Memoar C3 Lorong Dua


 “Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya” – Harper Lee

Quote Harper Lee di atas dikutip dari satu-satunya buku yang ditulisnya, To Kill A Mockingbird yang menyinggung masalah ketidakadilan masyarakat Amerika terhadap kaum minoritas kulit hitam. Dalam konteks yang berbeda, quote tersebut juga menyinggung tentang hidup dalam kebersamaan, karena artian maknawi dari ‘…menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya’ juga membutuhkan sikap berbagi dan kemauan untuk hidup bersama.

Dan keluarga saya di Lorong 2 Gedung C3 Asrama TPB IPB telah berhasil mengajarkan saya tentang dua hal tersebut.

Tulisan ini saya tulis 3 hari setelah kami ‘diusir secara paksa’ dari asrama dan saya dedikasikan khusus untuk keluarga saya (yang sekarang sudah terpencar kemana-mana) di Lorong 2. Saya akan mencoba mengulang dan merangkai berbagai macam mozaik peristiwa yang saya lalui dengan keluarga imbisil saya beberapa bulan terakhir.

1. Kehidupan di Asrama
Hidup di asrama itu rasanya campur-campur dan absurd banget. Awal bertemu dengan orang-orang ini saya ngerasa aneh karena mereka mukanya dan tabiatnya juga aneh-aneh. Ada orang Batak yang mukanya setiap saat siap berantem, ada orang Sunda ama Jawa yang sopan banget, ada orang Kupang yang logatnya kocak abis, banyak lah pokoknya.

Seiring dengan waktu saya semakin terbiasa karena hampir setiap hari ketemu sama mereka. Secara garis besar kerjaan kami di asrama sebenernya cuma sedikit: main, main, main, nonton film, ngelawak, belajar, tidur.

Lorong 2 termasuk lorong yang amat-amat melankolis. Salah satu hobi kami adalah nonton film, dan salah satu genre yang paling kami gemari adalah film sedih. Saya inget banget pas semester 1 pada rame-rame nonton film UP dan beberapa mata sukses berkaca-kaca. Waktu saya bilang Hello Ghost itu film yang galau luar biasa, hampir semua orang minta filmnya dan nonton sendiri-sendiri di kamar. Ada satu orang kepergok mewek pas nonton ending Hello Ghost gara-gara pintu kamarnya lupa dikunci saya sih maklum toh saya juga mewek pas nonton waktu SMA. Belum lagi film-film Thailand, macam Crazy Little Thing Called Love yang kayaknya udah diputer di hampir semua kamar.

Genre film lain yang jadi favorit di lorong ini adalah film horror dan gory. Kami pernah nonton bareng Insidious dan orang paling menyeramkan di lorong sukses teriak-teriak pengen pulang. Nonton 4bia bareng dan sukses membuat kami semua tegang luar biasa. Kami juga telah menamatkan SAW series dan Rumah Dara yang sukses membuat kami bermental psikopat.

Perpaduan melankolis dan psikopat: absurd.

Inilah beberapa foto yang menggambarkan kehidupan kami secara garis besar di asrama:
pada serius banget boi nontonnya
inilah lemari kamar kami plus berbagai sesajen di atasnya

bang dedy menutupi mukanya sambil berpura-pura baca tabloid

ini ngapain coba -_____-
senda gurau yang biasa terjadi di kamar saya
banyak tamu, maklum kamar saya selalu dijadikan markas buat hal-hal (kurang) penting

yang kiri salman mene yang kanan kemal ilkom

anda mungkin tau apa hal yang akan terjadi beberapa detik setelah gambar ini
belajar bareng, biasa lah menjelang UAS
kondisi meja saya, setelah perang UAS
 
2. Farewell Party

Farewell party adalah acara dalam menyambut ulang tahun Asrama TPB IPB yang tahun ini menjejaki umurnya yang ke-10. Gedung C3 sengaja bikin baju khusus buat acara ini, supaya seragam gitu loh. Bajunya polo shirt warna ijo nge-jreng yang berhasil membuat kami layaknya rombongan anak TK mau piknik.
on the way GWW dari asrama

setelah farewell selesai wuhu

pamer tanda lorong di lengan kanan baju (mirip TK)

Di acara ini, ternyata teman satu lorong kami ulang tahun, Reza Kemal Zaen. Alhasil kami bikin rencana sedemikian rupa supaya dia terjebak dan bisa kami ceburin di kolam taman rektorat lengkap dengan berbagai penyiksaan sebelumnya.
penyiksaan yang sangat berat: digesek di pohon *ouch kemal terlihat menikmati

cuma nyeburin separuh badan gara-gara target berontak

Rada gagal ngerjain Kemal karena berontak dan ga tega juga, akhirnya target operasi kami alihkan ke RT, Hamdani. Yaaa anggap saja sebagai hadiah manis menjelang akhir jabatan, ya engga te? :p
bunyi keceburnya 'bulet' banget dan tanpa ada pemberontakan, "jebuur"

ini posenya kayak bangkit dari kubur
3. Dinner @ Bumbu Wangi
Nah kalo yang ini makan malam perpisahan lorong 2, malam minggu sebelum kami diusir dari asrama. Awalnya sempet bingung karena orangnya kebanyakan dan takut ga ada rumah makan yang muat, tapi akhirnya Bumbu Wangi menerima kami dengan segala kerendahan hati meskipun harus nunggu lama dan duduk di dua meja terpisah.

