Sumpahmu (Masih) Digantung di Langit!

mengulang posting Digantung di Atas Langit

"Kami selaku anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor periode 2011/2012 dengan ini berjanji : Demi Allah, akan mengemban amanah sebagai anggota BEM TPB IPB...." - Janji Pelantikan BEM TPB IPB 2011/2012

Teman, masih ingatkah bahwa amanahmu belum selesai? 

Kau sibuk teman? Kami juga. Kami tidak pernah melarang kalian untuk ikut bersumpah untuk sesuatu yang lain, tapi mohon ingat bahwa sumpahmu sudah diangkat ke langit. Menunggu pertanggungjawaban. 

Semoga kalian cepat ingat ya. Karena ada banyak orang, teman-teman kita yang lain di luar sana yang butuh bantuan kalian. 

Kami butuh kalian. Butuh 'kita' yang sepenuhnya.
   


 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Fenomena Transportasi Jakarta

Harian Kompas, Minggu 8 April 2012
“Sebagian kelas menengah mengikuti anjuran pemerintah: meninggalkan mobil di rumah dan pergi ke kantor naik kereta atau bus Transjakarta. Setelah mereka 'berkorban', lantas pemerintah melakukan apa?” Harian Kompas, Minggu 8 April 2012 Hlm. 1

Topik bahasan “Kelas Menengah Mengejar Kereta” oleh Budi Suwarna pada headline harian Kompas seminggu yang lalu mengusik benak saya karena saya merasa menjadi salah seorang yang terlibat di dalamnya. Pada halaman pertama langsung tersaji gambar salah satu gerbong kereta Commuter Line yang penuh sesak saat jam kerja. Orang-orang hampir semuanya memasang pose yang hampir sama: berdiri dengan tangan memegang handle berdiri. Yayaya, saya pernah (bahkan sering) mengalaminya juga.

Kelas menengah dicirikan dengan adanya kepemilikan akan sumber pendapatan finansial, tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan hiburan yang cukup memadai (dari berbagai sumber). Kompas juga pernah membahas tentang keberadaan masyarakat kelas menengah yang disebut-sebut selalu mengalami tren peningkatan berdasarkan dengan survey dan riset Badan Pusat Statistik. Tren positif ini dianggap sebagai angin segar karena daya konsumsi kelas menengah yang cukup tinggi dibarengi dengan populasinya yang mengalami kecenderungan meningkat. 

Nah, cukup dengan bahasan kelas menengahnya. Mari kita kembali ke realita di moda transportasi masal di Jakarta.

Pemerintah pusat maupun daerah sudah lama menganjurkan kepada khalayak masyarakat Jakarta untuk menggunakan transportasi umum di Jakarta, mengingat populasi mobil saat ini tidak imbang dengan total lebar jalan di Jakarta. Tapi apa anjuran tersebut dibantu dan difasilitasi dengan benar oleh pejabat berwenang?
inilah salah satu masalah terbesar kota Jakarta
Realita di lapangan
Kenyataannya adalah ketika sebagian masyarakat pengguna mobil mempunyai itikad baik untuk beralih ke moda transportasi massal, tidak ada perbaikan signifikan di beberapa moda transportasi unggulan Jakarta. Katakanlah bus Transjakarta. Jumlah bus yang tersedia tidak lagi mencukupi dengan besarnya animo masyarakat menggunakan armada tersebut. Rentang dari satu bus ke bus selanjutnya juga memakan waktu yang cukup lama. Beberapa halte juga mengalami kerusakan karena perawatannya sangat kurang. Belum lagi masalah besar bagi Transjakarta ketika hujan lebat dan banjir di protokol Jakarta: berhenti beroperasi karena jalanan banjir. Mau dikemanakan calon penumpangnya?

Di moda transportasi lainnya, kereta Commuter Line –langganan saya- kerap menjadi solusi untuk menghindari kejamnya macet Jakarta. Kecepatan kereta yang tinggi dan stabil serta tidak terpengaruh kemacetan Jakarta menjadikan moda transportasi ini sebagai harapan pulang. Tapi tetap saja masalahnya sama seperti bus Transjakarta: armadanya kurang. Beda jam keberangkatan setiap kereta cukup jauh sehingga penumpang menunggu cukup lama di stasiun. Setelah menunggu lama, calon penumpang juga harus struggle menghadapi sempitnya ruang kosong di gerbong kereta. Setelah di dalam kereta, sempit dan sesak.

