Status Tidak Jelas

Sebelum masuk ke topik bahasan, ada satu hal yang sering ganjel di pikiran saya akhir-akhir ini. Kenapa kata 'status' dewasa ini always reffering to 'status hubungan asmara' ya? Padahal status itu maknanya banyak banget dan multi tafsir, apa ini yang namanya generasi yang mengagungkan status hubungan sebagai sebuah identitas yang sangat penting? Apa generasi jaman sekarang lebih mementingkan availability seseorang bisa digebet atau tidak? Aneh sekali memang generasi ini -____- padahal sebenernya karena saya engga punya status hubungan yang jelas makanya sebel sama fenomena kayak gini

Sebelum melantur ke urusan 'status' yang lain, mari kita beranjak 'status' yang lain, yang ingin saya bahas. Makna 'status' yang ingin saya ceritakan sebenarnya sedikit aneh. Uhh gimana ya mulainya -____-

Gini aja deh, kita di Indonesia seringkali mengasosiasikan makna 'kota' dan 'desa' sebagai sepasang kata yang memiliki arti yang cukup berlainan, pun dengan kata 'anak kota' dan 'anak desa'. Naaaaaaah status inilah yang ingin saya kaji! Perbedaan mendasar antara 'anak kota' dan 'anak desa' berdasarkan beberapa aspek so(toy)siologis dan pengalaman selama berinteraksi dengan keduanya. Dan yang terakhir: saya ada di status yang mana? Anak desa? Atau anak kota? Atau malah bukan keduanya?

Tunggu sebentar! Ada satu hal yang ingin saya tekankan bahwa pembagian dua status ini tidak memutlakkan sifat, karena pada dasarnya sifat manusia adalah relatif. Tidak selamanya anak desa hidup sederhana dan tidak selamanya pula anak kota sombong luar biasa. Lingkungan memang mempengaruhi perkembangan manusia, maka untuk kata sifat disini selalu saya tuliskan dengan awalan cenderung. 

1. ANAK DESA
Definisi
Sebelum membahas karakteristik, mari kita sepakati aturan main pembatasan definitif antara 'anak desa' dan 'anak kota'. Dalam pembahasan ini, definisi 'anak desa' adalah anak yang lahir dalam lingkungan pedesaan lengkap dengan segala keterbatasannya (logistik, transportasi, alur informasi dll.) dan tinggal paling tidak dalam radius sejauh lebih dari 20 km dari kota kabupaten. Masa kecil sampai masa remaja (sekitar 14 tahun atau SMP) dihabiskan dalam lingkungan yang sama. 

Karakteristik 
Cenderung sederhana, cenderung hidup bersahaja. Biasanya masih main-main permainan tradisional, masih banyak sawah di dekat rumahnya dan masih kental dengan nuansa kekeluargaan di lingkungannya. 


tempat gathering
Anak-anak yang tinggal di lingkungan pedesaan biasanya mengerti tentang hal-hal yang bersifat praktis karena memang mereka sering melakukannya. Permainannya juga sangat mengandalkan kreatifitas dan kemampuan fisik, sehingga anak desa cenderung lebih kuat dari anak kota.


Alur informasi yang tidak lancar di masyarakat pedesaan menghasilkan dua kemungkinan generasi yang tumbuh di pedesaan. Kemungkinan generasi pertama adalah anak-anak pedesaan yang merasa tidak bermasalah dengan kondisi minim informasi, sehingga menghasilkan generasi yang pengetahuannya mandek. Sedangkan kemungkinan generasi kedua adalah generasi yang rasa ingin tahunya tidak bisa dibendung dengan keterbatasan alur informasi di desa, sehingga lahirlah kombinasi luar biasa antara kekuatan fisik dan keilmuan yang didapatnya sendiri sebagai hasil eksplorasi dan observasi di luar maupun di dalam lingkup pedesaan. Kemungkinan generasi kedua ini adalah awal dari orang-orang hebat yang sampat saat ini memegang kendali atas negeri ini.


Orang-orang besar (saat ini) memang lahir dari pedesaan, Jenderal!


2. ANAK KOTA
Definisi
Pembatasan definitif dari 'anak kota' adalah anak yang lahir paling tidak dalam radius kurang dari 20 km dari kota kabupaten dan sama sekali tidak mengalami masalah dengan alur informasi, transportasi, logistik dan hal lainnya. Masa kecil sampai masa remaja (sekitar 14 tahun atau SMP) dihabiskan dalam lingkungan yang sama.


