- Agama itu akal, tidak ada agama untuk orang-orang yang tidak berakal
- Arief Munandar ketika masuk kelas S3 di bidang sosiologi di Universitas Indonesia pernah berjanji untuk mendapatkan IPK 4, lulus dengan waktu 2.5 tahun, dan nilai disertasi 98.5. Catatan ini adalah yang tertinggi dalam sejarah program studi tersebut. Beliau meraihnya dengan berbagai perjuangan karena harus melawan penyakit radang paru-paru yang menggerogoti dirinya saat itu.Tapi karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri atas targetnya tersebut, beliau berhasil membayarnya lunas. Lunas. Semuanya.
- Pedang kadang tidak membutuhkan Al-Qur’an untuk tegak, tapi apakah Al-Qur’an dapat tegak tanpa adanya pedang?
- Paradigma pecundang: membenturkan, menyalahkan dan mengabaikan
- Masalah terjadi ketika kita terlalu sering mengasihani diri kita sendiri
- Ketika mengabaikan hal-hal kecil, maka kita akan mulai mengabaikan hal-hal besar
- Keterbatasan timbul sebagai akibat dari kecintaan berlebihan pada diri sendiri, maka dari itu carilah kecintaan yang jauh lebih besar dari diri sendiri agar keterbatasan itu tidak ada
- 6 tanggung jawab besar yang akan menghabiskan seluruh waktu dan tenaga kita bahkan seluruh waktu kita niscaya tak akan cukup untuk mengurus selain 6 hal ini:
1. Tanggung jawab terhadap apa yang kita pikirkan
2. Tanggung jawab terhadap perbuatan kita
3. Tanggung jawab terhadap sikap kita sendiri
4. Tanggung jawab terhadap keputusan kita
5. Tanggung jawab terhadap tindakan kita
6. Tanggung jawab terhadap warisan/legacy kita
Dan ke-6 hal tersebut, kita sama sekali tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dipikirkanm diperbuat, sikap, keputusan, tindakan maupun warisan orang lain! Jangan ambil pusing dengan apa yang dilakukan orang lain terhadap kita. Jangan buang-buang waktu!
~~~
Saya khawatir telah mereduksi makna materi Bang Arief di atas  dengan metode penjabaran materi saya yang hanya menjelaskan poin-poin seperti di atas. Karena saya merasa materi ini adalah salah satu materi paling penting dalam NLC 2012, maka saya akan menjelaskan dengan inti yang mendasari materi-materi di atas :

Jadi intinya, PPSDMS ini sebenarnya hidup dengan menggunakan uang umat. Seperti yang pernah saya tulis di beberapa posting sebelumnya, PPSDMS menggantungkan kehidupan dan detak institusinya dengan menggunakan donasi dari beberapa perusahaan ataupun pribadi. Mereka, orang-orang baik yang menitipkan infaknya untuk menghidupi institusi ini sangat berharap bahwa dengan infak dan zakat mereka akan lahir generasi penerus bangsan yang mampu meneruskan perjuangan penegakan nilai-nilai kebaikan di bumi Indonesia. Jadi, masihkah kita bermain-main dengan uang umat ini? Ini sungguh sebuah program serius dengan pertanggungjawaban yang tidak ringan.

Kemudian anggapan orang-orang luar PPSDMS yang 'hanya' menganggap bahwa PPSDMS adalah tempat orang-orang berprestasi. Ini tidak salah, namun kurang tepat. Sejatinya PPSDMS adalah School of Future Leaders yang mencetak calon-calon pemimpin masa depan, bukan hanya sekadar karantina mahasiswa berprestasi, pimpinan organisasi kemahasiswaan dll. PPSDMS lebih dari itu. 

Tujuan yang diharapkan dari peserta PPSDMS adalah terciptanya orang-orang tangguh yang siap diterjunkan di masyarakat. Mungkin teman-teman merasa terganggu dengan kalimat: Anak PPSDMS tidak diperlukan di masjid, terlalu banyak orang-orang shalih berkeliaran di sana! Tapi yaa memang seperti itu -___- PPSDMS ingin membentuk orang-orang yang tidak 'jago kandang', karena ladang menyebarkan kebaikan yang sebenarnya adalah di tempat-tempat yang jauh tidak terkondisikan. Disanalah sesungguhnya tantangan itu terhampar. Tapi bukan berarti penyebaran kebaikan di masjid tidak penting. Sama sekali tidak.

Yang terakhir yang saya rasa perlu saya jelaskan lebih dalam adalah poin Pedang kadang tidak membutuhkan Al-Qur’an untuk tegak, tapi apakah Al-Qur’an dapat tegak tanpa adanya pedang? Maksud poin ini adalah, berapa banyak kekuasaan zalim tumbuh di muka bumi saat ini? Sesungguhnya kekuasaan di muka bumi dapat tegak meskipun tanpa Al-Qur'an di dalamnya. Terbukti banyak sekali penguasa zalim dapat berkuasa selama beberapa masa. Pertanyaannya, dapatkah kita menegakkan Al-Qur'an tanpa pedang? Apa bisa kita menegakkan kebenaran tanpa 'alat' untuk mencapai kekuasaan? Silahkan direnungkan.
~~~
Sepertinya hanya materi 1 ini yang saya jelaskan secara panjang lebar, mengingat banyak sekali hal yang perlu dijabarkan dalam materi ini. Materi selanjutnya akan sangat jarang saya jabarkan seperti ini, mayoritas hanya akan mentok pada penjabaran poin-poin memoar sahaja :)

