Kata-Kata dari Lorong

Berikut ini adalah beberapa kata-kata yang lahir dari lorong saya dan menjadi trademark tersendiri. Beragam macam kalimat ini mayoritas dibuat dan dipopulerkan (kayak lagu -__-) oleh orang bersuku Batak. Saya menulis ini semata-mata buat membukukan memori saya terhadap ucapan-ucapan tidak jelas yang hampir setiap hari terucap di lorong saya.


“Ololaee!” metoda memanggil dengan meneriaki orang lain padahal jaraknya tidak sampai sepelemparan batu kali. Lengkap dengan muka ngajak ribut.

“IMUUUT!!”  kode absurd yang apabila kita teriakan di tempat yang tepat, akan ada orang lain yang entah siapa dan entah darimana menyahut berteriak hal yang sama, walaupun dalam jarak yang cukup jauh. Diteriakkan dengan intonasi yang jauh dari kata imut. 

“Hiduplah pegawai kantor poos” sebagai pengantar masuk ke dalam kamar orang lain dengan esensi yang tidak jelas sampai saat tulisan ini diturunkan.

“Tapi iya juga sih tapi engga juga tapi iya juga” labil dan sangat efektif untuk menaikkan tingkat kesal ke level maksimal.

“E kok jadi kau yang atur?” ketika merasa masalahnya sendiri diatur orang lain, atau ketika yang bukan menjadi masalahnya diatur orang lain. Lengkap dengan mimik membunuh. 

“Ini bukan masalah bakso men, ini masalah moral” diucapkan setiap kali membicarakan masalah bakso, dengan wajah yang sama sekali tidak kelihatan bermoral. Kata ‘bakso’ juga bisa diganti dengan kata lain, kata apapun. Apapun.

“Kau stop tipu-tipu saya e. Kalau saya muak, saya menggila” kalimat ini sejatinya ada dalam dialog di film The Raid, ketika ada orang timur (entah Ambon atau Irian) mencari Iko Uwais yang bersembunyi di dalam salah satu kamar apartemen. Baru ngetop setelah satu lorong nonton bareng The Raid. Kalimat ini diucapkan lengkap dengan logat timur yang kental sebagai pengawal berkelahi yang efektif di lorong.

“Masih hidup kau lae?” sapaan hangat apabila bertemu dengan beberapa teman lorong di tengah belantara kampus. Sapaan ini mengingatkan kita bahwa kita masih diberi kenikmatan hidup oleh-Nya walaupun bernada sangat sangat tidak menyenangkan.

“Ada yang punya gunting ga?”
“Ada sih, tapi rela bagi-bagi?” *trolling to the max

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)