Si cantik, IPod dan pecat
Dengan makin banyaknya kelas menengah yang rela naik kereta, maka jangan dikira di dalam kereta itu isinya orang-orang berbaju kumal. Mereka adalah mbak-mbak cantik jelita nan wangi ataupun mas-mas rapijali, lengkap dengan gadget keluaran terbaru semisal IPod ataupun handphone touchscreen Android yang harganya lumayan tinggi untuk mahasiswa. Saya sering liat mbak-mbak pegawai kantoran, ada yang cantik pake rok mini, ada juga yang anggun berjilbab tertutup. Yang laki-laki rapi dengan kemeja dan jaket, lengkap dengan tas gemblok (yang mungkin) berisi laptop keluaran terbaru.

Bahkan dalam cerita yang dituliskan Kompas, ada seorang perempuan yang sedang berdiri di dalam gerbong yang sedang berbicara di telepon, berdebat dengan seseorang di ujung telepon. Percakapan itu berakhir ketika sang perempuan berkata, “Kamu saya pecat!”

Penumpang kereta bisa memecat orang?
Inilah fenomena terbaru dalam moda transportasi di Jakarta.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Status Tidak Jelas

Sebelum masuk ke topik bahasan, ada satu hal yang sering ganjel di pikiran saya akhir-akhir ini. Kenapa kata 'status' dewasa ini always reffering to 'status hubungan asmara' ya? Padahal status itu maknanya banyak banget dan multi tafsir, apa ini yang namanya generasi yang mengagungkan status hubungan sebagai sebuah identitas yang sangat penting? Apa generasi jaman sekarang lebih mementingkan availability seseorang bisa digebet atau tidak? Aneh sekali memang generasi ini -____- padahal sebenernya karena saya engga punya status hubungan yang jelas makanya sebel sama fenomena kayak gini

Sebelum melantur ke urusan 'status' yang lain, mari kita beranjak 'status' yang lain, yang ingin saya bahas. Makna 'status' yang ingin saya ceritakan sebenarnya sedikit aneh. Uhh gimana ya mulainya -____-

Gini aja deh, kita di Indonesia seringkali mengasosiasikan makna 'kota' dan 'desa' sebagai sepasang kata yang memiliki arti yang cukup berlainan, pun dengan kata 'anak kota' dan 'anak desa'. Naaaaaaah status inilah yang ingin saya kaji! Perbedaan mendasar antara 'anak kota' dan 'anak desa' berdasarkan beberapa aspek so(toy)siologis dan pengalaman selama berinteraksi dengan keduanya. Dan yang terakhir: saya ada di status yang mana? Anak desa? Atau anak kota? Atau malah bukan keduanya?

Tunggu sebentar! Ada satu hal yang ingin saya tekankan bahwa pembagian dua status ini tidak memutlakkan sifat, karena pada dasarnya sifat manusia adalah relatif. Tidak selamanya anak desa hidup sederhana dan tidak selamanya pula anak kota sombong luar biasa. Lingkungan memang mempengaruhi perkembangan manusia, maka untuk kata sifat disini selalu saya tuliskan dengan awalan cenderung. 

1. ANAK DESA
Definisi
Sebelum membahas karakteristik, mari kita sepakati aturan main pembatasan definitif antara 'anak desa' dan 'anak kota'. Dalam pembahasan ini, definisi 'anak desa' adalah anak yang lahir dalam lingkungan pedesaan lengkap dengan segala keterbatasannya (logistik, transportasi, alur informasi dll.) dan tinggal paling tidak dalam radius sejauh lebih dari 20 km dari kota kabupaten. Masa kecil sampai masa remaja (sekitar 14 tahun atau SMP) dihabiskan dalam lingkungan yang sama. 

Karakteristik 
Cenderung sederhana, cenderung hidup bersahaja. Biasanya masih main-main permainan tradisional, masih banyak sawah di dekat rumahnya dan masih kental dengan nuansa kekeluargaan di lingkungannya. 


tempat gathering
Anak-anak yang tinggal di lingkungan pedesaan biasanya mengerti tentang hal-hal yang bersifat praktis karena memang mereka sering melakukannya. Permainannya juga sangat mengandalkan kreatifitas dan kemampuan fisik, sehingga anak desa cenderung lebih kuat dari anak kota.