Setelah materi, kami dievaluasi atas segala hal yang terjadi pada hari pertama ini. Setelah itu kami dipersilahkan istirahat dan menyiapkan diri untuk menghadapi hari selanjutnya.

Next Part NLC The Series 2012 : National Leadership Camp 2012 – Day 2 : Kenal Lebih Dekat

DISCUSSION 0 Comments

Selamat 2 Tahun, Amabel :)

 

          From : Mamah (18/7)
Del mabel hari ini ultah kasih ucapan selamat dong

SMS yang datang tiba-tiba saat maghrib itu mengingatkan saya bahwa salah satu keponakan saya yang paling menyebalkan di dunia sudah berulang tahun yang kedua. Saya lupa banget kalau pada saat itu udah tanggal 18 Juli huhuhu.

Selamat ulang tahun yang ke-2 ya Freya Amabel, semoga sehat selalu, menjadi anak yang berbakti sama abi dan bunda, ga bandel lagi. Semoga menjadi anak yang selalu disayang sama Allah :) Kangen udah beberapa minggu engga main sama kamu haha :D

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

National Leadership Camp 2012 – An Introduction


PPSDMS Nurul Fikri menyelenggarakan National Leadership Camp yang diadakan tanggal 11-16 Juli 2012 di Gedung P4TK Jakarta dan Wisma Makara Universitas Indonesia. NLC 2012 adalah ajang pengukuhan dua generasi, Angkatan V yang dikukuhkan sebagai alumni dan Angkatan VI yang dikukuhkan sebagai peserta. Kedua angkatan diberikan materi sebagai pembekalan untuk menghadapi fase kehidupan selanjutnya, baik sebagai alumni maupun peserta. 

Sebagaimana dengan program pengembangan sumberdaya manusia yang lain, PPSDMS tetap memegang prinsip umum, yakni:
B=f(M)
B = Behavior/perilaku
M = Mindset/pola pikir

Atau jika dinyatakan secara verbal, bahwa perilaku adalah sebuah hasil dari fungsi pola pikir. Maka pendidikan karakter menitikberatkan pada perubahan pola pikir untuk menghasilkan nilai B yang semakin baik. Pola pikir adalah sebuah hal unik yang bisa dilatih, dibentuk, dihancurkan, dibuang dan ditanam ulang. NLC 2012 adalah tempat dimana pola pikir lama kami –yang salah- dikikis perlahan-lahan dan dibongkar sehancur-hancurnya, kemudian di dalamnya ditanamkan pola pikir baru yang lebih baik dari yang lama.

Analoginya jika pola pikir kami sebelumnya berbentuk burung dari kertas origami, maka NLC membuka kembali lipatannya ke kertas origami utuh, dan melipatnya kembali dalam bentuk pesawat terbang.

Tulisan ini mulai saya rintis baru pada saat 2 hari setelah NLC berakhir, memanfaatkan beberapa catatan yang saya tulis tangan saat di lokasi dan juga catatan teman-teman Regional 5 Bogor karena hari ke-4 saya sempat kolaps karena demam tinggi dan tidak ikut 3 materi. Berbeda dengan laporan perjalanan saya sebelumnya, kali ini tidak akan ada banyak foto karena saya memang tidak menagambil banyak gambar di sana. Saya mungkin hanya akan memanfaatkan beberapa dokumentasi panitia di akun @ppsdms untuk visualisasi, meskipun kualitas gambarnya kurang baik.

Tulisan ini akan menjadi proyek tulisan terpanjang yang pernah saya tulis sampai saat ini. Terpisah menjadi 7 bagian, 1 bagian ini (introduksi) dan sisanya adalah catatan per hari dalam NLC 2012.

