Psikologi Commuter Line


Saya suka naik kereta
Ralat: Saya hobi naik kereta
Ralat(lagi): Lokasi kuliah saya mengharuskan saya untuk naik kereta dan saya menikmatinya 

Semenjak kuliah di IPB, frekuensi naik KRL saya semakin bertambah. Drastis. Dari sebelumnya naik kereta cuma buat ke Universitas Indonesia buat hadir di beberapa acara, sekarang malah hampir setiap minggu naik KRL bolak-balik dari kampus ke rumah. Ini juga karena kemarin masih semester pertama jadi masih sering bolak-balik, setelah semester dua mungkin frekuensi naik KRL saya berkurang lagi.

Sebenarnya kalo berangkat dari Jakarta ke Bogor, moda transportasinya engga cuma kereta doang, masih ada omprengan dari UKI ke Baranangsiang (via tol), bis-roti-tawar dari Kp. Rambutan ke Baranangsiang (via Raya Bogor), bisa juga naik pesawat dari Halim turunnya di Atang Sandjaja *ngaco

Yang paling asik dari naik Commuter Line adalah karena banyak sekali jenis manusia yang ada di dalamnya. Banyakya jenis manusia saya dapat dari hobi saya memerhatikan orang-orang. Di Commuter Line hobi saya yang satu ini sempurna difasilitasi. Tujuan saya memerhatikan orang adalah mengetahui bagaimana pribadinya dan apa yang mau dia lakukan setelah turun dari kereta

Yang paling saya perhatikan biasanya ada tiga hal: pakaian, barang bawaan dan perilaku, eh tapi ada satu hal lagi yang biasanya saya perhatikan, (mungkin ini sedikit rada aneh) yakni stasiun tempat seseorang naik dan turun.

Pakaian? Barang bawaan? Perilaku? Stasiun? -____- WE NEED EXPLAINATION!

Pakaian dan barang bawaan: ini sih standar ya kalau menurut saya. Maksudnya identitas seseorang cukup tercermin dari dua hal ini, bahkan hal yang lebih kompleks bisa dianalisis dari dua hal ini.

Contoh : kalau di kereta pada saat pulang jam kerja ada laki-laki pake jaket motor dan bawa helm, maka ada kemungkinan rumahnya masih jauh dari stasiun tujuannya. Mungkin stasiun tujuannya di Citayam, tapi rumahnya di daerah Parung. Tapi kalau kita rubah sedikit datanya, misalkan di saat pulang jam kerja ada perempuan memakai setelan kantor dan hanya membawa helm, maka kemungkinan besar perempuan itu selalu diantar-jemput oleh seseorang di stasiun pada saat pulang. Atau justru helm itu dipakai di tempat kerja untuk nebeng ke stasiun tempat dia naik kereta pulang.

Bingung? Santai aja, saya juga kok.

Perilaku: ini sebenarnya paling sulit diobservasi saat jam pulang kantor. Kenapa? Karena kereta dalam keadaan sangat penuh dan perilaku penumpang saat kereta penuh semuanya nyaris 100% sama: pegangan pada handle di tiang atas, biasanya lengkap dengan mata terkantuk.

Tapi bukan berarti tidak ada hal yang bisa dipelajari. Contohnya adalah cara dia membawa barang bawaan. Biasanya kalau orang naik kereta, tasnya digemblok ke depan, supaya aman dari incaran maling. Perhatikan gerak tangannya. Ada beberapa orang yang sebelah tangannya memegang pegangan atas kereta dan sebelahnya lagi sibuk meraba resleting tasnya. Maksud dia meraba resleting tas mungkin supaya tidak ada calon maling yang bisa membuka resletingnya. Orang yang kayak gini biasanya a little bit over protective.

Stasiun: ini unik, tapi tidak pasti dan susah ditebak. Stasiun tempat orang naik menggambarkan apa yang dia lakukan sebelum naik kereta sedangkan stasiun turun menggambarkan apa yang akan dia lakukan setelah naik kereta. Umumnya orang yang baru pulang kerja mayoritas turun di range antara Depok-Bogor. Orang yang pada saat weekend membawa keluarganya dari arah Jakarta pasti akan turun antara stasiun Citayam-Bogor (biasanya banyak saudara-saudara mereka di daerah ini). Yang bermuka mahasiswa biasanya turun atau naik di Universitas Indonesia atau Pondok Cina. Orang yang tidurnya sangatsangat lelap dapat dipastikan turunnya di stasiun Bogor. Sisanya sulit ditebak.

*penulis tidak bermaksud menggurui masalah psikologi karena bukan bidangnya, ini hanya berdasarkan tebakan dan pengalaman saja

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)