Fenomena Transportasi Jakarta

Harian Kompas, Minggu 8 April 2012
“Sebagian kelas menengah mengikuti anjuran pemerintah: meninggalkan mobil di rumah dan pergi ke kantor naik kereta atau bus Transjakarta. Setelah mereka 'berkorban', lantas pemerintah melakukan apa?” Harian Kompas, Minggu 8 April 2012 Hlm. 1

Topik bahasan “Kelas Menengah Mengejar Kereta” oleh Budi Suwarna pada headline harian Kompas seminggu yang lalu mengusik benak saya karena saya merasa menjadi salah seorang yang terlibat di dalamnya. Pada halaman pertama langsung tersaji gambar salah satu gerbong kereta Commuter Line yang penuh sesak saat jam kerja. Orang-orang hampir semuanya memasang pose yang hampir sama: berdiri dengan tangan memegang handle berdiri. Yayaya, saya pernah (bahkan sering) mengalaminya juga.

Kelas menengah dicirikan dengan adanya kepemilikan akan sumber pendapatan finansial, tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan hiburan yang cukup memadai (dari berbagai sumber). Kompas juga pernah membahas tentang keberadaan masyarakat kelas menengah yang disebut-sebut selalu mengalami tren peningkatan berdasarkan dengan survey dan riset Badan Pusat Statistik. Tren positif ini dianggap sebagai angin segar karena daya konsumsi kelas menengah yang cukup tinggi dibarengi dengan populasinya yang mengalami kecenderungan meningkat. 

Nah, cukup dengan bahasan kelas menengahnya. Mari kita kembali ke realita di moda transportasi masal di Jakarta.

Pemerintah pusat maupun daerah sudah lama menganjurkan kepada khalayak masyarakat Jakarta untuk menggunakan transportasi umum di Jakarta, mengingat populasi mobil saat ini tidak imbang dengan total lebar jalan di Jakarta. Tapi apa anjuran tersebut dibantu dan difasilitasi dengan benar oleh pejabat berwenang?
inilah salah satu masalah terbesar kota Jakarta
Realita di lapangan
Kenyataannya adalah ketika sebagian masyarakat pengguna mobil mempunyai itikad baik untuk beralih ke moda transportasi massal, tidak ada perbaikan signifikan di beberapa moda transportasi unggulan Jakarta. Katakanlah bus Transjakarta. Jumlah bus yang tersedia tidak lagi mencukupi dengan besarnya animo masyarakat menggunakan armada tersebut. Rentang dari satu bus ke bus selanjutnya juga memakan waktu yang cukup lama. Beberapa halte juga mengalami kerusakan karena perawatannya sangat kurang. Belum lagi masalah besar bagi Transjakarta ketika hujan lebat dan banjir di protokol Jakarta: berhenti beroperasi karena jalanan banjir. Mau dikemanakan calon penumpangnya?

Di moda transportasi lainnya, kereta Commuter Line –langganan saya- kerap menjadi solusi untuk menghindari kejamnya macet Jakarta. Kecepatan kereta yang tinggi dan stabil serta tidak terpengaruh kemacetan Jakarta menjadikan moda transportasi ini sebagai harapan pulang. Tapi tetap saja masalahnya sama seperti bus Transjakarta: armadanya kurang. Beda jam keberangkatan setiap kereta cukup jauh sehingga penumpang menunggu cukup lama di stasiun. Setelah menunggu lama, calon penumpang juga harus struggle menghadapi sempitnya ruang kosong di gerbong kereta. Setelah di dalam kereta, sempit dan sesak.

Si cantik, IPod dan pecat
Dengan makin banyaknya kelas menengah yang rela naik kereta, maka jangan dikira di dalam kereta itu isinya orang-orang berbaju kumal. Mereka adalah mbak-mbak cantik jelita nan wangi ataupun mas-mas rapijali, lengkap dengan gadget keluaran terbaru semisal IPod ataupun handphone touchscreen Android yang harganya lumayan tinggi untuk mahasiswa. Saya sering liat mbak-mbak pegawai kantoran, ada yang cantik pake rok mini, ada juga yang anggun berjilbab tertutup. Yang laki-laki rapi dengan kemeja dan jaket, lengkap dengan tas gemblok (yang mungkin) berisi laptop keluaran terbaru.

Bahkan dalam cerita yang dituliskan Kompas, ada seorang perempuan yang sedang berdiri di dalam gerbong yang sedang berbicara di telepon, berdebat dengan seseorang di ujung telepon. Percakapan itu berakhir ketika sang perempuan berkata, “Kamu saya pecat!”

Penumpang kereta bisa memecat orang?
Inilah fenomena terbaru dalam moda transportasi di Jakarta.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)