Semoga akhir Juli, seluruh rangkaian tulisan ini dapat segera ter-publish, sehingga teman-teman semua yang menyempatkan diri untuk mampir ke blog ini dapat menyerap ilmu yang saya dapatkan pula selama NLC 2012. Salam semangat!

“Yang kami harap adalah……
                   Terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bernartabat serta kebaikan dari Allah –Pencipta Alam Semesta“

DISCUSSION 0 Comments

Say 'Alhamdulillah'



86.400 detik hari ini, 86.400 detik yang kemarin, 86.400 detik kemarin lusa, sekian banyak 86.400 detik yang diberikan dalam hidup kita. Masihkah kita dapat menikmati 86.400 esok hari? Mampukah kita mempertanggungjawabkan setiap 86.400 detikn yang telah kita lalui selama bertahun-tahun? Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tidak butuh waktu lama untuk memejamkan mata, mengingat apa yang sudah dilalui hari ini, dan berucap dengan penuh syukur, 'Alhamdulillah Yaa Allah'

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Contribution on The Spot 1st Episode: Pasar Kaget Bara


“Bara? Di Bara bakalan ga enak banget boi, bakalan ketemu banyak orang yang kita kenal. Kalo ketemu mereka entar ditanyain lah, ‘Lagi ngapain lo?’”

Episode pertama dari Contribution on The Spot yang harus saya lalui bulan ini bertempat di Pasar Kaget Babakan Raya (Bara). Pasar ini hanya ada ketika hari minggu pagi, sebuah waktu  dimana mayoritas warga Bogor tidak bisa membedakan dengan baik antara kampus sebagai institusi pendidikan dengan taman rekreasi gratisan. Banyak warga sekitar kampus yang gelar tiker bawa rantang dan makan bareng dengan keluarga mereka di kawasan kampus.

Hal ini yang menjadikan hari minggu padi di IPB adalah salah satu waktu yang sangat tepat untuk berjualan. Setelah waktu wisuda tentu saja.

Di episode pertama ini saya mendapat teman kelompok bareng Arif (GM 48), Ahmad (TMB 48),Ari (TIN 47) sama Barli (ITP 47). Kelompok lain mendapatkan tugas beraksi di Pasar Anyar, Stasiun Bogor, Taman Rektorat dam Terminal Laladon. Pengumuman kelompok baru diumumkan sabtu sore setelah latihan taekwondo sama sabeum Mukhlis yang berhasil membuat beberapa otot di daerah kaki sampai selangkangan kami hampir melar karena sesi orientasi. Diperparah dengan kondisi kami yang sebelumnya jarang olahraga dan latihan beladiri. Dahsyat. 

Malamnya kami langsung berunding dan mengkhayalkan beberapa hal tentang apa yang akan kami lakukan esok hari. Barli karena emang punya naluri aksi sama doyan ngomong banyak-banyak ngusulin buat orasi tentang kebersihan di Bara. Yang lain mangap karena sama sekali ga ngebayang di wilayah superdupercrowded-yang-bisa-jalan-aja-rasanya-subhanallah kita malah orasi. Walau metode Barli kita tolak, tapi tujuannya tetap kita terima: tentang kebersihan. Lebih spesifik: usaha pencerdasan dan pengurangan penggunaan plastik kresek.
Menanggulangi pertanyaan orang-orang yang kita kenal kalau ketemu di jalan, kami sepakat untuk menjawab dengan senyuman yang paling indah yang pernah diciptakan. Atau dengan jawaban nyeleneh lainnya.
 
Setelah dikaji lebih mendalam akhirnya kami melakukan tiga sesi dalam aksi 2 setengah jam besok. Sesi pertama kita bakal operasi semut bersih-bersih bolak-balik Bara dalam satu putaran sambil bawa trashbag gede. Sesi kedua kita bakal wawancara beberapa orang dan nanya tentang hal yang berkaitan dengan penggunaan kantong kresek dan bagaimana pendapat mereka. Sesi terakhir kita bakal bagi-bagi goodie bag gratis buat orang-orang yang bersedia kita kasih tantangan tertentu. Barli yang emang salah satu pentolan Himitepa (Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan) dan mereka masih punya banyak goodie bag sisa acara HAACCP Plasma bulan lalu.