Alur informasi yang tidak lancar di masyarakat pedesaan menghasilkan dua kemungkinan generasi yang tumbuh di pedesaan. Kemungkinan generasi pertama adalah anak-anak pedesaan yang merasa tidak bermasalah dengan kondisi minim informasi, sehingga menghasilkan generasi yang pengetahuannya mandek. Sedangkan kemungkinan generasi kedua adalah generasi yang rasa ingin tahunya tidak bisa dibendung dengan keterbatasan alur informasi di desa, sehingga lahirlah kombinasi luar biasa antara kekuatan fisik dan keilmuan yang didapatnya sendiri sebagai hasil eksplorasi dan observasi di luar maupun di dalam lingkup pedesaan. Kemungkinan generasi kedua ini adalah awal dari orang-orang hebat yang sampat saat ini memegang kendali atas negeri ini.


Orang-orang besar (saat ini) memang lahir dari pedesaan, Jenderal!


2. ANAK KOTA
Definisi
Pembatasan definitif dari 'anak kota' adalah anak yang lahir paling tidak dalam radius kurang dari 20 km dari kota kabupaten dan sama sekali tidak mengalami masalah dengan alur informasi, transportasi, logistik dan hal lainnya. Masa kecil sampai masa remaja (sekitar 14 tahun atau SMP) dihabiskan dalam lingkungan yang sama.


Karakteristik
Cenderung materialis, cenderung hidup dengan sekat individu. Masyarakat perkotaan dengan efek kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi yang tinggi membuat beberapa dari mereka cenderung enggan untuk bersosialisasi dengan tetangga. Beberapa bahkan beranggapan bahwa society is nothing. Hal ini berdampak banyak, contohnya dengan maraknya perumahan dengan sistem cluster yang tidak mengharuskan mereka untuk bersosialisasi dengan tetangga rumahnya (lebih lengkap tentang efek masyarakat perkotaan saya ulas di tulisan yang lain deh)


yak yak kiri dikit, ah nabrak
Anak yang lahir di lingkungan perkotaan biasanya jarang bermain dengan sesamanya, kalaupun main bareng paling main game. Seringnya jalan-jalan ke mall, kafe dan taman hiburan. Hiburannya yaa money based entertainment lah intinya. 


tempat gathering
Jarang bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat praktis. Biasanya orangtua mereka membekali mereka dengan ilmu yang kelewat banyak melalui berbagai les dan course yang bahkan tidak terlalu penting. Kecenderungan anak perkotaan (mayoritas nih ya) adalah malas mengakses informasi padahal tersedia sarana dan prasarana yang sangat memadai.


Kelebihan anak kota adalah mereka mampu toleransi terhadap banyak hal. Kehidupan perkotaan mengharuskan mereka bertemu dengan orang-orang yang berasal dari lapisan masyarakat yang beragam, sehingga biasanya anak kota lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan lebih toleran terhadap perbedaan. 


~~~~~~~~~~~~~~~~

Then, where do I belong to? Rumah saya di Pondok Gede, cuma 3.5km dari DKI Jakarta. Based on the distance, isn't it obvious? Berdasarkan jarak jelas-jelas saya masuk ke dalam batasan definitif anak kota. TAPI KOK?


Saya tidak bisa menerima bahwa saya adalah anak kota dengan segala karakteristik yang ada. Saya memang sering jalan-jalan ke mall untuk sekedar menemani ibu belanja atau beli buku, tapi masa kecil saya juga manjat-manjat pohon, lari-larian. Rumah saya memang dekat dengan kantor kecamatan (pemekaran), tapi saya sekeluarga bukan orang yang masa bodo dengan masyarakat. Setiap 6 bulan sekali paling tidak kita ada gathering RT, makan-makan, ngobrol-ngobrol. 


Saya punya kampung halaman di Purbalingga, Jawa Tengah, dan saya suka dengan lingkungan di sana. Terkadang malah saya muak dengan kehidupan di kota. Ini membuktikan secara tidak langsung bahwa generalisasi memang tidak bisa dilakukan di zaman modern ini.


Saya memang lahir di lingkungan perkotaan, tapi saya bukan anak kota, pun saya tidak bisa mendeklarasikan bahwa saya anak desa karena in fact saya tidak pernah tinggal lama di desa. 


Status saya (selain status hubungan asmara) lagi-lagi tidak jelas. Fufufu


POSTED IN
DISCUSSION 4 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)