Perjalanan Mencari Hakikat Kebahagiaan

 
Judul : The Geography of Bliss
Penulis : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Jenis Novel : Memoar Terjemahan
Cetakan I : November 2011
Tebal Buku: 512 Hlm
ISBN : 978-602-9255-27-3

Sungguh mati, Eric Weiner ingin melihat dunia, terutama dengan dana dari pihak lain. Maka ia menjadi jurnalis, membawa tas punggung dan buku catatannya, lalu menjelajahi dunia. Ia membawa pembaca melanglangbuana ke berbagai negara, dari Belanda, Swiss, Bhutan, hingga Qatar, Islandia, India dan Amerika... untuk mencari tahu apa yang membuat orang-orang di sana bahagia atau murun. Buku ini adalah campuran aneh tulisan perjalanan, psikologi, sains dan humor.

Apakah orang-orang Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah Raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasinal? Kenapa penduduk Islandia, yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan?

Eric Weiner menjelajahi sepuluh negara dalam buku ini guna mencari masalah paling absurd dalam kehidupan manusia: kebahagiaan. Sepuluh negara tersebut adalah Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India dan Amerika. Perjalanan berawal ketika Eric menjelajahi Belanda untuk bertemu dengan salah satu professor kebahagiaan dan salah satu pengelola Database Kebahagiaan Dunia (World Database of Happiness). Ya, ini bukan lelucon, database ini memang benar-benar ada.

Maka Eric benar-benar menjelajahi beberapa negara yang menarik perhatiannya karena tingkat kebahagiaannya juga karena tingkat ketidakbahagiaannya. Dia menjelajahi Swiss, berbincang dengan penduduk sekitar dan mencari makna apa kebahagiaan benar-benar ada di Swiss mengingat Swiss adalah salah satu negara paling damai di dunia. Bertualang ke Islandia, makan daging hiu busuk dan terheran-heran mengapa Islandia yang dingin dan gelap masuk ke dalam salah satu negara paling membahagiakan di dunia? Atau bagaimana dengan Qatar yang memiliki milaran dolar untuk dibelanjakan? Apa mereka mampu membeli kebahagiaan dengan uang mereka? Lalu bagaimana dengan Bhutan yang hanya memiliki satu jalan raya di negaranya? Apakah Bhutan bahagia?

Persepsi kebahagiaan manusia akan dikupas habis dalam buku ini, baik kebahagiaan dalam persepsi umum maupun secara spesifik berdasarkan geografis. Menjadi bahan renungan karena pada dasarnya ternyata persepsi mengenai kebahagiaan dapat dibongkar dan menjadi hal yang menarik untuk dikaji.

The Geography of Bliss menawarkan alternatif baru untuk melihat kebahagiaan dengan cara yang berbeda, tidak hanya sekadar kata-kata motivator yang selalu mengatakan, “Kebahagiaan ada di dalam diri sendiri. Jika Anda tidak bahagia, maka Anda belum cukup dalam menggali”. Kata-kata ini memang tidak dapat dipungkiri kebenarannya, namun penyampaiannya yang terlalu ‘abstrak’ membuat kita jenuh. Buku ini sangat cocok sebagai bacaan ringan di kala senggang.

Berikut saya kutip satu paragraf dalam buku ini, yang saya anggap sebagai salah satu paragraf terbaik dalam epilog buku ini:

‘Dari semua tempat yang saya kunjungi dan orang-orang yang saya jumpai, ada satu yang terngiang-ngiang: Karma Ura, cendekiawan Bhutan dan juga orang yang selamat dari kanker. “Tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi,” katanya kepada saya. “Kebahagiaan seratus persen bersifat relasional.” '

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)