Karakteristik
Cenderung materialis, cenderung hidup dengan sekat individu. Masyarakat perkotaan dengan efek kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi yang tinggi membuat beberapa dari mereka cenderung enggan untuk bersosialisasi dengan tetangga. Beberapa bahkan beranggapan bahwa society is nothing. Hal ini berdampak banyak, contohnya dengan maraknya perumahan dengan sistem cluster yang tidak mengharuskan mereka untuk bersosialisasi dengan tetangga rumahnya (lebih lengkap tentang efek masyarakat perkotaan saya ulas di tulisan yang lain deh)


yak yak kiri dikit, ah nabrak
Anak yang lahir di lingkungan perkotaan biasanya jarang bermain dengan sesamanya, kalaupun main bareng paling main game. Seringnya jalan-jalan ke mall, kafe dan taman hiburan. Hiburannya yaa money based entertainment lah intinya. 


tempat gathering
Jarang bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat praktis. Biasanya orangtua mereka membekali mereka dengan ilmu yang kelewat banyak melalui berbagai les dan course yang bahkan tidak terlalu penting. Kecenderungan anak perkotaan (mayoritas nih ya) adalah malas mengakses informasi padahal tersedia sarana dan prasarana yang sangat memadai.


Kelebihan anak kota adalah mereka mampu toleransi terhadap banyak hal. Kehidupan perkotaan mengharuskan mereka bertemu dengan orang-orang yang berasal dari lapisan masyarakat yang beragam, sehingga biasanya anak kota lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan lebih toleran terhadap perbedaan. 


~~~~~~~~~~~~~~~~

Then, where do I belong to? Rumah saya di Pondok Gede, cuma 3.5km dari DKI Jakarta. Based on the distance, isn't it obvious? Berdasarkan jarak jelas-jelas saya masuk ke dalam batasan definitif anak kota. TAPI KOK?


Saya tidak bisa menerima bahwa saya adalah anak kota dengan segala karakteristik yang ada. Saya memang sering jalan-jalan ke mall untuk sekedar menemani ibu belanja atau beli buku, tapi masa kecil saya juga manjat-manjat pohon, lari-larian. Rumah saya memang dekat dengan kantor kecamatan (pemekaran), tapi saya sekeluarga bukan orang yang masa bodo dengan masyarakat. Setiap 6 bulan sekali paling tidak kita ada gathering RT, makan-makan, ngobrol-ngobrol. 


Saya punya kampung halaman di Purbalingga, Jawa Tengah, dan saya suka dengan lingkungan di sana. Terkadang malah saya muak dengan kehidupan di kota. Ini membuktikan secara tidak langsung bahwa generalisasi memang tidak bisa dilakukan di zaman modern ini.


Saya memang lahir di lingkungan perkotaan, tapi saya bukan anak kota, pun saya tidak bisa mendeklarasikan bahwa saya anak desa karena in fact saya tidak pernah tinggal lama di desa. 


Status saya (selain status hubungan asmara) lagi-lagi tidak jelas. Fufufu


POSTED IN
DISCUSSION 4 Comments

4 Responses to : Status Tidak Jelas

  1. yuvita says:

    saya juga tinggal 3 km dr DKI JKT, punya kampung halaman juga,saya juga terkadang dan sering malah menikmati money based entertainment, namun saya juga msh bertetangga hehehe... sama seperti Anda, status saya pun tidak jelas, mungkin ada satu istilah yg bisa menghambarkan ini. Kaum sub-urban, karena kita tinggal di-pinggiran-ibu kota, menikmati "hiburan" ibu kota, namun di dalam jiwa masih ada jiwa "desa" ditambah lagi dg kuliah di IPB, yg benar-benar mengajarkan kita untuk tidak hedon dan instan.

  2. nah itu diaaaa :D

    memang jaman sekarang, semakin maju, semakin banyak hal yang bersifat hibrida, termasuk status seperti ini

  3. ahahaha gue kocak mar baca post lu yang ini. diperjelas lah statusnya , tapi sabar kan ada waktunya * gue komen in status yang pake dicoret *

  4. -______________-
    santai lah mil, buru-buru amat :P wakakak cemil udah dewasa ya :P

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)