Setelah dibagi tim, Ari jadi orang yang standby di asrama untuk bikin laporan dan terima live report dari lapangan. Sisanya termasuk saya menjadi tim lapangan. Misi dimulai jam setengah 7 pagi dan waktu habis pada jam 10 pagi. Dan inilah cuplikan aksi kami kemarin:

Pre-Session: Survei Lapang (06:45-07:10)
Sambil menunggu Barli menyatroni markas Himitepa untuk mengambil goodie bag yang kami perlukan untuk keperluan sesi terakhir, dan juga Arif dan Ahmad yang sedang mengambil beberapa logistik dari kampus, saya berinisiatif untuk survei lapang untuk mengetahui apa dan siapa aja yang bakalan kami hadapi hari ini. Cari spot-spot keramaian orang sama keramaian sampah bertebaran. Inilah beberapa gambar yang dapat saya ambil pada survey lapang tersebut


1st Session : Operasi Semut (07:30-08:00)
 “Serius nih mau turun sekarang? Laper banget gue, makan bubur aja dulu boi.”
“Yaelah entar aja rame-rame setelah kita selesai kumpul data sama foto, baru ngebubur.”
“Oke.”
“Kita susurin Bara, sekali bolak-balik. Jam delapan ketemu lagi di markas. Siap?”
“Siap.” 
inilah 'markas' kami selama 2 setengah jam
The word ‘markas’ actually reffering to pos polisi yang ada di pertigaan ujung Bara karena memang paginya kita briefing disana sambil menunggu peralatan yang dibutuhkan datang. Setelah mission statement, kita langsung jalan untuk melaksanakan sesi pertama nan mulia ini. Di akhir sesi, ternyata trashbag saya yang paling enteng dibanding yang lain. Entah karena mereka yang terlalu jago apa saya yang dungu dalam hal kayak gini. Entahlah.
Arif lagi melaksanakan tugas
2nd Session : Dialog dan Pencerdasan (08:15-08:50)
Sebenernya rada menyimpang juga sih kalau disebut dialog dan pencerdasan. Kesannya berat banget ya. Sebenernya kita cuma pengen nanya beberapa orang aja (terutama yang paling gampang diajak bicara ya ibu-ibu) dan nanya pendapat mereka tentang bagaimana penggunaan kantong plastik kresek di masyarakat. Kalau mereka belum tau, ya beritahukanlah mereka dengan cara yang santun dan tidak menggurui. Tim lapangan dibagi dua, saya dapet tim sama Barli untuk wawancara warga.
Barli wawancara bapak-bapak di deket GreenCo
nah yang ini saya yang wawancara, sama ibu Enong :D
 3rd Session : Games and Goodie Bags! (09:10-09:40)
This session supposed to be the most enjoyable session for this morning. Karena kita akan membagi-bagikan goodie bag gratis (dan keren pula) buat mereka yang mau terima tantangan kita. Tantangannya sederhana: melakukan apa yang kami lakukan di sesi kedua.

Tapi saudara-saudara, susah banget cari orang yang mau.

Akhirnya kita cuma ngasih tantangan ke anaknya ibu fotokopian di daerah Berlin. Saya kenalnya sama adeknya, namanya Shakira, saya lupa nama kakaknya ini siapa. Dia kami kasih tantangan disuruh teriakin jargon yang kami kasih dan akhirnya tantangan terlaksana.
kakaknya Shakira (lupa namanya siapa) waktu dikasih tantangan
waktu nerima hadiah, kenapa ekspresi anaknya berubah? -.-'

Sisa goodie bag ingin kita bagikan secara gratis ke orang-orang yang lewat. Tapi anehnya mereka juga banyak yang engga mau, padahal kita benar-benar ngasih dengan cuma-cuma tanpa tantangan apapun. Sepertinya masyarakat sedikit sensitif ya denger kata-kata gratis dan seringkali berkonotasi negatif. Entah barangnya cacat lah, bolong lah, padahal ini 100% baru bagus ada bonus teh celup di dalamnya. Beberapa belas menit kemudian, goodie bag habis dan kami meluncur ke warung bubur ayam.

Di warung bubur ayam kami  berencana untuk mengolah dan mengirim beragam foto dan data wawancara. Tapi ternyata size foto dari hape saya terlalu besar untuk di attach, dan sinyal modemnya payah berat. Alhasil kami langsung buru-buru pulang ke asrama untuk mengantar data dan foto yang diperlukan.

Seru juga melakukan kegiatan kayak gini, seperti yang saya bilang di post yang lalu, benar-benar seperti ‘reality show’ betulan. Semoga apa yang kami kampanyekan juga menjadi sesuatu yang akan terwujud suatu hari nanti, karena sampah plastik (masih) menjadi salah satu masalah besar di dunia ini. 

Contribution on The Spot 1st Episode: Pasar Kaget Bara, Completed!

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)