Dua meja terpisah itu bener-bener beda banget. Meja saya orangnya lagi gila dan bertekad untuk menghabiskan uang sebanyak-banyaknya di Bumbu Wangi. Pesenannya pada hedon, seafood+nasi sama Es Volcano yang harganya 13 ribu! Es Volcano itu es buah di dalem batok kelapa. Sementara meja satunya lagi pesennya 'cuma' nasi goreng + es teh manis. Begitu kontras saudara-saudara. 

11 es volcano seharga 13 ribu kami pesan di meja ini saudara-saudara!

ini dia pesanan saya, dua nasi putih + ikan nila bakar bumbu wangi hmmm :6
menikmati es volcano
nah ini dia meja satu lagi yang pesanannya masih dalam kategori 'bersahaja'
es volcano hmmmmm
Ada satu momen bodoh pas kekenyangan, temen satu meja saya, Ray, tiba-tiba berdiri dan buka retsleting celana! Apa maksudnya?? -_____-
Ray, sambil berdiri dan buka retseleting celana disambut ketawa ngakak yang lain -___- kalo kekenyangan ga perlu buka celana juga kali boi
Tapi penyesalan memang datang belakangan saudara-saudara. Kami lemes melihat jumlah yang harus dibayar.

4. The Last Moment
Inilah momen kebersamaan terakhir yang kami lalui, beberapa jam menjelang check-out asrama C3. Kebetulan lorong kami adalah lorong terakhir yang diinspeksi sehingga kami punya banyak waktu buat bersenda gurau dan ngobrol segala macem.

inilah kondisi lemari saya menjelang chek-out asrama, rasanya baru kemarin ngisi pake baju-baju saya T.T
inilah total semua barang-barang saya yang harus  dibawa

agenda rutin, ngecengin orang dan ketawa-ketawa, juga dilakukan menjelang check out
sarapan pagi bareng-bareng yang terakhir di lorong, dengan menu favorit sepanjang tahun: nasi kuning konoha
galau menanti kedatangan BRT buat inspeksi dan check out
Dan inilah foto terakhir saya dan bareng roommates di dalam kamar 237
yang berdiri cuma tetangga, yang duduk penghuni 237. ki-ka: Dedy Saputro (FKH), Delmar Zakaria (TIN), Rifki Putra (INTP) dan Pararawendy Indarjo (MAT)
foto terakhir di dalam kamar 237
Saya masih ingat banget waktu hari check out, Pak RT ngurung diri di kamarnya sambil tiduran. Matanya sendu banget dan dia bilang kalo dia sangat sangat sedih pisah sama lorongnya. Yaah beginilah kondisi lorong saya, muka sangar hati mawar ckck. Tapi jujur saya sendiri sedih karena di masa depan mungkin tidak ada teman yang semengerti mereka dan segila mereka. Ga ada lagi malam-malam sambil menggila di kamar orang dan main sampai larut malam. Ga ada lagi ngerjain laporan dan tugas rame-rame ataupun belajar bareng menjelang ujian.

Semuanya berubah dan berpindah, karena memang itulah hakikatnya hidup. Pindah.

Mata saya berkaca-kaca waktu mereka satu-persatu terpaksa pulang lebih awal dan ga ikut soga terakhir karena udah dijemput dan ada yang masih ujian. Rasanya berat banget pisah sama mereka mengingat berbagai momen yang kejadian di asrama ini selama hampir setahun. Temen-temen yang lain juga sama, mereka juga memaksa semuanya buat tetep di lorong sampai semua kamar selesai check out, tapi kondisi tidak memungkinkan.

Setelah saya selesai check out, saya sempatkan untuk memfoto kunci kamar 237 yang selama setahun ini selalu ada di kantong celana saya. Pas selesai check-out sampai saat saya menulis ini saya selalu merasa ada yang hilang di kantong saya.


kunci kamar 237 + gantungan kesayangan
Akhirnya setelah semua selesai check-out, kami selorong melakukan soga terakhir di lobi asrama C3.

soga terakhir lorong 2 di C3
Saat soga, semuanya diberikan kesempatan untuk berbicara pesan dan kesan terakhir. Saya minta waktu paling pertama karena mobil penjemput saya buru-buru mau dipakai sama yang punya. Pesan saya ga panjang:
Persahabatan itu bukan sebuah hal besar, persahabatan adalah jutaan hal-hal kecil. Selalu ingatlah momen-momen kecil karena itu begitu berharga.
Lalu, saya bersalaman dengan yang lain, mengucap maaf dan terima kasih. Pindah.

*teruntuk teman-teman lorong 2 C3 dimanapun kalian berada, tulisan ini saya dedikasikan untuk kalian. Terima kasih atas pelajaran berharga yang kalian berikan. Selamat berjuang di tempat kalian masing-masing kawan :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

One Response to : Memoar C3 Lorong Dua

  1. jadi mengenang..
    sayang saya tidak mendokumentasikan semua kenangan yang indah dengan baik..
    blog yg menginspirasi :)

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)